Opini

Tragedi Westminster: Khalifah Ahmadiyah Mengecam Segala Aksi Terorisme

westminister
Penulis Adi Nasir

Dunia kembali dikejutkan dengan kabar aksi teror di dekat gedung House of Parliament, , , pada 22 Maret 2017 yang lalu. Betapa tidak, serangan tersebut menewaskan 5 orang, berikut pelakunya dan mencederai 50 orang lainnya.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan bahwa warga Inggris tidak akan menjadi lemah setelah serangan itu, bahkan mereka akan bangkit dan beraktifitas sebagaimana biasa dan menggambarkan serangan teror 22 Maret itu ‘memuakkan’. Kami tak akan menyerah! ungkap beliau.

Khalid Masood, 52 tahun, sang pelaku teror yang tewas setelah dilumpuhkan oleh petugas keamanan, sebelumnya merupakan seorang pelaku tindak kriminal dengan riwayat catatan kejahatan yang panjang (1983 – 2003), diantaranya kepemilikan senjata berbahaya, gangguan terhadap publik. Sebagaimana disebutkan oleh Scotland Yard, bahkan MI5, sebelumnya ia (Khalid Masood) tidak ditemukan indikasi keterlibatan bahkan rencana untuk melakukan tindakan . Kemungkinan besar Khalid diradikalisasi selama ia menjalani masa tahanannya di Lewes jail, Wayland, Norfolk, dan Ford open prison, West Sussex. Ia memeluk agama Islam setelah bertahun lamanya melakukan kekerasan kriminal.

Meskipun apa yang menjadi motif utama Khalid Masood melakukan serangan brutal ini belum diperoleh kepastiannya, namun impresi yang dihasilkan antara lain bahwa setiap inci jalanan di London tak lagi aman, serangan teror bisa terjadi kapan saja. Ada baiknya kejadian teror semacam ini tak sampai menjadi sangat heboh di media massa, seperti tragedi Paris dan Belgia sebelumnya, dimana pemerintah, juga media massa memberitakannya sedemikian rupa hingga keadaan di Eropa terkesan begitu mencekam untuk beberapa waktu. Dan ISIS mendapatkan publikasi besar dengan gratis, seperti diungkapkan kolumnis The Guardian, Simon Jenkins.

Seiring dengan tragedi itu, dalam kegiatan Peace Symposium 2017, Mirza Masroor Ahmad menyampaikan simpati dan belasungkawa untuk para korban serangan tersebut. Selain itu beliau menyampaikan bahwa Jamaah mengecam semua bentuk terorisme.

Mirza Masroor Ahmad menyesalkan bahwa kelompok-kelompok Muslim yang ekstrim telah mengubah mesjid dan madrasah menjadi “pusat ekstremisme”, dimana hal itu menjadikan kesalahpahaman tentang agama Islam di antara orang awam. Sebenar-benarnya, jelas beliau, bahwa saling menghargai dan hidup damai berdampingan dengan pemeluk agama lain adalah juga bagian tak terpisahkan dari ibadah kepada Tuhan. Dengan cara pandang  seperti inilah, Jamaah Ahmadiyah telah mengadakan berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh penjuru dunia, untuk kemanusiaan dan meringankan beban mereka yang berkekurangan.

“Dengan jalan ini, daripada menjadi frustasi dan tunduk pada ekstremisme, mereka akan tumbuh menjadi warganegara yang setia dan bertanggungjawab atas bangsanya. Saat mereka berkembang, mereka juga akan membantu kemajuan bangsanya dan menginspirasi yang lainnya untuk mengikuti ” lanjut beliau.

Akibat ekstremisme inilah, banyak orang awam mengidentikkan Islam dengan kekerasan atau peperangan. Mirza Masroor Ahmad menegaskan bahwa apapun yang dikatakan oleh para , kekerasan ataupun pembunuhan (atas nama agama) tidak dibenarkan dalam agama Islam. Agama Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan;

Islam has enshrined the sanctity of human life in chapter 5, verse 33 of the Holy Quran, which states: ‘Whosoever killed a person – it shall be as if he killed all mankind; and whoso gave life to one, it shall be as if he had given life to all mankind’.”

“Islam adalah agama yang abadi dengan prinsip universal kebebasan beragama, hati nurani dan kepercayaan. Maka dari itu, jika ada yang menyebut dirinya kelompok atau sekte Muslim yang membunuhi orang lain, perbuatan mereka adalah perbuatan terkutuk. Kelakuan barbar yang mereka lakukan adalah pelanggaran berat terhadap apa yang diajarkan sebenarnya oleh Islam”.

Atas kelakuan sekelompok ekstrimis ini pula, Islamophobia yang digelontorkan oleh mereka yang mengambil keuntungan secara politis menjadi sebuah ‘industri’ yang merugikan. “Disayangkan bahwa kita sering mendengar para politisi dan pemimpin mengeluarkan pernyataan yang menyulut emosi serta tidak berdasarkan fakta, tapi untuk kepentingan politiknya. Beliau menghimbau para pemimpin dunia untuk berpendapat dengan bijak dan penuh integritas setiap saat.

Khalifah menolak tuduhan yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh terkemuka bahwa Nabi Muhammad SAW membunuh mereka yang tidak menerima Islam. Mirza Masroor Ahmad menjelaskan, Rasulullah SAW hanya bertempur sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan lembaga Islam dan mengokohkan prinsip kebebasan dalam berkeyakinan. Adapun tuduhan Nabi Muhammad SAW suka berperang dan kekerasan hanya menggoreskan luka di hati umat Islam yang cinta damai. Sejarah menyaksikan fakta bahwa di setiap jengkal langkahnya, Rasulullah menyampaikan perdamaian.

Prinsip utama dalam perdamaian, ungkap beliau, terdapat dalam Al Qur’an surah ke-3 ayat 65, yang mendorong manusia untuk fokus pada segala kepercayaan yang menyatukan mereka — “Come to a word equal between us and you”.

“Rather than erecting walls that keep us apart, we should build bridges that bring us closer together” Hazrat Mirza Masroor Ahmad

(Daripada membangun tembok yang memisahkan kita, sebaiknya kita membangun jembatan yang dapat mendekatkan satu sama lain).

Sumber Gambar: http://arpadlukacs.com/london-cityscapes/big-ben-and-westminster-bridge-in-london/

 

Tentang Penulis

Adi Nasir