Makalah Opini

Waktu Adalah Uang

waktu
Penulis Purnomohadi

Dalam dunia dikenal istilah “ is Money”. Akan tetapi dalam perjalananku berproses dari seorang karyawan ke seorang pebisnis, aku temukan bahwa sebenarnya ada filosofi yang lebih keren dari itu.

Begini ceritanya …

Setelah aku selesai membaca buku tentang manajemen , yaitu: “99 Perbedaan Cara Mengelola Waktu Miliarder vs Orang Biasa”  sekitar seminggu yang lalu. Aku dapat sarikan bahwa intisarinya cukup sederhana, yaitu bahwa waktu itu lebih berharga daripada uang.

Kemudian aku coba kaitkan dengan value (nilai) yang aku pahami dari sabda pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., ketika pada satu kesempatan beliau pernah ditanya. Doa apakah yang biasa engkau panjatkan sewaktu berdo’a?

Beliau menjawab bahwa “Aku senantiasa memohon do’a untuk kesehatanku, dengan itu, aku bisa menzahirkan tugas-tugas yang diamanatkan Tuhan kepadaku. Baru setelah itu aku berdo’a untuk keluargaku, …… “

Dari jawaban beliau, aku mendapati bahwa kesehatan rupanya menjadi titik awal yang penting untuk beliau. Dari sini, aku mencoba urai satu-persatu pemahamanku tentang kesehatan.

Jadi menurut aku, yang paling penting adalah ber-olah raga. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Ketimbang uang kita habiskan untuk membeli obat, lebih baik kita investasikan kepada makanan/nutrisi yang lebih baik bukan? Karena imbasnya adalah kesehatan kita yang prima. Akan tetapi ada cara yang lebih murah untuk mencegah penyakit adalah ber-olah raga.

Tahu kenapa?

Karena kita sebagai manusia itu ibarat sebuah sistem komputer yang terdiri dari perangkat keras/hardware (raga) dan perangkat lunak/software (jiwa). Jadi agar supaya memberikan performa yang baik, kita perlu melakukan perawatan perangkat keras terlebih dahulu. Ketika di sana ada konsep sinkronisasi kecepatan antar piranti (device), sehingga menjadi selaras dalam hal kecepatan pemrosesan data digital yang diolah. Tidak ada istilah aliran data yang mampat (botle neck).

Kemudian yang kedua adalah perangkat lunak (software)-nya, ketika tidak semua software yang paling akhir versinya itu yang terbaik karena software tersebut bisa memberikan performa puncak apabila minimal hardware-nya terpenuhi. Bila hardware-nya tidak memenuhi persyaratan minimal, maka yang terjadi adalah ketimpangan. Atau istilahnya “nge-lack” (atau “nge-lag” (?)).

Kembali ke masalah kesehatan, maka yang biasa aku lakukan adalah melakukan olah raga sesuai dengan usia metabolismeku saat ini.

Metabolisme anak-anak tentu berbeda dengan metabolisme seorang remaja, demikian juga bagi mereka yang sudah berkepala tiga, demikian seterusnya. Akan tetapi usia metabolisme tidak selalu liniar dengan usia nyata kita saat ini. Bisa juga, bila saat ini kita berusia 30-an, akan tetapi memiliki usia metabolisme seperti remaja yang berusia 20-an.

Mengapa bisa demikian? Itu semua tak lain dan tak bukan karena latihan olah raga yang teratur dan terukur.

Lalu apa korelasinya dengan waktu?

Menurutku, waktu adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita (manusia) untuk eksis (berada) di dunia ini. Keberadaan (eksistensi) kita sebagai manusia itu akan terdeteksi, apabila minimal kita ber-ada pada dimensi waktu tertentu. Bila menggunakan satuan waktu yang kita pahami, maka keberadaan kita sewaktu belanja celana jeans di toko Matahari Yogyakarta (sebagai contoh kasus), itu terjadi pada tanggal 23 Juni 2017 jam 13.30-14.30 WIB.

Maka waktu selama 1 jam itu tadi (yaitu dari jam 13.30 sampai jam14.30), kita berada di toko Matahari di Jl. Malioboro Yogyakarta pada tanggal 23 Juni 2017.

Dari sini kita bisa memahami satuan kita berada itu memiliki dimensi ruang dan waktu. Dan tentu saja “kita” sebagai sebuah makhluk ciptaan Tuhan masuk dalam kategori zarah (materi).

Jadi bisa disimpulkan ada 3 dimensi yang mutlak harus terpenuhi agar kita eksis, yaitu dimensi materi, dimensi ruang dan dimensi waktu. Maka kita baru bisa dikatakan ber-ada (eksis).

Lalu apa korelasinya dengan istilah “Time is Money”? Ya, karena dalam dunia bisnis, anda yang misalnya dikontrak kerja dengan sebuah perusahaan, tentu ada jangka waktu tertentu; misal kontrak kerja 2 tahun, dari tahun 2016-2017. Ini adalah dimensi waktu.

Lalu kerja di perusahaan IBM di Jerman. Ini dimensi ruang atau tempat. Lalu diri Anda sendiri, itu adalah dimensi materi sebagai seorang profesional.

Dari kacamata bisnis, selama 2 tahun tersebut, yaitu tahun 2016-2017 (sekitar 4.224 jam kerja), Anda (sebagai sebuah materi / zarah) berada di IBM Jerman (dimensi ruang) dengan gaji misalnya 744.20 $ / bulan.

Maka bisa kita kalkulasi bahwa kerja Anda memiliki rate sebesar 4.23 $/jam.

Maka istilah “Time is Money” dalam konteks ini relevan. Alias per-jam Anda dibayar sebesar 4.23 $.

Akan tetapi menurutku, yang lebih keren dari itu adalah : Time is A Bless from God.” “Waktu adalah Berkah dari Tuhan”

Mengapa demikian? Karena di dunia ini, menurutku kita bisa membeli apa saja yang kita inginkan dengan uang. Akan tetapi ada satu hal (atau satu dimensi) yang kita tidak bisa beli dengan uang, yaitu waktu itu sendiri.

Apakah kita bisa membeli waktu ke supermarket atau online shop tercanggih sekalipun?

Tidak bisa, bukan?

Itu menurutku. Bagaimana dengan anda?

#What do you think? 

 Sumber Gambar: http:///farm6.staticflickr.com/5298/5444475182_e4aec03839_z.jpg/

Tentang Penulis

Purnomohadi

Tinggalkan komentar