Bias Kognitif dalam Penolakan terhadap Ahmadiyah: Tinjauan Melalui Teori Dunning-Kruger Effect dan Metakognisi

19

Penolakan terhadap Jemaat Ahmadiyah di dunia Muslim, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Pakistan, umumnya dipahami melalui kerangka teologis — terutama terkait doktrin kenabian dan klaim Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud. Namun, pendekatan teologis semata menghadapi keterbatasan eksplanatoris ketika dihadapkan pada pertanyaan: mengapa penolakan ini begitu intens dan persisten, bahkan di kalangan individu dengan pengetahuan sangat terbatas tentang doktrin Ahmadiyah itu sendiri?

Al-Quran memberikan prinsip epistemik fundamental dalam QS. Al-Isra ayat 36:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini menegaskan tanggung jawab epistemik individu atas klaim-klaim yang dibuatnya dan larangan membuat penilaian tanpa landasan pengetahuan yang memadai.

Artikel ini mengajukan bahwa dimensi epistemik — khususnya bias kognitif — memainkan peran signifikan dalam membentuk sikap penolakan terhadap Ahmadiyah. Melalui kerangka teori Dunning-Kruger Effect dan kajian metakognisi, penelitian ini berupaya mengidentifikasi pola-pola bias kognitif yang berkontribusi terhadap fenomena tersebut. Pendekatan ini tidak bermaksud mereduksi kompleksitas isu teologis, melainkan memperkaya pemahaman dengan menambahkan dimensi psikologi kognitif yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam literatur akademis.

Dunning-Kruger Effect, yang pertama kali diidentifikasi oleh Kruger dan Dunning (1999) melalui serangkaian eksperimen psikologi, mendeskripsikan fenomena metakognitif di mana individu dengan kompetensi rendah dalam suatu domain cenderung mengalami illusory superiority — melebih-lebihkan kemampuan aktual mereka. Teori ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan yang sama yang menyebabkan performa buruk juga menghalangi individu untuk mengenali keterbatasan mereka sendiri.

Secara spesifik, individu dengan kompetensi rendah mengalami tiga kegagalan metakognitif:

  • Overestimasi kompetensi diri: Melebih-lebihkan kualitas pengetahuan dan kemampuan analitis mereka
  • Kegagalan mengenali inkompetensi: Tidak mampu mengidentifikasi kesenjangan antara pengetahuan aktual dan pengetahuan yang diperlukan
  • Ketidakmampuan mengenali keahlian orang lain: Gagal mengapresiasi superioritas kompetensi individu yang lebih ahli (Kruger & Dunning, 1999; Dunning et al., 2003)

Fenomena ini memiliki resonansi dengan peringatan Al-Quran tentang bahaya kesombongan intelektual dan keterbatasan pengetahuan manusia:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Metakognisi, atau “thinking about thinking“, merujuk pada kemampuan individu untuk menyadari batas pengetahuan dirinya, membedakan informasi yang valid dan tidak valid, serta mengevaluasi argumen secara kritis. Dalam konteks wacana keagamaan, kapasitas metakognitif yang memadai menjadi prasyarat untuk penilaian teologis yang bertanggung jawab.

Dunning (2011) mendeskripsikan kondisi kegagalan metakognitif sebagai “ignorance of ignorance” — ketidaksadaran atas ketidaktahuan sendiri. Dalam terminologi ini, individu tidak hanya mengalami defisit pengetahuan, tetapi juga defisit kesadaran akan defisit tersebut, menciptakan apa yang disebut unconscious incompetence.

Dalam konteks wacana tentang Ahmadiyah, Dunning-Kruger Effect memanifestasikan diri ketika individu dengan pemahaman terbatas tentang kompleksitas berikut:

  • Sejarah perkembangan pemikiran Islam pasca-Nabi Muhammad ﷺ
  • Keragaman mazhab dan aliran teologis dalam tradisi Islam
  • Konteks sosio-historis kemunculan gerakan pembaruan Islam modern
  • Literatur primer Ahmadiyah yang sebagian besar tidak diakses

merasa memiliki kompetensi epistemik memadai untuk membuat penilaian kategoris seperti “Ahmadiyah menyimpang dari Islam” atau “doktrin Ahmadiyah secara jelas bertentangan dengan akidah Islam”, tanpa pernah menguji premis-premis argumentasi melalui kajian sumber primer atau analisis historis komparatif yang sistematis.

Kondisi ini menghasilkan paradoks epistemik yang signifikan:

“Semakin terbatas pemahaman seseorang tentang doktrin, sejarah, dan argumentasi Ahmadiyah, semakin tinggi tingkat kepastian dan intensitas penolakannya.

Paradoks ini mencerminkan inti dari Dunning-Kruger Effect: ketidaktahuan yang tidak disadari (unconscious incompetence) justru melahirkan kepercayaan diri yang berlebihan (overconfidence). Dalam terminologi Dunning dan Kruger, ini merupakan manifestasi unskilled and unaware.

Salah satu faktor kunci yang berkontribusi terhadap bias kognitif adalah asimetri akses terhadap literatur primer. Penolakan terhadap Ahmadiyah umumnya bersumber dari narasi sekunder yang bersifat polemis — seperti buku bantahan, ceramah keagamaan populer, atau konten media sosial — bukan dari literatur akademis atau karya primer Ahmadiyah seperti Ruhani Khaza’in, Tadhkirah, Malfuzat, atau publikasi resmi Ahmadiyah.

Al-Quran memberikan panduan tentang pentingnya verifikasi informasi dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Ketiadaan akses terhadap sumber primer menimbulkan beberapa problem epistemik:

  • Blind Spot Literatur: Mayoritas kritikus tidak menyadari bahwa sebagian besar tuduhan terhadap Ahmadiyah telah dijawab secara detail dalam literatur primer Ahmadiyah, menciptakan kesenjangan informasi yang signifikan
  • Defisit Genealogi Historis: Minimnya pemahaman tentang sejarah panjang perdebatan intra-Islam — dari kemunculan Khawarij pada periode awal hingga munculnya berbagai gerakan pembaruan pada abad ke-19 dan ke-20 — menyebabkan posisi Ahmadiyah sebagai bagian dari kontinuum gerakan reformasi modern sulit dibaca secara proporsional
  • Minimnya Paparan terhadap Studi Akademis: Kajian ilmiah kontemporer tentang Ahmadiyah — misalnya karya Friedmann (1989) Prophecy Continuous: Aspects of Ahmadi Religious Thought and Its Medieval Background — jarang diakses, sehingga persepsi publik lebih dibentuk oleh opini populer ketimbang riset sistematis

Wacana anti-Ahmadiyah yang dominan cenderung bersifat polemis dan apologetik, bukan analitis-akademis, mengutamakan retorika persuasif dan mobilisasi emosional ketimbang analisis kritis berbasis metodologi ilmiah. Al-Quran dalam QS. Al-Ankabut ayat 46 mengajarkan:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.”

Prinsip “al-lati hiya ahsan” tentu lebih berlaku dalam dialog intra-Muslim.

Kegagalan metakognitif tampak dalam beberapa pola:

Pertama, ketidakmampuan mengevaluasi kredibilitas sumber: narasi anti-Ahmadiyah sering diulang tanpa mempertanyakan kredibilitas atau akurasi informasi.

Kedua, kesulitan membedakan analisis ilmiah dan polemik sektarian: dalam ruang informasi yang sarat retorika emosional, wacana polemis kerap dianggap setara dengan kajian akademis berbasis metode historis-kritis.

Ketiga, asumsi monolitisme interpretatif: anggapan bahwa Islam hanya memiliki satu bentuk interpretasi yang benar, mengabaikan kenyataan bahwa sejak awal sejarahnya, Islam terdiri dari beragam mazhab dan aliran teologi. Al-Quran sendiri menegaskan realitas keberagaman:

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud: 118)

Keempat, penilaian tanpa akses sumber primer: kritik dibangun tanpa membaca karya-karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan literatur resmi Ahmadiyah.

Salah satu implikasi penting dari Dunning-Kruger Effect adalah munculnya illusory superiority — persepsi berlebihan tentang superioritas kompetensi atau pengetahuan diri. Dalam konteks keagamaan, fenomena ini memanifestasi sebagai keyakinan bahwa pemahaman teologis kelompok sendiri secara inheren lebih benar atau otentik, meskipun tidak didukung oleh kajian komparatif yang memadai.

Al-Quran memperingatkan sikap merasa diri lebih baik dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”

Fenomena illusory superiority teramati ketika individu:

  • Lebih familiar dengan slogan polemis ketimbang literatur sejarah intelektual Islam atau studi akademis
  • Menganggap pengetahuannya “memadai” untuk penilaian kategoris meskipun tidak pernah membaca karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
  • Menolak seluruh argumen Ahmadiyah tanpa pernah mengaksesnya secara substantif

Kondisi ini menciptakan dogmatisme epistemik — sikap yang menolak revisi belief meskipun dihadapkan pada informasi atau argumen baru yang relevan.

Dalam konteks penolakan Ahmadiyah, argumen mayoritas sering digunakan sebagai justifikasi epistemik — seolah konsensus mayoritas ulama atau umat Islam otomatis menjamin kebenaran suatu posisi. Namun, Al-Quran secara eksplisit memperingatkan bahwa mayoritas bukanlah ukuran kebenaran:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Ayat ini memberikan peringatan epistemik: bahwa mayoritas pendapat tidak otomatis menjamin kebenaran, terutama ketika didasarkan pada zann (praduga) ketimbang ‘ilm (pengetahuan yang pasti). Sejarah Islam mencatat banyak contoh kebenaran di pihak minoritas: Nabi Ibrahim menentang mayoritas kaumnya, Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikut awalnya merupakan minoritas yang ditolak, dan pemikir besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Al-Ghazali menghadapi penolakan mayoritas pada zamannya.

Ini menunjukkan bahwa dalam persoalan kebenaran, yang penting bukanlah kuantitas pendukung, melainkan kualitas argumen dan basis epistemik yang mendasarinya.

Kajian ini berkontribusi pada literatur akademis tentang Ahmadiyah dengan menambahkan dimensi psikologi kognitif yang selama ini kurang mendapat perhatian. Pendekatan epistemik yang diajukan memperkaya pemahaman bahwa banyak konflik yang tampak sebagai perselisihan teologis fundamental sebenarnya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor epistemik: bagaimana pengetahuan dibentuk, bagaimana informasi diakses, dan bagaimana bias kognitif mempengaruhi proses pengambilan kesimpulan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Jemaat Ahmadiyah tidak dapat dipahami secara memadai melalui kerangka teologis semata. Dengan menggunakan teori Dunning-Kruger Effect dan kajian metakognisi, analisis ini mengidentifikasi bahwa bias kognitif — yang muncul akibat keterbatasan pengetahuan, asimetri akses informasi, dan kegagalan mengenali batasan pemahaman sendiri — memainkan peran signifikan dalam membentuk sikap penolakan.

Fenomena unskilled and unaware teramati jelas: individu dengan pengetahuan terbatas justru menunjukkan tingkat kepercayaan diri tinggi dalam penilaian mereka, tanpa menyadari kesenjangan antara kompetensi aktual dan yang dipersepsikan — kondisi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip epistemik Al-Quran (QS. Al-Isra: 36, QS. Al-Hujurat: 6).

Al-Quran mengingatkan:

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)

Kesadaran akan keterbatasan ini seharusnya melahirkan kerendahan hati epistemik dan kehati-hatian dalam membuat penilaian kategoris.

Dengan mengadopsi sikap epistemik yang lebih dewasa dan reflektif — sejalan dengan nilai-nilai Al-Quran — umat Islam dapat menciptakan ruang diskursus yang lebih produktif, adil, dan kondusif bagi pencarian kebenaran bersama. Pendekatan ini relevan tidak hanya untuk kasus Ahmadiyah, tetapi juga untuk berbagai konflik intra-Muslim lainnya yang sering diperburuk oleh bias kognitif dan defisit kesadaran epistemik.


Oleh: Usamah Ahmad Rachmadi

Referensi:

The Holy Qur’an (English Translation). Tilford, Surrey: Islam International Publications, 2002.

Rumah Editor. (2025, November 27). Kalian bisa lebih CERDAS dari hari ini asalkan mengikuti cara ini [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=ZrTlBpBBCZc

Duignan, B. (2025). Dunning–Kruger effect. In Encyclopædia Britannica. Retrieved December 23, 2025, from https://www.britannica.com/science/Dunning-Kruger-effect

Metacognition. In Wikipedia. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Metacognition