Benarkah Muhammad Menembus Langit?

480

Bulan ini adalah bulan Rajab 1438 H, sebagaimana yang telah kita ketahui pada Bulan Rajab ada peristiwa penting yaitu perjalanan Mi’raj dan Isra yang telah dilakukan oleh Baginda Rasulullah SAW.  Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsha ke Sidrah Al-Muntaha, perjalanan tersebut dilakukan dalam satu malam yang dalam perjalanan itu Nabi SAW kembali ke Mekkah sebelum terbit fajar dan terjadi pada 27 Rajab tahun ke-12 Bi’tshah (setelah beliau diangkat sebagai nabi). Sedangkan Isra merupakan perjalan Nabi SAW dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa yang dijalankan oleh Allah SWT pada malam hari.      

Sebagian orang mengatakan bahwa pada malam mi’raj Rasulullah saw.  telah pergi ke Langit dengan tubuh kasar. Namun mereka tidak melihat bahwa hal itu ditentang oleh Al Quran Syarif.

Berbicara mengenai masalah ini banyak para ulama yang berpendapat berbeda. Dalam kata biasa dan bahasa umum perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam Mi’raj dan Isra adalah pengalaman dan pemandangan rohaniah, atau kita bisa menyebutnya dengan Kasyaf. Kasyaf ialah pengalaman atau pemandangan yang  terjadi dalam keadaan tidur maupun jaga (bangun), pemandangan yang diperlihatkan Allah SWT kepada hamba pilihanNya seperti para Nabi dan Aulianya. 

Kemudian beliau saw.  dalam mendukung hal itu telah memaparkan dalil-dalil melalui beberapa ayat, bahwa tubuh kasar tidak bisa naik ke langit. Banyak dalil yang membuktikan bahwa Mi’raj dan Isra merupakan perjalanan rohani, saya akan menceritakan 3 dalil saja yang menurut saya itu cukup kuat.

Yang pertama, dalam surah An-Najm ayat 11 Allah berfirman :

مَاكَذَبَ الفُؤَادُ مَارَأَىَ

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”

Ayat ini juga diperkuat oleh hadits :

“Kelebihan Nabi kita SAW itu ialah, bila tidur yang tidur itu ialah mata jasmaninya. Mata hatinya tidak tidur. Begitu pula para-Nabi lainnya, mata jasa mereka yang tidur. Mata hati mereka tidak tidur.” ( Bukhari jilid 4 halaman 203 Kitab At-Tauhid).

Yang kedua, Malik Ibnu Sa’saah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menceritakan tentang  Mi’raj sebagai berikut “Saya sedang tidur di Hatim, tiba-tiba datanglah kepada saya (malaikat) laki-laki sambil berkata kepada kawan-kawannya ‘inilah orang yang tidur di antara dua orang ini!’ Lalu ia (malaikat) membelah dada saya dan mengeluarkan jantung saya. Ia membwa sebuah bokor mas penuh dengan iman dan hikmah itu dimasukannya kedalam dada saya Lalu dada saya dijahit, kemudian dibawanya seekor binatang (buraq). Binatang ini badannya lebih kecil dari bighal, lebih besar dari keledai. Ia bisa melangkah sejauh pandangan mata. Saya disuruhnya mengendarai binatang itu. Selanjutnya saya bersama Jibril dengan mengendarai binatang itu dibawa ke langit pertama” (Musnad Ahmad bin Hambal IV: 208, Bukhari, Muslim dan Ibnu Jarir).

Apakah anda percaya jika ini adalah kisah terjadi secara harfiah, bukan kasyaf? Kalau ini bukan kasyaf, niscaya Rasulullah SAW sudah wafat karena siapapun yang dicabut jantungnya pasti akan meninggal.

Yang ketiga, dalam hadits juga disebutkan bahwa beliau dalam perjalanan Mi’raj dimasukkan dalam surga. Menurut Al-Quran apabila seseorang yang telah masuk surga maka ia tidak dapat lagi dikeluarkan :

وَمَاهُم مِنهَا بِمُخرَجِينَ

“Dan mereka sekali-kali tidak akan dekeluarkan daripadanya” (Al-Hijr : 48)

Jadi masihkah anda percaya bahwa Mi’raj dan Isra itu merupakan perjalanan jasmani? Apakah masih percaya ada manusia yang biasa menembus langit tanpa roket? Mungkinkah orang bisa kembali dari surga yang merupakan tempat di dalamnya terdapat segala kebaikan? 

Kisah Mi’raj Isra ini, dapat diambil beberapa pelajaran. Pertama, perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam Mi’raj dan Isra adalah perjalanan rohaniah. Beliau tidak benar-benar naik ke langit atau ke surga. Kedua, peristiwa ini membuktikan bahwa Nabi Adam (as) atau Nabi Isa (as) tidak pernah tinggal di surga selama mereka hidup. Sebagaimana disebutkan, Allah berjanji bahwa siapapun yang masuk ke surga, tidak akan lagi dikeluarkan. Ketiga, pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Isa (as) pada peristiwa Miraj membuktikan bahwa Nabi Isa (as) sudah wafat. Karena takdir manusia ketika hidupnya hanyalah tinggal di bumi. Sesuai Firman Allah

“Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.” (Al-A’raf : 25)

Catatan: Penomeran ayat menghitung Basmalah sebagai ayat pertama.


Penulis : Hafiz Hamdani

Sumber:

  1. Mi’raj Isra bukan Isra Mi’raj
  2. (Malfuzat, jld.IV, hlm. 118).
  3. Majalah Nur Islam edisi 23 tahun 3 Januari 2001