Opini

Tragedi Mako Brimob, Bom di Surabaya, dan UU Anti-Terorisme yang Tak Kunjung Usai

mako brimob surabaya

Belum kering air mata kita menyaksikan tragedi di , aksi telah terjadi kembali di 3 gereja di .

Aksi di tak hanya sekali ini saja terjadi. Aksi teror telah terlalu banyak menelan korban di negeri ini. Tragedi di Surabaya harus menjadi aksi berdarah terakhir. Sudah terlalu sakit hati bangsa ini oleh para teroris dan aksi mereka.

Mereka seakan-akan terus mencoba menggerus paham kebhinnekaan kita dengan agenda pendirian negara khilafah mereka yang tak kunjung berhasil.

Dalam laman video youtube kemarin ini, kita sempat melihat aksi para napiter di dalam penjara Mako Brimob. Mereka pun sempat berteriak menyatakan baiat kepada khalifah Al-Baghdadi yang mereka yakini sebagai pemimpin mereka.

Kebrutalan mereka pun berujung gugurnya 5 anggota Kepolisian yang disiksa secara tak manusiawi sebelum akhirnya mereka tak bernyawa lagi. Mereka dengan teganya menyayat-nyayat tubuh dan menggorok leher korban.

Korban di 3 gereja di Surabaya pun memakan korban lebih banyak lagi. Bahkan anak-anak pun turut menjadi korban kebengisan para teroris.

Seakan-akan hak Tuhan untuk mengadili makhluk ciptaan-Nya telah mereka wakili. Malaikat saja tak pernah sekali-kali lancang melangkahi Tuhan, namun mereka dengan leluasanya berani menghilangkan nyawa manusia lain.

Mereka menganggap aksi ini sebagai hal yang benar karena paparan radikalisme sudah terlalu membutakan mata dan hati mereka. Ajaran macam apakah ini ?

Rasanya dalam tak ada secuil pun ajaran untuk menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan. Bahkan, dalam riwayat Al-Baihawi dalam Sunanul Kubra terdapat riwayat Rasulullah SAW melarang pasukannya menebang pohon kurma, membunuh hewan ternak, dan merobohkan bangunan ketika akan berperang di Syam.

Tentu lasykar Rasulullah SAW tidak melanggar perintah nabi mereka. Mereka tak pernah sedikit pun berani melanggar larangan beliau.

Lalu, siapakah nabi yang diyakini oleh para teroris ini? Jika mereka beraksi atas nama Islam tentu mereka harus mengikuti perintah Rasulullah SAW sebagai pembawa agama Islam itu sendiri.

UU Terorisme yang Tak Kunjung Rampung

Terlalu kerdil jika mereka melakukan kerusuhan hanya dipicu oleh makanan. Temuan pun mengungkapkan bahwa sanak saudara yang membawa makanan kerap kali menyelipkan benda-benda yang berpotensi berbahaya ke dalam rumah tahanan.

Lalu napi tersebut mengamuk karena makanannya tak sampai ke tangannya. Ia malah mengajak rekan-rekan napiter lain untuk menjebol tembok dan mengambil senjata. Selanjutnya mereka berhasil menguasai rutan.

Sebuah video yang sempat viral di akhir tahun 2017 menunjukkan para napiter di Mako Brimob melakukan unjuk rasa kecil dengan mengatakan “Rebut senjata mereka”. Tentu ini mengindikasikan bahwa rencana ini sudah lama mereka rencanakan. Tetapi baru kali ini saja berhasil mereka lakukan.

Tersiar kabar pula bahwa pelaku bom di Surabaya kemarin adalah anak-anak dan perempuan yang merangsek masuk ke gereja. Entah sadar atau tidak sadar mereka telah melakukan kerusakan kemanusiaan. Bahkan telah memakan banyak korban jiwa. Tindak terorisme ini tak bisa kita diamkan.

Lucunya, ketika mayoritas warga Indonesia berkabung atas kejadian di Mako Brimob, Fahri Hamzah mengomentari perbedaan perlakuan penjaga rutan kepada Ahok daripada kepada napiter 1. Sungguh komentar ini tidak pada tempatnya.

Bukan berarti tidak ada kemungkinan bahwa apa yang ia katakan itu ada benarnya, tapi bukan hal yang tepat ketika ia justru mengomentari hal lain yang terkesan politis. Rasa kemanusiaan seakan-akan tak ia tunjukkan kepada 5 anggota kepolisian yang baru saja gugur.

Begitu pula Fadli Zon yang justru mengomentari lemahnya pemimpin di negeri ini hingga aksi terorisme terus terjadi.

Justru sebagai Wakil Ketua DPR, mereka seharusnya mendorong supaya pansus UU Anti-Terorisme segera menyelesaikan pekerjaan rumah mereka yang telah lama mangkrak. Pembahasan revisi UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sudah harus segera diselesaikan.

Arsul Sani, anggota Pansus RUU Antiterorisme DPR RI, menjanjikan penyelesaian RUU paling lambat 18 Mei-27 Juli 2018 (Kompas 11 mei 2018). Perampungan RUU yang diinisiasi pemerintah ini sudah berkali-kali mundur dari target sejak sidang pertama pada April 2016.

Tentu UU Terorisme ini salah satu bagian penting dalam penindakan hingga pencegahan aksi terorisme di dalam negeri. Ketika radikalisme dan percikan tindak terorisme terus bermunculan, segala bentuk pencegahan dan penindakan harus segera dilakukan supaya paham ini terus menurun.

Ketika pemerintah telah menujukkan sikap serius dengan merancang RUU Antiterorisme dan telah menyerahkan berkasnya kepada DPR, kini justru bola panas ada di tangan para wakil rakyat yang harus segera merampungkan dan mengesahkan RUU ini.

Justru kita mempertanyakan keseriusan mereka dalam pencegahan dan penindakan terorisme yang berpotensi terus terjadi. Apakah Fahri Hamzah akan terus keluar dari konteks terorisme atau terus berkomentar kesana kemari ketika ditanya mengenai hal serius ini. Ini harus dibuktikan oleh Fahri serta jajaran anggota DPR lainnya.

Nyawa warga negara Indonesia lainnya sedang mendapat ancaman serius dari aksi terorisme yang berpotensi terus terjadi. Jika wakil mereka di DPR terus berkutat dalam dunia politik mereka sendiri tanpa mengutamakan kepentingan publik, bisa jadi nyawa tak berdosa kembali hilang di negeri ini.

Sumber:

1 https://news.detik.com/berita/4012204/rusuh-di-mako-brimob-fahri-hamzah-singgung-soal-ahok    

Sumber Gambar: https://international.sindonews.com/dw/dunia/pengamat-aksi-bom-surabaya-balas-dendam-insiden-di-mako-brimob

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad