Opini

“Waktu untuk Kita dan Allah Taala”

waktu

Dunia dengan segala isinya adalah kefanaan semata.

Indahnya dunia tak seindah pandangan mata.

Banyak hal di dunia ini menjadi godaan untuk para manusia yang sejatinya harus menjadikan dunia hanya sebagai sarana untuk mencapai akhirat kelak. Kemewahan dan kegemerlapan dunia tak pelak membuat nafsu duniawi semakin membuncah. Nafsu yang tak tertahankan menuntut para manusia untuk lebih extra menghabiskan waktunya hanya untuk dunia. Terlena, terbuai dengan segala isi dunia, membuat kesadaran akan keberadaan Tuhan hilang sementara atau bahkan selamanya.

Itulah realitas yang saat ini menjadi trend di kalangan umat manusia. Pergi pagi pulang pagi bukan hanya untuk mencari sesuap nasi lagi, namun untuk memenuhi tuntutan kehidupan yang mewah nan glamor. Batasan kebutuhan primer, sekunder, dan tersier dirasa tak berlaku lagi karena semua yang ada di pandangan mata menjadi kebutuhan primer demi memenuhi nafsu duniawi. Selaras dengan sabda Rasulullaah SAW,

“Kenikmatan dunia layaknya seperti manusia meminum air laut dalam kondisi dahaga”

Itulah dunia yang terus menerus membuat para manusia selalu tidak puas akan apa yang sudah dimilikinya.

Menelisik dunia saat ini, godaan duniawi yang tanpa sadar sering membuat jatuh menurut penulis adalah masalah . Waktu yang dirasa singkat per hari nya. Membuat diri kehabisan akal untuk membaginya antara kepentingan dunia dan akhirat. Rutinitas harian para pekerja membuat fokus untuk tetap berkerja tanpa sedikit meluangkan waktu untuk berfikir mengenai agama. Terkadang waktu shalat pun diselipkan menjadi waktu – waktu sisa. Bukan sebagai waktu yang utama. Lalu, untuk para ibu rumah tangga, sepertinya sama saja. Rutinitas hariannya menjadi sosok utama di rumah dengan segala tugas hariannya juga terkadang membuatnya lupa untuk memikirkan masalah agama. Yang ada gumamnya, akan ada bahasa “Jangankan waktu untuk baca buku agama, untuk istirahat saja tak ada.”

Miris memang, sampai kapan para manusia terus menerus ada dalam lingkaran nafsu duniawi ini. Shalat hanya dijadikan kewajiban rutinitas harian semata, tanpa ada makna dan intisari di dalamnya. Pernahkan terbesit pada hati dan fikiran untuk menghentikan buaian dunia ini. Ada kalanya, per harinya, sejatinya ada waktu untuk kita dan Allah Taala.

Bersyukurlah para murid Masih Mauud as ada dalam jamaah ilahi ini karena banyak pagar yang senantiasa memagari diri untuk jatuh dan terperosok dalam buaian nafsu dunia. Salah satunya adalah pagar Tahrik Jadid. Di dalamnya ada 27 Tuntutan Proyek Tahrik Jadid yang menjadikan para Murid Masih Mauud ini untuk terus meminimalisasi nafsu duniawi. Jika sebagai Murid Masih Mauud as ini mengaplikasikan ke-27 tuntutan proyek tahrik jadid, Insya Allah dengan mudah kita terhindar dari godaan – godaan nafsu duniawi.

Pengorbanan harta dirasa dapat meminimalisasi nafsu duniawi. Selama ini, sudah menjadi hal yang lumrah dan rutin dilaksanakan para murid Masih Mauud as untuk mengorbankan sebagian hartanya. Pada umat pun merupakan hal yang biasa untuk menyedekahkan hartanya (sedekah). Namun, dalam hal waktu. Sepertinya tak sedikit manusia lalai untuk membagi waktunya dalam kepentingan agama. Dalam hal waktu pada tuntutan proyek tahrik jadid, para murid Masih Mauud as dituntut untuk meluangkan waktunya dalam pelayanan pada Jemaat. Terlihat mudah untuk diutarakan, tapi untuk pengaplikasiannya?

Marilah sejenak berpikir bahwa harta, materi, tidaklah cukup untuk dipersembahkan ke hadirat Allah SWT. Waktu pun yang terasa singkat ini harus dipersembahkan pada-NYA. Selaras dengan tuntutan proyek Tahrik Jadid untuk mendedikasikan masa liburan, masa cuti untuk pelayanan terhadap jemaat. Dimulai dari waktu liburan dan masa cuti untuk mendedikasikan diri pada pekerjaan – pekerjaan Jemaat. Namun, sejatinya jangan sampai terlintas sebuah fikiran, pekerjaan apa yang dapat diakukan nanti. Karena ingatlah,

pekerjaan pada Jemaat sangat banyak, namun waktu tinggal sedikit. Ayo jalan.

(waqte kam he bahut he kam chalo)

–  Gubahan Syair Masih Mauud as. –

Jadi, jika para Murid Masih Mauud as kelak diakhirat nanti ingin diakui sebagai Murid beliau as, sudah suatu kewajiban untuk melakukan pekerjaan – pekerjaan di Jemaat. Apa pun itu, sekecil apa pun itu, dilakukan sebagai bentuk pengkhidmatan pada Jemaat.

Dalam surah At –Taubah ayat 38  Allah SWT berfirman,

“Wahai orang – orang yang beriman, apa gerangan yang terjadi atas dirimu bila dikatakan kepadamu “Berangkatlah di jalan Allah.” Kamu berat ke bumi? Adakah kamu lebih menyukai kehidupan duniawi daripada kehidupan ukhrawi? Padahal kesenangan hidup di dunia ini dibandingkan dengan akhirat itu hanya sedikit.”

Janji Allah SWT sudah sangat jelas, bahwa kesenangan dunia ini hanyalah sedikit. Lalu, masihkah diri terlena dan terbuai didalamnya? Mari bersama untuk mencari kesenangan di akhirat kelak. Ingat, harta dan materi tidaklah cukup. Ada waktu yang juga menjadi hak Allah Taala. Yaitu waktu untuk kita dan Allah Taala dalam bentuk pengkhidmatan dan pendedikasian diri pada Jemaat.

Sumber gambar : 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar