Kebangsaan

Toleransi dan Kebangsaan

toleransi dan kekerasan

“KEKERASAN dipicu oleh pemaksaan identitas tunggal yang penuh permusuhan ini kepada orang-orang awam yang digelorakan oleh para penebar teror” (Amartya Sein, 2006). Kalimat dari Amartya Sein itulah yang terbesit oleh penulis disaat seluruh kolega penulis bertanya mengenai pendapat penulis soal demo 4 November 2016.

Ya, hemat penulis tidak berlari terlalu jauh dari buku Sein yang berjudul Identity and Violence: The Illusion of Destiny. Menurut hemat penulis, buku tersebut mempunyai komposisi yang pas dalam memberikan kritik kepada masyarakat sosial di Indonesia saat ini.

Berbicara mengenai 4 November 2016, fikiran kita akan tertuju kepada demo besar-besaran yang dilakukan di ibukota oleh masyarakat yang mengaku membela agama. Namun, dalam perspektif beberapa pakar, akademisi bahkan para ahli dan masyarakat luas, demo esok hari bukanlah memperbaiki citra agama tertentu; bahkan memperburuknya.

Tidak ada agama yang tidak baik di dunia ini, tidak ada agama yang mengajarkan pemaksaan identitas tunggal dalam kehidupan bermasyarakat. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan aliran kepercayaan lainnya, semua mengajarkan kebaikan dan toleransi. Tetapi manusia memang jauh dari kata sempurna; sempurna hanya milik Allah semata.

Itulah mengapa hemat penulis dengan cepat mengacu kepada kutipan dari Sein di atas. Pemaksaan identitas tunggal pada kehidupan sosial masyarakat bukanlah hal yang diajarkan oleh seluruh ajaran agama, namun pemaksaan tersebut digelorakan oleh para penebar teror.

Toleransi dan Pendidikan

Jauh sebelum Indonesia merdeka, salah satu ajaran leluhur yang menjunjung tinggi budaya ketimuran dan diwariskan kepada kita sekarang ini ialah toleransi; hal yang memang langka kita temui khususnya setelah 71 tahun Indonesia merdeka.

Toleransi merupakan kunci utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengingat 250 juta rakyat Indonesia mempunyai tanah kelahiran, suku, agama, ras, budaya bahkan pribadi yang berbeda di masing-masing jiwa yang hidup dalam diri mereka masing-masing.

Terlebih lagi semboyan dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah ‘Bhineka Tunggal Ika’, berbeda-beda namun tetap satu tujuan.Founding fathers negara ini telah sadar bahwa dari aspek sejarah, jauh sebelum Indonesia merdeka negara ini berdiri dengan fondasi-fondasi multikulturalisme di dalamnya.

Namun sangat disayangkan, dewasa ini sifat indiviual masyarakat Indonesia semakin terlihat. Contoh nyata yang terlihat saat ini ialah banyaknya penganut agama tertentu mengkafirkan para pihak yang diluar agama mereka, bahkan diluar mazhab mereka.

Seperti kita lihat bagaimana Basuki Tjahja Purnama (Ahok), seorang penganut agama kristen dan mencalonkan diri dalam panggung pemilihan umum kepala daerah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Namun beberapa kelompok masyarakat berbicara dengan lantang bahwa orang kafir dilarang menjadi pemimpin di Indonesia.

Tidak hanya itu, kekerasan yang terjadi kepada Ahmadiyah, Syiah, diskriminasi dalam pembangunan bahkan ditutupnya rumah ibadah menjadi gambaran terkikisnya poin-poin toleransi dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Fakta yang sangat menyedihkan.

Penulis sendiri pernah bersekolah di salah satu sekolah berbasis agama Islam, dalam waktu belajar terkadang beberapa tenaga pengajar di sekolah tersebut mengajarkan faham-faham intoleransi, seperti mengkafirkan satu sama lain. Padahal kita tahu bahwa pendidikan toleransi itu amat sangat penting, terutama di Indonesia.

Menurut hemat penulis, pendidikan toleransi amat sangat penting diajarkan di sekolah-sekolah. Karena pendidikan toleransi tersebut berguna untuk mengikis faham-faham intoleran yang menjadi dasar setiap kegiatan radikalisme atas nama agama yang terjadi di bumi pertiwi, agar keburukan ini tidak berlanjut kepada generasi penerus Republik Indonesia.

Walaupun kita tahu bahwa pendidikan toleransi akan memberikan banyak manfaat disamping pentingnya pendidikan tersebut, sangat disayangkan bahwa amat sangat sedikit kesadaran masyarakat Indonesia untuk memberikan pendidikan toleransi terutama kepada penerus-penerus bangsa.

Kedaulatan, Pertahanan dan Keamanan

Problematika mengenai toleransi dan multikulturalisme sesungguhnya tidak hanya mengenai antar golongan tertentu saja. Hal terburuk yang dapat terjadi dari masalah-masalah mengenai multikulturalisme ialah runtuhnya terganggunya pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia, hingga runtuhnya kedaulatan Indonesia sebagai negara.

Mari kita kilas balik kepada sejarah dunia, mungkin kita semua mengingat bagaimana India terpecah menjadi India dan Pakistan karena adanya perang saudara yang dilandasi oleh masalah-masalah antar umat agama tertentu pada masa itu.

Perseteruan antara umat Islam dengan Hindu pada masa itu menjadi sejarah kelam bagi India serta masyarakat yang ada didalamnya. Mengingat bagaimana seharusnya negara melindungi hak setiap warga negara terutama dalam menjalankan kepercayaannya masing-masing, dan pula masyarakat negara tersebut yang harusnya menjaga toleransi satu sama lain.

Bisa dibayangkan apabila terjadi perang saudara yang disebabkan oleh masalah multikulturalisme di Indonesia, hal itu akan menjadi hal terlucu dan memalukan yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Mengingat Indonesia adalah negara dengan latar belakang masyarakatnya yang bervariatif satu dengan lainnya.

Namun kita harus tetap waspada dengan ancaman yang terjadi. Apabila ada ancaman dari dalam maupun luar negeri, seluruh masyarakat Indonesia harus berjuang bersama untuk menangkis ancaman tersebut demi menjaga kedaulatan negara ini.

Lain hal, Indonesia adalah negara yang mempunyai populasi penganut agama Islam terbesar yakni mencapai 185 juta jiwa. Beberapa kali pula media-media nasional maupun internasional melaporkan bahwa Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) memberikan ancaman bahwa target selanjutnya yang akan di “Suriah-kan” adalah Indonesia.

Kita harus tetap waspada. Karakter umat Islam di Indonesia ialah mudah sekali tersulut emosi dan bersikap irasional dalam menanggapi seluruh masalah yang berkaitan dengan agama terutama agama Islam. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila pihak-pihak yang mengganggu kedaulatan Indonesia memainkan isu ini kedalam kehidupan sosial masyarakat kita.

Bagian Dari Bela Negara

Dewasa ini konsep bela negara kembali digalakkan oleh pemerintah kepada masyarakat dengan berbagai cara. Seperti kegiatan-kegiatan kenegaraan maupun melewati pendidikan-pendidikan yang diberikan kepada masyarakat Indonesia dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini dilakukan demi membentuk fikiran masyarakat untuk menjaga kedaulatan Indonesia.

Satu hal yang kita tidak sadari adalah bersikap toleran antara satu dengan lainnya ialah sikap yang berlandaskan bela negara juga. Implikasi dari sikap intoleran paling besar ialah pecah bahkan hancurnya sebuah negara karena perang saudara, sifat toleran menjaga hal tersebut agar tidak terjadi.

Pentingnya pendidikan toleransi adalah salah satu hal yang utama, agar generasi penerus tidak mudah termakan isu-isu yang mengancam keamanan dan kedaulatan negara. Yang menentukan suburnya tanaman ialah bagaimana ia dirawat sesaat setelah bibitnya ditanam di dalam tanah. Semoga masyarakat Indonesia dapat berfikir lebih arif dalam menanggapi masalah yang ada.

Tentang Penulis

Sadiq Adhetyo

Tinggalkan komentar