Opini

Wabah itu bernama Radikalisme

KEBENARANNYA adalah, radikalisme di kampus sudah ada dari zaman saya masih mahasiswa pada tahun ’90-an, bahkan jauh sebelumnya.
Penulis Denz Asad

RADIKALISME saat ini seperti halnya jamur di musim hujan, tumbuh subur tak terkontrol. Dari pertengahan tahun 2000-an sampai sekarang, tak berhenti, bahkan seperti makin menjadi, baik di Indonesia ataupun di luarnegeri. Publik seakan tidak diberikan kesempatan untuk merasa tenang dan aman barang sejenak karena gelombang terorisme ini seperti hempasan ombak di pantai yang tak ada jeda, terus-menerus dan berulang-ulang. Masih segar dalam ingatan kita mengenai percobaan pembunuhan seorang pendeta di Medan kemarin yang—untungnya—gagal. Di luar negeri lebih banyak lagi hal serupa, bahkan seringkali lebih sadis dan mengerikan. Terakhir, di Prancis ada truk yang dengan “santai” ngeloyor terus menyeruduk kerumunan orang layaknya bola bowling menghantam pin-pinnya. Betul-betul sakit.

Seperti kita ketahui, terorisme berasal dari radikalisme dan radikalisme berasal dari cara berpikir yang tidak toleran kepada paham atau pendapat orang lain. Radikalisme utamanya menyasar ke kaum lemah ekonomi dan intelejensi, karena dengan himpitan ekonomi yang berat, orang menjadi putusasa dan cendrung nekad. Sasaran spesifik radikalisme adalah kaum muda yang masih idealis dan akalsehatnya hanya “sepanjang” kumis atau jenggot mereka yang unyu-unyu.

Walau sukar dipercaya, radikalisme juga tumbuh subur di perguruan tinggi. Ya betul, kampus-kampus terkenal di seluruh negeri tidak luput dari gerilya kaum ini. Saya sempat membaca sebuah berita di Kompas.com (3/9/16), Kepala BMPT Bapak Komjen Suhardi Alius menyatakan bahwa sekarang radikalisme mulai memasuki kampus-kampus di Indonesia. Demi mendengar ini saya tersipu-sipu saja karena kebenarannya adalah, radikalisme di kampus sudah ada dari zaman saya masih mahasiswa pada tahun ’90-an, bahkan jauh sebelumnya. Cuma memang jumlah dan pergerakannya tidak semasif sekarang.

Ketika masih mahasiswa, saya pernah ikut berpartisipasi dalam sebuah pameran islami di sebuah institut tersohor . Awalnya biasa saja namun ujung-ujungnya harus bersitegang karena ada pihak “penguasa” lokal yang tidak sepaham dengan apa yang kami sampaikan mengenai Islam damai dan ingin mengusir kami. Radikalisme di kampus biasanya menyusup di kegiatan-kegiatan ekstra yang beraroma relijius. Mendompleng kenyataan bahwa orang sangat suka hal-hal yang berbau agama dan takenforgranted mengenainya. Paham radikalisme dengan bebas bergerak sehingga tanpa disadari sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan itu.

Peristiwa termutakhir mengenai radikalisme di kampus, adalah menjadi viralnya sebuah video seorang mahasiswa UI yang menolak kepemimpinan seseorang karena alasan sara. Saya menyaksikan rekaman berdurasi kira-kira dua menit ini dengan dahi berkerut dan garuk-garuk kepala tidak gatal. Betapa sebuah blunder yang menggelikan dan tidak masuk akal. Menghujat seseorang dengan alasan sara dengan menggunakan jaket almamater adalah hal yang terbodoh yang pernah saya lihat. Mahasiswa yang bernama Bobby ini, dengan jelas mengatakan ingin mengganti dasarnegara Indonesia dengan apa yang dipahaminya dengan sistem ala HTI dan menolak dengan kata-kata keras pemimpin non muslim. Ya sudah, setelah video ini menyebar ke mana-mana, ia tuailah kecaman dan kemarahan orang-orang terutama pihak yang dijelek-jelekan. Sungguh tidak habis pikir seorang mahasiswa perguruan tinggi nomor wahid di Indonesia, siswa S2 pula, bisa berlaku seperti layaknya ABG-alay. Jadi dari fakta ini, radikalisme memang tidak memandang strata pendidikan dan sosial, siapapun ternyata bisa terjangkiti dan menjangkiti. Seperti layaknya virus penyakit yang bisa menulari siapa saja, dimana saja.

Radikalisme adalah produk dari salah atau gagal pahamnya seseorang atau satu golongan  mengenai ajaran Islam yang ḥaq. Islam yang dipahami mereka adalah Islam yang jauh dari apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.. Jika kita mau berusaha memahami dengan baik, tidak ada satupun tarikh atau sejarah menyebutkan bahwa Islam bersifat sangat agresif dan menyerang, Islam mendahulukan perdamaian, toleransi, dan dialog cerdas daripada otot.

Kalau kita membahas mengenai segala macam pergerakan Islam sekarang, sebenarnya tujuannya cukup mulia yaitu mencapai kejayaan atau kemenangan agar tercipta dengan tatanan dunia yang lebih baik dan dari sebelumnya. Intinya, rindu akan kejayaan Islam semasa Yang Mulia Rasulullah saw. masih hidup. Ketika Islam begitu mewarnai umat sehingga terjadi kemakmuran dan kesejahteraan yang seadil-adilnya. Yah, sebuah masa keemasan yang dirindukan seluruh muslim. Namun organisasi-rganisasi ini melupakan atau meniadakan elemen yang paling dasar dalam meraihnya, yaitu cintakasih dan cara-cara yang Islami.

ISIS adalah contoh yang paling ekstrim dari kelompok yang memperjuangkan kemenangan ini dengan menggunakan cara yang betul-betul salah dan sangat menyimpang dari Islam yang sejati. ISIS percaya kemenangan ini dapat dan atau harus diperoleh dengan paksaaan, teror, kekerasaan, pembunuhan, dan perebutan secara frontal. Apapun halal dalam prosesinya. ISIS mempunyai khalifah atau pemimpin tertinggi yang bernama Al-Baghdadi. Ini bukanlah sosok khalifah yang sesuai dengan khalifah di zaman Nabi saw.. Sangat jauh(!). Ini hanya semata-mata mahluk sadis yang kekejiannya melebihi sang iblis sendiri.

Sedangkan untuk Hizbut Tahrir (HT)—pergerakan yang berdiri tahun 1953 yang berasal dari Al-Quds, Palestina—ini percaya, kemenangan Islam akan terwujud dengan penguasaan negara dan atau teritori di seluruh dunia. Untuk beberapa hal memang agak mirip dengan ISIS walaupun memang tidak sefrontal ISIS. Misi mereka adalah merebut atau mengganti ideologi sebuah dan atau negara menjadi sistem khilafat (versi HT), apapun caranya termasuk kekerasan yang memicu anarkisme. Bagi orang yang betul-betul berpikir jernih dan mempelajari Islam dengan benar, hal itu bagaikan sebuah mimpi di siang bolong dan praktiknya tidak sesuai dengan nilai luhur Islam.

Pada kenyataannya, ada ratusan negara di dunia dengan berbagai macam sistem pemerintahan, dengan cara apa dapat mengganti sistem pemerintahannya? Butuh berapa ratus tahun ‘kah? Dan kalaupun tetap dilaksanakan, perbuatan tersebut akan dimasukan ke dalam kategori perbuatan makar. Makanya, sudah banyak negara yang melarang gerakan ini untuk masuk dan hidup disana karena hanya menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Singkat cerita misi HT adalah hal yang mustahil dan berdasarkan fanatisme agama saja. Lagian, jangankan membicarakan kemenangan Islam, memilih khilafahnya saja mereka masih galau-bingung siapa. Sistem khilafah tanpa ada khalifah adalah hal yang aneh dan tidak sesuai sunnah. Makanya, saya merasa aneh sama pengikut HTI ini. Konsep yang tidak jelas begini diikuti.

Oleh karena itu, jika boleh kita bandingkan Islam keras, fanatis, yang kerap dipertontonkan oleh pengikut ISIS dan HT, Islam Ahmadiyah adalah sebuah hal yang berkebalikkan. Jamaah Muslim yang mempunyai anggota tersebar di 209 negara di dunia ini, selalu mengedepankan perdamaian dan cintakasih untuk sesama, tidak terbatas hanya kepada saudara muslim. Walhasil banyak orang bukan muslim yang tertarik untuk bergabung dan baiat ke dalam Islam.

Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad, khalifah kelima dan pemimpin tertinggi komunitas ini, tidak henti-hentinya menyebarkan pesan Islam damai dalam berbagai seminar dan petemuan internasional. Beliau berkerja sama dengan banyak pemimpin dunia untuk menciptakan yang saling menghargai dan penuh kerukunan. Sesuai sekali dengan slogan Islam Ahmadiyah: “Love for All, Hatred for None”—Cintakasih untuk Semua, Kebencian Tidak-untuk-siapapun.

Muslim Ahmadiyah rajin mendirikan rumahsakit-rumahsakit, sekolah-sekolah, dan fasilitas yang berguna untuk khalayak umum. Konsep Ahmadiyah dalam memperjuangkan kemenangan Islam, adalah bukan kemenangan yang bersifat atau teritori tapi kemenangan hati, jiwa. Ahmadiyah percaya, ketika setiap manusia di dunia ini sudah bersentuhan dengan indahnya ajaran Islam sejati yang penuh kasih sayang, mewarnai kehidupan mereka dengan nilai luhur Islam, maka kemenangan Islam yang merupakan kemenangan peradaban manusia juga, tidaklah mustahil bahkan sangat dekat. Muslim Ahmadiyah, menurut survey Pew Research, merupakan komunitas atau sekte keagamaan yang pertumbuhannya paling cepat dan pesat saat ini.

Maka, antara Islam Ahmadiyah yang mengajarkan cintakasih, ajakan untuk mengenal keindahan Islam yang penuh damai, dengan kekhalifahan ISIS yang berdarah-darah, penuh kekezaman dan dengan HT yang mudah mengkafirkan orang, mempengaruhi kaum muda unduk bersikap radikal, manakah yang Islam sejati mengikuti sunah Rasulullah saw.? Orang yang berpikir dengan akal sehat dan hati nurani yang bersih pasti dengan mudah dapat menjawabnya, salam.

Tentang Penulis

Denz Asad