Adiksi Game Online dalam Ilmu Neurosains dan Perspektif Agama

256

Ketika tangan tak mampu berpaling dari keyboard dan segenap jiwa raga sigap terpaku di depan layar monitor, disitulah kita merasakan nikmatnya berdinamika dalam sebuah permainan virtual yang hadir di aplikasi berbasis internet. Dalam permainan itu, kita memiliki tujuan untuk mengalahkan rival dan menghalau musuh yang menjadi duri dalam daging ketika kita maju untuk mencapai misi dan kemenangan. Ya, terkadang jika kompetisi ini disokong oleh sebuah start up dan content creator, maka akan menjadi suatu hal yang sangat menguntungkan karena nilai hadiah yang cukup besar untuk para pemenang dan tentu ada sebuah kebanggaan bagi kita.

            Meningkatnya popularitas permainan daring atau game online dari kalangan milenial hingga Generasi Z turut menghadirkan istilah e-sport atau olahraga elektronik. Dan tuntutan kita untuk lebih banyak berkegiatan di dalam rumah selama pandemi Covid-19 juga mendukung sepenuhnya aktivitas olahraga virtual ini.

            Namun terkadang yang ‘menyebalkan’ adalah ketika orangtua kita melarang dan mengekang kita untuk jauh-jauh dari game online karena menyita waktu belajar dan membuat kita jadi pemalas. Memang tidak salah apa yang dikatakan atau yang dikhawatirkan mereka kepada kita. Wajar, mereka tidak ingin kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita yang lain. Kadangkala juga terlihat pemandangan yang kurang etis ketika anak-anak bermain games sementara ibu atau ayah kita sedang sibuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sepantasnya anak-anak membantu orangtua dalam hal itu, seumpamanya menyapu lantai, belanja ke warung dan sebagainya.

            Bermain game online tidak selamanya buruk. Para orangtua juga mesti bijak menyikapi anak mereka yang gemar bermain game online. Tentunya, literasi berkenaan dengan hal ini juga perlu ditingkatkan. Bentuk, pendekatan dan jenis game online bermacam-macam. Ada jenis adventure, mengasah keterampilan, mempertajam memori, meningkatkan daya berpikir, pembelajaran, strategi perlawanan terhadap musuh, strategi pemecahan masalah, olahraga seperti soccer, atau yang ingin menguji adrenalin seperti horror games, serta banyak rupa dan variasi lainnya. Semua itu tentu ada yang mendatangkan manfaat untuk kita.

            Dalam sebuah penelitian yang dilakukan kelompok saintis terkait hubungan antara orang dengan bermain video games terhadap kognisi dan basis syaraf mengungkapkan bahwa orang yang bermain video games (dalam frekuensi bermain tertentu) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan orang yang tidak bermain video games, diantaranya mereka lebih baik dalam mengidentifikasi rangsangan kecil seperti huruf-huruf dalam ruang visual, adanya derajat yang lebih tinggi pada ketepatan proses multisensori temporal, unggul dalam menyimpan memori jangka pendek, serta lebih mampu mengekstraksi bidang visuo-spasial.

            Visuo-spasial menunjukkan persepsi visual seseorang terhadap keruangan suatu objek. Kemampuan ini bisa mengukur kedalaman, persepsi jarak, pergerakan dan navigasi spasial seseorang. Orang-orang yang memiliki kemampuan ini biasanya piawai dalam menggambar, mendesain model bangunan, merancang busana, dan mengonstruksi furnitur rumah tangga. Salah satu contoh rekomendasi video game yang cukup populer dan terintegrasi dalam mengasah kemampuan visuo-spasial seseorang adalah permainan Minecraft. Orang-orang dengan kepandaian ini juga mampu memecahkan masalah berbasis spasial, misalnya ketika ia ingin merancang bangunan tahan gempa, bagaimana desain yang ideal untuk membangun rumah agar mampu menahan guncangan.

            Menurut jurnal psikologi Amerika Serikat, setidaknya 97% anak-anak dan orang dewasa menghabiskan waktu satu jam per hari untuk bermain video games di negara tersebut. Dalam penelitiannya, para peneliti mengungkapkan dampak positif bermain video games yang terfokus pada empat ranah utama, yaitu kognitif, motivasi, emosional, dan sosial. Dengan mengintegrasikan wawasan sosial-psikologi, bermain video games mampu membantu mengembangkan manfaat psikososial.

            Sejalan dengan hal tersebut, Michael M. Merzenich juga mengungkapkan bahwa bermain video games dapat meningkatkan jangakuan memori serta berperan dalam fungsi kognitif. Dengan catatan, porsi waktu dan frekuensi bermainnya ideal. Video games adalah pelatihan terkontrol dalam motivasi perilaku yang tinggi. Hal itu meliputi berbagai aspek, yakni kecepatan berproses, kontrol perhatian, memori serta kontrol sosial yang mana semua itu diharapkan dari bermain video games. Karena perubahan perilaku juga muncul dari perubahan otak, tak heran jika peningkatan performa terintegrasi dengan ketahanan fisik dan fungsi neurologis.

            Saat ini banyak aplikasi video games yang membutuhkan kerjasama tim untuk menuntaskan suatu misi. Terkadang kita melihat seseorang tengah menyudut seorang diri dengan pandangan fokus pada gadget. Namun ia tak benar-benar sendiri. Secara virtual, ia sedang bekerjasama dengan rekan-rekan sesama player dalam menjalani misi dan mengalahkan para musuh. Mereka saling berinteraksi satu sama lain, memberikan sinyal jika lawan mendekat, dan berkoordinasi menyusun strategi agar misi tercapai. Meski secara virtual, kerjasama dan kekompakkan dalam tim tersebut menunjukkan manfaat bermain video games secara psikososial seperti yang diungkapkan para peneliti di atas.

Sumber: headstuff.org

            Namun, segala sesuatu tentu mendatangkan mudarat apabila disikapi secara berlebihan, termasuk bermain video games atau game online. Dalam porsi-porsi tertentu, aktivitas ini bermanfaat dan memengaruhi kondisi neurologis seseorang yang diharapkan mampu berperan dalam peningkatan aspek kognitifnya seperti yang disebutkan sebelumnya. Namun, bagaimana jika waktu yang kita konsumsi sudah melampaui batas untuk sekedar bermain game online?

            Dilansir dari hellosehat.com, menurut penelitian di Oxford University, sebaiknya anak tidak bermain game online lebih dari satu jam per hari. Dampak yang dapat timbul dari adiksi bermain game online atau video games diantaranya hiperaktivitas, gangguan konsentrasi, serta sulit berempati terhadap orang-orang di lingkungan sekitarnya, bahkan dalam beberapa kasus yang parah, anak yang kelewatan batas waktu bermain video games mengalami dehidrasi dan penggumpalan darah. Terutama dalam kondisi pandemi Covid-19 yang menuntut banyak kegiatan di dalam rumah, hal ini bila berlebihan mampu berisiko dalam penurunan sistem imun tubuh, obesitas dan sebagainya karena anak jarang melakukan aktivitas fisik, seperti berolahraga.

            Sejalan dengan hal tersebut, Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Muslim Ahmadiyah juga memberikan nasihat untuk orang tua anggota Ahmadiyah di Mauritius. Beliau berpesan bahwasanya orang tua harus mengawasi anak-anak mereka yang berusia di bawah 10 tahun agar jangan menghabiskan waktu mereka dengan bermain game online lebih dari satu jam. Mereka disarankan untuk melakukan aktivitas permainan di luar rumah dan itu akan berdampak pada kesehatan. Apa yang dipesankan beliau cukup beralasan, permainan outdoor dapat melatih sensor-sensor motorik pada anak, melenturkan otot-otot serta persendian sehingga tidak kaku, dan berpengaruh dalam fungsi psiko-sosial jika anak-anak bermain dalam sebuah tim.

      Kesimpulannya, tidak ada yang salah dengan bermain game online. Namun, bermainlah dalam batas yang wajar. Jangan sampai kita menjadi kecanduan dalam bermain game online, karena hal ini dapat menjadi suatu disorder atau gangguan.


Oleh : Umar Farooq Zafrullah

Sumber :

  1. Dale, G., Joessel, A., Bavelier, D., & Green, C. S. (2020). A new look at the cognitive neuroscience of video game play. Annals of the New York Academy of Sciences1464(1), 192-203.
  2. Granic, I., Lobel, A., & Engels, R. C. (2014). The benefits of playing video games. American psychologist69(1), 66.
  3. Bavelier, D., Green, C. S., Han, D. H., Renshaw, P. F., Merzenich, M. M., & Gentile, D. A. (2011). Brains on video games. Nature reviews neuroscience12(12), 763-768.
  4. https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/waktu-bermain-video-game-anak/
  5. https://www.alislam.org/press-release/members-of-waqfe-nau-from-mauritius-have-honour-of-virtual-meeting-with-head-of-ahmadiyya-muslim-community/
  6. https://www.bbc.com/news/technology-42541404
  7. Al Quran Terjemahan dan Tafsir Singkat. Jemaat Ahmadiyah Indonesia