Kebangsaan Muhammad Nurdin

Tiap Orang Berhak Kaya, dan Kita Berhak Membuatnya Dermawan

Soal Tax Amnesty, masih ada aja yang ributkan. Kemarin kita lihat banyak buruh yang demo tentang ini. Pemerintah dinilai hanya menguntungkan korporasi dan pengusaha.

Yang mulia Said Iqbal bersabda, “Bagi buruh UU Tax Amnesty ini mencederai rasa keadilan para buruh, buruh taat pajak tetapi orang-orang kaya, korporasi, pengusaha hitam, orang-orang pemilik modal besar diampuni pajaknya.”

Selain demo soal Tax Amnesty, buruh juga demo soal Pilkada DKI. Mereka menolak Ahok jadi Gubernur DKI. Luar biasa sekali kepedulian buruh yang kebanyakan warga Jabar ini terhadap DKI. Meski kurang relevan, tapi tak mengapa, yang penting kan rame. Bisa silaturahim sekalian.

Saya tahu, Tax Amnesty itu membunuh rasa keadilan kita. Anda yang taat bayar pajak tentu geram dengan kelakuan pengusaha-pengusaha ini, yang mungkin bos anda. Dan kita punya hak untuk menyuarakan semua ini.

Kita sadar bahwa para pengusaha hitam itu gak punya nurani untuk ikut serta bangun bangsa. Mereka mau kaya sendiri. Tidak mampu memberi sepersekian persen hartanya untuk pembangunan bangsa ini.

Ngomong-ngomong tentang pembangunan. Bisa jadi, inilah alasan para pengusaha itu enggan taruh duit di Indonesia. Mereka bayar pajak gede, tapi uangnya entah menjadi apa? Banyak proyek yang mangkrak.

Pikir mereka, daripada itu duit dimakan sama orang-orang tak bertanggung jawab, lebih baik dimakan sama keluarga sendiri. Diendapkanlah dana-dana triliunan rupiah itu di luar.

Saya rasa tiap orang perlu jaminan tentang apa yang telah ia sumbangkan. Jangan cuma berlindung dibalik konsep “ikhlas”.

Bukankah kita beramal shaleh, sebab takut akan azab neraka dan menginginkan rahmat surga? Kita perlu jaminan tentang ganjaran itu. Bukankah kita makhluk yang pamrih? Dan Tuhan tahu itu.

Anda suka berkontribusi melalui kitabisa(dot)com? Apa yang membuat anda ingin menyumbang? Apakah semata-mata anda ikhlas? Tidak juga. Kita menyumbang karena kita melihat adanya jaminan bahwa dana itu akan dimanfaatkan secara amanah.

Kita yang menyumbang cuma 100ribu, 200ribu saja butuh kepastian tentang itu. Apalagi mereka yang menyumbang dengan nilai ratusan juta bahkan miliyaran rupiah.

Tahu tidak, kenapa Pakde Jokowi tidak menggalakkan program Tax Amnesty di awal-awal masa jabatannya? Penerawangan saya yang lemah menyimpulkan bahwa Pakde mau memperlihatkan dulu komitmennya pada pembangunan di negeri ini. Menyelesaikan proyek yang mangkrak. Baik itu jalan tol, jalan antar provinsi, maupun tol laut.

Pakde mau kasih tahu kepada mereka yang berduit bejibun dan enggan kena pajak, “Nih.. kamu lihat. Komitmen kami tentang pembangunan Indonesia. Semua jelas, transparan, dan tepat sasaran.”

Setahun cukuplah buat kasih gambaran bahwa pemerintahan sekarang bisa dipercaya untuk mengelola anggaran. Akhirnya, digagaslah program Tax Amnesty.

Pakde tahu, sebagai presiden ia tidak bisa melarang orang (pengusaha) untuk jadi kaya raya. Itu hak mereka. Toh, itupun bisa menghidupi banyak orang. Tapi, Pakde juga tahu, sebagai presiden ia bisa membuat pengusaha-pengusaha itu dermawan.

Dibantu “Srikandi” Indonesia yang sangat pakar urusan “duit”, Ibunda Sri Mulyani. Pengusaha-pengusaha itu terjerat hatinya untuk menjadi dermawan. Mereka yakin bahwa inilah waktu yang tepat untuk membangun negeri. Saat garong-garong berdasi terkulai tak berdaya.

Per 1 Oktober 2016, deklarasi harta mencapai 3.500 Triliun, dana repatriasi tembus 140 Triliun dan dana pajak yang berhasil dihimpun dan masuk kas negara tembus 97 Triliun. Lalu?

Lalu, rupiah menguat terus. Bursa saham Indonesia berhasil mengalahkan Singapura dan Malaysia. Inilah prestasi Pakde yang setahun lalu dikabar-gaibkan akan lengser. Ternyata, kabar gaib itu benar. Pakde lengser dari ekonomi Indonesia yang terpuruk, menuju ekonomi yang membaik dan menguat.

Mereka yang mencibir Pakde di awal, pada akhirnya, hanya bisa melongo tak karuan. Mereka menjadi saksi bahwa sekali lagi, mereka kalah telak. Dan sekali lagi, mereka masih gak bisa move on dari pengalaman pahit Pilpres lalu.

Kepada para buruh yang terkasih, juga pekerja-pekerja lain yang punya pemikiran serupa dengan para buruh. Saya hanya ingin katakan bahwa 97 T itu bukan nilai yang sedikit. Butuh kesadaran yang tinggi untuk bisa mengumpulkan sejumlah itu.

Dengan adanya Tax Amnesty berarti percepatan pembangunan negeri ini makin terlihat.

Dengan adanya Tax Amnesty berarti kita sudah belajar memaafkan dan memberi kesempatan kepada pemiliki modal untuk ikut serta membangun negeri.

Tidak ada yang bisa cegah orang jadi kaya. Tapi kita bisa membuatnya jadi dermawan.

_

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar