Kebebasan Beragama

Tuhan kamu yang mana?

Satu hal yang saya sukai dari mengenali agama yang lain adalah, mereka sama-sama mencintai Satu Wujud yang disebut “Tuhan”.

Satu hal yang saya sukai dari mengenali agama yang lain adalah, mereka sama-sama mencintai Satu Wujud yang disebut “Tuhan”.

DULU ya, ketika masih bersekolah memakai seragam putih-merah, teringat pernah menemukan satu soal dalam sebuah Lembar Kerja Siswa, “Menanyakan agama teman dan mempelajarinya, boleh atau tidak?” Sempat termenung beberapa saat sampai akhirnya memutuskan untuk menjawab “Boleh.” Dengan alasan, “Ya gak apa-apalah namanya juga . Ga masalah nanya masalah agama. Selagi yang bertanya dan yang ditanya sama-sama tidak ada masalah.”

Namun hal berbeda dijawab oleh teman sebelahku, dia menjawab “Tidak boleh.” Dengan alasan, “Buat apa? Nanti kita ikut-ikutan masuk ke agama mereka.”

 

SEIRING pertambahan usia, bertambah pula pengetahuan mengenai agama, sedikit demi sedikit. Satu hal yang saya sukai dari mengenali agama yang lain adalah, mereka sama-sama mencintai Satu Wujud yang disebut “Tuhan”.

Yang paling saya sukai dalam hidup saya adalah mempunyai sahabat dari penganut agama lain. Yang sebenarnya sudah lama saya idamkan. Saya bebas bertanya apapun mengenai agama yang dia anut tanpa dia merasa canggung atau risih menjelaskannya. Bertukar pikiran, bahkan sempat mengikuti salah satu acara keagamaan dalam rumah ibadahnya. Semua hanya berlandaskan rasa ingin tahu. Dan sedikitpun tidak mengurangi kecintaan saya terhadap agama dan kepercayaan yang saya anut.

Menambah pengalaman dalam hidup dan membuat hidup dijauhi rasa ekstrimisme terhadap golongan agama lain, saya sempat bertukar pikiran dengan muda-mudi yang berada di acara Kebaktian, Minggu itu…

“Maaf, ya Mbak. Saya mau tanya, orangtua gak marah Mbak ikut Kebaktian?”

“Oh, enggaklah, Mas. Saya justru dikasih izin.”

“Bukannya haram Mbak memasuki ?”

“Ha ha. Enggak, Mas. Diajaran agama yang saya anut, hal itu tidak diajarkan. Soalnya saya pun pernah mendengar salah satu kisah Nabi Muhammad saw. yang mengizinkan kaum Nasrani yang melewati mesjid di Mekkah untuk menggunakan mesjid sebagai rumah ibadah mereka.”

“Oh gitu ya. Saya dengar dari salah satu dosen di kampus saya bahwa menerima ucapan salam/ucapan selamat hari raya, misalnya, adalah haram.”

“Ah, enggak, Mas. Itu hanya oknum pemeluk salah satu agama yang terlalu fanatik.” Saya menanggapinya dengan enteng.

“Oia, Mbak. Kenapa Mbak mau ikut acara Kebaktian ini?”

“Cuma penasaran aja. Saya pengen anti-mainstream aja. Ha ha. Gini, Mas, saya tuh penasaran mengenai acara keagamaan selain agama yang saya anut. Kebanyakan orang fanatik terhadap agama yang dia peluk dan mengecam agama lain jelek. Padahal sepengetahuan saya, tidak ada agama yang mengajarkan keburukan. Semua agama mengajarkan cinta dan . Hanya saja, ternodai dengan aksi-aksi fanatisme sebagian golongan satu pemeluk agama.”

“Iya, ya Mbak, tidak ada agama yang mengajarkan keburukan. Semua agama adalah kebaikan.”

Dalam satu kesempatan pengajian, saya pernah mendengar salah satu mubalig menyampaikan kutipan dari Khalifah Islam  Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba., “Al-Qur’ān diturunkan oleh Ta‘ālā kepada Nabi Muhammad saw. dan ayat pertama dari surah awal Al-Qur’ān telah memberikan pesan . Ayat pertama itu berbunyi: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

”Ayat ini berarti bahwa Tuhan yang orang Islam sembah, adalah Tuhan yang meliputi dan memelihara segala sesuatu dan semua manusia tanpa membeda-bedakan sedikitpun, Dia memenuhi semua kebutuhan makhluk-Nya. Dengan kata lain, Dia adalah Tuhan-nya orang Kristen, Tuhan-nya orang Yahudi, Tuhan bagi orang Hindu, dan bahkan Dia memenuhi dan memberikan semua kebutuhan kepada mereka yang tidak percaya pada keberadaan-Nya.”

Sontak perkataan Khalifah yang disampaikan muballigh ini begitu jelas dan cukup untuk bekal kita menjalani hidup yang beragama secara rukun dan damai.

Begitu pula firman Allāh Ta‘ālā dalam Al-Qur’ānu’l-Karīm Sūrah Al-Kāfirūn ayat ke-6: “لَكُمْ دِيْنُكُمْ وً لِيَ دِيْنِ [laKum dīnuKum wa liya dīn]—bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”

Ayat ini mencerminkan tentang toleransi tinggi yang diajarkan oleh Allāh swt.. Dengan kata lain masing-masing orang diberikan kebebasan untuk memeluk dan meyakini agama serta kepercayaannya. Asal mereka mampu mempertanggungjawabkan apa yang mereka yakini nanti dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Hidup dalam sebuah yang tidak fanatik namun memegang teguh norma dan prinsip beragama dengan baik merupakan salah satu kunci dalam memperkuat benteng keimanan seorang anak. Sekalipun dia berteman dengan orang yang berbeda agama atau bahkan seorang atheis, benteng yang dibangun dalam ketika mereka hidup bersosialisasi sudahlah kuat. Penting bagi orangtua untuk aktif membawa keturunan mereka dalam acara-acara kerohanian, seperti Jumatan bagi umat muslim atau pengajian rohani rutin lainnya sedari memasuki usia baligh.

Tentang Penulis

Adinda Firdhausya Zakhra

Tinggalkan komentar