Generasi Antara

19
Milenial sebagai Generasi Antara
Milenial sebagai Generasi Antara

Ada satu penanda sosial yang mungkin luput dari perhatian sebagian orang, yakni tahun ini merupakan tahun terakhir bagi generasi milenial yang memasuki usia 30 tahun. Artinya, mulai tahun 2026, Generasi Z lah yang akan memasuki usia 30 tahun.

Di titik inilah sebagian dari kita berdiri di persimpangan. Tidak lagi sepenuhnya muda, tetapi juga belum sepenuhnya mapan. Tidak sepenuhnya tumbuh sebagai generasi digital sejak lahir, namun juga tidak sepenuhnya hidup dalam dunia yang stabil dan linear seperti generasi sebelumnya.

Kita berada di sebuah ruang peralihan. Di antara.

Tentang Generasi dan Zaman

Dalam kajian sosiologi, generasi sering dipahami sebagai kelompok yang dibentuk oleh pengalaman sejarah dan kondisi sosial yang serupa. Generasi terdahulu tumbuh dalam suasana pembangunan dan stabilitas. Mereka akrab dengan kesabaran, ketekunan, dan struktur yang jelas. Generasi setelah kita tumbuh dalam dunia yang serba cepat, serba cair, dan sangat adaptif terhadap teknologi.

Sementara itu, generasi milenial tumbuh di antara dua dunia tersebut. Kita mengenal hidup tanpa gawai pintar, namun juga dipaksa beradaptasi dengan dunia yang diatur oleh algoritma. Kita diajarkan untuk berproses dan menunggu, namun hidup di zaman yang menuntut hasil cepat dan pencapaian instan.

Setiap generasi memiliki keunggulannya masing-masing. Namun generasi milenial memiliki satu ciri khas yang sering kali luput dibicarakan: kemampuan untuk menyesuaikan diri ke atas dan ke bawah secara bersamaan.

Milenial sebagai Generasi Antara

Generasi milenial barangkali dapat disebut sebagai generasi antara, yaitu generasi yang terus-menerus menjembatani. Kita belajar menghormati nilai, etos, dan struktur generasi sebelumnya, sekaligus dituntut memahami cara berpikir dan ritme hidup generasi setelah kita.

Di satu sisi, kita diminta dewasa dan stabil. Di sisi lain, kita hidup dalam realitas ekonomi yang tidak sederhana. In this economy, di mana harga hunian kian jauh dari jangkauan, pekerjaan semakin tidak pasti, dan masa depan terasa mahal. Kita tumbuh dengan janji kestabilan, namun dewasa di tengah ketidakpastian.

Tak jarang, posisi di tengah ini melahirkan kelelahan. Merasa tertinggal dari yang lebih muda, namun juga merasa belum sekuat yang lebih tua. Merasa harus paham segalanya, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk salah atau lambat.

Kelelahan generasi antara sesungguhnya bukan tanpa sebab. Di banyak ruang, kita memikul beban yang saling bertumpuk. Dalam keluarga, istilah sandwich generation menjadi nyata, menopang orang tua yang menua, seraya menyiapkan masa depan anak yang belum sepenuhnya tiba. Di level bangsa, kita digadang-gadang sebagai aktor utama Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar yang menuntut produktivitas, daya tahan, dan stabilitas, justru ketika fondasi ekonomi dan sosial belum sepenuhnya ramah. Beban itu tidak selalu terlihat, tetapi nyata terasa di pundak.

Dalam konteks Khuddam pun, simbol itu sesungguhnya berbicara. Syal hitam putih yang diletakkan di pundak bukan sekadar atribut, melainkan penanda amanah. Ia melambangkan bahwa tanggung jawab terbesar organisasi memang ditopangkan kepada Khuddam. Tidak di kepala untuk dibanggakan, ataupun di dada untuk dikeramatkan, melainkan berada di pundak untuk dipikul. Di situlah generasi antara belajar satu hal penting, bahwa berada di tengah sering kali berarti menanggung lebih banyak, agar yang lain tetap seimbang.

Namun Islam mengajarkan bahwa posisi di tengah bukanlah posisi yang lemah. Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath, agar kamu menjadi saksi atas manusia.”
 (QS. Al-Baqarah: 144; dengan penghitungan basmalah sebagai ayat)

Menurut tafsir Alquran Jemaat Ahmadiyyah dan juga ulama terkemuka (Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi), Al-wasath berarti, menempati kedudukan di tengah; baik dan mulia dalam pangkat (Aqrab). Kata itu dipakai di sini dalam arti baik dan mulia.

Pertengahan bukan berarti ragu, melainkan seimbang. Bukan berarti tidak berpihak, melainkan adil dan bijak. Di situlah letak amanahnya.

Menguatkan yang Ada di Tengah

Dalam kehidupan sosial, Islam juga menekankan pentingnya hubungan yang sehat antar generasi. Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya adab lintas usia:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi).

Pesan ini menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki peran, dan harmoni hanya terwujud ketika masing-masing saling memahami.

Di tengah kondisi dunia yang serba bising dan kompetitif, generasi antara sering kali menjadi penenang. Kita memahami bahasa masa lalu, sekaligus mencoba menerjemahkan bahasa masa kini. Kita tidak sempurna, tetapi kita berusaha menjaga kesinambungan.

Jika hari ini kamu merasa berada di usia yang “tanggung”, karier belum sepenuhnya mapan, kehidupan belum sepenuhnya tertata, dan idealisme masih ada meski energi mulai berkurang, ketahuilah satu hal: kamu tidak sendirian.

Menjaga Arah, Menenangkan Langkah

Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan bukanlah pembenaran sosial, melainkan ketenangan batin. Hz. Khalifatul Masih al-Khamis (aba) berulang kali mengingatkan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan hendaknya dikembalikan kepada satu niat yang lurus: dilakukan semata-mata karena Allah Ta‘ala. Ketika orientasi hidup diarahkan kepada-Nya, maka kegelisahan dunia tidak lagi sepenuhnya menguasai hati, dan ketidakpastian tidak lagi terasa menakutkan.

Kita memang hidup di zaman yang berat. Namun selama langkah ini dijalani dengan niat yang benar dan kesadaran spiritual yang terjaga, setiap proses memiliki makna, meskipun hasilnya belum terlihat. Generasi antara tidak dituntut untuk menjadi yang paling cepat atau paling gemilang, melainkan untuk tetap teguh, menjaga arah, dan terus melangkah dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha seorang hamba.

Di zaman yang mudah terbelah, bisa jadi peran terbesar kita adalah menjadi penghubung, dengan sabar, dengan tenang, dan dengan iman, karena kitalah “Generasi Antara”.


Oleh : Mohammad Gaody

Referensi :

Al-Qur’an al-Karim.

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.

Pew Research Center. Defining Generations: Where Millennials End and Generation Z Begins [Internet]. Washington, D.C.: Pew Research Center; 2019 [diakses 5 Januari 2026]. Tersedia pada: https://www.pewresearch.org

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Social Mobility and Intergenerational Inequality [Internet]. Paris: OECD Publishing; 2022 [diakses 5 Januari 2026]. Tersedia pada: https://www.oecd.org

Khutbah Jumat Khalifatul Masih al-Khamis (aba). Khutbah Jumat dan Nasihat Spiritual [Internet]. London: Islam International Publications / MTA International; berbagai edisi [diakses 5 Januari 2026]. Tersedia pada: https://www.alislam.org