Opini

TOLERANSI ANTAR UMAT SEAGAMA

Penulis Satria Utama

Ya, betul anda tidak salah baca, dan saya juga tidak salah ketik, judul tulisan kali ini seperti itulah adanya. Kenapa bukan “ Antar Umat Beragama” sebagaimana sudah sering kita dengar dari guru-guru di sekolah? Karena saya melihat kecenderungan orang lebih mudah menerima perbedaan yang signifikan, dan mempermasalahkan perbedaan-perbedaan kecil.

Ibarat seorang rasialis yang merasa terganggu saat berdekatan dengan manusia lain yang berbeda warna kulitnya, namun merasa nyaman memelihara hewan peliharaan di rumahnya yang jelas-jelas dari spesies berbeda. Berlebihan? Tetapi itulah kenyataan yang terjadi saat ini. Mau bukti lain? Dengan senang hati akan saya coba paparkan lebih lanjut.

Sebelumnya, ijinkan saya menjelaskan mengapa saya mengangkat masalah ini justru pada saat kita sedang dalam suasana kegembiraan memperingati HUT kemerdekaan negara kita yang ke-72. Kemerdekaan yang telah direbut dari dengan susah payah oleh semua golongan rakyat yang dalam hatinya saat itu sudah terpatri rasa kebangsaan yang kuat. Golongan rakyat yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dan . Mereka bersatu dalam satu cita-cita mewujudkan kebebasan yang sekian lama membelenggu semua norma kehidupan mereka.

Selama berada di bawah kekuasaan penjajah, bangsa kita ditekan sedemikian rupa sehingga banyak hak-hak sebagai warga negara atau bahkan sebagai manusia yang dilanggar. Bangsa kita dibiarkan bodoh dan menjadi pelayan di negerinya sendiri. Identitas sebagai manusia yang memiliki sebuah negara direnggut secara paksa dengan memaksakan kekuasaan mereka atas bangsa kita.

Namun akhirnya dengan semangat persatuan dan rasa kebangsaan yang kuat, para leluhur kita berhasil mewujudkan sebuah negara yang berdaulat, yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan agama. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Selama 72 tahun usia bangsa kita, sudah terbukti bahwa masyarakat kita bisa hidup berdampingan dalam keragaman suku bangsa yang ada, pun juga ragam agama yang ada. Saya teringat kembali saat memanasnya suasana di warga kita saat sedang gencarnya kampanye pada Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat itu masyarakat kita “sedikit” terpecah ke dalam beberapa kelompok. Beberapa rekan saya ada yang menyangkal adanya perpecahan tersebut dengan menyodorkan bukti berupa swafoto mereka dengan kerabat di lingkungan mereka yang berasal dari agama yang berbeda dan/ atau dari suku bangsa yang berbeda. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka tidak terpengaruh dengan isu perbedaan suku bangsa yang dihembuskan di arena politik saat itu, dan saya hanya tersenyum pahit menyadari kenyataan banyak yang tidak sadar bahwa mereka telah dengan lapang hati menerima perbedaan paham dalam memilih agama, namun gagal dalam menerima perbedaan paham dalam penafsiran sepenggal ayat yang notabene merupakan pegangan agama yang sama.

Saya tidak bermaksud menggugat hasil pemilihan tersebut, namun saya ingin mengajak pembaca untuk sejenak merenungkan kembali kalimat “Perbedaan adalah Sebuah Keniscayaan”. Sampai sejauh mana kita memahami maknanya? Sejauh mana kita menerapkannya dalam sebuah negara yang memiliki perbedaan di dalamnya?

Betul, saya melihat kenyataan banyak mesjid yang tidak mempermasalahkan imamnya membaca do’a Qunut pada saat shalat shubuh, atau tetangga yang tetap menghadiri tahlilan kerabat yang meninggal, atau warga yang menghormati golongan yang merayakan Idul Fitri satu hari lebih cepat atau lebih lambat daripada yang diumumkan oleh pemerintah. Mereka semua diakui sebagai warga negara yang setara, yang diakui serta dihormati hak-haknya oleh warga lainnya.

Di saat yang bersamaan saya tidak habis pikir saat ribuan warga di Manislor harus membuat pernyataan di atas kertas bermaterai untuk mendapat haknya berupa E-KTP. Atau sebagian warga Mataram yang sejak 13 tahun yang lalu terusir dari kampung halaman mereka oleh bangsanya sendiri. Atau warga Depok yang hanya bisa mengusap dada saat melihat aparat pemerintahan dari negara yang mereka cintai memasang kayu penghalang di pintu mesjid mereka. Atau diturunkannya spanduk ucapan HUT RI di Depok, Makasar dan Manokwari oleh aparat pemerintah. Atau mahasiswi yang menolak tinggal satu kost-an dengan mahasiswi lainnya hanya karena jilbabnya belum syar’i. Atau mempermasalahkan pengetikkan insya atau insha dengan iming-iming (atau ancaman?) surga dan neraka. Atau berapa jumlah raka’at shalat tarawih. Atau…

Terlalu banyak contoh lain yang tidak bisa saya sebutkan semuanya di sini, namun setidaknya sudah bisa kita gambarkan betapa umat () saat ini begitu terkuras perhatian dan fikirannya pada hal-hal yang sejenis itu. Umat jadi terjebak dalam kondisi saling menyalahkan, merasa paling benar, hingga saling meng-kafirkan. Beberapa ada yang terang-terangan memaksakan kehendaknya agar sekelompok tertentu membuat agama baru hanya berdasar tuduhan sepihak bahwa kelompok tersebut menyimpang.

Masih berpikir analogi rasialis tadi berlebihan? Bayangkan, alih-alih mengikuti teladan Rasulullah Muhammad saw yang menghabiskan hidupnya untuk menyeru umat manusia pada jalan kebaikan, mereka malah memaksakan larangan mengaku sebagai muslim bagi sekelompok orang yang taat menjalankan ajaran Islam. Ini sama saja dengan seorang rasialis yang menolak mengakui keberadaan manusia lain namun bisa menerima hewan peliharaan sebagai bagian kehidupan sehari-harinya. Dan saya yakin tidak satupun di antara kita yang membenarkan faham rasialis.

Jadi berhentilah meributkan masalah-masalah perbedaan kecil seperti itu. Berhentilah menakar kadar ke-Islaman orang lain dengan berpegangan pada hal-hal seperti cara berpakaian, cara berbicara atau cara memahami satu-dua ayat dalam Al-Qur’an. Selama seseorang itu masih menjalankan Rukun Islam yang 5, dan meyakini Rukun Iman yang 6 maka seseorang tersebut adalah seorang muslim, dan itu semua bukan wewenang kita untuk menilai. Cukuplah pribadi masing-masing dan Yang Maha Mengetahui yang menilai.

Jika kita sudah bisa menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut dengan bijak, niscaya akan tercipta rasa persaudaraan yang kuat sesama muslim dan tidak mudah diadu domba oleh pihak manapun yang bisa saja meniupkan isu perbedaan kapanpun tanpa kita sadari. Semoga kita termasuk dalam golongan umat yang toleran dan terhindar dari upaya adu domba pihak manapun. Cag.

Tentang Penulis

Satria Utama