Terorisme

Terorisme, puncak dari gunung es yang bernama radikalisme dan takfiri

Dengan radikalisme yang merupakan bagian gunung es yang tidak terlihat, lebih berbahaya dari puncaknya yaitu terorisme.
Penulis Satria Utama

SEPERTI kapal mewah Titanic yang tenggelam pada pelayaran pertamanya, maka bagian bawah gunung es yang tidak terlihatlah yang justru lebih berbahaya daripada puncaknya. Begitu pula dengan radikalisme yang merupakan bagian gunung es yang tidak terlihat, lebih berbahaya dari puncaknya yaitu terorisme dan takfiri.

Pendapat tersebut dikemukakakn oleh Peneliti LIPI, Endang Turmudi, yang mengatakan bahwa kelompok teroris adalah kelompok kecil yang mempraktekan radikalisme dalam bentuk kekerasan seperti pemboman. Namun ada yang lebih mengancam yaitu kelompok yang memaksakan paham mereka kepada kelompok lain di masyarakat.

Radikalisme saya gambarkan sebagai bagian tidak terlihat dari gunung es karena dalam bentuknya memang seakan terasa lunak karena tidak menimbulkan kekerasan secara langsung. Oleh karena itu, radikalisme sering luput dari perhatian pihak keamanan dan masyarakat secara umum.

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 98 pelajar SMA yang mengikuti Jambore Maarif Institute, terlihat sejauh mana kecenderungan sikap radikal di kalangan kaum muda terpelajar. Walaupun jumlah responden terbilang sedikit, namun mereka merupakan siswa yang aktif dalam kegiatan di sekolahnya masing-masing sehingga mereka memiliki pengaruh terhadap siswa lainnya.

Pada pertanyaan “Bersediakah Anda melakukan penyerangan terhadap kelompok yang dianggap menghina ?”, sebanyak 40,82 persen menjawab bersedia, 8,16 persen menjawab sangat bersedia, 12,24 persen tidak bersedia, dan sisanya menjawab kurang bersedia. Namun pada pertanyaan yang terkait , “Apakah Anda sangat bersedia, kurang bersedia atau tidak bersedia bila diajak untuk ikut berperang ke Irak dan Suriah oleh ?”. Dan hasilnya cukup mengejutkan karena bertolak belakang dengan pertanyaan sebelumnya. Hanya sebanyak 3,06 persen menjawab “bersedia”, dan 83,86 persen menjawab “tidak bersedia”.

Dari hasil survey tersebut terlihat bahwa kelompok yang gemar mengkafirkan dan menentang tindak terorisme (baca: ISIS) sekalipun tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya mulai menganut faham radikal. Dan hal tersebut sudah merasuki kaum muda terpelajar. Lalu kenapa kaum muda begitu mudah terpengaruh?

Dr. Mohammad Nasih, salah satu ketua KAHMI, berpendapat bahwa kecenderungan tersebut muncul akibat “puber religi”. Kelompok yang kurang atau sama sekali tidak memiliki pemahaman agama, kemudian memiliki semangat baru dalam mempelajari agama. Kelompok ini dimanfaatkan oleh kaum radikal untuk menyusupkan paham mereka melalui kegiatan agama di sekolah-sekolah dan bahkan beberapa perguruan tinggi unggulan seperti , ITB, dan UGM.

Lalu pemikiran seperti apa saja yang bisa digolongkan sebagai paham radikal? Beberapa bentuk pemikiran radikal yang banyak disisipkan dalam kegiatan keagamaan para mahasiswa seperti menganggap dirinya paling benar, membangun terhadap agama atau golongan lain, pengafiran dan menolak keberagaman serta pluralisme bangsa.

Paham tersebut jelas sekali bertentangan dengan semangat yang terbentuk dari keberagaman agama, suku dan budaya. Toleransi dalam keberagaman tersebut merupakan hal yang tabu bagi paham radikal.

Hal ini sejalan hasil riset Setara Institute yang menyebutkan bahwa terorisme merupakan puncak dari intoleransi. Oleh karena itu untuk melawan terorisme serta kaum takfiri adalah dengan menumpas akarnya, yaitu intoleransi.

Caranya? Untuk kalangan perguruan tinggi, perlu dilakukan dialog lintas agama dan organisasi, juga menjalin silaturahmi serta membangun kesepahaman dalam penerapan butir-butir Pancasila. Sedangkan untuk masyarakat secara umum, mulai digalakan pemahaman bahwa agama apapun itu membawa ajaran perdamaian dan bagi terciptanya .

Terakhir, bagi khususnya, mulailah dari diri sendiri untuk menjadi model Islam yang damai, yang membawa kesejukan bagi siapapun yang berada di sekitarnya. Pelajarilah Islam yang mengedepankan perdamaian dan cinta kasih bagi semua, bukan Islam yang mengajak kepada kekerasan dan perpecahan. Semoga dengan demikian bisa terjaga keutuhan negeri kita.

Āmīn.

 

Sumber:

  1. Anak-anak Muda Indonesia Makin Radikal? – BBC Indonesia;
  1. Radikalisasi Agama Cenderung muncul di Kampus Unggulan – Republika.co.id;
  1. Setara Institute: Terorisme Bersumber dari Intoleransi – Tempo.co;
  1. Benarkah Kampus Menjadi Basis Radikalisasi? – Qureta.com;
  1. Survei Maarif Institute: Benih Radikalisme di Kalangan Remaja Mengkhawatirkan – Kompas.com.

 

Editor: Denz Asad dan Rian F. Ahmadi

Tentang Penulis

Satria Utama

Tinggalkan komentar