Muhammad Idris-Funafuti Opini

Wajibkah anak-anak berpuasa?

Ilustrasi anak berpuasa dari RumahZakat.org

Ilustrasi berpuasa dari RumahZakat.org

Oleh Muhammad Idris-Funafuti

 

(Ramaḍān) adalah bulan suci menurut penanggalan di mana di dalamanya Allāh Ta‘ālā mewajibkan umat untuk menunaikan ibadah . Sebagaimana menurut kajian fiqih Islam, muslim yang diwajibkan berpuasa adalah seorang muslim yang berakal, baligh, sehat, dan bermukim (tidak musafir), bagi seorang wanita hendaklah ia suci dari haiḍ dan nifas. (Fiqhus Sunnah (I/506), cetakan ar-Rayyan)

Jadi, untuk pertanyaan wajibkah anak-anak berpuasa? Jawabannya adalah tidak wajib bagi anak-anak untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Nah, yang jadi persoalan sekarang adalah bukan wajib atau tidaknya anak-anak berpuasa. Akan tetapi, bagaimana bila—meskipun—tidak diwajibkan, namun dengan alasan “untuk membiasakan mereka sejak dini berpuasa tetap mengharuskan anak-anak untuk berpuasa”.

Banyak orang tua dengan dalih melatih anak-anak berpuasa, mengharuskan anak-anak untuk berpuasa, bahkan dengan mengiming-imingi hadiah bila anak mampu untuk berpuasa sebulan penuh tanpa batal puasa. Apakah dibenarkan perilaku demikian?

Ḥadīts (hadis) yang mendasari hukum tentang tidak wajibnya berpuasa bagi mereka yang tidak berakal dan belum baligh adalah sebagai berikut:

«Yang Mulia (Ḥaḍrat) Rasulullah—ṣalla’l-Lāhu ‘alaihi wa sallam (saw.) bersabda, “Telah diangkat pena dari tiga golongan: [i] dari orang gila sampai ia sadar, [ii] dari orang tidur hingga ia bangun, dan [iii] dari anak kecil hingga ia baligh.” (Sunan at-Tirmidzī (2/102/693)»

Dari ḥadīts tersebut, diletakkan dasar hukum tidak wajibnya orang yang mempunyai penyakit mental dan anak kecil yang belum baligh dari melakukan ibadah puasa. Namun, bagi anak yang sudah baligh, maka baginya ada kewajiban untuk menunaikan ibadah puasa.

Pertanyaannya sekarang, di usia berapakah anak disebut baligh untuk menunaikan ibadah puasa?

Perlu dipahami juga bahwa ketentuan baligh bagi anak-anak untuk menunaikan ṣalāt farḍu dan baligh bagi anak-anak untuk menunaikan ibadah puasa tidaklah bisa disamakan.

Hadits yang menganjurkan untuk mengajarkan ṣalāt sedini mungkin bagi anak-anak adalah:

«Dari ‘Amr bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya dia berkata, Ḥaḍrat Rasulullah saw.bersabda, “Perintahkanlah anak-anak Anda untuk ṣalāt ketika mereka berusia tujuh tahun, dan bersikaplah tegas kepada mereka jika mereka tidak mengerjakan ṣalāt pada usia sepuluh tahun, dan [pada usia tersebut] pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Ḥadīts ṣaḥiḥ; Ṣaḥiḥ Ibnu Mājaḥ, ḥadīts nomor 5868, Sunan Abu Daūd {2/162/419}; lafaẓ ḥadīts ini adalah riwayat Abu Daūd, Aḥmad {2/237/84}, Ḥakīm {1/197})»

Jadi, jelas dari hadits tersebut bahwa Ḥaḍrat Rasulullah saw. meminta para orang tua untuk memerintahkan anak-anaknya menunaikan ṣalāt sejak usia tujuh tahun dan bersikap tegas kepada mereka bila tidak menunaikan ṣalāt di usia sepuluh tahun.

Namun, bila memakai dasar ḥadīts itu untuk memerintahkan anak menunaikan ibadah puasa sangat tidak tepat. Karena, ia akan bertentangan dengan ḥadīts yang menjadi dasar tidak wajibnya anak-anak yang belum baligh untuk menunaikan ibadah puasa. Lagipula, tidak ada matan ḥadīts yang menjelaskan dengan detail kapan anak-anak harus diwajibkan untuk berpuasa.

_
Penggalan pertama | Penggalan kedua

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia