Opini

Toleransi, Agama, dan Kecerdasan [Bagian 1/2]

kecerdasan

Hampir satu abad terakhir para peneliti mencoba menemukan korelasi ke-religius-an (religiosity) dengan (intelligence). Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh tingkat kecerdasan terhadap tingkat religiosity seseorang. Pengujian dilakukan pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat dengan berbagai level pendidikan dan latar belakang. Secara umum, studi-studi tersebut menunjukkan hubungan negatif (negative correlation) antara tingkat kecerdasan dan ke-religius-an. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat kecerdasan (IQ) seseorang, maka tingkat religiosity-nya akan semakin rendah.

Kita bisa membaca beberapa publikasi mutakhir yang meneliti hubungan inteligence-religiosityini. Studi yang dilakukan oleh Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski misalnya [1]. Studi ini menguji korelasi intelligence dan religiosity antar dua orang saudara kandung yang dibesarkan dalam keluarga yang sama.

Ganzach dan Gotlibovski menemukan tingkat inteligensia (yang diukur berdasarkan IQ) akan berbanding terbalik dengan religiosity. Maka dalam konteks ini, seorang dengan IQ tinggi akan cenderung tidak religius dibandingkan saudaranya yang memiliki IQ lebih rendah. Meskipun mereka sama-sama dibesarkan dalam pola didik keluarga dengan latar belakang sangat religius.

Studi ini juga dikembangkan dengan menguji hubungan kecerdasan-religiusitas terhadap tingkat pendidikan [2]. Menariknya, hasil studi ini menunjukkan tingkat pendidikan tidak memainkan peran penting dalam mempengaruhi tingkat religiusitas sesorang. Karena tidak ada pola yang konsisten ketika tingkat religiusitas dibandingkan dengan tingkat pendidikannya. Bahkan jika dipisahkan berdasarkan asal keluarga dengan latar belakang religius yang kuat dan yang tidak.

Anak yang kurang cerdas meskipun mendapatkan pendidikan tinggi tetap saja akan menjadi individu religius ketika memiliki latar belakang religius. Sebaliknya, anak cerdas akan tumbuh menjadi individu yang kurang religius atau religiusitas yang rendah baik ia berpendidikan rendah dan dari latar belakang keluarga yang sangat religius. Artinya, kecerdasan akan memberikan dampak lebih signifikan terhadap religiosity. Pada saat yang sama, studi tersebut juga menunjukkan tingkat pendidikan tidak menggambarkan tingkat kecerdasan seseorang.

Publikasi lain yang juga tidak kalah menarik adalah dari Miron Zuckerman et. al yang melakukan meta analisis terhadap penelitian-penelitian terkait untuk hubungan kecerdasan dan religiosity [3]. Dalam publikasinya, Zuckerman et. al. mengevaluasi hasil studi-studi mengenai hubungan inteligence-religiosity. Studi tersebut menunjukkan beberapa kesalahan dalam mem-parameterisasi-kan tingkat kecerdasan.

Salah satu contohnya adalah studi-studi yang mengukur tingkat kecerdasan melalui GPA atau IPK. Menurut data merekan (Zuckerman et. al), dalam pengujian terhadap IPK mahasiswa diperguruan tinggi, IPK tidak menggambarkan tingkat IQ seseorang. Kesalahan yang sama dengan membandingkan kecerdasan (IQ) dengan tingkat pendidikan.

Banyak penelitian serupa yang kurang lebih memberikan hasil yang sama mengenai hubungan kecerdasan dan religiusitas. Baik yang dilakukan berdasarkan etnik tertentu seperti Helmuth Nyborg [4] maupun kelompok umur tertentu seperti Leslie J. Francis [5]. Peneliti-peneliti tersebut menemukan korelasi yang sama antara kecerdasan dan religiusitas. Semakin tinggi kecerdasan sesorang, maka akan semakin rendah tingkat ke-religius-an sesorang tersebut.

Para peniliti ini sepakat, setidak-tidaknya terdapat tiga faktor yang dipercaya melandasi korelasi negatif antara kecerdasan dan tingkat ke-religius-an (inteligence-religiosity) tersebut. Pertama, orang-orang cerdas memiliki kecenderungan menolak pemahaman dogmatis yang biasanya ada pada pemahaman .

Kedua, orang-orang cerdas memiliki kecenderungan untuk berpikir secara analitik sebagai lawan dari sikap intuitif yang mendasari kepercayaan terhadap agama. Dan yang ketiga, fungsi agama sebagai pengendalian diri, peningkatan kemampuan diri (self-enhancement) dan perasaan aman (secure attachment) dapat diberikan oleh kecerdasan. Sehingga orang-orang cerdas merasa tidak terlalu memerlukan bantuan untuk itu.

Di sisi lainnya, kepercayaan terhadap agama cenderung terjadi secara intuitive. Sesorang dengan tingkat kecerdasan yang rendah akan cenderung lebih mudah menerima begitu saja semua ajaran agama yang ia terima. Karena mereka akan kesulitan berpikir kritis terhadap ajaran agama yang ia terima, karena itu mendorong mereka untuk keluar dari pola intuitif-nya.

Mereka cenderung tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan lain ajaran tersebut. Lebih jauh lagi, mereka juga akan sulit menerima antithesis dari thesis yang mereka percaya. Sehingga mereka tidak pernah menggerakkan thesis nya menjadi synthesis baru. Maka agama yang bersifat literally atau diterima begitu saja dengan berlindung dibalik kata “iman” akan jauh lebih mudah bagi mereka.

Lalu apakah artinya orang-orang cerdas bisa dipastikan tidak akan taat beragama atau malah cenderung tidak percaya agama? Sementara jika menengok sejarah beberapa daftar ilmuwan besar, kita bisa menemukan beberapa ilmuwan besar yang juga seorang penganut agama yang taat.

Blaise Pascal misalnya, adalah seorang matematikawan dengan sumbangsih besar dengan penemuan kalkulator analog yang juga seorang biarawan. Immanuel Kant, salah satau filsuf dengan karya-karyanya berpengaruh juga merupakan orang yang taat beragama. Tentu saja kita harus menerima kalau para ilmuwan tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.

Dalam sejarah kita juga menemukan beberapa nama-nama ilmuwan yang juga dikenal sebagai muslim yang taat. Fakhruddin Al-Razi misalnya, adalah seorang fisikawan dan ahli kima (alchemist) yang memberikan banyak sumbangsih bagi pengetahuan modern saat ini. Salah satu sumbangan pemikiran Al-Razi yang paling terkenal adalah kritiknya terhadap model geosentris Ptolemy yang menyatakan bumi sebagai pusat dari alam semesta. Bagi Al-Razi, bumi (world) bukanlah pusat alam semesta, melainkan bagian dari konstelasi benda-benda langit. Lebih jauh lagi, alih-alih hanya satu bumi, Al-Razi juga berpendapat bahwa terdapat banyak world di alam semesta. Uniknya lagi, beliau mengungkapkan ide ini berdasarkan Al-Quran.

Demikian juga dengan Ibn al-Haytham, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan optik, astronomi dan matematika. Sama halnya dengan Al-Razi, Al-Haytham mempelajari dan akhirnya mengkritisi teori Optik Ptolemy. Al-Haytham juga mempelajari dan mengembangkan teorema geometri Euclid dan memformulasikan Lambert quadrilateral. Selain seorang Ilmuwan dengan banyak kontribusi terhadap perkembangan pengetahuan, al-Haytham juga merupakan seorang muslim yang taat.

Berdasarkan fakta tersebut, tentu saja kita bisa belihat ketidak konsistenan dengan hasil penelitian mutakhir yang menunjukan korelasi negatif antara religiusitas dan kecerdasan. Maka, mungkin saja kita perlu mendapatkan penjelasan lebih jauh mengenai hubungan inteligence danreligiosity ini. Pertanyaannya, bagaimana implementasi pola pikir intuitif ini bisa terjadi dalam sikap beragama? Apakah memang benar rasionalitas yang menjadi dasar berpikir analitik adalah sesuatu yang asing bagi pemahaman agama? Meninjau sejarah Mu’tazilah dan Ash’ariah dalam peradaban Islam dapat membantu kita memahami hal ini.

Kelompok Mu’tazilah pada awalnya adalah kelompok yang mengambil sikap netral pada masa perpecahan karena terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan dan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di era kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa ini, dunia Islam melalui kelompok Mu’tazilah begitu terbuka terhadap pengetahuan dari manapun.

Mereka mengkaji secara serius dari teori Euclid hingga Phytagoras, mereka mencari jawaban-jawaban terhadap pertanyaan logis mengenai ajaran Agama Islam dari filsafat Helenistic hingga filsafat Hindu. Sehingga tidak jarang juga mereka disebut sebagai free thinker atau kelompok liberal. Implikasi dari sikap ini, Peradaban Islam kemudian berkembang secara pesat. Hal ini tentu saja disebabkan wilayah tersebut menjadi pusat perkembangan pengetahuan. Seperti yang terjatat dalam sejarah, pada masa ini ketika Eropa dalam era kegelapan, dunia Islam mengalami era ke-emasan.

Dengan menggunakan dasar logika yang mereka dapatkan dari filsafat-filsafat Henelistic, creation ex-nihilo, mereka mengembangkan konsep Tauhid ketika konsep Tuhan yang abadi sabagai satu dan kesatuan yang absolut dan tidak punya bagian terpisah. Sehingga, apapun yang menjadi bagian dari Tuhan tidak dapat dimusnahkan. Maka tidak mungkin Al-Quran adalah kata-kata dari Allah SWT karena ia akan menjadi bagian dari Tuhan yang abadi. Implikasinya, Mu’tazilah percaya bahwa Al-Quran adalah ciptaan (makhluk) Allah SWT sehingga ia tidak kekal sebagaimana Allah SWT.

Selain itu, Mu’tazilah juga mempercayai konsep surga dan neraka yang dibangun dari proses logis yang kurang lebih mirip. Tuhan menginginkan yang terbaik bagi manusia, namun free-willlah yang menyebabkan terjadinya kejahatan. Maka Tuhan akan memberikan ganjaran bagi mereka yang berbuat kebaikan dan menghukum siapa saja yang berbuat kejahatan.

Pada era kekhalifaan Abbasiyah dibawah Al-maʾmūn Ibn Ar-rashīd pada tahun 827M menetapkan paham tersebut sebagai dogma negara. Pada tahun 830M kekhalifahan ini juga menetapkan minha (inquisisi) yang menghukum mereka yang berbeda pendapat dengan dogma tersebut. Salah satu korbannya adalah Imam Ahmad ibnu Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Kemudian sejarah mencatat sebuah perdebatan antara Abu Al Hasan al Ashary dengan Al-Jubai, gurunya yang juga pemuka Mu’tazilah. Dalam perdebatannya dengan Al-Jubai, Ashary menunjukan jika nalar memiliki kelemahan, karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan. Maka seharusnya kita memberikan ruang dan mengakui keterbatasan tersebut.

Perlu dicatat disini, Al-Ashary mengkritisi Al-Jubai juga menggunakan nalar, bukan dengan hujjah atau pendapat yang secara kaku merujuk pada ayat-ayat tertentu. Artinya disini kita bisa melihat, yang dikritisi oleh Al-Ashary adalah kekakuan paham Mu’tazilah yang meskipun awalnya dibangun dari proses berpikir kritis. Pengikut Al Ashary ini kemudian menyebut diri mereka sebagai Ash’ariah. Terkadang disebut juga sebagai kelompok tradisionalis yang menempatkan Al-Quran, Sunnah dan Hadith sebagai pedoman utama.

Sumber: https://ahmadmfirdaus.com/2017/05/30/toleransi-agama-dan-kecerdasan/

Sumber Gambar: http://dailyutahchronicle.com/2017/10/30/braden-rating-issues-rate-professors/

Tentang Penulis

Ahmad Mukhlis Firdaus