Opini

Yesus Tidak Mati di Atas Kayu Salib

yesus

Dengan Nama Allah,

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Berdasarkan Hukum Musa as, kutukan Allah ada pada orang-orang yang mati di atas salib. Pernyataan ini ada di dalam Injil, Ulangan 21:23 :

“Maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga; (sebab orang yang digantung terkutuk oleh Allah;) janganlah engkau menangiskan tanah yang diberikan Tuhan, Allah-mu, kepadamu menjadi milik pusakamu.”

[Kutipan ini berasal dari versi yang sah. Karena alasan yang tidak diketahui kalimat (sebab seseorang yang digantung oleh Allah;) telah dihapus dari “Good News Bible”]

                Dalam Ulangan 13:5 tertulis :

                “Nabi atau pemimpin itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allah-mu, yang telah membawamu keluar dari tanah Mesir dan menebus engkau dari rumah perbudakan –dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan Tuhan, Allah-mu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.”

                Oleh sebab itu orang-orang Yahudi berusaha sekeras mungkin untuk membunuh di atas salib, sehingga ini akan membuktikan bahwa berdasarkan hukum mereka, ia () dikutuk oleh Allah dan (merupakan) seseorang yang yang jahat yang menjauhkan mereka dari perintah-perintah Allah. Kebencian mereka kepada disebabkan fakta bahwa ia () menyatakan orang-orang Yahudi telah melupakan ajaran-ajaran hakiki yang Allah sampaikan melalui nabi-nabi terdahulu dan mereka yang dipanggil “Para Guru Taurat” sebenarnya mereka adalah orang-orang munafik yang menjauhkan orang-orang dari Tuhan.

                “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadah dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.” [Matius 6:5]

                “Celakalah kamu, hai Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farsi, hai kamu orang-orang munafik karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang-orang.”  [Matius 23:13]

                Sekarang kita dapat mengetahui betapa pentingnya bagi “Para Guru Taurat” untuk dapat menyalibkan Yesus. Jika mereka dapat menggantungnya di salib maka mereka dapat menyatakan bahwa ia (Yesus) adalah penjahat dan dikutuk oleh Allah.

                Sayangnya, umat Kristiani juga percaya pada kematian terkutuk Yesus karena menurut mereka, “Tetapi dengan menjadi sebuah kutukan untuk kita, Kristus telah menebus kita dari Hukum Taurat; sebagaimana Al-Kitab sebutkan:

                “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” [Galatia 3:13]

                Tetapi mereka percaya bahwa ia kemudian bangkit dari kematian pada hari ke-3, bertemu beberapa murid dan kemudian diterima di surga.

                Al-Qur’an (kitab umat Islam) sama sekali tidak menerima ini. Al-Qur’an mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menyatakan, “Kami telah membunuh Isa Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah: “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibkannya, akan tetapi ia diserupakan kepada mereka seolah-olah telah mati di atas salib; Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini pasti ada dalam keraguan mengenainya; mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti tentang ini, melainkan mengikuti dugaan; dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin.” [QS. An-Nisa’ [4] : 158]

                Sebuah kajian yang cermat terhadap Injil harus dilaksanakan dengan teliti untuk menentukan apa yang sebenarnya terjadi.

                Pertama-tama kita lihat pada kenabian Yesus. Dalam Matius 12:39, 40 :

                “Yesus menjelaskan, “Kalian memintaku sebuah tanda? Tidak! Tanda yang hanya akan diberikan adalah tanda nabi Yunus. Sama halya bahwa nabi Yunus menghabiskan 3 hari 3 malam di dalam perut ikan besar, demikian juga anak manusia akan tinggal di dalam perut bumi 3 hari 3 malam.”

                Sama halnya dalam Lukas 11:29, 30 tercantum :

                “Mereka menghendaki untuk sebuah tanda , tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sama halnya bahwa Nabi Yunus menjadi sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pula anak manusia akan menjadi tanda untuk hari ini.”

                Kita harus ingat bahwa jumlah hari tidaklah penting, karena dalam Lukas jumlah hari tidak diberikan. Apa yang penting adalah bagaimana Nabi Yunus as masuk ke dalam ikan besar dalam keadaan hidup, tetap hidup di sana, dan keluar dalam keadaan hidup. Oleh sebab itu, hal ini mengikuti dari nubuatan bahwa Yesus seharusnya juga masuk ke dalam bumi (makam) dalam keadaan hidup, tetap hidup disana dan keluar dengan keadaan hidup juga. Dengan kata lain, makna nubuatan adalah bahwa orang-orang Yahudi akan gagal dalam membunuh Yesus dan akan gagal dalam rencana mereka untuk memperlihatkan bahwa ia adalah seorang musuh dan dikutuk oleh Allah.

                Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kematian di atas salib berdasarkan Hukum Musa as maknanya adalah sebuah kematian yang terkutuk. Dalam bahasa Ibrani, kutukan berhubungan kepada hati dan orang yang dipanggil terkutuk ketika hatinya menolak Allah, menjadi semakin gelap sehingga di antara ia dan Tuhannya tidak ada lagi cinta, tetapi kebencian dan permusuhan. Berdasarkan alasan inilah syeitan dikatakan terkutuk. Oleh karena itu kata ini tidak pernah bisa digunakan untuk seorang hamba Tuhan yang benar, apalagi Yesus. Kita tidak pernah bisa membayangkan bahwa hati Yesus sangat menolak Allah sehingga di antara ia dan Allah terdapat permusuhan. Apa yang bisa kita katakan adalah ketika orang-orang Kristen menemukan pernyataan yang tidak masuk akal ini, mereka tidak mengetahui kebenaran dari makna terkutuk.

Sebuah kajian Al-Qur’an dan Injil, malah menyatakan bahwa Yesus mempunyai hubungan cinta yang spesial dengan Allah. Lalu bagaimana bisa konsep penyaliban yang kotor ini diterapkan di hati Yesus? Tidak diragukan lagi ini menunjukkan bahwa Yesus harus diselamatkan dari kematian terkutuk di atas salib ini.

                Sesuai dengan pengertian tadi  kita menemukan bahwa Yesus berulang-ulang berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya Dia menyelamatkannya dari kematian ini.

                “Maka ia maju sedikit,lalu bersujud dan berdoa, ‘Ya Bapak-Ku, jika hal ini mungkin, ambilah cawan penderitaan ini dariku. Bukan apa yang aku inginkan tapi atas kehendakMu.” [Matius 26:36-42], [Markus 14:33-36], [Lukas 22:41-42]

                Doa-doa ini telah dipanjatkan dalam penderitaan yang mendalam oleh Yesus. Di dalam versi Matius tercantum, “Kesulitan dan kesedihan mendatanginya dan ia berkata pada mereka, ‘Penderitaan yang di dalam hatiku sangat besar bahkan hampir menghancurkan aku.’” Ini diulang-ulang dalam versi Markus. Di dalam Lukas tertulis, “Di dalam penderitaan yang mendalam; keringatnya bagaikan tetesan darah yang jatuh ke tanah.”

                Jika kita percaya pada doktrin/pernyataan umat Kristiani bahwa penderitaan dan kematian Yesus di atas salib bertujuan untuk penyelamatan manusia, lalu mengapa Yesus sangat takut dengan kematian dan lebih memilih untuk  “Cawan Penderitaan”  dihilangkan.

                Jika Yesus percaya bahwa tujuannya untuk menebus dosa-dosa manusia melalui penderitaannya dan kematiannya maka ia seharusnya menyambut kematian tersebut, bukan meminta Tuhan untuk menghilangkannya.

Kenyataannya adalah Yesus tidak pernah takut akan kematian. Orang-orang yang berasal dari Tuhan tidak pernah merasa takut pada kematian akan tetapi mereka selalu siap untuk mempertaruhkan hidup mereka untuk Tuhan mereka. Satu hal yang dicemaskan Yesus adalah kematian di atas salibnya akan menghukumnya di mata umat Yahudi sebagai kutukan dari Allah dan ini akan menjadi sebuah rintangan bagi umat Yahudi untuk percaya padanya. Inilah alasan utama mengapa umat Yahudi tidak pecaya Yesus sebagai Al-Masih, bahkan hingga sekarang.

Benar bahwa di dalam doanya Yesus berkata, “Namun tidak sebagai keinginanku melainkan sebagai kehendakmu” yang menggambarkan bahwa hubungannya dengan Tuhan adalah sebagai hamba, yang akan menerima keputusan akhir dari Tuannya.

Doa Yesus itu memunculkan pertanyaan jika ia bagian dari Tuhan, lalu kepada siapa ia meminta pertolongan? Kepada diri sendiri?

Kita tahu bahwa Yesus percaya sekali bahwa doanya akan dikabulkan. Secara berulang-ulang ia telah menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa Tuhan selalu mendengar doa-doa pelayan setianya.

“Jika kamu percaya bahwa kamu akan apa saja yang kamu minta di dalam doa.”[Matius 21:22]

“Tidakkah kamu tahu bahwa saya bisa mengambil Bapakku untuk membantu dan seketika itu ia akan mengirimkan Bapakku lebih dari 12 tentara malaikat.” [Matius 26:53]

“Yesus menengadah dan berkata, ‘Terima kasih Bapak, kamu telah mendengar aku. Aku tahu bahwa kamu selalu mendengarkan aku.” , [Yohanes 11:41]

Jadi jika Tuhan selalu datang untuk membantu Yesus tercintanya, apa yang akan terjadi saat ia paling membutuhkan bantuan Tuhan? Kita percaya bahwa Tuhan datang untuk membantu Yesus, andai saja jika Tuhan tidak mendengar anak tercintanya, bagaimana bisa Tuhan mendengarkan manusia yang lemah seperti kita. Di dalam Lukas 22:43 tertulis :

“Seorang malaikat muncul di hadapannya dan memberi kekuatan padanya.”

Peristiwa ini terjadi ketika Yesus sedang berdoa mengenai “Cawan Kematian” agar dihilangkan. Malaikat yang dalam masa sulit itu, datang untuk menghibur dan memberi kekuatan kepada Yesus bahwa Tuhan tidak melupakannya dan akan datang untuk membantunya. Di dalam Ibrani 5:7 juga ditulis:

“Di dalam kehidupan di dunia Yesus berdoa dan memohon dengan tangisan yang keras dan air mata kepada Tuhan yang mana hanya Dia yang dapat menyelamatkannya dari kematian. Karena ia adalah hamba dan pelayan, Tuhan mendengarnya.”

Hal ini memperjelas bahwa bantuan Tuhan benar-benar datang. Kenyataanya Tuhan Yang Maha Kuasa tanpa ragu mengabulkan doa-doanya terutama ketika pelayan terpercayanya datang ke pintunya dengan perasaan tertekan. Ia datang kepada mereka dan membantu mereka dengan jalan yang unik. Bagaimana bisa itu terjadi, di mana doa Yesus yang dipanjatkan dalam keadaan yang benar-benar menderita tidak dikabulkan? Tidak! Mereka semua dikabulkan. Tuhan menyelamatkannya. Tuhan menciptakan keadaan keadan di langit dan bumi untuk menyelamatkan beliau. Jadi Tuhan berdasarkan sunnah-Nya mendengar doa-doa Yesus.

Orang-orang Yahudi terbukti salah ketika penyaliban Yesus, ketika mereka menyatakan kenapa Tuhan tidak menyelamatkannya. Sebagaimana tertulis dalam Matius 17:41-43 :

“Dengan cara yang sama kepala pendeta-pendeta dan guru-guru Taurat dan para tetua mencemooh/mengejeknya, ‘Ia menyelamatkan orang lain tapi ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri! Bukankah ia raja Israel? Jika ia turun dari salib sekarang, kita akan percaya padanya. Ia mempercayai Tuhan dan menyatakan menjadi anak Tuhan. Baiklah mari kita lihat jika Tuhan ingin menyelamatkannya.”

Dan benar saja kita akan menyaksikan melihat Tuhan menyelamatkannya dan datang untuk menyelamatkannya, orang-orang Yahudi gagal dan Isa Al-Masih menang.

Yesus tahu bahwa ia akan diselamatkan tetapi tidak begitu tahu bagaimana ini akan terlaksana. Orang-orang Yahudi telah merancang sebuah rencana untuk menyalib Yesus, tetapi Tuhan memiliki rencana lain. Sebagimana di dalam Al-Qur’an:

“Dan para musuh Yesus berencana dan Tuhan pun berencana dan Tuhan adalah sebaik-baik pembuat rencana.” [QS. Ali Imran [3] : 55]

Sekarang mari kita lihat bagaimana rencana Tuhan bekerja. Selama sidang Yesus, istri Pilatus bermimpi. Mimpi ini disebutkan di dalam Injil bahwa mimpi ini adalah mimpi yang penting. Di dalam Matius 27:19 :

“Ketika Pilatus sedang duduk di ruang pengadilan, istrinya mengirimnya pesan, ‘Tidak ada yang perlu dilakukan dengan orang yang tidak bersalah itu.’, kerena dalam mimpi semalam,sebab karena dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

Ini adalah tahap awal bagi Tuhan untuk menyelamatkan Yesus. Tuhan memberitahukan Pilatus melalui istrinya bahwa Yesus tidak bersalah.Di dalam Injil ada mimpi lain yang menyebutkan untuk membantu penyelamatan orang yang tidak bersalah contohnya dalam Matius 2:13 :

“Setelah mereka meninggalkannya, seorang malaikat Tuhan muncul di dalam mimpi Yusuf dan berkata, ‘Herodus akan mencari seorang anak untuk dibunuh. Jadi bangunlah, bawalah anak dan ibunya dan menghindarlah ke Mesir dan tinggallah disana hingga aku menyuruhmu untuk pergi.”

Sekarang kita tidak bisa menyangka bahwa Yesus akan terancam di Mesir. Karena ini adalah janji Tuhan, ia akan aman disana. Sama halnya dengan mimpi Pilatus untuk menyelamatkan Yesus dan inilah apa yang Pilatus coba lakukan, untuk ini di dalam Yohanes 19:12 tertulis :

“Ketika Pilatus mendengar ini, ia berusaha untuk mencari cara untuk membebaskan Yesus.”

Pilatus begitu yakin bahwa Yesus tidak bersalah sebagaimana ia berkata :

“Apa yang akan saya lakukan dengan Yesus yang dipanggil Al-Masih? Pilatus berkata kepada mereka ‘Salib mereka!’ mereka semua menjawab. Tetapi Pilatus bertanya, ‘Kejahatan apa yang telah ia lakukan?’” [Matius 27:22, 23]

Dan sekarang mari kita lihat bagaimana rencana Tuhan bekerja di saat terakhir sebagaimana tertulis di Al-Qur’an :

“Semua musuh Yesus berencana dan Tuhan juga berencana dan Tuhan adalah sebaik-baik pembuat rencana.” [QS. Ali Imran [3] : 55]

Pertama-tama orang-orang perlu ingat bahwa salib orang-orang Yahudi tidak sama dengan tali orang yang digantung melingkari leher yang dapat membunuh dengan sekejap. Seseorang diletakkan di salib dengan tangan dan kakinya dipaku dan ditinggalkan disana hingga beberapa hari tanpa air dan roti dan jika setelah tiga hari ia masih hidup, tulangnya dipatahkan dan orang akan mati sebagai hasil dari siksaan ini. Terkadang jika diputuskan untuk memaafkan orang itu setelah sehari / dua hari penyaliban ia diturunkan dalam keadaan hidup sebelum tulang-tulangnya dipatahkan.

Dengan membaca injil dengan cermat akan menunjukkan bahwa Yesus tidak tinggal di salib selama tiga hari dan tidak pula tulang-tulangnya dipatahkan. Sebaliknya ia di penyaliban hanya beberapa jam. Pilatus yang ingin menyelamatkan Yesus dengan sengaja menunda keputusannya hingga waktu makan siang di hari Jum’at, karena mengetahui bahwa setelah gelap malam (malam jumat) hari Sabat orang-orang Yahudi dimulai dan tidak adil bagi orang-orang Yahudi untuk membiarkan orang-orang yang berada di salib.

“Para pemuka Yahudi meminta Pilatus untuk mengizinkan mereka untuk mematahkan kaki orang-orang yang telah disalib dan menurunkan tubuhnya dari penyaliban. Mereka meminta ini karena ini adalah Juma’at dan mereka tidak ingin tubuh-tubuh berada di penyaliban pada hari Sabat semenjak kedatangan Sabat yang suci.” [Yohanes 19:31]

Tuhan Yang Maha Kuasa kemudian membuat sebuah badai yang dahsyat sehingga waktu gelar datang lebih cepat sehingga Yesus tidak harus menunggu hingga siang.

“Sekitar jam 12 tepat ketika matahari berhenti bersinar dan kegelapan menutupi seluruh negeri hingga jam 3 tepat.” [Lukas 23:44]

Injil pun lebih lanjut menyatakan bahwa pada jam tiga tepat Yesus berteriak dengan keras.

“Eloi, Eloi lema sabakhtani” yang artinya “Tuhanku, Tuhanku kenapa engkau meninggalkan aku?” [Markus 15:34]

Yesus yang berdoa dengan kuat kepada Tuhan supaya mengangkat kutukan kematian ini tidak memahami mengapa Tuhan meninggalkannya padahal selalu menjadi kebiasaan Tuhan mendengar doa beliau. Apa yang tidak diketahui Yesus adalah ia kehilangan kesadarannya di saat-saat dimana Allah akan menyelamatkannya.

Kata-kata Yesus, “Tuhanku, Tuhanku, kenapa engkau meninggalkan aku?” adalah memunculkan pertanyaan bahwa jika Yesus adalah Tuhan lalu kepada siapa ia memohon? Anda tidak bisa memiliki Tuhannya Tuhan.

Pertanyaan yang penting sekarang adalah apakah Yesus wafat atau hanya tidak sadarkan diri?

Berdasarkan nubuatan Yesus, ia seharusnya masih hidup karena ia harusnya masuk ke dalam perut bumi dalam keadaan hidup. Berdasarkan doanya, Tuhan seharusnya mendengarnya, sehingga orang-orang Yahudi akan gagal dalam rencana mereka agar ia (Yesus) dipanggil sebagai orang yang dikutuk oleh  Allah.

Dalam Yohanes 19:33-34 :

“Tetapi ketika mereka datang ke Yesus, mereka melihat bahwa ia telah wafat, sehingga mereka tidak mematahkan kaki-kakinya akan tetapi salah satu prajurit menusukkan tombaknya ke Yesus. Seketika itu darah dan air mengalir keluar.”

Sekarang “darah dan air” tidak mengalir keluar dari tubuh yang telah meninggal. Seorang yang baru saja meninggal yakni ketika jantung berhenti memompa darah, aliran darah pun berhenti. Ini menunjukkan bahwa meskipunpun ia tampak seperti meninggal, ia sebenarnya masih hidup hanya saja tidak sadarkan diri. Dan inilah rencana Tuhan yakni membiarkan tubuh Yesus seperti meninggal sehingga para tentara tidak mementingkan untuk mematahkan kaki-kakinya, kalau tidak Yesus akan benar-benar mati.

Ketika Pilatus diminta oleh Yusuf Arimathea untuk melepaskan tubuhyesus, Injil mengatakan pada kita bahwa,“Pilatus dikejutkan ketika mendengar bahwa Yesus telah wafat” [Matius 15:44]. Mengapa Pilatus harus dikagetkan karena Yesus telah wafat jika dirinya sendiri memberikan keputusan untuk kematian Yesus? Faktanya adalah rencana Pilatus adalah untuk menyelamatkan Yesus dengan menunda penyalibannya, mengetahui bahwa butuh waktu yang panjang bagi seseorang meninggal dan Yesus disalib di penyaliban hanya beberapa jam.

Ini juga terjadi dimana Yusuf Arimathea yang merupakan “Seorang anggota dewan, tidak setuju dengan keputusan dan tindakan mereka” [Lukas 23:51] dan seorang prajurit Yesus [Yohanes 19:38] diizinkan oleh Pilatus (yang) memberi perintah agar tubuh (Yesus) diberikan ke Yusuf.” [Matius 27:58]. Dengan kata lain Pilatus tidak mengizinkan orang-orang Yahudi memiliki tubuh Yesus sehingga mereka tidak dapat menemukan rencana untuk penyelamatan Yesus.

Yusuf Arimathea juga membawa sejumlah besar ±30kg jenis campuran minyak mur dengan minyak gaharu [Yohanes 19:39]. Jenis ini digunakan untuk pengobatan dan bahkan hingga sekarang digunakan di Barat, mereka menyebutnya “Marham-e-Isa” atau “Salap Isa”. Minyak oles ini sangat berguna untuk menghentikan pendarahan dan minyak mur mencegah luka menjadi infeksi.

Setelah 3 hari, setelah mengumpulkan tenaga dan lukanya sudah sedikit pulih, Yesus berjalan ke Galilea.

“Sekarang pergilah dan berilah pesan kepada murid-muridnya termasuk Petrus: ‘Ia akan mendahului kamu ke Galilea; disana kamu akan melihat dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepadamu.’” [Markus 16:7]

Dan di dalam Lukas 24:15 :

“Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.”

Yesus pada akhirnya bertemu dengan murid-muridnya ketika mereka sedang makan, siapa saja yang melihatnya mengira mereka sedang melihat hantunya. Ia menenangkan mereka dengan berkata bahwa ia masih Yesus yang sama dan memperlihatkan kepada mereka luka-luka di tangan dan kakinya.

“Mereka terkejut dan takut serta menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu terkejut dan apa sebab timbulnya keraguan di dalam hatimu? Lihatlah tangan dan kakiku: aku sendirilah ini: rabalah aku dan kamu akan tahu, karena hantu tidak mempunyai daging dan tulang, seperti yang kamu lihat ada padaku.’” [Lukas 24:37-39]

“Kemudian layaknya manusia biasa, ia lapar dan bertanya kepada murid-muridnya, ‘Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk dimakan disini?’ Mereka memberinya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.” [Lukas 24:41-42]

Dari ayat ini jelas bahwa Yesus setelah disadarkan dari pingsannya tidak menjadi roh. Ia sama halnya seperti manusia biasa dengan tubuh manusia jika ia dihidupkan setelah kematian bagaimana dengan tubuh rohaninya yang masih ada lubang bekas lukanya dan masih membutuhkan makanan untuk hidup. Jika ia memerlukan makanan lalu ia sekarang pun seharusnya membutuhkan makanan.

Faktanya bahwa tubuh spiritual bekas dari makanan dan minuman serta luka fisik. Bagaimana bisa kita membayangkan bahwa tubuh yang demikian duduk di sisi Tuhan, yang masih membutuhkan makanan dan air dan yang masih berdaging dan bertulang dan harus berjalan untuk jarak yang jauh, serta hamba Allah yang abadi dan kekal. Jadi tidak diragukan bahwa Yesus tidak wafat di salib dan tidak memperoleh tubuh spiritual yang baru.“Terbebas dari kehidupan manusia biasa”.

Walaupun ia dalam status kematian seperti pingsan setelah sembuh, tubuhnya menahan sigat-sifat manusia seperti manusia pada umumnya. Tubuhnya tidak mengalami perubahan.

Dari injil pun jelas bahwa setelah sembuh, ia masih memiliki ketakutan yang sama bahwa orang-orang Yahudi yang terkutuk akan berusaha untuk menangkapnya lagi. Oleh karena itu ia menyamarkan dirinya dan melakukannya dengan sangat baik bahkan murid-muridnya tidak bisa mengenalnya.

“Pada hari yang sama 2 orang pengikut Yesus berangkat ke sebuah desa bernama Emmaus, … dan mereka berbincang-bincang tentang segala hal yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama mereka; mereka melihatnya tapi mereka tidak mengenalnya.” [Lukas 24:13-16]

“Kemudian ia (Maria) berbalik dan melihat Yesus berdiri disana; tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. “Ibu, kenapa engkau menangis?” Yesus bertanya. “Siapakah yang engkau cari?”. Ia (Maria) berfikir ia (Yesus) adalah seorang tukang kebun. [Yohanes 20:14-15]

Ia juga tidak ingin tinggal di wilayah yang sama karena takut bahwa musuh mungkin menangkapnya lagi. Oleh sebab itu ia memutuskan ke Galilea, sebuah tempat 70 mil jauhnya. “jangan takut” kata Yesus kepada mereka. Pergi dan katakanlah ke saudara-saudaraku untuk pergi ke Galilea dan disana mereka akan melihatku. [Matius 28:10]

Dan kemudian Yesus bertemu murid-muridnya, ia menemui mereka di dalam rumah rahasia yang terkunci.

“Seminggu kemudian para murid berkumpul kembali di dalam rumah dan Thomas bersama mereka sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata ‘Damai sejahtera bagimu.’” [Yohanes 20:26]

Sekarang, jika Yesus dalam tubuh spiritual yang baru mengapa ia menyamarkan dirinya sebagai tukang kebun, melarikan diri ke tempat yang jauh, dan berkumpul di dalam rumah yang terkunci? Berdasarkan ajaran Kristen ia sekarang telah meninggalkan “kehidupannya sebagai manusia biasa”. Tak seorang pun yang dapat mengganggunya sekarang. Ia seharusnya menunjukkan tubuh agung barunya kepada setiap orang terutama kepada orang-orang Yahudi akan tetapi sebagaimana kita tahu ia tidak melakukannya.

Tidak,Yesus sendiri tidak memberikan tanda kerapuhan dari tubuh agung barunya. Tetapi dengan perjalanan rahasianya, dengan memakan makanan dan tidur serta menunjukkan luka pada tubuhnya membuktikan bahwa ia tidak mati di salib.

Sumber Gambar: http://www.hipwee.com/feature/sebagai-pemuda-kristenkatolik-yang-punya-banyak-teman-beda-agama-dapat-10-pertanyaan-ini-sudah-biasa/

Tentang Penulis

Muhammad Talha

Tinggalkan komentar