Abad ke-19 sebagai Abad Turunnya Isa al-Masih : Konvergensi Prediksi Eskatologis Lintas Agama dalam Sejarah Global

17

Abad ke-19 menempati posisi yang unik dalam sejarah keagamaan dunia. Pada periode ini, berbagai tradisi religius yang secara doktrinal terpisah — bahkan sering berseberangan — secara hampir bersamaan memprediksi kemunculan tokoh mesianik pada masa yang sama. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan teologis. Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam kajian sejarah agama disebut zeitgeist eschatology yakni suatu atmosfer kolektif ekspektasi akhir zaman yang melampaui batas geografis, budaya, dan denominasi.

Ekspektasi ini muncul sebagai respons terhadap perubahan global yang sangat mendasar. Abad ke-19 adalah masa ketika struktur dunia lama runtuh dan dunia modern lahir secara traumatis. Revolusi Industri mengubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, menciptakan urbanisasi masif, fragmentasi komunitas, dan pergeseran radikal dalam cara manusia bekerja dan hidup. Transformasi ini tidak hanya mengubah lanskap fisik, tetapi juga mentalitas kolektif masyarakat Eropa dan Amerika Utara.

Bersamaan dengan itu, rasionalisme dan sekularisme mencapai puncaknya melalui gerakan Pencerahan. Otoritas agama tradisional mulai digugat, sementara epistemologi berbasis empirisme semakin dominan. Kemajuan sains modern, khususnya teori evolusi Darwin yang dipublikasikan pada 1859 dan kritik historis terhadap teks-teks suci, mengguncang fondasi epistemologis teologi klasik. Di sisi lain, ekspansi kolonialisme Eropa mencapai fase imperialisme global dengan pembagian Afrika pada 1884–1885 dan penetrasi ke Asia. Di dunia Islam khususnya, keruntuhan Kesultanan Mughal pada 1857 dan kemunduran Kesultanan Ottoman melahirkan trauma kolektif serta krisis identitas yang mendalam.

Transformasi struktural ini melahirkan kondisi yang oleh sosiologi modern disebut anomie yaitu runtuhnya norma lama tanpa hadirnya kerangka makna baru yang mapan. Dalam konteks keagamaan, anomie tersebut termanifestasi dalam ketidakpuasan rohani terhadap institusi keagamaan yang dianggap tidak lagi memadai. Proliferasi gerakan mesianik muncul sebagai respons terhadap krisis ini, disertai dengan kalkulasi nubuat dan spekulasi eskatologis yang intensif. Fenomena serupa tercatat dalam berbagai tradisi: gerakan Adventisme dalam Kristen Protestan, gerakan pembaharuan (tajdīd) dalam Islam, pertumbuhan aliran mesianik di India, hingga kebangkitan spiritualisme di Eropa dan Amerika.

Secara fenomenologis, kondisi ini menciptakan apa yang dapat disebut anticipatory consciousness — kesadaran kolektif bahwa intervensi Ilahi telah dekat dan sejarah sedang berada di ambang titik balik. Kesadaran inilah yang menjadi landasan bagi prediksi bahwa abad ke-19 merupakan abad kedatangan kembali Mesias.

Dalam tradisi Kristen, kondisi ini melahirkan gelombang prediksi kedatangan kembali Kristus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satu tokoh sentralnya adalah William Miller, seorang pengkhotbah Baptis dari Amerika Serikat yang hidup antara 1782 hingga 1849. Miller mengembangkan sistem hermeneutis untuk menafsirkan nubuat-nubuat dalam kitab Daniel dan Wahyu. Ia menggunakan prinsip yang dikenal sebagai year-day principle — sebuah pendekatan penafsiran di mana satu hari profetik disamakan dengan satu tahun literal.

Berdasarkan prinsip ini, Miller menafsirkan Daniel 8:14 yang berbunyi:

”Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan”

sebagai periode 2.300 tahun yang berakhir sekitar tahun 1843–1844. Metodologi Miller didasarkan pada beberapa premis: bahwa nubuat Alkitab bersifat predictive dan dapat dikalkulasi secara matematis, bahwa peristiwa-peristiwa sejarah telah tergenapi sesuai dengan timeline profetik, dan bahwa kedatangan kedua Kristus dapat diprediksi melalui interpretasi yang cermat.

Gerakan yang dikenal sebagai Millerite ini mencapai puncaknya pada 22 Oktober 1844. Pada tanggal tersebut, ribuan pengikut Miller di seluruh Amerika Serikat menantikan kedatangan fisik Kristus. Ketika peristiwa yang dinanti-nantikan itu tidak terjadi, kekecewaan yang mendalam melanda para pengikutnya — suatu peristiwa yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Great Disappointment. Namun kegagalan prediksi ini tidak mengakhiri gerakan tersebut. Sebaliknya, hal tersebut melahirkan reinterpretasi teologis yang lebih kompleks. Hiram Edson, salah seorang pengikut Miller, mengajukan bahwa tahun 1844 sebenarnya menandai dimulainya fase baru pelayanan Kristus di “bilik mahakudus surgawi” — suatu konsep yang kemudian dikenal sebagai investigative judgment — bukan kedatangan fisik-Nya ke bumi. Interpretasi ini kemudian menjadi fondasi doktrin Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

Gelombang ekspektasi ini berlanjut melalui tokoh lain, Charles Taze Russell, yang hidup antara 1852 hingga 1916 dan kemudian mendirikan gerakan yang berkembang menjadi Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah Witness). Russell mengembangkan sistem kronologi profetik yang berbeda, kali ini berdasarkan interpretasi Daniel 4. Dalam pasal tersebut, Raja Nebukadnezar mengalami kegilaan selama “tujuh masa” yang ditafsirkan sebagai tujuh tahun atau 2.520 hari. Dengan menerapkan year-day principle yang sama, Russell menghitung 2.520 tahun dari penghancuran Yerusalem — yang ia tetapkan pada 607 SM — hingga tahun 1914 Masehi.

Menurut Russell, tahun 1914 menandai berakhirnya “masa bangsa-bangsa” sebagaimana disebutkan dalam Lukas 21:24, dan dimulainya invisible presence Kristus — suatu konsep teologis yang membedakan antara parousia (kehadiran) dan epiphaneia (manifestasi). Meskipun tahun 1914 secara teknis berada di luar abad ke-19, penting untuk dicatat bahwa seluruh arsitektur teologis dan ekspektasi mesianik Russell dibangun sepanjang dekade 1870-an hingga 1890-an. Periode inilah yang oleh sejarawan agama seperti Ernest R. Sandeen dan Ruth Alden Doan disebut sebagai The Great Expectation Age — sebuah fase historis ketika gagasan kedatangan kedua Kristus dipandang bukan sebagai doktrin abstrak, melainkan sebagai realitas yang dekat dan konkret.

Para sejarawan telah mendokumentasikan bagaimana faktor-faktor sosial seperti industrialisasi, urbanisasi, dan imigrasi, yang berkombinasi dengan faktor-faktor intelektual seperti rasionalisme dan kritik Alkitab, menciptakan kondisi psiko-sosial yang sangat kondusif bagi proliferasi spekulasi eskatologis. Abad ke-19 dengan demikian menjadi era ketika ekspektasi akan kedatangan Mesias mencapai intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Kristen.

Fenomena antisipasi mesianik yang sebanding juga muncul secara kuat dalam tradisi Islam, khususnya di wilayah Asia Selatan yang pada masa itu merupakan pusat studi hadis dan gerakan pembaruan. Dalam eskatologi Islam klasik, Muhyiddin Ibn Arabi — filsuf dan sufi besar dari Andalusia yang hidup antara 1165 hingga 1240 — menggunakan metode ḥurūf al-abjad, yakni numerologi berbasis huruf Arab, untuk menafsirkan waktu kemunculan Imam Mahdi. Pendekatan ini, yang juga disebutkan oleh Ibn Khaldun, digunakan untuk memahami simbol-simbol sebagai petunjuk kronologis yang menunjuk pada waktu tertentu dalam sejarah.

Ibn Arabi menjelaskan bahwa kemunculan Imam Mahdi akan terjadi setelah fase simbolik yang ia sebut “Hijrah” serta rangkaian huruf Fa–Kha–Jim. Melalui metode perhitungan huruf abjad, nilai-nilai berikut diperoleh: Hijrah (هجرت) bernilai 608, Kha (خ) bernilai 600, Fa (ف) bernilai 80, dan Jim (ج) bernilai 3. Gabungan Kha, Fa, dan Jim menghasilkan nilai 683. Dengan menambahkan nilai Hijrah sebesar 608, diperoleh angka 1291 Hijriah, yang bertepatan dengan 1874 Masehi. Atas dasar perhitungan inilah, Khawaja Hassan Nizami yang hidup pada periode berikutnya menyatakan bahwa Ibn Arabi meyakini kemunculan Imam Mahdi akan terjadi pada rentang awal abad ke-14 Hijriah, dengan berbagai variasi penafsiran numerologis yang menunjuk sekitar 1335 Hijriah.

Prediksi serupa juga muncul dalam tradisi sufisme Persia-India melalui Shah Nimatullah Wali, seorang sufi besar yang wafat pada 834 Hijriah. Dalam qasidahnya yang terkenal — yang kemudian dikutip dan dijadikan salah satu tanda kebenaran dalam karya Nishān-e-Āsmānī yang dinisbahkan kepada Hadrat Mirza Ghulam Ahmad — Shah Nimatullah Wali menulis secara simbolik:

“Setelah dua belas abad berlalu, aku menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan. Aku melihat pemberontakan, perang, kekacauan, dan ketidakadilan di negeri ini dan perbatasannya. Aku melihat wajah bulan menjadi gelap dan jantung matahari terluka. Aku mendapati India dalam keadaan menyedihkan; aku melihat tirani Turki dan kehancuran yang terjadi. Aku melihat nama tokoh mulia itu tertulis dan kubaca: Alif, Ha, Mim, dan Dal — yakni Ahmad.”

Syair ini secara luas ditafsirkan sebagai rujukan kepada kemunculan tokoh mesianik bernama Ahmad pada abad ke-14 Hijriah, khususnya di wilayah India yang digambarkan dalam kondisi menyedihkan — sebuah deskripsi yang sangat sesuai dengan realitas India abad ke-19 di bawah kolonialisme Britania.

Ekspektasi tersebut mencapai formulasi yang lebih eksplisit dalam karya Nawab Siddiq Hasan Khan, penguasa Bhopal sekaligus ulama ahl al-ḥadīth terkemuka abad ke-19. Dalam kitab monumentalnya Ḥujaj al-Karāmah, yang diselesaikan pada akhir abad ke-13 Hijriah sekitar 1880-an, ia menulis:

“Pada awal abad keempat belas — yang masih tersisa sekitar sepuluh tahun — apabila kedatangan al-Mahdi dan turunnya Isa terjadi, maka ia akan berperan sebagai Mujaddid sekaligus Mujtahid.”

Pernyataan ini mengandung beberapa implikasi teologis yang sangat penting. Pertama, Nawab secara eksplisit mengidentifikasi awal abad ke-14 Hijriah — yakni periode antara 1882 hingga 1892 Masehi — sebagai window temporal bagi manifestasi mesianik. Kedua, ia menyatakan bahwa figur yang ditunggu akan memiliki status ganda sebagai Mahdi dan Isa sekaligus, sebuah konsep yang berbeda dari literalisme Sunni mainstream yang memisahkan kedua figur tersebut. Ketiga, ia menekankan bahwa figur ini akan berperan sebagai mujaddid (pembaru) dan mujtahid (ahli hukum independen), mengindikasikan fungsi intelektual-reformis, bukan sekadar peran militer-politis.

Putranya, Nawab Nurul Hasan, melanjutkan analisis ayahnya dalam kitab Iqtirāb al-Sā‘ah (Dekatnya Hari Kiamat) yang ditulis pada awal abad ke-14 Hijriah. Dalam teks ini, ia melakukan evaluasi historis-kritis terhadap prediksi ayahnya dengan menulis: “

Menurut perhitungan ini, al-Mahdi seharusnya muncul pada abad ke-13, tetapi abad itu telah berlalu dan al-Mahdi belum juga datang. Sekarang kita hampir memasuki abad ke-14 dan bahkan enam bulan telah berlalu sejak buku ini ditulis. Mungkin Tuhan akan menganugerahi kita rahmat, keadilan, kasih sayang, dan kemurahan-Nya; dan al-Mahdi mungkin akan muncul dalam waktu empat hingga enam tahun.”

Kutipan ini menunjukkan beberapa hal menarik. Penulis menyadari bahwa prediksi sebelumnya tidak terpenuhi, namun tetap mempertahankan kerangka eskatologis yang sama. Ia kemudian mempersempit window temporal menjadi periode 1882–1888 Masehi, yang dalam kalender Hijriah sekitar 1299–1305. Penggunaan kata “mungkin” (la’alla) menunjukkan pendekatan epistemologis yang lebih hati-hati, namun ekspektasi yang kuat tetap dipertahankan.

Kedua kutipan ini bukan sekadar spekulasi individual. Mereka mencerminkan diskursus eskatologis yang lebih luas dalam komunitas ulama Asia Selatan abad ke-19, menunjukkan adanya konsensus hermeneutis bahwa dunia telah memasuki ambang perubahan mesianik yang akan terwujud pada awal abad ke-14 Hijriah.

Dari perspektif akademis, konvergensi prediksi eskatologis Kristen dan Islam pada abad ke-19 tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai kebetulan historiografis. Beberapa faktor struktural dan epistemologis yang saling terkait berkontribusi terhadap fenomena ini.

Pertama, perubahan teknologi, politik, dan sosial abad ke-19 menciptakan kondisi yang sangat mirip dengan gambaran apokaliptik dalam teks-teks klasik. Globalisasi perdagangan dan komunikasi melalui penemuan telegraf pada 1844, pembangunan rel kereta api transatlantik, dan pembukaan Kanal Suez pada 1869 menciptakan apa yang dapat disebut “penyusutan dunia” — sebuah fenomena yang oleh banyak komunitas beriman dipandang sebagai tanda akhir zaman. Konflik-konflik global seperti Perang Krimea (1853–1856), Pemberontakan India (1857), dan Perang Saudara Amerika (1861–1865) dipandang sebagai pemenuhan nubuat tentang “peperangan dan kabar tentang peperangan”. Sementara itu, bencana alam seperti gempa bumi Lisbon pada 1755 yang memori kolektifnya masih sangat kuat, serta wabah kolera global yang melanda dunia antara 1817 hingga 1860-an, dipandang sebagai indikator eskatologis yang jelas.

Kedua, baik dalam tradisi Kristen maupun Islam, perhitungan teologis sering konvergen pada periode 1800–1900. Dalam Kristen, kalkulasi dari Daniel 8:14 menghasilkan tahun sekitar 1844, kalkulasi dari Daniel 12:11–12 menghasilkan berbagai hasil di abad ke-19, dan interpretasi “tujuh masa” menunjuk pada 1914. Dalam Islam, tradisi hadis tentang umur umat Islam antara 1.000 hingga 1.500 tahun, siklus mujaddid setiap 100 tahun yang menjadikan abad ke-14 Hijriah sebagai momen istimewa, numerologi Ibn Arabi yang menunjuk 1874 atau 1291 Hijriah, serta prediksi Nawab Siddiq Hasan Khan yang menunjuk periode 1882–1892 Masehi — semuanya konvergen pada periodisasi yang secara temporal sangat berdekatan. Konvergensi ini menunjukkan bahwa meskipun sistem kalkulasi berbeda, periodisasi yang dihasilkan mengarah pada kesimpulan yang sama: abad ke-19, yang bertepatan dengan awal abad ke-14 Hijriah, merupakan masa yang dinanti-nantikan.

Ketiga, India pada abad ke-19 memiliki posisi yang sangat unik sebagai locus mesianik. Wilayah ini merupakan pusat kolonialisme Britania, di mana puncak kekuasaan imperial paradoksnya melahirkan berbagai gerakan resistensi religius. India juga menjadi saksi keruntuhan peradaban Islam Asia Selatan dengan berakhirnya Kesultanan Mughal, menciptakan vacuum kekuasaan dan krisis identitas yang mendalam. Sebagai pusat pluralisme religius, India menjadi tempat interaksi intensif antara Islam, Hinduisme, Sikhisme, dan Kristen, menciptakan lingkungan yang syncretistic sekaligus dialogical. Lebih dari itu, India menjadi pusat kebangkitan berbagai gerakan pembaharuan seperti Ahmadiyah, ahl al-ḥadīth, Deoband, Brahmo Samaj, dan Arya Samaj.

Berbagai literatur eskatologis — baik dari kalangan Adventis, misionaris Kristen, maupun ulama Muslim — menunjuk wilayah timur, khususnya India, sebagai medan manifestasi kenabian akhir zaman. Dalam tradisi Islam, indikasi ini sangat kuat. Sebuah hadis dalam Sunan an-Nasa’i menyebutkan:

”Akan ada sekelompok dari umatku yang akan memerangi India. Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka hingga mereka bertemu dengan Isa putra Maryam.” (Sunan an-Nasa’i 3175)

Hadis ini dipahami oleh banyak ulama sebagai petunjuk bahwa wilayah India akan menjadi tempat bertemunya umat dengan Isa al-Masih pada akhir zaman. Hadis-hadis lain tentang “tentara dari timur” juga ditafsirkan secara geografis dan metaforis merujuk pada Asia, menjadikan India sebagai focal point ekspektasi mesianik global.

Nubuatan Nabi Muhammad ﷺ tentang pembaruan agama setiap abad — konsep yang dikenal sebagai mujaddidiyyah — terbukti akurat dalam sejarah. Pada awal abad ke-14 Hijriah, yang bertepatan dengan 1883–1884 Masehi, satu-satunya tokoh dalam dunia Islam yang secara eksplisit mengklaim sebagai Al-Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian.

Sebagai seorang mujaddid, beliau memikul misi yang kompleks dan menyeluruh: menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni, membela Islam dari serangan kritik yang datang dari Kristen, Hindu, dan atheis, membuktikan keunggulan Islam melalui hujjah rasional, moral, dan spiritual, serta menegakkan kembali pemahaman tauhid sesuai prinsip sunnatullah. Pemikiran dan argumen beliau tidak dapat dipisahkan dari karya-karya awalnya, terutama Barāhīn-e-Ahmadiyya yang ditulis antara 1880 hingga 1884. Dalam karya monumental ini, beliau menyajikan ratusan dalil rasional dan tekstual tentang keunggulan Islam, menawarkan pembelaan intelektual dan spiritual terhadap Al-Qur’an, menyatakan bahwa wahyu Ilahi masih turun, serta memperlihatkan tanda-tanda Ilahi sebagai legitimasi misinya.

Lebih dari sekadar teori, beliau mendasarkan dakwahnya pada Al-Qur’an, hadis mutawatir, dan sunnatullah — serta membuktikannya melalui nubuwat-nubuwat yang tergenapi, fenomena ilham atau wahyu, jawaban-jawaban doa yang terdokumentasi, dan pembelaan ilmiah yang tidak tertandingi pada masanya.

Jika dilihat secara komparatif, kemunculan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menunjukkan kesesuaian yang mencolok dengan berbagai prediksi lintas tradisi. Secara kronologis, prediksi Ibn Arabi menunjuk pada 1291 Hijriah atau 1874 Masehi yang merupakan periode kelahiran spiritual dan kedewasaan beliau, prediksi Nawab Siddiq Hasan Khan menunjuk periode 1882–1892 Masehi di mana beliau mengklaim sebagai mujaddid pada 1882 dan sebagai Mahdi serta Masih pada 1889, sementara prediksi Nawab Nurul Hasan yang menunjuk 1882–1888 Masehi tepat berada pada periode klaim utama beliau. Dalam konteks Kristen, periode ini merupakan dekade pasca-Great Disappointment 1844 dan berada dalam era Great Expectation Age antara 1870 hingga 1890-an.

Secara geografis, beliau muncul di India yang sejak lama dipandang sebagai medan manifestasi akhir zaman, sesuai dengan nubuat Shah Nimatullah Wali tentang “India dalam keadaan menyedihkan”, dan berada di pusat krisis kolonialisme serta keruntuhan peradaban Islam Asia Selatan. Secara teologis, beliau menggabungkan identitas Mahdi dan Isa secara bersamaan sebagaimana diisyaratkan oleh Nawab Siddiq Hasan Khan, berperan sebagai mujaddid dan mujtahid bukan sebagai pemimpin militer, mengusung misi spiritual-reformis bukan politis-revolusioner, dan bahkan nama beliau — Ahmad — sesuai dengan nubuat Shah Nimatullah Wali yang menyebut huruf Alif, Ha, Mim, dan Dal, tetapi juga menggemakan nubuat Isa al-Masih sendiri dalam Al-Qur’an. Dalam Surah As-Saff ayat 6, Isa berkata kepada Bani Israil:

“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.”

Kesesuaian nama ini dipandang oleh pengikut beliau sebagai tanda bahwa kedatangan kembali Isa dalam ruh dan misi telah terwujud melalui sosok yang membawa nama yang sama dengan yang dinubuatkan.

Dari segi karakteristik, beliau menekankan pembaruan (tajdid) melalui pendekatan intelektual dan spiritual, menolak konsep jihad bersenjata dan menggantinya dengan jihad pena dan argumentasi, menegaskan bahwa turunnya Isa harus dipahami secara spiritual-metaforis bukan fisik-literal, serta membuktikan legitimasi bukan melalui kekuatan militer melainkan melalui tanda-tanda Ilahi atau āyāt.

Analisis komparatif menunjukkan adanya konvergensi eskatologis global yang luar biasa. Secara kronologis, prediksi Kristen menunjuk pada 1844 melalui William Miller dan 1914 melalui Charles Taze Russell, dengan ekspektasi memuncak pada periode 1870–1890-an. Prediksi Islam menunjuk pada rentang 1874-1335 Hijriah melalui Ibn Arabi dan 1882-1892 Masehi melalui Nawab Siddiq Hasan Khan. Realisasi historis terjadi pada 1889 Masehi atau 1306 Hijriah ketika Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mengklaim dirinya sebagai Mahdi dan Masih.

Secara teologis, semua tradisi menunjuk pada abad ke-19 yang bertepatan dengan awal abad ke-14 Hijriah, semua mengidentifikasi transformasi global sebagai tanda apokaliptik, dan semua menunjuk Asia Selatan, khususnya India, sebagai locus manifestasi. Secara fenomenologis, hanya satu tokoh yang memenuhi kriteria lintas-tradisi: mengklaim sebagai Mahdi dan Isa secara bersamaan, muncul pada periode yang diprediksi dalam rentang 1880-an hingga 1890-an, berada di lokasi yang dinubuatkan yakni India, membawa misi pembaruan atau tajdid yang bersifat spiritual-intelektual, dan membuktikan legitimasi melalui tanda-tanda Ilahi.

Dalam kerangka analisis historis-kritis, kemunculan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad bukan anomali, melainkan perwujudan dari ekspektasi eskatologis global yang telah dibangun selama berabad-abad oleh berbagai tradisi keagamaan. Abad ke-19 dengan demikian terbukti sebagai abad turunnya Isa al-Masih — bukan dalam pengertian fisik-literal turun dari langit, melainkan dalam pengertian spiritual-metaforis sebagaimana dinubuatkan: kemunculan seorang pembaru yang membawa ruh dan misi Isa al-Masih untuk menghidupkan kembali agama di tengah krisis peradaban modern.

Kemunculan beliau bukan hanya memenuhi kerangka teologis Ibn Arabi, tetapi juga memenuhi ekspektasi eskatologis para ulama seperti Nawab Siddiq Hasan Khan dan Nawab Nurul Hasan yang secara eksplisit menetapkan awal abad ke-14 Hijriah sebagai periode mesianik. Keseluruhannya membentuk konvergensi eskatologis global yang mengarah pada satu kesimpulan: abad ke-19, yang bertepatan dengan awal abad ke-14 Hijriah, merupakan era yang telah diprediksi sebagai zaman kedatangan Isa al-Masih dan al-Mahdi. Evaluasi terhadap klaim ini tentu terkait dengan paradigma teologis masing-masing tradisi. Namun dalam perspektif sejarah komparatif agama, konvergensi temporal, geografis, dan karakteristik ini merupakan fenomena historis yang sulit diabaikan dan layak mendapat perhatian serius — sebagai bukti bahwa prediksi lintas-tradisi telah menemukan realisasinya dalam sejarah. Wallahu a’lam bis-shawab.


Oleh: Usamah Ahmad Rachmadi

Referensi:
The Holy Qur’an (English Translation). Tilford, Surrey: Islam International Publications, 2002.

Sunnah.com — Hadith Collections: Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan Ibn Majah. https://sunnah.com

AhmadiAnswers. Messiah to come in the 14th century. Ahmadianswers.com. Retrieved from https://ahmadianswers.com/ahmad/allegations/writings-2/century/

Encyclopædia Britannica. (2025, December 16). William Miller. https://www.britannica.com/biography/William-Miller

Encyclopædia Britannica. (2025). Adventism. https://www.britannica.com/topic/Adventism

Encyclopædia Britannica. (2025). Charles Taze Russell. https://www.britannica.com/biography/Charles-Taze-Russell

Encyclopædia Britannica. (2025, November 8). Jehovah’s Witnesses. https://www.britannica.com/topic/Jehovahs-Witnesses

Encyclopædia Britannica. Mirza Ghulam Ahmad. https://www.britannica.com/biography/Mirza-Ghulam-Ahmad Encyclopædia Britannica. (2025, December 18). Aḥmadiyyah. https://www.britannica.com/topic/Ahmadiyyah