Kebebasan Beragama Muhammad Nurdin Opini

Ustadz Maulana dan Keseriusan Umat

image

ANDA tahu ? Ya, beliau seorang ustadz-seleb yang selalu hadir di layar kaca kita. Ustadz yang populer dengan “Jamaah! Oh, Jamaah…!”-nya memang sangat jenaka dalam berceramah. Ada saja yang buat kita tersenyum hingga tertawa tak karuan saat mendengar ceramahnya. Dunia entertainment memang menuntut seorang dai untuk tidak hanya pandai menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi juga pandai mengemasnya sebagai hiburan.

Baru-baru ini, di media sosial bermunculan reaksi yang cukup serius tentang Ustadz Maulana. Padahal, hal-hal yang serius tidak cocok berkaitan dengan diri beliau. Sosok beliau lebih pas dengan hal-hal yang jenaka, cerdas dan penuh tawa. Untuk hal-hal yang serius sebenarnya kurang cocok dengan pribadi beliau bahkan untuk dunia beliau. Namanya juga entertainment, meskipun tayangannya bermuatan agama.

Meskipun tidak banyak twitwar yang terjadi di temlen, saya kira ini sudah masuk ke level serius. Sebab, seorang anggota MUI pusat menyampaikan kritikannya atas pernyataan yang keluar dari mulut Ustadz Maulana. Pertanyaan beliau dianggap menyesatkan umat. Itulah mengapa saya menganggap ini terlalu serius.

Jamaah Ustadz Maulana pasti perhatiannya terbagi. Apakah mereka mau menerima apa adanya sang ustadz atas pernyataannya yang dianggap kontroversial atau menerima fatwa dari salah seorang anggota MUI? Pasti jamaah mulai mencari-cari sikap atas pernyataan Ustadz Maulana ini. Apakah bersikap serius sebagaimana fatwa salah seorang ulama atau menjadikannya wawasan berpikir yang memperkaya pengetahuan agama?

Saya secara pribadi cuma bisa mengucapkan “selamat” kepada Ustadz Maulana. Selamat untuk apa? Yah, selamat karena bisa berurusan dengan MUI. Memang, ini akan mempengaruhi karir beliau di dunia entertainment, tapi Ustadz Maulana sudah membuktikan bahwa masih banyak umat yang lupa kapan terakhir kali tertawa saat membahas masalah agama.

Saya tak bermaksud menyudutkan MUI atau membela Ustadz Maulana. Saya cuma mau bilang, Anda terlalu serius memandang sosok Ustadz Maulana yang sangat jenaka ini. Saya juga tak bermaksud mengatakan anda kurang piknik sampai-sampai Anda sangat serius mengungkapkan kekesalan Anda kepada beliau. Saya cuma mau bilang, menonton acara beliau adalah rekreasi yang menyenangkan. Bukankah Anda sudah tahu tuntutan sebagai ustadz-seleb itu apa? Kalau ga tahu, pantas saja Anda begitu serius bereaksi.

Dalam kata-kata yang penuh keseriusan, Ustadz Maulana dianggap menabrak syariat Islam karena pernyataannya.  Begini pernyataannya, “Ah agamanya beda? Kalau kita membahas kepemimpinan tidak usah bicara agama. Kepemimpinan itu tidak berbicara masalah agama. Jadi kau tidak mau naik pesawat kalau pilotnya agama lain?” Inilah pernyataan beliau yang dianggap menabrak syariat.

Menabrak syariat? Syariat mana yang ditabrak? Memangnya syariat mengatakan apa saja saat berbicara kepemimpinan? Yang saya khawatirkan, ini bukanlah masalah tabrak-menabrak syariat. Ini cuma masalah tabrak-menabrak pemahaman atas suatu ayat yang multi-tafsir.

Biasanya mereka bereaksi lebih serius lagi, “Wah..ga bisa! Itu sudah harga mati. Quran sudah katakan bahwa haram hukumnya memilih pemimpin dari antara kaum kafir. Ini syariat Islam yang ga bisa ditawar-tawar lagi.”
Yasudah, mari kita bahas ayat terkait dengan kepala dingin dan fikiran terbuka. Pastikan anda tidak sedang dalam pengaruh sempitnya cara berpikir dan kesulitan menggunakan akal sehat yang telah Tuhan anugerahkan secara gratisan yah!

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi ‘auliya’ dengan meninggalkan orang-orang mukmin..”
Mereka yang bersikap sangat serius kepada Ustadz Maulana mengartikan kata “auliya” disini sebagai pemimpin. Tidak ada kemungkinan tafsir lain untuk hal ini. Padahal, kata “auliya” yang merupakan bentuk jamak/plural dari kata “wali” memiliki arti umum: teman, sahabat, penjaga dan penolong. Bisa saja kata ini berarti pemimpin, sekiranya ada sebab-sebab yang menguatkannya. Kalau tidak ada, kenapa harus dipaksakan, sehingga membuat orang di luar Islam memandang Islam sebagai agama yang tidak fair. Menilai pantas tidaknya seseorang menjadi pemimpin dari KTPnya, eh maaf identitas keagamaannya.

Saya ingin bertanya kepada Anda: Apakah ayat yang dipermasalahkan tadi adalah satu-satunya prinsip dasar Islam dalam masalah kepemimpinan? Kalau memang itu satu-satunya ayat yang menyinggung masalah kepemimpinan dalam Islam berarti bisa jadi makna dari “auliya” adalah pemimpin. Tapi kalau ada ayat lain yang juga membahas masalah kepemimpinan, kita sebaiknya membuka ruang untuk mengompromikan makna “auliya” ini. Dan saya menemukannya:

“Sesungguhnya Allāh memerintahkanmu supaya menyerahkan amanat-amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menghakimi di antara manusia hendaklah kamu menghakimi dengan adil…”

Saya rasa ayat ini adalah ayat tentang kepemimpinan yang tanpa makna ganda,  jelas, dan takkan pernah memberi celah untuk terjadinya kontroversi. Allah menyuruh kita menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya (ahlinya). Untuk menjadi ahli bukan suatu masalah apakah ia seorang muslim atau bukan. Seorang ahli adalah ia yang mampu memikul amanat yang diberikan umat kepadanya. Kalau urgensi kepemimpinan dalam Islam ini mengharuskan kita memilih pemimpin dari kalangan muslim saja, tentu bunyi ayatnya akan berbeda.

Selain ia ahli dalam bidangnya, seorang pemimpin juga harus bersikap adil. Dan apakah identitas agama bisa menjadi tolak ukur seseorang bisa bersikap adil? Setiap manusia yang mempunyai akal berpotensi untuk bersikap adil. Apakah karena ia seorang non-muslim lantas ia tak mampu berbuat adil? Saya rasa Anda-lah yang sudah bersikap tak adil dalam masalah yang sesederhana ini.

Jadi, ayat yang dipermasalahkan di awal seharusnya bisa dikompromikan. Ayat tersebut tidak secara spesifik mengangkat tema kepemimpinan. Ia membutuhkan ayat lain supaya pemahaman atas ayat itu tidak menjadi bias. Jangan sampai, kita memaksakan tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai pemimpin tapi di ayat lain amanat kepemimpinan diberikan kepada mereka yang sanggup mengembannya. Tidak mungkin ada kontradiksi dalam Quran.

Lah, kok saya jadi serius begini yah? Maaf bukan berarti pemahaman saya di atas Anda saat saya menulis ini. Tapi, kenyataannya Islam membuka pintu kepemimpinan kepada siapapun orangnya. Kalau seorang muslim dianggap lebih berhak, yah buatlah diri Anda berhak memimpin. Buatlah diri Anda ahli sehingga umat tak ragu meletakkan amanat.
Kalau Anda merasa akidah Anda terancam saat dipimpin oleh non-muslim, pertama, betapa lemah iman Anda. Kedua, kenyataannya Anda memang belum pantas dibebankan sebuah amanat.

Salam damai,
Muhammad Nurdin

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia