Opini

Yang Anda Butuhkan Hanyalah Cinta

cinta

Selamat hari sedunia. Hari ini (16/11) dunia sedang merayakan hari , menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata toleran yang bermakna bersifat atau bersikap menenggang (menghargai) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri[1].

Indonesia adalah salah satu negara yang bersifat multidimensi, banyaknya suku, , ras dan golongan yang ada di negeri ini seharusnya menjadi basis dasar adanya sifat toleran antar sesama. Namun sangat disayangkan, dewasa ini sifat toleran seakan semakin memudar.

Banyaknya kasus yang berlandaskan kepada isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan () semakin merebak di negeri ini. Semakin hari semakin banyak pertikaian antar suku, antar masyarakat yang mempunyai identitas berbeda, antar agama bahkan dalam agama yang sama namun berbeda mazhab.

Terakhir, kita lihat sebuah kasus pemboman sebuah gereja yang terjadi di . Yang paling memilukan dari kasus tersebut adalah banyak anak-anak yang tidak tahu apa-apa yang menjadi korban dari aksi tersebut. Bahkan ada seorang anak berumur dua setengah tahun yang bernama Intan Olivia yang menjadi korban meninggal dalam aksi tersebut.

Kebencian

Penulis teringat kepada sebuah tulisan di media sosial Twitter yang ditulis oleh akun @Dandhy_Laksono yakni “Hal pertama yang diajarkan pada pelaku teror bukan bagaimana membuat atau mendirikan negara. Tapi bagaimana belajar membenci”.

Argumentasi Dandhy Laksono dapat saya terima –semoga masyarakat luas dapat menerima itu juga. Terlebih lagi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, isu SARA dan kebencian adalah kombinasi yang cocok untuk seseorang melakukan Hate Crime atau tindak pidana kebencian.

Menurut Koesparmono Irsan, seorang penjahat melakukan kejahatan karena mereka “marah” yang merasa adanya sense superiority, mereka tidak merasa bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan, dan memiliki harga diri yang sangat melambung. Mereka merasa ada suatu serangan terhadap harga dirinya, reaksi yang ditimbulkan begitu kuat[2].

Dalam kasus ini, seseorang atau beberapa kelompok melakukan sebuah teror bukan karena ia ingin mendirikan sebuah negara baru. Ia melakukan tindakan teror karena adanya kebencian yang bergejolak dari dirinya kepada target yang akan ia tuju.

Silakan kilas balik ke kasus Bom Bali 1, 2, Bom kedutaan besar australia dan lain sebagainya. Teror tersebut dilakukan bukan karena mereka menyerang negara yang dituju –atau negara yang sesuai dengan locus dimana mereka melakukan tindak pidana- namun karena adanya kebencian yang tidak sehat dari pelaku yang ditujukan kepada korban.

Jika kita berbicara ke skala yang lebih mikro, setiap hari kita dapat menemukan kebencian di kehidupan sehari-hari. Menurut hemat penulis, masyarakat Indonesia seakan kehilangan sifat tolerannya karena dilandasi oleh rasa kebencian yang berlebih –khususnya kepada pihak yang mempunyai identitas berbeda dari subjeknya.

Kebencian muncul disaat adanya rasa asing. Rasa asing yang dipupuk oleh ujaran kebencian akan menimbulkan suatu kebencian yang berlebih kepada pihak lawan yang ia benci. Setelah itu timbulah intensitas untuk melakukan tindakan yang dapat mengancam bahkan membahayakan pihak yang ia benci tersebut.

Dapat dibayangkan apabila rasa benci tersebut dipupuk terus menerus, tidak adanya rasa toleransi antar sesama, dilandasi rasa kebencian, dipupuk oleh ujaran kebencian dan provokasi hingga menimbulkan tindak pidana kebencian. Apabila hal ini dipelihara, berapa banyak lagi nyawa yang harus dikorbankan karena tidak adanya toleransi?

Untuk Sesama Manusia

Ahmadiyah sebagai representasi selalu membawa kalimat Love for all hatred for none ke seluruh dunia, bagaimana cinta dapat membawa dunia kepada tatanan dunia yang tertib tanpa adanya kehancuran dimana-mana.

Yang dibutuhkan kepada pelaku dan penggelora teror agar ia tidak melakukan hal-hal tersebut bukanlah aturan hukum yang dapat menghukum, namun sebagai usaha preventif mereka hanya butuh rasa cinta kasih dalam hati mereka. Semoga seluruh manusia di dunia ini dapat menghilangkan rasa benci terhadap sesama, agar dunia semakin tertib, indah dan bermanfaat bagi semua.

Catatan Kaki

[1] Pengertian toleran http://kbbi.web.id/toleran diakses 16 November 2016 11.11 WIB

[2] Koesparmono Irsan, Kriminologi (Jakarta: Tanpa Nama Penerbit, 2013) h. 75

Sumber Gambar: http://buddhazine.com/7-menit-meditasi-cinta-kasih-bisa-hilangkan-prasangka-rasial/

Tentang Penulis

Sadiq Adhetyo

Tinggalkan komentar