GIM: Antara Permainan Dunia dan Kesungguhan Makna

36
GIM: Antara Permainan Dunia dan Kesungguhan Makna
GIM: Antara Permainan Dunia dan Kesungguhan Makna

Dewasa ini, di tengah kehidupan yang kian cepat dan menuntut, gim hadir hampir tanpa jarak. Ia ada di genggaman tangan, di sela-sela waktu luang, bahkan kadang menjadi pelarian paling mudah ketika dunia terasa terlalu bising. Bermain gim hari ini bukan lagi sekadar hiburan. Gim telah menjelma dijadikan pengalaman keseharian, emosional, sosial, dan personal.

Pada titik ini, muncul pertanyaan yang barangkali jarang kita ajukan dengan jujur: apa sebenarnya posisi “bermain” dalam hidup kita? Pertanyaan ini terasa relevan karena Al-Qur’an sejak jauh hari telah memberi satu pengingat yang tenang, tetapi tegas.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
 (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Ayat ini tidak sedang meniadakan dunia, apalagi melarang manusia menikmati hidup. Ia justru meluruskan orientasi bahwa dunia dengan segala kesenangannya, bukanlah tujuan akhir.

Penegasan serupa kembali diingatkan Allah Ta‘ala:

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan hiburan. Jika kamu beriman dan bertakwa, Dia akan memberikan pahala kepadamu.”
 (QS. Muhammad: 36)

Dunia digambarkan sebagai arena, sementara akhirat adalah realitas yang hakiki. Bukan berarti arena itu harus ditinggalkan, tetapi ia tidak boleh disalahpahami sebagai garis akhir.

Bagi sebagian dari kita, gim pernah hadir dengan wajah yang berbeda. Ada masa ketika bermain bukan perkara cepat selesai atau instan menang. Gim-gim pada masa lampau dan segala keterbatasannya, justru menuntut kesabaran. Gagal adalah bagian dari proses. Tidak ada autosave berlebihan. Jika kalah, ya mengulang dari awal.

Bermain juga seringkali bersifat dekat dan sosial. Duduk bersebelahan dengan teman, satu layar, satu ruangan. Tawa, kesal, dan kegembiraan hadir bersamaan. Kebersamaan itu sendiri kerap menjadi inti pengalaman, bukan semata hasil akhir.

Sebagian gim bahkan diam-diam mendidik. Ada yang memperkenalkan kosakata bahasa Inggris sehingga memaksa pemain membuka kamus karena petunjuk tidak selalu jelas. Jika tidak memahami, permainan terhenti. Dalam pengalaman itu, memahami menjadi syarat untuk melangkah. Tanpa sadar, bermain melatih kesabaran, ketekunan, dan kemauan belajar.

Pengalaman-pengalaman ini bukan untuk diratapi atau diagungkan. Hal ini hanya menandakan bahwa bermain pernah menjadi ruang latihan nilai, meski tidak pernah secara eksplisit disebut sebagai pendidikan.

Zaman tentu berubah. Dunia hari ini bergerak lebih cepat, lebih padat, dan lebih kompetitif. Maka wajar jika gim pun menyesuaikan diri. Gim hari ini hadir dengan ritme yang berbeda, dengan sistem reward yang lebih instan, serta koneksi sosial yang lebih luas meski sering kali tidak lagi berwujud kehadiran fisik.

Ini bukan soal benar atau salah. Gim masa kini bukan lebih buruk; ia lahir dari konteks zaman yang berbeda. Ketika hidup terasa berat dan tidak pasti, gim menawarkan sesuatu yang semakin langka: tujuan yang jelas, aturan yang tegas, dan rasa kendali atas hasil.

Islam, sejak awal, tidak memusuhi kegembiraan. Rasulullah ﷺ sendiri tidak menutup ruang bercanda dan bermain, tetapi beliau memberi batas yang jernih.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku juga bercanda, tetapi aku tidak mengatakan kecuali yang benar.”
 (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa bermain bukan persoalan boleh atau tidak, melainkan soal nilai yang menyertainya. Kegembiraan tidak dilarang, selama ia tidak mengaburkan kebenaran dan kesadaran diri.

Namun Islam juga mengingatkan bahwa bagaimanapun menyenangkannya sebuah hiburan, tidak boleh menggeser orientasi hidup. Waktu bukan sekadar sesuatu yang diisi, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan.”
 (HR. Tirmidzi)

Pertanyaan tentang waktu inilah yang kerap luput ketika bermain menjadi terlalu larut. Bukan karena gim itu sendiri keliru, melainkan karena manusia kadang lupa bahwa hidup tidak memiliki pause button.

Pada poin inilah nasihat Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) menjadi relevan dan menenangkan. Dalam berbagai khutbahnya, beliau berulang kali mengingatkan bahwa dunia dengan seluruh kesibukan dan hiburannya bukanlah tujuan, melainkan sarana ujian.

Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba), bersabda:

“Seorang Mukmin sejati adalah orang yang menggunakan dunia sesuai kadarnya. Ia tidak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah Ta‘ala.”

Nasihat ini tidak meminta manusia menarik diri dari dunia, apalagi menolak hiburan. Yang ditekankan adalah kesadaran proporsional: menggunakan dunia tanpa dikuasai olehnya.

Gim, dalam bingkai ini, menjadi cermin kecil dari kehidupan dunia itu sendiri. Ia menawarkan tujuan, tantangan, dan kepuasan sesaat. Namun ia juga mengajarkan satu hal penting: permainan selalu memiliki batas waktu. Ada titik di mana layar harus ditutup, dan kehidupan yang lebih nyata menunggu untuk dijalani.

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang dunia sebagai permainan menemukan maknanya yang paling reflektif. Jika dunia adalah permainan, maka persoalannya bukan bolehkah kita bermain, melainkan apa yang kita kejar dalam permainan itu.

Dalam gim, kita mengenal level, checkpoint, dan waktu bermain. Kita tahu kapan harus berhenti dan kapan permainan itu hanya sarana pelepas penat. Anehnya, dalam hidup, kesadaran ini sering memudar. Waktu tidak bisa di-pause, dan tidak semua kegagalan dapat diulang tanpa konsekuensi.

Mungkin, refleksi tentang gim tidak perlu berakhir pada larangan atau pembelaan. Ia cukup menjadi cermin. Dari sana kita belajar bahwa manusia selalu mencari ruang untuk bernapas, mencoba lagi, dan merasa hidup. Gim menyediakan ruang itu. Namun Islam, melalui Al-Qur’an, hadis, dan nasihat Khalifah, mengingatkan agar ruang tersebut tidak menggantikan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Karena jika dunia ini memang sebuah permainan, maka ia bukan tentang siapa yang paling lama bermain atau paling tinggi levelnya, melainkan tentang apakah kita memainkannya dengan sadar dan menyiapkan diri untuk kehidupan yang benar-benar nyata.


Oleh : Mohammad Gaody

Referensi :

Alquran al-Karim.

Departemen Agama Republik Indonesia. Alquran dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI.

Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.

Ahmad, Mirza Masroor. Khutbat-e-Masroor (Khutbah Jumat). London: Islam International Publications.