Opini

Tertib Dunia Baru dalam perspektif Islam Ahmadiyah

RAJA PENA▐ “Tertib Dunia Baru dalam perspektif Islam Ahmadiyah” | DALAM ˻tertib dunia baru˺ semacam inilah semua akan ikut merasakan kesukaan dan kedukaan dari satu sama lain, karena semua telah menyumbangkan tenaganya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan satu sama lain dengan kecintaan dan keinsyafan sendiri.

SAAT ini dunia sedang menghadapi situasi yang amat sangat menyedihkan. Sering kali kita menemukan berita mengenai peperangan yang terjadi di timur tengah, negara-negara adidaya dengan gencarnya melakukan penyerangan dengan motif-motif tertentu. Apa yang telah terjadi di Irak, Libya, Suriah, dan negara-negara Timur Tengah lainnya merupakan penggambaran bahwa dunia ini sedang mengalami krisis, yakni krisis moralitas, krisis , namun juga tidak lupa dengan krisis sistem.

Mata dunia sekarang ini sedang tertuju pada dampak atas peperangan di timur tengah. Belum lama ini kita melihat seorang anak kecil bernama Omran Daqneesh yang terdiam di ambulance setelah penyerangan militer di daerah pemukiman Qaterji di Syiria. Selain Omran, banyak sekali anak-anak, wanita bahkan keluarga yang melakukan migrasi besar-besaran karena terkena dampak dari perang-perang yang terjadi di timur tengah. Baik karena invasi, maupun perang saudara.

Kondisi-kondisi tersebut mengingatkan penulis kepada pertemuannya dengan Rafiq Mubarak, salah seorang pimpinan markas besar Jamaah di Pakistan. Disaat kunjungan beliau ke Indonesia sebagai Utusan Khusus beberapa pekan lalu, penulis pernah bertanya mengenai ‘’ atau new world order (NWO). Bahwa, yang beliau utarakan benar-benar membuka pemikiran penulis mengenai krisis Timur Tengah dengan beserta dampaknya kepada dunia.

Penulis teringat saat beliau berkata bahwa “invasi yang terjadi di Timur Tengah baik dulu maupun sekarang sudah memberikan dampak kepada dunia pada umumnya. Saat ini, bayang-bayang Perang Dunia Ketiga sudah nampak didepan kita tanpa kita sadari.”

Beliau juga mengutarakan mengenai kondisi-kondisi negara-negara Timur Tengah saat ini, “namun sekarang negara-negara adidaya tidak lagi mencari minyak, namun mereka sudah mulai terfokus kepada silikon yang berada di Afganistan. Seperti kita tahu, teknologi sekarang ini baik yang diperuntukan kepada sipil—antara lain handphone, laptop, dan baterai—maupun yang diperuntukan kepada militer—misalnya alat-alat peperangan, membutuhkan silikon sebagai salah satu penunjang teknologi tersebut,” kata beliau.

Dari setiap peperangan yang terjadi, atau setiap hal yang kita lakukan baik dalam skala kecil maupun besar, pasti akan menimbulkan dampak. Dampak dari peperangan adalah kehancuran. Walaupun sejak perang dunia kedua berakhir, PBB sudah melaksanakan konferensi untuk membahas mengenai hukum humaniter—hukum mengenai tata cara berperang, rekonstruksi dampak perang dan perlindungan terhadap warga sipil—tetap saja tidak menghindari medan perang dari dampak yang telah diberikan. Selain nyawa warga sipil melayang, dampak kepada negara dalam sektor ekonomi, politik, pembangunan, dan lain sebagainya, juga menjadi dampak serius atas peperangan yang terjadi.

Sekarang ini dunia sedang menanti-nantikan ‘tertib dunia baru’. Berbicara mengenai tertib dunia baru tidak mengelakan pikiran kita dari teori konspirasi mengenai tertib dunia baru. Konspirasi yang hadir mengenai tertib dunia baru seperti pemangkasan jumlah manusia yang di bumi hingga Illuminati, sudah menjadi makanan sehari-hari penikmat teori konspirasi. Namun apakah sesungguhnya yang terjadi dengan sistem di dunia ini? Sistem baru seperti apakah yang dinanti-nantikan dunia saat ini?

Dunia sedang terjebak dengan sistem riba, lembaga-lembaga keuangan dunia yang memberikan “pinjaman” kepada negara-negara yang membutuhkan biaya untuk pembangunan menerapkan sistem riba dalam menjalankan organisasinya. Negara-negara yang telah terjebak dalam sistem ini dengan meminjam uang atau dipinjamkan uang oleh lembaga-lembaga terkait tidak hanya terfokus dengan bagaimana membangun negaranya, namun juga bagaimana mengembalikan uang yang dipinjamkan beserta bunga yang tidak sedikit jumlahnya.

Seperti apa yang telah terjadi di beberapa negara di dunia ini, dampak daripada sistem riba berpengaruh juga kepada kelangsungan hidup warga negara tersebut. Warga negara dibebankan dengan pajak yang banyak bentuknya dan tidak sedikit jumlahnya. Pembayaran hutang negara juga menjadi fokus utama alokasi dana pajak yang dibayarkan warga negara kepada negaranya. Apabila sistem ini berjalan terus, maka akan semakin banyak janda-janda kelaparan dan anak-anak yang putus sekolah.

Islam dengan terang-terangan menentang bahkan mengharamkan riba. Dalam Karīm, ada firman-firman Allāh Ta‘ālā yang mengharamkan riba dan mengharamkan memakan uang riba, antara lain seperti tercantum pada sūrah An-Nisā’ ayat 161, dan Al-Baqarah ayat 275. Apabila kita menelaah lebih jauh, Allāh Ta‘ālā sudah memfirmankan bahwa dampak dari riba ini meluas hingga ke orang-orang di sekitar pihak yang terjebak sistem riba tersebut.

Disaat kita berbicara mengenai korelasi antara ‘tertib dunia baru’ dan Islam, paradigma kita selalu mengarah ke ISIS yang sudah jelas tidak menggambarkan representasi Islam yang sesungguhnya. Perjuangan membentuk sistem baru sebenarnya tidak hanya terfokus kepada bagaimana mendirikan negara Islam, namun juga bagaimana mendirikan sistem yang dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Islam ahmadiyah sendiri sudah menerapkan sistem baru ini sejak awal abad ke-20, yakni sistem Al-Waṣiyyat. Sistem Al-Waṣiyyat mempunyai misi yakni menyebarkan ajaran Islam yang hakiki hingga ke pelosok dunia. Namun dibalik itu, sistem ini mempunyai misi yakni memberantas sistem riba dan mengkhidmati seluruh umat manusia. Apabila sistem ini diikuti oleh masyarakat internasional, tidak akan ada lagi janda-janda kelaparan dan anak-anak putus sekolah, karena melalui sistem Al-Waṣiyyat, Islam Ahmadiyah berupaya dengan keras untuk mengkhidmati umat manusia.

Dalam buku berjudul Tertib Baru, khalifah dan penerus yang kedua dari pendiri Jamaah Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad–r.a. secara jelas menyatakan bahwa ‘tertib dunia baru’ ini akan mempersatukan bermacam-macam dan negeri dalam suatu ikatan persaudaraan sedunia melampaui segala perserikatan yang lain. Dalam ‘tertib dunia baru’ semacam inilah semua akan ikut merasakan kesukaan dan kedukaan dari satu sama lain, karena semua telah menyumbangkan tenaganya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan satu sama lain dengan kecintaan dan keinsyafan sendiri.

Semoga kita semua dapat menyadari bahaya daripada sistem riba yang sekarang sedang menjerat dunia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Serta penulis berharap kesadaran masyarakat internasional dalam menjalankan sistem baru ini, sehingga Tertib Dunia Baru yang dicita-citakan oleh seluruh masyarakat dunia dapat terlaksana dengan sempurna. Penulis juga berharap penerapan sistem Al-Waṣiyyat yang penulis uraikan dalam tulisan ini dapat menggambarkan wajah Islam yang sesungguhnya yakni sebagai rahmat bagi semesta alam.

Tentang Penulis

Sadiq Adhetyo

Tinggalkan komentar