Ayah, Ibu, Nenekku Sembuh dari Covid karena Vaksin

308

Meskipun kita sudah berusaha untuk mengikuti prokes dengan ketat, seperti berdiam di rumah, atau memakai masker ketika berpergian, tetap tidak menjamin 100% bahwa kita akan terlindung dari Covid-19. Seperti yang dialami oleh Sherina Munaf, aktris berbakat Indonesia. Sherina tetap terpapar virus Covid-19 dan dinyatakan positif, meskipun dirinya sudah menerapkan prokes yang ketat [1].

Hal ini jugalah yang terjadi pada keluarga saya, yakni ayah (usia 61 tahun), ibu (usia 52 tahun), dan nenek (usia 78 tahun) yang tinggal serumah. Ayah saya seorang pensiunan dan ibu saya adalah ibu rumah tangga. Mereka tinggal dengan nenek saya, yang dirawat oleh ibu saya. Sesekali saya menelepon ayah ibu saya untuk menanyakan kabar terbaru. Di setiap panggilan telepon, saya dan istri saya selalu mengingatkan untuk tetap di rumah saja, jangan kemana-mana. Pernah sekali waktu nenek saya ingin sekali memakan mie ayam yang terkenal di daerah Mayestik. Mengetahui hal ini, saya pun langsung mengingatkan agar nenek saya sebaiknya tidak pergi kemana-mana. Alhamdulillah nenek saya mengerti dan mengurungkan niatnya untuk pergi.

Malang tak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Pepatah tua ini sepertinya menggambarkan keluarga saya yang akhirnya dinyatakan positif terpapar Covid-19. Mereka terpapar karena rumah saya dijadikan tempat isolasi mandiri oleh satu keluarga yang masih saudara. Tentu hal ini sangat beresiko bagi nenek saya. Memang, sebelum pindah mereka melakukan test antigen dan mendapatkan hasil negatif. Padahal, tes antigen baru efektif dilakukan setelah 3-5 hari berpapasan atau berhubungan dengan seseorang yang dinyatakan positif Covid-19. Kurang dari 3 hari, maka kemungkinan hasil antigen akan memberikan hasil negatif palsu.

Benar saja, beberapa hari setelah isoman di rumah saya, mereka melakukan tes antigen lagi. Dari 4 orang yang menumpang isoman, 3 diantaranya positif, dan nenek saya pun juga positif. Hal yang wajar terjadi. Saya pun langsung meminta istri saya yang seorang dokter untuk mencoba mencarikan obat-obatan dan vitamin yang diperlukan untuk isolasi. Otomatis, Ibu saya pun merawat nenek saya. Tiap hari mengawasi kondisi saturasi pernapasan nenek saya. Kita semua tahu, pastinya ibu saya selalu berdekatan dengan nenek dan ayah saya. Ya, beberapa hari kemudian akhirnya ibu dan ayah saya positif terpapar Covid-19.

Setelah terpapar, beginilah gejala yang dialami oleh nenek saya. Beberapa hari pertama demam, pusing, kemudian hari-hari selanjutnya ada batuk. Untuk menyembuhkan gejalanya, nenek saya menggunakan obat homeopathy setiap bangun tidur dan minum air hangat pakai madu. Juga ditambah dengan meminum ramuan jahe, menghirup uap panas dan minyak kayu putih selanjutnya menghirup inhaler. Berjemur setiap jam 10 pagi selama 15 menit. Obat yang diminum secara rutin adalah obat anti virus antibiotik, Tensivask, vitamin C dan D. Kemudian jika demam atau pusingnya kambuh, nenek saya minum Sumagesic. Dan ketika mulai batuk minum obat batuk Prospan dan Asetylsistein.

Gejala yang dialami ayah dan ibu saya pun tidak berbeda jauh dengan nenek saya. Ibu saya mengalami meriang dan demam di beberapa hari awal.  Kemudian setelah beberapa hari sempat mengalami sesak dan lemas atau sempoyongan. Alhamdulillah gejalanya tidak bertambah parah, dan ibu saya banyak beristirahat untuk memperbaiki kondisi tubuh. Sedangkan ayah saya, hari pertama hanya batuk-batuk saja, hari kedua mulai terasa badan tidak enak. Ayah saya pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk istirahat di kamar sampai pulih.

Bisa kita lihat, ayah, ibu, dan nenek saya sangat mengikuti protokol kesehatan dengan ketat. Tetap saja akhirnya mereka terinfeksi. Alhamdulillah, untungnya di rumah saya itu juga tinggal adik saya yang seorang dokter bersama suaminya yang pernah terpapar covid juga. Jadi mereka sudah memiliki antibodi alami yang melindungi mereka dari reinfeksi. Namun, ini adalah hal yang pertama kali bagi ayah, ibu dan nenek saya terinfeksi virus Covid-19. Meskipun begitu, mereka tidak mengalami gejala sedang atau berat selama isoman. Karena apa? Ya, ketiganya sudah menerima vaksin. Ayah dan nenek saya sudah menerima dua dosis, sementara ibu saya baru satu dosis. Karena vaksin, ayah, ibu, dan nenek saya hanya mengalami gejala ringan dan cukup isoman di rumah. Tidak sampai harus memerlukan perawatan di rumah sakit ataupun membutuhkan tabung oksigen. Alhamdulilah, keaadan mereka sekarang sudah baik dan sehat seperti sebelum terkena Covid-19. Saya berterima kasih kepada Tuhan karena orang tua dan nenek saya tidak termakan hoax vaksin yang berkeliaran di media sosial.

Sebagai penutup, saya berpesan kepada pembaca yang budiman agar segera mendapatkan vaksin.  Vaksin ini ibarat tameng yang efektif untuk melawan virus Covid-19. Karena cara kerja vaksin ini layaknya helm yang melindungi kepala kita dari cedera berat apabila kita jatuh dari motor. Jadi, meskipun kita masih bisa terinfeksi, vaksin akan melindungi kita dari gejala berat jika kita terkena Covid-19. Seperti yang dialami oleh ayah, ibu, dan nenek saya.

Penulis : Fariz Abdussalam
Editor : Ammar Ahmad

Referensi:

[1] https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5636871/sherina-positif-covid-19-meski-sudah-sebulan-tak-keluar-rumah-kok-bisa