Ibadah dalam Islam sebagai Praktik Meditatif Psikologis: Respons terhadap Krisis Kesehatan Mental

64
Ibadah dalam Islam sebagai Praktik Meditatif Psikologis: Respons terhadap Krisis Kesehatan Mental
Ibadah dalam Islam sebagai Praktik Meditatif Psikologis: Respons terhadap Krisis Kesehatan Mental

Perkembangan teknologi digital dalam kurun lebih dari satu dekade terakhir telah membawa perubahan fundamental terhadap struktur sosial, pola komunikasi, dan cara individu membangun identitas diri. Media sosial dan ekosistem digital serba cepat saat ini telah menjadi ruang sehari-hari yang tak terpisahkan, khususnya bagi generasi milenial, Generasi Z, dan Generasi Alpha. Generasi ini tumbuh dalam kondisi keterhubungan permanen (permanent connectivity), di mana interaksi sosial, ekspresi diri, dan validasi sosial banyak dimediasi oleh platform digital.

Di Indonesia, intensitas penggunaan media sosial pada kelompok usia muda, remaja sampai anak-anak menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan budaya, tetapi juga memunculkan persoalan serius dalam ranah kesehatan mental. Berbagai penelitian yang salah satunya dikutip dalam sebuah Jurnal penelitian di Universitas Islam Indonesia menyebutkan bahwa paparan media sosial secara intens berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, stres psikologis, gangguan tidur, serta menurunnya kesejahteraan mental.

Fenomena tersebut semakin kompleks ketika dikaitkan dengan karakteristik perkembangan generasi muda saat ini. Pada fase pencarian identitas dan pembentukan nilai diri, individu menjadi sangat rentan terhadap mekanisme perbandingan yang masif di media sosial. Representasi kehidupan ideal, standar keberhasilan yang semu, serta tuntutan eksistensi digital mendorong individu pada kondisi kelelahan mental (mental fatigue) dan kecemasan sosial. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa “media sosial memicu kecemasan sosial akibat perbandingan sosial yang terus-menerus dan tuntutan citra diri”, individu dihadapkan pada standar keberhasilan, kebahagiaan, dan produktivitas yang sering kali tidak realistis. Kondisi ini memicu tekanan psikologis yang berkelanjutan, terutama ketika individu tidak memiliki mekanisme pengelolaan emosi yang memadai. Akibatnya, muncul gejala seperti kecemasan serta perasaan tidak berharga.

Dampak psikologis ini tidak berhenti pada ranah internal, tetapi berlanjut pada kehidupan nyata, masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi relasi sosial langsung dan nilai kolektivitas, pergeseran menuju interaksi digital yang dominan juga berimplikasi pada menurunnya kualitas hubungan sosial nyata. Termasuk penurunan kualitas relasi interpersonal, berkurangnya konsentrasi saat menempuh pendidikan akademik, serta meningkatnya kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial langsung. Dengan demikian, krisis kesehatan mental pada generasi digital tidak dapat dipahami sebagai fenomena individual semata, juga sebagai persoalan struktural yang memerlukan pendekatan lintas aspek.

Merespons kondisi tersebut, psikologi modern mengembangkan berbagai pendekatan terapeutik, salah satunya melalui meditasi dan praktik perhatian penuh (mindfulness). Meditasi dipandang sebagai metode efektif dalam mengelola stres dan kecemasan, dengan menekankan kesadaran terhadap kondisi saat ini serta regulasi emosi. Meditasi dalam psikologi modern dipahami sebagai teknik regulasi perhatian dan emosi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Menariknya, selain melalui pendekatan psikolog saat ini, dalam khazanah Islam, praktik-praktik ibadah yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW telah lama mengandung karakteristik yang sejalan dengan prinsip meditasi psikologis. Ibadah tidak hanya diposisikan sebagai kewajiban normatif, bahkan, dalam berbagai konteks ibadah secara penafsiran juga dipahami sebagai jalan menuju ketenangan batin dan stabilitas emosional.

Islam memandang manusia sebagai kesatuan jasmani, psikologis, dan spiritual. Kesehatan mental tidak dipahami secara terpisah dari kondisi batin dan relasi manusia dengan Tuhan. Dalam (QS. Ar-Ra’d: 29):

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati akan memperoleh ketentraman.”

Ayat ini menunjukkan bahwa dengan mengingat Allah melalui rangkaian ibadah, mendatangkan ketenangan jiwa yang merupakan nilai spiritual yang fundamental.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa batin memiliki peran sentral dalam membentuk perilaku, kesehatan psikologis, dan kualitas hidup manusia yang dipengaruhi oleh seberapa baik ia sebagai individu dalam konteks spiritual dan norma kehidupan yang berlaku. Dengan demikian, praktik ibadah dalam Islam selain berfungsi sebagai kewajiban, juga memiliki fungsi strategis dalam menjaga keseimbangan psikologis dan kestabilan emosional individu.

Kemudian dikutip dari sabda Khalifatul Masih Al-Khamis, Hd. Mirza Masroor Ahmad aba. setelah peletakan batu pertama Masjid di Jerman dan dalam pidato utamanya, beliau bersabda:

“Pray for yourselves a great deal. This is the key to attaining peace of mind and true happiness.”

“Perbanyaklah berdoa untuk diri kalian sendiri. Inilah kunci untuk meraih ketenangan batin dan kebahagiaan sejati.”

Do’a dapat dipahami sebagai mekanisme utama dalam menjaga stabilitas dan keyakinan batin untuk menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa spiritualitas dapat mempengaruhi ketenangan secara psikologis.

Sebuah jurnal penelitian yang dikutip dari Universitas Negeri Medan berkenaan dengan peran ibadah dalam mengatasi kecemasan dan depresi di kalangan Generasi Z menunjukkan “ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa berperan dalam menurunkan kecemasan dan depresi pada generasi muda.” Temuan ini memperkuat pandangan bahwa ibadah juga dapat berfungsi sebagai mekanisme untuk meregulasi emosi dan pemulihan mental secara bertahap.

Kemudian jika dianalisis, ibadah dalam Islam memiliki karakteristik yang sejalan dengan praktik meditasi.

  • Shalat menuntut fokus perhatian, kesadaran tubuh, serta keteraturan gerak dan bacaan. Riset dan Ijtihad menjelaskan bahwa “shalat dapat menciptakan kondisi relaksasi fisiologis dan ketenangan mental yang menyerupai efek meditasi.”
  • Dzikir berfungsi sebagai praktik repetitif yang membantu menenangkan pikiran dan menstabilkan emosi. Repetisi lafaz yang bermakna membantu individu melepaskan diri dari stimulus stres eksternal.
  • Puasa melatih pengendalian diri dan kesadaran terhadap impuls, yang dalam psikologi merupakan faktor penting bagi kesehatan mental jangka panjang.
  • Doa berperan sebagai mekanisme penerimaan, yang sejalan dengan konsep acceptance dalam psikologi kontemporer.

Pada kesimpulannya, krisis kesehatan mental pada generasi saat ini merupakan konsekuensi kompleks dari perkembangan teknologi khususnya media sosial. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan dan penurunan kesejahteraan mental. Meditasi dalam psikologi modern menawarkan pendekatan regulasi emosi, sementara Islam telah lebih dahulu menyediakan praktik ibadah yang memiliki fungsi yang berkorelasi. Dapat disimpulkan bahwa ibadah dalam perspektif Islam memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat ketahanan psikologis individu, terutama dalam membangun ketenangan batin, stabilitas emosi, serta makna hidup.

Meskipun demikian, ibadah tidak dapat diposisikan sebagai pengganti intervensi profesional dalam bidang psikologi atau kesehatan mental, khususnya dalam menangani gangguan psikologis, trauma, maupun kondisi klinis yang memerlukan pendekatan terapeutik berbasis ilmiah. Ibadah lebih tepat dipahami sebagai instrumen pendamping yang berfungsi memperkuat fondasi mental dan spiritual individu, sehingga proses pemulihan dan pengembangan kesehatan mental dapat berlangsung secara lebih komprehensif apabila disinergikan dengan pendampingan profesional yang tepat. Selain aspek spiritual, upaya menjaga kesehatan mental juga perlu dilatih dengan kemampuan pengendalian diri (self-regulation) yang mencakup pengelolaan pikiran, emosi, dan perilaku secara sadar dan bertanggung jawab. Pengendalian diri menjadi elemen penting untuk menerjemahkan nilai-nilai ke dalam tindakan yang adaptif dan konstruktif dalam kehidupan.


Oleh: Fani Nurdiansah

Referensi:
Hilda, & Purwanto, M. R. (2024). Pengaruh media sosial terhadap kesejahteraan mental mahasiswa. Jurnal Thullab, Universitas Islam Indonesia, 6(1).   [https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/34197](https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/34197)

Azaria, A. S., Ratnasari, D., & Sumawati, A. R. (2024). Instagram dan kesehatan mental Generasi Z di Yogyakarta. Cantrik: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Islam Indonesia. [https://journal.uii.ac.id/cantrik/article/view/29704](https://journal.uii.ac.id/cantrik/article/view/29704)

Goyal, M., et al. (2014). Meditation programs for psychological stress and well-being: A systematic review and meta-analysis. JAMA Internal Medicine, 174(3), 357–368.   [https://jamanetwork.com/journals/jamainternalmedicine/fullarticle/1809754](https://jamanetwork.com/journals/jamainternalmedicine/fullarticle/1809754)

Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life. New York: Hyperion.

Nasution, R., Lubis, J. A., & Siregar, A. (2025). Peran ibadah dalam mengatasi kecemasan dan depresi di kalangan Generasi Z. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 8(1). [https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/view/35720](https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/view/35720)

Azizah, R. N. (2025). Peran ibadah dalam menjaga kesehatan mental dan fisik. Jurnal Ijtihad, 12(1). [https://oj.mjukn.org/index.php/jij/article/view/91](https://oj.mjukn.org/index.php/jij/article/view/91)

Al-Qur’an al-Karim. QS. Ar-Ra’d [13]: 28.

Al-Bukhari, M. I., & Muslim, H. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadis tentang hati sebagai pusat kebaikan dan kerusakan manusia.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad. Pray for Peace and Serenity. [https://www.alislam.org/articles/pray-for-peace-and-serenity/](https://www.alislam.org/articles/pray-for-peace-and-serenity/)