Muhammad Idris-Funafuti Opini

Umur baligh bagi anak berpuasa

Ilustrasi anak berpuasa dari Lazada.co.id

Ilustrasi berpuasa dari Lazada.co.id

Oleh Muhammad Idris-Funafuti

 

Khalifah Ḥaḍrat Mirzā Basyīru’d-Dīn Maḥmūd Aḥmad—rāḍiya’l-Lāhu ‘anhu (r.a.) dalam kitab tafsir yang ditulisnya, Tafsīr Kabīr edisi terjemahan dengan Bahasa Urdu, berkenaan dengan sūrah Al-Baqarah ayat ke-185, menjelaskan bahwa memerintahkan anak kecil yang belum baligh untuk berpuasa adalah bertentangan dengan syariat.

Saat anak sudah mendekati masa-masa baligh maka diperbolehkan untuk mulai melatih anak-anak berpuasa. Bahkan, beliau menjelaskan juga, beliau sendiri mulai dilatih untuk berpuasa pada usia duabelas ataupun tigabelas tahun.

Bila melihat fenomena yang terjadi dewasa ini, anak-anak yang baru berusia enam, tujuh tahun sudah dianjurkan untuk berpuasa. Bahkan, di usia delapan ataupun sembilan tahun banyak yang sudah berpuasa sebulan penuh. Tidak jarang, orang tuanya malahan memberikan hadiah-hadiah atas keberhasilan anak-anaknya tersebut. Atas perilaku orang tua yang menjanjikan anak-anak mereka yang masih jauh di usia baligh mereka dengan hadiah sebagai imbalan puasanya, Mirzā Basyīru’d-Dīn Maḥmūd Aḥmad r.a menyebutnya sebagai bukan memberikan hadiah namun itu sebuah kezaliman.

Ḥaḍrat Mirzā Basyīru’d-Dīn Maḥmūd Aḥmad r.a menambahkan penjelasannya bahwa anak-anak di usia sebelum baligh adalah masih dalam masa pertumbuhan. Usia baligh untuk ṣalāt dan usia baligh untuk bagi anak-anak adalah berbeda.

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah Ḥaḍrat Al-Masīḥ Al-Mau‘ūd Mirza Ghulam Ahmad a.s mengizinkan anak-anak untuk mulai dilatih berpuasa di usia duabelas, tigabelas tahun, ataupun yang mendekati usia tersebut.

Ḥaḍrat Mirzā Basyīru’d-Dīn Maḥmūd Aḥmad r.a berijtihad bahwa usia baligh untuk puasa adalah delapanbelas tahun di mana pada usia tersebut puasa harus ditunaikan dengan sempurna dan menjadi kewajiban bagi orang tua juga untuk memastikan anak-anak mereka di usia delapanbelas tahun dapat menunaikan ibadah puasa dengan sempurna sesuai syariat yang mewajibkannya.

Puasa dan ṣalāt adalah dua bentuk ibadah yang sama sekali berbeda. Menunaikan ṣalāt tidak menguras stamina dan ketahanan tubuh, sedangkan menjalankan ibadah puasa diperlukan stamina dan kesehatan yang prima. Oleh sebab itu, saat seorang muslim sedang sakit, sama sekali tidak menggugurkan kewajiban menunaikan ṣalāt. Karena, ṣalāt bisa ditunaikan dengan duduk apabila tidak mampu berdiri, bahkan dengan posisi tidur bila tak mampu juga untuk duduk. Akan tetapi untuk puasa, tidaklah demikian.

Bila seseorang itu sedang sakit maka Allāh Ta‘ālā memberikan keringanan untuk tidak berpuasa, akan tetapi mengganti puasanya di hari yang lain. Efek yang bisa diakibatkan dari melakukan ibadah puasa dalam kondisi stamina dan kesehatan yang buruk adalah dehidrasi, pusing kepala, masalah dengan pencernaan, dan sebagainya. Oleh sebab itulah anak-anak tidak diwajibkan untuk berpuasa, karena ibadah puasa membutuhkan stamina dan ketahanan tubuh prima yang hanya dimiliki oleh orang dewasa.

Sebagaimana disebutkan juga dalam Al-Qur’ān bahwa tujuan dari puasa adalah supaya orang-orang beriman meningkat derajat ketakwaannya kepada Allāh (QS II—Al-Baqarah: 184).

Dalam sebuah ḥadīts, Ḥaḍrat Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramaḍān karena iman dan mengharap pahala dari Allāh, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih).

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ibadah puasa adalah bukan hanya sekedar berhenti dari makan dan minum dari saat fajar hingga terbenamnya matahari, namun lebih dari itu. Ada tujuan yang bersifat spiritual yang dikehendaki sebagai output dari puasa.

Ada falsafah yang sangat dalam dan luas dari ibadah puasa yang tidak bisa dimengerti dan dipahami oleh daya nalar anak-anak. Jadi, mengajarkan hikmah dan tujuan yang dikehendaki dari puasa secara sederhana sejak usia dini lebih penting daripada menganjurkan anak untuk berpuasa saat usia mereka masih belia.

Anak-anak yang masih jauh dari usia baligh dapat juga diikutsertakan dalam aktivitas rutin yang dilakukan selama bulan Ramaḍān seperti makan sahur dan berbuka puasa. Membiasakan mereka untuk ikut makan sahur kemudian mengajak mereka untuk ṣalāt berjama‘ah dan mengkaji Al-Qur’ān sesudahnya. Demikian juga membiasakan anak-anak untuk mengkaji Al-Qur’ān sambil menunggu buka puasa bersama dengan keluarga juga praktek yang sangat dianjurkan.

Pelajaran yang harus ditanamkan kepada anak-anak yang belum wajib untuk berpuasa adalah selama bulan suci Ramaḍān, amal ibadah harus ditingkatkan seperti ṣalāt farḍu dengan dawam, mengkaji Al-Qur’ān, menjauhkan diri dari perbuatan dosa seperti berdusta, berkelahi, berkata buruk, dan sebagainya. Sehingga, mereka dapat lebih memahami hikmah puasa meskipun secara sederhana.

In syā’ Allāh, pada saat mereka telah mencapai usia wajib untuk berpuasa, mereka telah siap lahir maupun batin untuk menunaikan puasa sesuai dengan yang Allāh Ta‘ālā perintahkan, yaitu puasa yang menghasilkan ketakwaan bukan hanya menghasilkan lapar dan dahaga saja.

Wa’l-Lāhu a‘lamu bi’ṣ-ṣawāb.

_
Penggalan Pertama | Penggalan Kedua

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia