Opini

Toleransi, Agama, dan Kecerdasan [Bagian 2/2]

kecerdasan

Dalam konteks pola pikir analitik dan intuitif yang mendasari kepercayaan, kita tentu saja dengan mudah melihat kalau Mu’tazilah bertransformasi yang awalnya membangun pemahaman dengan keterbukaan pikiran menjadi kelompok yang anti terhadap perbedaan atau berpikiran tertutup. Mekanisme berpikir kelompok Mu’tazilah yang awalnya mengikuti pola analitik berubah menjadi intuitif. Karena mereka tidak memberikan ruang untuk orang lain berbeda pendapat dengan mereka. Ketika menggunakan inquisisi negara untuk memaksakan kebenaran versi mereka, Mu’tazilah bertansformasi dari kelompok yang awalnya berlandaskan logis menjadi dogmatis.

Sebaliknya, Ash’ariah meskipun kerap disebut bagai aliran tradisionalis, membangun argumentasinya berdasarkan alur berpikir secara analitik. Al-Ashary juga menggunakan logika dalam menyusun argumentasinya. Dalam perdebatannya dengan Al-Jubai, Al-Ashary menggunakan argumentasi argumentasi dialog antara tiga orang yang meninggal, (orang yang saleh, orang jahat dan anak kecil).

Al-Ashary menantang logika Mu’tazilah yang diwakili oleh Al-Jubai, bagaimana konsep punishment and reward bisa berlaku secara adil pada tiga orang tersebut. Karena apapun ganjaran bagi masing-masing orang tersebut menjadi tidak adil. Sehingga tidak sesuai dengan Sifat Allah. Argumentasi Al-Ash’ary ini menunjukkan alur bepikirnya yang analitis. Sehingga Ash’ariah menjadi menarik bagi para pemikir.

Maka tidak heran kita mengenal Al-Razi dan Al-Haytham menjadi pengikut aliran Ash’ariah ini. Selain berpedoman scriptures , kelompok As’ariah ini tetap terbuka untuk mempelajari secara serius -ilmu filsafat dari tradisi Helenisme, Hinduisme hingga Judaisme. Maka tidak heran dalam banyak tulisan mereka kita menemukan referensi dari Phytagoras, Euclid, dan Aristoteles.

Meskipun kemudian dalam perkembangannya, kelompok ini juga mengalami perubahan yang kurang lebih sama seperti Mu’tazilah. Aliran Ash’ariah ataupun turunannya, kemudian mengharamkan logika dalam memahami . Kondisi ini yang kemudian kita ketahui membawa kemunduran bagi peradaban Islam hingga sekarang.

Berdasarkan konteks tersebut, kita bisa melihat kalau latar belakang intelligence-religiosity menjadi tidak relevan dalam kasus Ash’ariah-Mu’tazilah ini. Mu’tazilah yang mengedepankan logika bisa juga menjadi dogmatis terhadap pemahamannya. Sebaliknya, Ash’ariah yang tradisionalis memegang teguh prinsip agama, juga bisa mengikuti pola pikir analitik dan memberi ruang logika untuk menemukan penjelasan.

Orang cerdas tidak melulu tidak percaya terhadap agama. Mereka hanya tidak mau mengikuti aturan agama yang kaku, yang tidak memberi ruang untuk melakukan pola pikir analytic. Mereka yang memiliki tingkat tinggi akhirnya sering dituduh tidak beriman, karena pola berpikir logis mereka kerap menjadi serangan bagi keyakinan keagamaan.

Hal ini bisa kita lihat dari Newton yang akhirnya dituduh “tidak beriman” karena keyakinan mereka tidak sesuai dengan ajaran baku yang dikeluarkan oleh otoritas agama yang berkuasa pada masa tersebut. Padahal sebelumnya, Newton merupakan anggota terhormat dari college “the holy undivided trinity” di Cambridge yang merupakan tempat pendidikan paderi bagi gereja pada masa itu.

Newton dikeluarkan dari fellow college dengan tuduhan bid’ah setelah secara terang-terangan mempertanyakan posisi Yesus dalam Trinitas. Newton tidak bisa untuk tidak mempertanyakan hal-hal yang menurutnya bertentangan dengan logikanya. Maka berdasarkan hal ini, Newton bukan tidak percaya terhadap agama, namun ia menolak pemahaman agama yang kaku dan dogmatis.

Bahkan lebih jauh lagi, hal yang sama juga bisa diuji pada ilmuwan-ilmuwan besar yang dikenal sebagai agnostic atau terlihat tidak terlalu peduli pada agama. Albert Einstein salah satu contohnya, dalam salah satu wawancara yang dimuat dalam bukunya George Sylvester Viereck, Glimpses of the Great, pada tahun 1930. Einstein menyatakan ia bukanlah seorang atheist juga bukan seorang pantheisme (dugaan ini dikemukakan karena ia mengagumi Baruch Spinoza, seorang filsuf yang meyakini kesatuan realitas dan ketuhanan).

Einstein mengilustrasikan kepercayaannya terhadap Divine Being (Wujud Tuhan) sebagai anak kecil yang masuk dalam sebuah perpustakaan yang penuh dengan . Anak kecil tersebut memahami betul kalau -buku tersebut ada yang menulis. Maka dalam konteks ini, agak sulit kita mengatakan kalau Einstein tidak religius atau kurang religius.

Jika digali bagaimana studi-studi mutakhir yang melihat hubungan negatif antara kecerdasan dan religiosity melakukan parameterisasi. Kita juga kembali menemukan penjelasan terhadap ketidak konsistenan tersebut. Salah satu contohnya yang bisa ditemui dalam publikasi Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski, Instrumen yang digunakan dalam mengukur tingkat religiosity oleh menunjukkan seseorang yang memiliki keyakinan jika Agama harus dipercayai “excactly” sebagaimana tertulis atau tidak memberikan ruang untuk mempertanyakan keyakinan tersebut.

Dengan definisi religius seperti itu, tentu saja kita akan kesulitan melihat orang yang memiliki kecerdasan tinggi sekaligus adalah seorang yang religius. Karena keterbukaan pikiran adalah salah satu indikasi kecerdasan. Sesorang dengan tingkat kecerdasan tinggi akan tertarik dengan benturan pemikiran. Pada saat yang sama, orang-orang dengan tingkat kecerdasan tinggi juga tidak menyukai konsep agama yang dogmatis.

Dengan demikian, kita bisa sedikit merevisi tingkat religiusitas ini dengan tingkat intoleransi/. Semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin toleran sikapnya dalam beragama, sebaliknya semakin rendah kecerdasan seseorang tersebut maka semakin tinggi kecenderungannya bersikap intoleran.

Memahami korelasi kecerdasan dan sikap intoleran ini, kita juga bisa mendapatkan penjelasan mengenai fenomena kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Agama. Seperti yang sama-sama kita ketahui, Agama kerap menjadi alasan yang cukup kuat untuk seseorang membunuh. Karena mereka percaya, membunuh orang lain adalah jalan pintas menuju surga.

Pada umumnya keyakinan ini mereka dapatkan karena hasutan dari seseorang yang ‘so called‘ rohaniawan ataupun pemuka agama. Para pelaku bom bunuh diri sering kali adalah pemuda tanggung dengan pemahaman agama terbatas yang diterima secara letterlijk.

Sederhananya, tingkat kecerdasan yang rendah ini yang membuat kaum fundamentalis ini kesulitan mentoleransi perbedaan, karena hal tersebut akan membuat mereka merasa insecure. Mereka menyukai keseragaman karena hal ini membuat mereka tidak perlu menghadapi benturan pemikiran.

Orang-orang dengan kecerdasan rendah ini juga akan mudah sekali curiga kalau kelompok lain di luar agamanya memiliki niat buruk. Maka tidak heran jika kita melihat mereka cenderung menyukai segala teori konspirasi untuk melegitimasi kecurigaannya. Mereka juga akan sangat mudah terpancing secara emosional karena marah adalah salah satu indikasi rendahnya tingkat kecerdasan mereka.

Sebaliknya, orang-orang dengan kecerdasan tinggi akan cenderung memiliki sikap toleran karena mereka memahami perkembangan pemikiran membutuhkan tantangan (challenge) dan pengujian. Setiap pemikiran harus mengalami pengujian terus-menerus hingga ia bisa dikatakan benar. Mereka menjadikan agama lebih sebagai ruang private untuk mengenal Tuhan (divine being) dari pada identitas. Sehingga tidak mudah merasa terhina ketika ada yang mengkritisi ajaran agamanya.

Terkait dengan hasil penelitian Ganzach et. al yang menunjukan tidak ada korelasi antara tingkat pendidikan, latar belakang keluarga dan lingkungan terhadap religiusitas. Maka kita tidak perlu heran ada yang berpendidikan tinggi namun menjadi tidak toleran. Atau juga ada mereka yang tumbuh dan berkecimpung di lingkungan yang sangat tidak religius namun terkait sikap dalam beragama lebih cenderung tidak toleran. Hal ini semata-mata mungkin karena faktor kecerdasan mereka yang rendah.

Sumber: https://ahmadmfirdaus.com/2017/05/30/toleransi-agama-dan-kecerdasan/

Referensi

[1] Yoav Ganzach dan Chemi Gotlibovski (2013), “Intelligence and religiosity: Within families and over time“. Intelligence 41 (2013) 546–552

[2] Yoav Ganzach, Shmuel Ellis dan Chemi Gotlibovski (2013) “On intelligence education and religious beliefs” Intelligence 41 (2013) 121–128

[3] Miron Zuckerman, Jordan Silberman dan Judith A. Hall (2013). “The Relation Between Intelligence and Religiosity: A Meta-Analysis and Some Proposed Explanations“. Personality and Social Psychology Review 17(4) 325–354 © 2013 sagepub.com/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/1088868313497266 pspr.sagepub.com

[4] Helmuth Nyborg (2009), “The intelligence–religiosity nexus: A representative study of white adolescent Americans”, Intelligence 37 (2009) 81–93

[5] Leslie J. Francis (1998),  “The relationship between intelligence and religiosity among 15–16-year-olds”, Journal of Mental Health, Religion & Culture,

Sumber Gambar: http://www.bbc.com/culture/story/20170602-the-secrets-of-britains-town-of-books

Tentang Penulis

Ahmad Mukhlis Firdaus