Mumtazah Akhtar Opini

Tertawa Berlebihan Dapat Menghilangkan Karisma

Capture googling 20150506 page1 "smile laugh tertawa tersenyum"

Capture googling 0506 page1 “smile laugh tertawa tersenyum”

KETIKA Anda tertawa, apa yang Anda rasakan? Bahagia? Rileks? Ya, tertawa memang dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik. Selain itu, tertawa juga dapat mencairkan suasana sehingga mengalirkan energi positif kepada orang-orang di sekitar. Dalam sebuah studi yang digelar di Inggris, diterangkan bahwa tertawa bisa membuat kita lebih berani mengungkapkan hal-hal yang sifatnya personal.

“Setiap kali Anda tertawa, tubuh melepaskan endorfin yang membuat Anda rileks dan merasa Anda sebenarnya tidak membeberkan banyak hal,” ujar Alan Gray Ph.D., ketua penelitian dan asisten peneliti di University College London Institute of Cognitive Neuroscience.

Karena tertawa mampu membuat seseorang merasa nyaman maka ia akan membeberkan banyak hal yang justru tidak disadarinya. Semakin banyak Anda membagi detail-detail intim tentang diri Anda kepada orang lain, maka Anda akan semakin merasa dekat dengannya. Singkatnya, tertawa dapat membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan yang lain.

YM Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk selalu menebarkan senyum dan wajah berseri-seri. Hal ini dikuatkan oleh sabda-sabda dan sunnah beliau saw..

“Janganlah kamu terlalu membebani jiwamu dengan segala keseriusan hidup. Hiburkanlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu karena jikalau jiwa terus dipaksa memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi keruh.” (HR Ibnu Mājaḥ)

Akan tetapi, di samping banyaknya manfaat tertawa yang telah kita ketahui, ada beberapa batasan dalam tertawa.

Tertawa merupakan hal yang wajar dan menyenangkan. Namun, jika dilakukan dengan berlebihan justru akan menimbulkan dampak negatif. Salah satunya adalah menghilangkan wibawa dan karisma seseorang.

Sebagaimana sabda YM Rasulullah saw., “Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati  dan menghilangkan karisma seorang mukmin.” (HR At-Tirmidzī)

Dalam ḥadīts lain, Aisyah r.a. meriwayatkan, “Tidak pernah sekalipun saya melihat Rasulullah saw. tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan kerongkongnya. Akan tetapi, tertawa baginda adalah dengan tersenyum.” (HR Al-Bukhārī)

Oleh karena itu, ada baiknya kita menjaga tawa agar tidak berlebihan. Sebaik-baik perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tak dilebih-lebihkan dan tak dikurangi. Semakin sederhana tawa yang diperlihatkan, semakin kuat wibawa dan karisma yang dikeluarkan.[]

Tentang Penulis

Mumtazah Akhtar