Cukuplah Kematian sebagai Nasihat

1067

Berbagai ujian yang tengah melanda negeri akhir – akhir ini, dengan adanya para korban yang harus menghadap Sang Kuasa, tak pelak, menyadarkan manusia dekat dengan kata “kematian”. Ya, kematian, saat dimana manusia harus meregang nyawa, meninggalkan dunia yang serba fana, ke alam keabadian yang kekal. Tak ada yang tahu, kapan, dimana, seperti apa proses kematian itu datang. Namun, tak ayal, jika Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang mampu menahannya atau bahkan menolaknya. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Dimanapun kamu berada kematian akan menemukanmu, sekali pun kamu ada di dalam benteng yang kokoh” (Surah An Nisa 78)

Begitulah kiranya, kehendak Allah memperlihatkan kuasa-Nya. Mau kemana lagi langkah kaki, ketika nafas ini harus terhenti? Mau bagaimana lagi, ketika nyawa harus pergi meninggalkan raga ini? Tentunya, tidak ada lagi pilihan, disaat nafas terhenti, disitulah waktu kita mengakhiri kehidupan fana ini.

Mungkin, jika saja ada petunjuk, kapan, dimana, dan seperti apa ajal itu tiba, tak ada lagi manusia yang rela berbuat dosa. Hanya ibadahlah yang dilakukannya, demi mencapai surga keridhaan-Nya. Tak akan ada lagi manusia yang saling menyakiti, karena tak mau ibadah kepada Tuhan-Nya, harus luluh lantah karena telah dihancurkan tingkah lakunya sendiri kepada orang lain. Indah memang, jika manusia tahu, namun faktanya, kematian adalah sebuah keniscayaan yang berupa misteri layaknya teka-teki yang sulit dipecahkan.

Misteri sebuah kematian, tak ayal membuat manusia terkadang lupa atau mungkin pura – pura lupa adanya kematian. Kehidupan di dunia yang fana dan menawarkan berbagai fatamorgana yang begitu menggoda, seakan menyamarkan tujuan hidup manusia sebenarnya. Alih – alih untuk beribadah kepada-Nya, tujuan duniawi seakan menguasai. Serentetan resolusi duniawi, menyamarkan atau bahkan menghilangkan resolusi rohani yang sejatinya Tuhan nanti.

Mungkin, dengan adanya ujian – ujian ini, sudah saatnya, manusia mulai menyadari, bahwa kematian semakin mendekat, hingga harus mempersiapkan diri. Dengan menjadikan sebagai sarana, bukan sebagai segalanya. Sebagaimana Khalifatul Masih Al Khaamis, Hz. Mirza Masroor Ahmad Aba memberikan nasihat: “Seperti halnya berpergian, seseorang menggunakan sarana transportasi dan perbekalan dengan maksud agar sampai di suatu tempat tujuan. Transportasi dan perbekalan merupakan hal yang bersifat insidentil. Jadi, hendaknya ia mencari dunia dengan cara yang sama yakni sebagai sarana untuk mengkhidmati agama. Dengannya, dunia tidak akan menjadi penghalang mencari keridhaan Tuhan Sang Pemilik Semesta. Segala perbekalan dapat disiapkan untuk mencapai kematian yang husnul khotimah. Dengan memperbaiki hubungan dengan Allah Taala (huququllah) dan memperbaiki hubungan dengan sesama hamba-Nya(huququl ibad).

Kenikmatan dunia pun sejatinya bukanlah hal yang tabu, Hz. Mirza Masroor Ahmad Aba menasihatkan: “Islam tidak melarang kenikmatan-kenikmatan jasmani, melainkan menasehati agar mendahulukan agama diatas dunia meski hidup didunia”. Dengan mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan dunia, dan setelah memenuhi segala kebutuhan rohani, kenikmatan dunia pun masih dapat dinikmati.

Teringat sebuah nasihat yang senantiasa Para Nabi Allah Taala nasihatkan khususnya Nabi Ibrahim & Nabi Yakub pada firman Allah Swt dalam surah Al Baqarah : 133 فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ …maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan menyerahkan diri. Hingga waktunya ajal menghampiri, jauh dilubuk hati terdalam, manusia sejatinya berharap, dalam keadaan menyerahkan diri sepenuhya kepada Tuhan yang menciptakan-Nya. Memang, sejatinya kematian adalah sebuah nasihat, agar manusia menyadari, akan pulang kembali kehadirat Ilahi, sebagimana sabda Rasulullah Saw كفى بالموت واعظا “Cukuplah kematian sebagai nasihat.” HR. al-Thabrani, al-Baihaqi.


Oleh :
Mutia Siddiqa Muhsin

Referensi :
https://ahmadiyah.id/khotbah/2016-01-01-Tahun-2016-dan-Tanggung-Jawab-Kita

Sumber gambar : mojok.co