Coronavirus: Dari Endemi Hingga Pandemi, Apa Hikmahnya?

543

Tepat pada 1 Maret 2020 lalu, tersiar kabar bahwa untuk kali pertamanya Indonesia terdeteksi virus corona atau COVID-19. Dua warga negara Indonesia menjadi suspect COVID-19 sejak keduanya dikabarkan melakukan kontak dengan warga negara Jepang yang positif terkena COVID-19. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan langsung menindaklanjuti dan memeriksanya di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta1. Dan kasus ini juga dikonfirmasi oleh Presiden RI Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

            Sebelumnya, Indonesia sempat menjadi negara yang nihil dari kasus COVID-19, artinya tidak terkonfirmasi adanya wabah COVID-19 yang masuk ke Indonesia. Hal ini menuai berbagai macam reaksi, mulai dari kelegaan masyarakat di tengah kepanikan negara-negara yang terintroduksi virus corona, hingga kekhawatiran WHO (World Health Organization) atas Indonesia.

            Dilansir dari tirto.id, lima peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Harvard University melakukan riset terhadap penyebaran virus corona yang awalnya ditemukan pada Desember 2019 di Kota Wuhan, Tiongkok. Menurut peneliti tersebut, Indonesia dan Kamboja, yang memiliki penerbangan langsung dari Wuhan selama wabah corona merebak, jumlah kasusnya berada di bawah batas 95% PI dan dilaporkan satu sampai nol. Hal ini menuai tanggapan dari Menteri Kesehatan RI bahwa ia mempersilakan adanya survei dan penelitian mengenai coronavirus, namun tidak untuk mendiskreditkan negara karena anggapan ketidakmampuan suatu negara dalam menangani kasus tersebut2.

Lalu berhembus kabar dari pesan berantai di media sosial bahwa Indonesia resisten dari COVID-19 karena faktor geografis dan iklim, katanya. Namun pada kenyataannya, kabar tersebut tidak dapat menafikkan bahwa kini Indonesia positif terdampak COVID-19 dan menggugurkan argumen yang mengatakan bahwa Indonesia tangguh dari COVID-19.

Melalui dahsyatnya kekuatan sosial media, informasi ini terus meluas dan spekulasi pun berkembang dengan sangat cepat. Respon dari masyarakat pun beragam. Tak sedikit warga yang kreatif membuat konten-konten positif dalam rangka menurunkan tingkat kecemasan masyarakat dengan kasus COVID-19 ini, bahkan banyak meme beraroma humor untuk sekedar mengingatkan kita agar tidak terlalu panik dan menganggap kehidupan akan berakhir hanya karena virus corona. Hampir setiap detik warga negara kita membicarakan dan meng-update virus corona di akun sosial medianya masing-masing.

Di sisi lain, segenap elemen masyarakat, sejumlah institusi dan pemerintah juga berjibaku melawan virus corona dengan berbagai upaya, baik upaya preventif maupun tindakan medis (jika terdapat orang positif COVID-19). Salah satunya beberapa hari setelah Presiden RI Joko Widodo mengonfirmasi kasus 2 WNI positif COVID-19, digelar seminar kesehatan oleh salah satu fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dalam sesi wawancara pada akhir seminar tersebut narasumber mengungkapkan beberapa hal terkait pencegahan virus corona, diantaranya menerapkan pola hidup sehat, menjaga stamina tubuh, berupaya untuk menyediakan perlengkapan antiseptik/disinfektan di kantor-kantor, serta menganjurkan untuk beraktivitas di dalam rumah. Dengan undangan yang ditujukan kepada masyarakat awam dan media, diharapkan mampu menginformasikan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan upaya preventif dan penanganan klinis terkait wabah virus corona secara tepat dan tidak simpang siur.

Bila kita pantau melalui media, dua pekan ini prevalensi COVID-19 di Indonesia semakin tinggi, kendati ada yang sudah dinyatakan sembuh. Jumlah titik persebaran COVID-19 di berbagai kota yang dipantau melalui internet kian bertambah. Kasus ini menjadi headline di hampir semua portal berita. Per 15 Maret 2020, sudah 21 kasus baru pasien positif COVID-19, total ada 117 kasus pasien positif COVID-19 di Indonesia. Dengan demikian, jumlah total positif COVID-19 di Indonesia menjadi 117 orang dengan 8 sembuh dan 5 meninggal3.

Pergerakan virus corona yang ‘Go International’ ini membuat WHO (World Health Organization) mengeluarkan pernyataan bahwa kasus COVID-19 merupakan pandemi atau wabah luar biasa yang jangkauan geografinya sangat luas dalam waktu yang bersamaan. WHO juga klaim bahwa sudah lebih dari 118.000 kasus dalam 114 negara di dunia. Negara-negara di seluruh dunia telah mengacu pada rencana kesiapsiagaan menghadapi pandemi untuk menanggapi wabah virus corona4.

Sebagai negara terdampak COVID-19, Indonesia juga mengambil tindakan. Selang dua pekan di bulan Maret 2020 sejumlah instansi dan pemerintah, dari di tingkat daerah hingga tingkat nasional mengeluarkan maklumat agar masyarakat Indonesia tidak beraktivitas di luar rumah dan mengurungkan berbagai rencana kegiatan outdoor agar ditunda beberapa waktu selama dua pekan atau menyesuaikan hingga situasi mencapai titik kondusif. Jangka waktu 14 hari tersebut atas pertimbangan proses infeksi virus corona dengan masa inkubasi selama 2-14 hari dengan angka reproduksi (R0) secara eksponensial sebesar 2,24-3,585.

Bahkan Presiden RI Joko Widodo juga menganjurkan masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah hingga mengenalkan istilah social distancing6. Ini adalah bentuk kepedulian dan ‘kasih sayang’ pemerintah terhadap rakyat Indonesia guna menekan penyebaran COVID-19 dan penularannya secara human to human di tempat umum. Kalau masyarakat dapat mematuhi anjuran pemerintah ini, merupakan suatu keniscayaan bahwa angka penyebaran virus corona mengalami penurunan.

Sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menganjurkan masyarakat untuk ‘merumahkan diri’, perubahan drastis sangat dirasakan. Berbagai kegiatan komunal seakan-akan terkekang, masyarakat terbatas dalam mengakses layanan transportasi publik terutama di kota-kota besar, rencana-rencana yang telah dirancang sedemikian rupa terpaksa ‘mati suri’ untuk sementara waktu dan menimbulkan kekecewaan dari berbagai pihak dan personal, para pelajar dan mahasiswa belajar di rumah masing-masing, sarana-sarana pelayanan publik memberlakukan sistem online, komunikasi antarmanusia juga dibatasi dari kontak langsung seperti tidak berjabat tangan, bahkan hingga wacana resesi global.

Segala keresahan, kecemasan, kesulitan dan segala macam hal yang membuat manusia risau menghadapi ‘makhluk Tuhan’ yang satu ini mustahil tanpa sebuah makna yang diberikan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Dengan ini maka Dia berfirman:

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan” (QS Al-Insyirah: 6)

Ini menunjukkan bahwa betapa kasihnya Allah Taala kepada para makhluk-Nya untuk menghibur dikala gundah gulana itu datang menjemu hati dan menggolak perasaan. Dia memberikan kepastian bahwa di setiap kesulitan yang kita hadapi, pasti ada kemudahan. Dalam hal ini kita yakini ada hikmah dibalik setiap musibah.

Dan orang-orang yang telah meyakini kedatangan Imam Mahdi dan Masih Mauud sepatutnya bersyukur atas nikmat kesempurnaan iman dan karunia bergabung dalam Nizam Khilafat. Sebagaimana Allah SWT telah mewahyukan kepada Hazrat Masih Mauud as berikut ini:

اِنِّيْ اُحَافِظُ كُلَّ مَنْ فِى الدَّارِ – اِلَّا الَّذِيْنَ عَلَوْا مِنِ اسْتِكْبَارٍ – وَ اُحَافِظُكَ خَآصّةً –  سَلَامٌ قَوْلًا مِّنْ رَّبِّ

رَّحِيْمٍ

Aku akan melindungi semua orang yang tinggal di rumahmu dari akibat wabah, kecuali orang yang meninggikan diri karena takabur, khususnya, Aku akan melindungimu. Damai bagimu dari Tuhan Yang Maha Pengasih (Nuzulul Masih, hal. 23 /Tadhkirah, neratja press h. 397)

Hal yang perlu disyukuri lainnya oleh anggota Jemaat Ahmadiyah adalah memiliki seorang Imam, yakni Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba (Khalifatul Masih Al-Khamis). Bahkan dengan kasih sayangnya beliau memberikan nasihat kepada para anggota jemaat dalam menyikapi pandemi virus corona ini.

Dalam Khutbah beliau tanggal 6 Maret 2020, beliau bersabda bahwa sebagai langkah pencegahan (menghadapi virus corona), maka hendaknya mengikuti anjuran dari otoritas kesehatan, menghindari perkumpulan banyak orang, berhati-hati ketika datang ke Masjid, jika ditemukan gejala klinis seperti flu dan batuk sebaiknya tidak datang ke Masjid, senantiasa menjaga kebersihan, serta menghindari kontak langsung (seperti berjabat tangan). Beliau juga menyinggung berkenaan dengan wudhu sebagai sanitasi kebersihan yang baik, terutama ketika membersihkan hidung7.

            Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kunci pencegahan pandemi ini adalah menjaga kebersihan. Orang-orang kerap lalai dan acuh perihal menjaga kebersihan. Padahal dalam hadits disebutkan bahwa “Kebersihan adalah bahagian dari Iman”. Ini merupakan pertanda bahwa Allah Taala menyadarkan manusia untuk senantiasa menjaga kebersihannya, baik kebersihan jasmani maupun rohani.

            Di lain tempat juga beredar poster pencegahan corona virus yang salah satu isinya berpesan untuk menjaga kebersihan masjid karena karpet dapat menjadi media penularan virus bilamana orang terkena virus menempelkan hidungnya pada karpet ketika sujud. Ini juga yang menjadi perhatian kita untuk senantiasa membersihkan masjid karena masjid adalah’Rumah Allah’.

Masih dalam kesempatan khutbah jumat tanggal 6 Maret 2020, Hazrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba berpesan, “Allah Taala paling tahu seberapa luas penyebaran virus ini. Telah terlihat bahwa di era ini sejak kedatangan Imam Mahdi dan Al Masih yang dijanjikan telah terjadi peningkatan eksponensial dalam pandemi, gempa bumi, badai dan bencana alam. Jika virus ini merupakan tanda ketidaksenangan Tuhan, maka ada kebutuhan besar untuk berbalik kepada Tuhan untuk melindungi diri dari dampak virus.”

            Manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang berkehendak. Dibalik istilah lockdown yang kini tren di masyarakat hingga menyebabkan aktivitas menjadi ‘mati suri’, kita tidak pernah tahu rencana indah Tuhan suatu saat nanti. Sebagai makhluk-Nya, sudah seyogyanya kita lebih meningkatkan keimanan kita, senantiasa mengingat Tuhan dan menyematkan nama-Nya di setiap nafas, namun tak lupa kita juga bertindak ‘memerangi’ pandemi dengan berbagai upaya yang telah dianjurkan pemerintah dan otoritas kesehatan. Sudah saatnya masyarakat mengesampingkan ego duniawi demi hal yang lebih krusial untuk bahu membahu saling bergotong royong menghadapi bencana.

Selain kuatkan imun, teguhkan iman.


Oleh: Umar Farooq Zafrullah

Sumber:

  1. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200302141626-20-479743/2-wni-terdeksi corona-1-maret-rumah-di-depok-sudah-diisolasi
  2. https://tirto.id/di-balik-kekhawatiran-who-harvard-indonesia-masih-negatif-corona-eyjB
  3. https://news.detik.com/berita/d-4940932/kemenkes-ungkap-sebaran-virus-corona-di-indonesia-ada-di-8-provinsi
  4. https://www.theverge.com/2020/3/11/21156325/coronavirus-pandemic-who-declares-covid-19-outbreak-global-h1n1
  5. Lai, C. C., Shih, T. P., Ko, W. C., Tang, H. J., & Hsueh, P. R. (2020). Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) and corona virus disease-2019 (COVID-19): the epidemic and the challenges. International journal of antimicrobial agents, 105924.
  6. https://www.liputan6.com/news/read/4202629/imbauan-jokowi-terkait-covid-19-dari-kerja-dari-rumah-hingga-ingatkan-social-distancing
  7. The Head of Ahmadiyya Muslim Community Calls on Muslims to Adopt Precautionary Measures to Curb the Spread of Coronavirus (Friday Sermon, 6th March 2020). www.alislam.org

Sumber Gambar: unsplash.com