Opini Solidaritas Palestina

Yerusalem, Tanah Suci yang “Disengketakan”

 

6 Desember 2017, Presiden terpilih AS ke-45, mengeluarkan sebuah pernyataan yang kontroversial untuk melakukan sebuah “Pendekatan baru dalam perdamaian” yang belum berhasil dilakukan oleh Presiden AS sebelumnya dalam 70 tahun, memindahkan kedutaan AS ke dan menyatakan sebagai ibukota . Aksi protes dan juga kecaman telah mengalir dari berbagai kalangan dunia, bahkan mengundang beberapa pemimpin dunia untuk ikut angkat bicara akan tindakan sepihak AS.

Dalam pidatonya, menegaskan bahwa tindakan ini didasari oleh keputusan kongres, janji selama kampanyenya, dan juga sebagai bukti keaktifan AS untuk mencari jalan damai dalam konflik Israel-. Walaupun begitu, banyak pemimpin dunia menyayangkan tindakan AS dan beberapa bahkan mengecam aksi sepihak ini. Pemimpin Dunia sepakat untuk mempertahankan status quo Jerusalem dan untuk mengedepankan negosiasi antar dua pihak yang bersengketa, yang didalam kasus ini, dan Israel. Uni Eropa ( UE ) sendiri menegaskan bahwa Israel adalah sebuah tanah yang harus dibagi dengan daulat dan merupakan ibukota terbagi (Shared Capital) antara Israel dan Palestina. Lalu, muncul pertanyaan diantara masyarakat dunia, seberapa signifikankah Jerusalem dalam konflik berkepanjangan ini? Apa Sejarah di balik tanah Suci ini?

Yerusalem, keutamaannya bagi Tiga Agama Samawi

Yerusalem sangatlah berpengaruh dalam membentuk agama Kristiani, Islam dan Yahudi. Yerusalem disebutkan di dalam Qur’an, Injil, dan Taurat sebagai tempat yang mulia dan suci. Oleh karena itu, Yerusalem telah menjadi “Kiblat” bagi agama agama tersebut. Didalam Islam, Yerusalem disebutkan sebagai Al- Quds, dan sebelum peristiwa Fathul Makkah, Masjidil Aqsa, terletak di wilayah timur ( Eastern Bank ) Yerusalem menjadi kiblat pertama kaum muslim. Yerusalem juga menjadi tempat singgahnya Rasulullah dalam peristiwa Mi’raj Isra, sebelum Rasulullah diangkat ke langit. Di dalam Taurat, Raja David (Nabi Daud) disebutkan menjadi raja pertama yang menaklukan Yerusalem dan menjadi Ibukota kerajaannya. Hal ini menjadi titik awal kekuasan Bani Israil di wilayah Yerusalem. Selain itu, Yerusalem sendiri merupakan rumah bagi 882,000 rakyat dari berbagai agama, 62% adalah Yahudi, 35% Muslim dan 1% Kristiani. Yerusalem memiliki 1204 Sinagoga, 158 Gereja, dan 73 Masjid.

Selama ribuan tahun, Yerusalem telah menjadi objek perselisihan dan telah beberapa kali berpindah tangan. Konflik yang memicu perselisihan yang mengarah kepada sengketa modern ini berawal ketika Israel mendeklarasikan kemerdekaannya di tahun 40 an.

 

Kemungkinan Konflik yang Menghantui

Pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel ataupun Palestina memang secara teknis menekankan posisi kedua negara tersebut dalam pengaruh masing-masing negara di wilayah Levant (Kanaan). Yerusalem, dengan segala signifikansi religius dan juga sejarahnya memiliki nilai historis yang khas karena dianggap sebagai tempat lahirnya agama besar dunia. Secara tidak langsung, Yerusalem tentu merupakan sebuah wilayah yang sangat disucikan dan sangat berpengaruh di Timur Tengah. Selama ribuan tahun, Yerusalem menjadi subjek perebutan kekuasaan dari beberapa bangsa yang berpengaruh. Romawi, Yunani, Persia, Mongol, Turki, Mesir, Sekutu dan bangsa Arab telah berulang kali mencoba untuk menguasai wilayah ini. Namun, tidak ada kerajaan yang bisa mempertahankan pengaruhnya secara lama dan pada akhirnya Yerusalem berakhir sebagai wilayah yang disengketakan. Secara tidak langsung, menguasai Yerusalem nampaknya hanya memicu konflik yang hanya akan terjadi berulang kali dan memiliki kemungkinan friksi yang cukup signifikan.

  • Segala bentuk usaha untuk menguasai Yerusalem cenderung hanya berakhir sia-sia. Hal ini dibuktikan selama ribuan tahun, bahkan sejak zaman kekuasaan Firaun. Hal ini dikarenakan nilai strategis Yerusalem yang tidak hanya menjadi sebuah tanah yang disucikan tetapi Yerusalem juga merupakan tempat yang sangat berpengaruh di wilayah Mesopotamia.

 

  • Segala usaha untuk menguasai Yerusalem secara politisasi adalah hal yang tidak dapat diterima secara Internasional, mengingat posisi status quo yang di sematkan pada Yerusalem sebagai Shared Territory.

 

  • Dengan signifikansi dan pentingnya posisi Yerusalem dalam agama agama samawi, akuisisi suatu negara terhadap kedaulatan Yerusalem hanya akan berujung pada friksi yang jauh lebih besar dan memungkinkan adanya konflik bersenjata yang dipicu oleh fanatisme religious yang berasal dari kelompok bersenjata di wilayah Timur Tengah.

 

Pengaruh Yerusalem dalam Masa Depan Perdamaian Dunia

Yerusalem, selama ribuan tahun, telah menjadi kiblat dan juga tempat berkumpulnya umat Kristiani, Muslim, dan Yahudi. Selama itu pun juga, upaya untuk merebut pengaruh politis di wilayah Kanaan tidak dapat berlangsung lama dan hanya berakhir dengan sengketa berkepanjangan. Hal ini merupakan sebuah keistimewaan. Diantara seluruh kota yang terdapat di dalam kitab suci ataupun disebutkan di dalam kitab suci, tidak ada yang memiliki nilai kepentingan sepenting Yerusalem. Keistimewaan ini diwujudkan dengan tangan Tuhan sendiri yang mencoba untuk menjaga kemurnian dan kemulian Yerusalem dengan menggagalkan segala upaya untuk menguasainya.

Yerusalem memiliki peran tersendiri dalam poros perdamaian dunia, dan dalam kestabilan wilayah Mesopotamia dan Timur Tengah. Dengan nilai historis yang dimiliki, dan juga pentingnya posisi Yerusalem dalam menentukan arah menuju perdamaian, usaha untuk mempolitisasi Yerusalem tidak dapat diterima, dan bukan merupakan suatu “Pendekatan” terhadap perdamaian. Menjaga kenetralan dan status quo Yerusalem adalah pilihan terbaik dan menghormati kemuliannya. Tindakan sepihak atas deklarasi Yerusalem memiliki konsekuensi yang cukup serius dan dapat mengarah kepada konflik berskala Internasional.

Konflik yang terpecut dapat berupa perang teologis dan dogmatis yang didasari pada prinsip Ilahiyah, serupa dengan perang salib. Konflik lainnya dapat berupa konflik kepentingan negara yang mana dipicu dengan semakin sempitnya batas pakta NATO dan Timur. Hal ini sangatlah mungkin terjadi apabila Yerusalem dikuasai untuk sebuah kepentingan politis. Pengakuan Yerusalem seluruhnya sebagai Ibukota Israel tidak akan mengarah kepada perdamaian, dan hanya akan berujung pada situasi ketidakstabilan yang membara di seluruh penjuru dunia. Jalan terbaik untuk perdamaian adalah tetap menjaga kemuliaan Yerusalem, tetap menjaga Shared Territory dan status quo.

 

Langkah Terbaik bagi kedua belah Pihak

Baik Israel maupun Palestina, harus memahami kondisi politis dunia dan mementingkan jalan menuju perdamaian. Hal ini dapat diwujudkan melalui pemahaman bersama dan juga menjunjung tinggi keamanan regional di wilayah Yerussalem. Bagaimana pun juga, Yerussalem tidak dapat dikatakan sebagai wilayah administratif suatu negara dan hanya dapat ditetapkan sebagai wilayah bebas politis. Tindakan sepihak baik dari AS, Israel ataupun Palestina dan Liga Arab tidak dapat diterima atas alasan politis apapun. Kedua belah pihak harus memahami keistimewaan dan menjaga kemuliaan tanah Al-Quds sesuai dengan makna nama itu sendiri, Kota yang disucikan.

Keputusan Yerussalem sebagai shared territory adalah keputusan yang paling baik karena masing-masing pemerintah tidak akan memiliki kekuasan mutlak atas keseluruhan wilayah Yerusalem. Dan yang paling utama adalah sikap yang ditunjukkan oleh para pemimpin negara di Timur Tengah pun harus mencerminkan ajaran Islam sejati sesuai dengan yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Sumber gambar: https://timedotcom.files.wordpress.com/2016/12/gettyimages-511828219.jpg

Tentang Penulis

Robih Hilman Ardiatama