Ada masa ketika kita ingin menyampaikan pendapat atau gagasannya, kemudian berbicara di forum rapat, menulis, atau sekadar berkomentar terhadap sebuah berita. Seketika, kita merangkai kata agar bisa meyakinkan lawan bicara.
Fenomena ini menarik, ketika kita melihat banyak sekali tersebar kalimat-kalimat indah, tetapi ketika ditanya lebih jauh tentang maksud istilah yang digunakannya, penjelasannya kabur. Kalimatnya terdengar berilmu, tetapi substansinya belum tentu demikian.
Kompleksitas Berbahasa
Persoalan bahasa sesungguhnya jauh lebih serius daripada sekadar memilih kata yang terdengar indah. Bahasa adalah rasa dan berterima. Ia membentuk pemahaman. Pemahaman berdampak pada pemikiran, yang pada akhirnya melahirkan tindakan.
Jika Anda memiliki waktu, silakan membaca kisah sejarah tentang Hiroshima dan Nagasaki. Di dalamnya terdapat sebuah episode menarik tentang bahasa dan penerjemahan. Amerika Serikat, Inggris, dan China mengeluarkan Deklarasi Potsdam pada Juli 1945, yang menyerukan Jepang untuk menyerah atau menghadapi kehancuran. Pemerintah Jepang kemudian membahas bagaimana harus merespons deklarasi tersebut.
Perdana Menteri Jepang Suzuki Kantarō menggunakan kata ‘mokusatsu’ ketika menanggapi pertanyaan mengenai Deklarasi Potsdam. Masalahnya, mokusatsu memiliki nuansa makna yang cukup luas. Secara harfiah berkaitan dengan “membunuh dengan diam”, tetapi dalam penggunaan bahasa, kata itu bisa juga bermakna mengabaikan, tidak berkomentar atau menahan diri untuk tidak memberikan tanggapan.
Dalam konteks politik saat itu, Jepang pada dasarnya mengambil sikap bahwa pemerintah belum akan memberikan tanggapan terhadap deklarasi tersebut dan masih akan membahasnya. Tetapi kata tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “ignore” atau “mengabaikan”. Pemilihan kata ini dianggap sebagai sebuah sikap bahwa Jepang menolak ultimatum sekutu.
Kita tentu tidak dapat menyederhanakan peristiwa tersebut menjadi “sebuah kata menyebabkan tragedi”, tetapi kasus tersebut memperlihatkan bagaimana ide, narasi, simbol, atau pilihan kata, dapat bertemu dalam sebuah ekosistem yang berbahaya. [1]
Di titik inilah kita perlu sadar bahwa bahasa bukan sekadar bicara.
Paul Grice menjelaskan fenomena conversational implicature, yaitu bahwa pendengar dapat menarik makna tertentu dari cara sesuatu dikatakan, meskipun makna tersebut tidak dinyatakan secara eksplisit. [2]
Artinya, ketika kita berbicara, kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan dipahami orang lain. Kita berbicara; orang lain menafsirkan. Penafsiran dipengaruhi oleh konteks, pengalaman, pengetahuan, emosi, bahkan hubungan antara pembicara dan pendengar.
Karena inilah kita sering menemukan kondisi: kalimat yang menurut kita “jelas” belum tentu dipahami oleh orang lain, hanya karena ada ‘hubungan’ yang tidak baik antara pembicara dan pendengar. Bukan berarti orang lain ‘bodoh’ karena tidak paham dengan gagasan yang ingin disampaikan, melainkan ada banyak faktor yang membuat sebuah gagasan berterima.
Bahaya Lain Bahasa: Terlihat Pintar Tanpa Memahami
Kembali pada fenomena berbahasa, seseorang menggunakan istilah asing, jargon akademik, menyusun kalimat yang panjang, hasilnya: terdengar pintar. Apakah pembicara benar-benar memahami istilah tersebut? Sayangnya, pendengar juga tidak kritis dengan bertanya perihal maksudnya.
Bahasa yang indah tanpa pemahaman dapat menghasilkan kesalahpahaman. Istilah yang tampak akademik tetapi digunakan tanpa memahami teori dasarnya dapat menggiring orang kepada kesimpulan yang keliru. Bahkan, kalimat yang secara gramatikal benar dapat tetap salah secara substansi.
Lebih berbahaya lagi ketika kalimat tersebut disampaikan oleh seseorang yang memiliki otoritas. Orang mungkin tidak hanya mendengarkan tetapi juga percaya, mengikuti, bahkan mungkin mengambil keputusan berdasarkan ‘si pintar’ tersebut.
Pada masa Covid-19, Donald Trump menggunakan istilah “Chinese Virus”. Penelitian dengan pendekatan ekonometrik dari Cao, Lindo, dan Zhong yang diterbitkan dalam Journal of Urban Economics pada 2023 mengonfirmasi bahwa insiden anti-Asia meningkat tajam setelah penggunaan istilah tersebut, dengan peningkatan yang jauh lebih besar di wilayah yang mendukung Trump. [3]
Kemampuan berbicara haruslah tumbuh bersama ilmu. Inilah yang dimaksud literat. Literasi bukan sekadar sudah bisa membaca, menulis, mendengar dan berbicara, tapi paham dengan apa yang sedang kita konstruksi melalui pilihan bahasa.
Sebuah penafian penting, bukan berarti seseorang harus menjadi ahli bahasa sebelum berbicara. Namun, semakin besar konsekuensi dari suatu ucapan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa ucapan tersebut memiliki dasar yang benar.
Penelitian Gordon Pennycook dan rekan-rekannya menyeutkan sebuah fenomena pseudo-profound bullshit, di mana manusia dapat menilai pernyataan yang terdengar sebagai sesuatu yang bermakna, meskipun sebenarnya pernyataan tersebut kosong atau tidak memiliki makna yang jelas. [4] Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa masalah bahasa bukan hanya soal memilih kata yang benar secara gramatikal. Ada persoalan kedalaman, cakupan, dan substansi yang juga perlu diperiksa.
Di sisi lain, penelitian Francisco Cruz dan Tania Lombrozo yang diterbitkan dalam Nature Human Behaviour pada 2025 memberikan temuan yang sangat menarik. Mereka menemukan bahwa jargon ilmiah dapat membuat suatu penjelasan terasa lebih memuaskan bagi orang awam meskipun mereka tidak paham. [5]
Karena itu, saran sederhana penulis adalah, ketika ada sebuah pernyataan yang terdengar sangat pintar jangan malu untuk bertanya “Apa maksudnya?”.
Pertanyaan itu bukan untuk menjatuhkan pembicara, tetapi untuk memastikan bahwa di balik kata-kata tersebut memang terdapat gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Persoalan ini semakin menarik dengan hadirnya Akal Imitasi (AI). Teknologi ini dapat membantu manusia mencari informasi, menyusun tulisan, dan menemukan berbagai istilah dalam waktu yang sangat singkat. Namun, kemudahan itu juga membawa risiko baru. Seseorang dapat menghasilkan kalimat yang tampak akademik tanpa terlebih dahulu memahami konsep yang sedang dibicarakan.
Di sinilah kritik Tom Nichols dalam buku “The Death of Expertise” [6] menjadi relevan untuk direnungkan. Nichols membahas bagaimana masyarakat dapat semakin meragukan atau mengabaikan pengetahuan yang dibangun melalui keahlian, karena merasa cukup dengan informasi yang mereka peroleh sendiri. AI dan media sosial – meskipun bukan satu-satunya penyebab – telah membuat akses terhadap jawaban menjadi sangat mudah.
Apa yang Islam Ajarkan?
Menariknya, jauh sebelum manusia menemui fenomena berbahasa di atas, Islam telah memberikan prinsip yang sangat mendasar mengenai hubungan antara perkataan dan pengetahuan.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Isra’ ayat 37: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa manusia hanya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Pendengaran, penglihatan, dan hati pun disebut sebagai sesuatu yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di dalamnya terdapat makna yang sangat kuat untuk tidak menjadikan sesuatu sebagai dasar sikap sebelum kita memiliki pengetahuan tentangnya.
Jika prinsip ini diterapkan dalam komunikasi, maka sebelum kita berbicara, menyampaikan atau merumuskan gagasan, pertanyaan yang paling awal seharusnya adalah, “Apakah saya mengetahui apa yang sedang saya katakan?”
Islam juga tidak membiarkan seseorang mengisi kekosongan pengetahuannya dengan kepastian palsu. Allah berfirman dalam QS An-Nahl ayat 44: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Ayat tersebut memberikan jalan keluar yang sangat sederhana bagi manusia yang tidak tahu yaitu bertanya. Tidak tahu bukan aib. Justru akan menjadi berbahaya jika seseorang yang tidak tahu tetapi memiliki otoritas dan berbicara seolah-olah ia paling tahu.
Di sinilah pelajaran tentang qaulan sadidan menjadi penting. Perkataan yang benar bukan sekadar terdengar baik, tetapi menuntut kesesuaian dengan kebenaran. Karena itu, keindahan bahasa tidak boleh menggantikan kebenaran, sebagaimana istilah ilmiah tidak boleh digunakan sembarangan tanpa landasan ilmu.
Dari sini kita dapat melihat bahwa Islam tidak memusuhi bahasa yang indah. Sebaliknya, Al-Qur’an sendiri menunjukkan keindahan bahasa yang luar biasa. Yang menjadi persoalan adalah ketika keindahan bahasa dipisahkan dari kebenaran.
Sebuah kalimat yang indah tetapi salah, tetaplah salah. Sebuah istilah yang ilmiah tetapi digunakan secara keliru, tetaplah keliru. Semakin kuat kemampuan bahasa seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa bahasa tersebut tidak menyesatkan.
Beberapa persoalan memang kompleks. Tetapi kompleksitas ilmu tidak harus ditampilkan sebagai kerumitan bahasa. Maka tujuan bahasa bukanlah membuat pembicara tampak paling pintar, melainkan membuat sebuah kata dapat dipahami hingga akar substansinya.
Mungkin inilah kebiasaan yang perlu kita bangun, terutama di zaman ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara kepada publik. Sebelum memilih kata, periksa pengetahuan. Sebelum mengutip penelitian, baca apa yang sebenarnya diteliti. Bahkan, sebelum menggunakan istilah agama, pahami sumber dan konteksnya.
Pada akhirnya, kita tidak perlu takut menggunakan bahasa yang indah, istilah ilmiah, atau gagasan yang kompleks. Namun yang perlu kita takuti adalah ketika keindahan bahasa membuat kita lupa memeriksa pemahaman ilmu yang sebenarnya belum kita kuasai.
Berbahasalah dengan rasa. Berbicaralah dengan indah, cerdaslah menggunakan kata, tanpa meninggalkan kebenaran demi pengakuan.
Penulis : Rahma Roshadi
Referensi:
[1] Naimushin, Boris. 2021. “Hiroshima, Mokusatsu and Alleged Mistranslations.” English Studies at NBU 7 (1): 87–96. https://doi.org/10.33919/esnbu.21.1.6
[2] Grice, H. P. 1975. “Logic and Conversation.” In Syntax and Semantics, Volume 3: Speech Acts, edited by Peter Cole and Jerry L. Morgan, 41–58. New York: Academic Press.
[3] Cao, Andy, Jason M. Lindo, and Jiee Zhong. 2023. “Can Social Media Rhetoric Incite Hate Incidents? Evidence from Trump’s ‘Chinese Virus’ Tweets.” Journal of Urban Economics 137: 103590. https://doi.org/10.1016/j.jue.2023.103590
[4] Pennycook, Gordon, James Allan Cheyne, Nathaniel Barr, Derek J. Koehler, and Jonathan A. Fugelsang. 2015. “On the Reception and Detection of Pseudo-Profound Bullshit.” Judgment and Decision Making 10 (6): 549–563. https://doi.org/10.1017/S1930297500006999
[5] Cruz, Francisco, and Tania Lombrozo. 2025. “How Laypeople Evaluate Scientific Explanations Containing Jargon.” Nature Human Behaviour 9 (10): 2038–2053. https://doi.org/10.1038/s41562-025-02227-0
[6] Nichols, Tom. 2017. The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters. New York: Oxford University Press
