Filosofi Pardah

52

Orang yang berpikiran adil akan menilai bahwa pergaulan bebas antara pria dan wanita serta kebersamaan mereka akan menunjukkan mereka kepada risiko tergelincir kepada dorongan nafsu mereka. Diketahui bahwa beberapa orang tidak melihatnya sebagai suatu hal yang tercela apabila seorang pria dan seorang wanita (yang bukan muhrim) bersama di balik pintu yang tertutup. Bahkan hal ini dianggap sebagai perilaku beradab. Untuk menghindari situasi yang tak diinginkan, Pembuat Syariat Islam telah melarang semua tindakan yang terbukti akan menjadi sebuah godaan bagi siapa saja.

            Dalam situasi semacam ini ketika seorang pria dan seorang wanita, yang hukum tidak mengizinkan untuk mempertemukan yang demikian, terjadi pertemuan secara pribadi, kemudian setan menjadi anggota ketiga diantara mereka berdua. Bayangkan bahaya yang sedang dilakukan di Eropa sebagai akibat dari kebebasan yang sembrono. Jika Anda ingin menyelamatkan kebenaran maka Anda harus menjaganya. Tapi jika Anda tidak waspada, maka ingatlah bahwa meskipun orang-orang berpura-pura baik akan tetapi kebenaran pasti akan dilanggar.

            Ajaran Islam pada kepentingan ini adalah sebagai perlindungan kehidupan sosial terhadap kegemaran yang tidak sah dengan menjaga pria dan wanita secara terpisah. Pergaulan bebas mengarah kepada kehancuran kehidupan keluarga dan sering terjadinya bunuh diri telah menjadi hal yang umum di Eropa. Bahwa beberapa wanita yang dinyatakan sebagai keluarga bangsawan mengadopsi cara-cara prostitusi, adalah akibat langsung dari kebebasan yang berlaku.

-Malfuzat, Vol. 5, p. 33

            Sistem pardah Islam sama sekali tidak mengharuskan perempuan untuk tutup mulut seperti dalam penjara. Apa yang Al-Qur’an maksudkan adalah bahwa wanita harus menghindari untuk menampilkan keindahan mereka dan tidak seharusnya menatap pria yang tidak di kenal. Mereka yang harus pergi keluar untuk memenuhi tanggung jawab mereka ,maka dapat melakukannya, tetapi mereka harus tetap menjaga pandangan mereka.

-Malfuzat, Vol. 1, p. 430

            Meskipun banyak pengikut Arya yang mungkin tidak menyukai orang-orang Muslim dan menentang ajaran Islam, akan tetapi saya akan meminta mereka dengan sungguh-sungguh untuk tidak sepenuhnya meniadakan pardah, karena kejahatan yang dihasilkan akan membuat diri mereka cepat atau lambat merasakan akibatnya. Setiap orang yang cerdas akan menilai bahwa sebagian besar umat manusia diatur oleh keinginan alami dan berada di bawah pengaruh tabiatnya sendiri, tidak mengindahkan hukuman Ilahi. Saat melihat wanita muda dan cantik kebanyakan pria tidak bisa untuk tidak menatap. Perempuan juga tidak ragu-ragu untuk menatap orang yang tidak di kenal. Kebebasan yang tak terbatas tersebut akan menghasilkan jenis situasi yang lazim di Eropa pada saat ini.

            Ketika orang-orang menjadi benar-benar suci dan menahan dorongan tabiat mereka, menyingkirkan semangat setan dan ketika mereka memiliki rasa takut akan Tuhan di mata mereka, ketika mereka menjadi sepenuhnya sadar akan keagungan Allah, dan mereka membawa perubahan serta menghiasi jubah ketaqwaan, hanya saja kemudian akankah mereka memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka sukai; untuk kemudian mereka akan menjadi seperti pion di tangan Tuhan dan, dengan cara berbicara, mereka akan berhenti menjadi laki-laki, mata mereka akan menjadi lupa akan memandang wanita serta lupa akan pikiran jahat tersebut. Namun satu hal yang disayangkan bahwa mungkin Tuhan mengarahkan hati Anda pada waktu yang tidak tepat untuk hal ini. Jika hari ini Anda menerima kebebasan ini, maka Anda akan menabur benih beracun dalam kebudayaan Anda.

            Ini adalah masa-masa yang sulit. Bahkan jika pardah tidak diperlukan sebelumnya maka sekarang pardah adalah sesuatu yang penting, karena ini adalah era terakhir dari umat manusia, dan bumi penuh dengan keburukan, pesta pora dan kemabukan. Hati yang penuh dengan ateisme dan tanpa menghormati perintah-perintah Ilahi. Lidah begitu lincah dan terpelajar yang sarat dengan logika dan filsafat, tetapi hatinya kosong dari spiritualitas. Pada saat yang demikian itu akan menjadi kebodohan untuk menunjukan domba yang tak berdaya terhadap belas kasihan serigala.

-Lecture Lahore, Ruhani Khaza’in, vol. 20, pp. 173-174


Oleh : TA Khudori

Sumber :

  1. Malfuzat
  2. Lecture Lahore, Ruhani Khaza’in Vol. 28

Sumber Gambar : https://medium.com/creatyststudios/behind-the-pardah-26d6d47d5a82