Ismail atau Ishak-kah yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim as?

333
Ismail atau Ishak-kah yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim as?
Ismail atau Ishak-kah yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim as?

Lama sudah diskursus ini diperbincangkan. Siklusnya cenderung bersifat tahunan. Tepatnya saat mendekati waktu pelaksanaan Iduladha dengan perspektif bincangan mulai dari teologis-skriptorial, empiris bahkan sampai anekdotal. Kita akan mulai dari yang terakhir.

Masyhur diceritakan, Gus Dus ditanya berkenaan dengan permasalahan peliki ini, “Mana yang paling benar, Gus?”

“Dua-duanya,” jawabnya enteng, “baik Ismail atau Ishak, tidak ada yang jadi disembelih. Jadi buat apa diributkan?” selorohnya.

Boleh jadi sebagian dari kita tidak sependapat dengan Gus Dur, baik atas jawaban “Dua-duanya” ataupun “Buat apa diributkan?”. Hanya satu hal yang pasti disepakati semua bahwa “Baik Ismail atau Ishak, tidak ada yang disembelih.”

Dirasakan cukup adil untuk memulai bincangan kita dengan sebuah anekdot yang menggelitik dari mantan Presiden Indonesia yang ke-4 di atas. Sementara secara empiris, kita akan coba menalarnya dengan sebuah dialektika yang hangat dan menantang kedewasaan dalam mengelola perbedaan.

Alex Traiman, CEO dan Ketua Biro Jewish News Syndicate (JNS) Jerusalem dalam tulisannya Eid al-Adha and the theft of the Jewish narrative, menulis:

“Menurut tradisi Islam, Allah memerintahkan Ibrahim dalam sebuah mimpi untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail. Sebenarnya, teks Alquran tidak secara khusus mengidentifikasi putra yang harus dikorbankan Ibrahim. Meskipun ada perdebatan di antara para sarjana Islam, pandangan yang paling umum adalah bahwa putra tersebut adalah Ismail.

Ibrahim menolak upaya setan untuk mencegah tindakan yang diperintahkan oleh Allah dan terus maju dengan persetujuan putranya untuk melayani kehendak Allah. Pada saat-saat terakhir, Allah mencegah Ibrahim untuk melakukan pengorbanan, dan menyediakan seekor domba jantan untuk disembelih oleh Ibrahim sebagai pengganti Ismail dan menyelesaikan ujian tersebut.

Terdengar tidak asing, kan? Umat Yahudi di seluruh dunia akan membaca versi yang sedikit berbeda dari peristiwa tersebut dalam waktu kurang dari seminggu, selama pembacaan Taurat pada Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi, yang ditandai dengan peniupan tanduk domba jantan (shofar) yang dimaksudkan untuk memperingati peristiwa biblikal (alkitabiah) tersebut ketika Ibrahim hampir mengorbankan putra tercintanya, Ishak.”

Traiman secara persuasif menggiring kita pada narasi bahwa klaim Ismail sebagai putra yang dikurbankan alih-alih Ishak merupakan pemelintiran sejarah yang sudah menjadi tradisi dalam Islam. Yasser Arafat, misalnya, menurut Traiman pada KTT Camp David pada tahun 2000, secara ngawur meniadakan hubungan Yahudi dengan Yerusalem dengan menyangkal bahwa Bait Suci apa pun pernah berdiri di kota itu. “Klaim Arafat tidak hanya dibantah oleh literatur Yahudi, tetapi juga oleh literatur Islam,” ungkapnya.

Dengan cekatan Traiman mengutip “A Brief Guide to Al-Haram Al-Sharif” untuk turis yang berkunjung ke Temple Mount (Bukit Bait Suci) yang diterbitkan pada tahun 1925 oleh Dewan Muslim Tertinggi yang mengelola tempat suci tersebut, yang di dalamnya dinyatakan bahwa, “Situs ini adalah salah satu yang tertua di dunia. Kesuciannya berasal dari masa paling awal (mungkin dari masa pra-sejarah). Identitasnya dengan situs Kuil Sulaiman tidak perlu dipertanyakan lagi. Ini juga merupakan tempat, menurut kepercayaan universal, di mana Daud membangun mezbah bagi Tuhan, dan mempersembahkan kurban bakaran dan kurban perdamaian.”

Perlu dicatat bahwa menurut tradisi Yahudi, ungkap Traiman, Daud bukanlah orang pertama yang membuat persembahan di tempat yang sama. Menurut tradisi Yahudi, ini adalah tempat di mana Ibrahim mempersembahkan domba jantan untuk menggantikan putra kesayangannya, Ishak.

CEO JNS ini mewakili umumnya pandangan yang meyakini Ishak sebagai putra yang dikurbankan alih-alih Ismail. Sikapnya secara eksplisit diredaksikan dalam judul artikel “Iduladha dan Pencurian Narasi Yahudi” yang ia tulis. Inilah salah satu pendekatan empiris dari pihak pertama.

Adapun sebagai pembanding pihak pertama, sekaligus yang berkeyakinan sebaliknya – bahwa yang dikurbankan dari antara kedua putra terkasih Nabi Ibrahim as adalah Ismail, penjelasan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. pada tafsir ayat 103-104 Surah Ash-Shaffat menarik untuk dicermati:

“Fakta bahwa sementara tidak ada jejak yang dapat ditemukan dalam upacara keagamaan Yahudi dan Kristen tentang pengorbanan Ishak yang seharusnya dilakukan oleh Ibrahim, umat Islam, keturunan spiritual Ismail, memperingati dengan penuh semangat pengorbanan yang dimaksudkan, dengan menyembelih domba jantan dan kambing setiap tahun di seluruh dunia pada hari kesepuluh bulan Dzulhijjah. Pengorbanan domba jantan dan kambing secara universal oleh umat Islam pada hari tertentu untuk memperingati kesediaan Ibrahim untuk menyembelih Ismail, membuktikan tanpa ada keraguan bahwa Ismail-lah yang dipersembahkan oleh Ibrahim sebagai kurban, bukan Ishak. Dalam arti tertentu, Ibrahim telah menggenapi ru’yanya dengan meninggalkan Ismail ketika masih kecil bersama ibunya, Hajar, di lembah Mekah yang suram dan tandus, di mana pada saat itu tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan tidak ada sehelai rumput pun atau setetes pun air. Tindakan berani itu, pada kenyataannya, telah melambangkan pengorbanan Ismail.”

Masih dalam perspektif empiris meskipun bernuansa skriptorial, kitab Kejadian 6:16 menyebutkan bahwa Ismail lahir pada waktu Ibrahim berumur 86 tahun. Saat perintah khitan atau circumcision turun kepada Ibrahim, beliau telah mencapai usia 99 tahun dan dikatakan bahwa beliau berkhitankan bersama Ismail. Secara sederhana kita dapat menyimpulkan bila umur Ismail waktu dikhitan adalah 13 tahun. Sementara Ishak lahir pada waktu Nabi Ibrahim as berusia 100 tahun (Kejadian 21:5) dan dikhitan 8 hari setelahnya (Kejadian 21:4). Terdapat selisih waktu 14 tahun antara di antara kelahiran Ishak dari Ismail. Artinya, selama tidak kurang dari 14 tahun Ismail terhitung sebagai anak tunggal bagi Nabi Ibrahim as. Untuk itu, ketika kitab Kejadian 22:2 menukilkan perintah penyembelihan Ishak dengan penjelasan “anakmu yang tunggal itu yang engkau kasihi yakni Ishak” menjadi rancu. Tuduhan Traiman bahwa adalah tradisi Islam memutarbalikkan sejarah terbukti sebaliknya.

Tambahan pula, peristiwa luar biasa yang dialami tiga wujud mulia: Ibrahim as, Hajar dan Ismail di atas diabadikan dalam ritual ibadah Haji. Islam meyakini bila Nabi Muhammad saw adalah keturunan dari Nabi Ismail as – putra sulung Nabi Ibrahim as yang dengan atas rahasia Ilahi harus menjalani pengasingan ke lembah tandus Mekah lebih dari 2500 tahun sebelum kelahiran Sang Nabi saw. Tradisi Haji ini, kembali tidak kita temukan jejaknya dalam upacara keagamaan Yahudi dan Kristen. Adanya tradisi ibadah Haji yang kemudian dilembagakan dalam Islam secara impiris mengukuhkan bahwa Ismail-lah yang dikurbankan. Bukan Ishak.    

Berkenaan dengan ibadah Haji, laman The Pilgrim memberikan deskripsi ringkas berikut:

“Asal mula ibadah Haji berawal dari tahun 2.000 SM, ketika Nabi Ibrahim (as) dan putranya, Nabi Ismail (as), membangun (kembali) Ka’bah sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT.

Namun, ibadah Haji resmi pertama terjadi setelah Nabi Muhammad (SAW) dan para sahabatnya hijrah ke Madinah dan berhasil menaklukkan Mekkah pada tahun 10 H (632 M). Haji ini juga dikenal sebagai Haji Perpisahan, Haji Terakhir, dan Hijjatul Wida’.”

Kembali, ibadah Haji terkait dengan sosok Ismail – dan bukan Ishak – dalam hubungannya dengan Nabi Ibrahim as.

Tradisi tutur dan memori kolektif bangsa Arab pun sebagai penduduk asli kawasan yang kemudian di kenal sebagai Mekah menguatkan Ismail yang saat masih bayi bersama ibunya diasingkan ke kawasan tandus Paran – sebutan kuno untuk kawasan Mekah sekarang – sebagai perwujudan pertama dari perintah ‘penyembelihan’ dalam ru’ya yang diterima Nabi Ibrahim as. Sementara untuk perwujudan kedua dari ‘penyembelihan’ terjadi lebih dari sepuluh tahun setelahnya di Marwah, sebuah tempat di pinggiran Mekah, di mana Ismail kecil berserah diri secara sempurna untuk dikurbankan oleh Nabi Ibrahim as. Banyak Riwayat, menurut Muhamad Abror dalam Sacrificed Prophet, Ismail or Ishaq?, yang menjelaskan bahwa tanduk kambing yang disembelih sebagai kurban digantung di Ka’bah. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi yang disembelih itu berada di Mekah, yaitu Ismail. Jika yang disembelih adalah Ishaq, maka tanduk kambing tersebut berada di Palestina, tanah Syam.

Kini kita tiba pada penalaran yang ketiga atas pertanyaan Ismail atau Ishak yang dikurbankan oleh Ibrahim as secara teologis-skriptorial. Merujuk kepada tafsir ayat 103-104 Surah Ash-Shaffat yang ditulis oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra, kita membaca:

“Al-Quran dan Alkitab (Perjanjian Lama) tidak sepakat mengenai siapa di antara kedua putranya-Ismail dan Ishak-Ibrahim yang dipersembahkan sebagai kurban, sesuai dengan perintah Allah. Al-Quran mengatakan bahwa yang dikorbankan adalah Ismail, tetapi menurut Alkitab, yang dikorbankan adalah Ishak. Alkitab, berbicara tentang pengorbanan mengatakan ‘Lalu berfirmanlah Allah: ‘Ambillah sekarang anakmu, anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yaitu Ishak, bawalah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia sebagai korban bakaran di sana, di atas salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ (Kejadian 22:2). Di sisi lain, Al-Quran menyatakan dengan jelas dan tegas, dalam ayat yang sedang dikomentari, bahwa Ismaillah yang dipersembahkan sebagai kurban. Akan tetapi, Alkitab bertentangan dengan dirinya sendiri dalam hal ini. Menurut Alkitab, Ibrahim diperintahkan untuk mempersembahkan anak satu-satunya sebagai kurban, tetapi Ishak sama sekali bukan anak satu-satunya. Ismail dilahirkan bagi Ibrahim ketika ia berusia 86 tahun, sedangkan Ishak dilahirkan baginya ketika ia telah mencapai usia yang sangat lanjut, yaitu 99 tahun. Dengan demikian, selama 13 tahun, Ismail adalah anak tunggal Ibrahim, dan sebagai anak sulung, ia sangat disayangi oleh Ibrahim. Oleh karena itu, masuk akal jika Ibrahim pasti diminta oleh Allah untuk mempersembahkan sebagai kurban hal yang paling dekat dan paling disayanginya, yaitu putra sulungnya, Ismail.

Beberapa penginjil dengan sia-sia mencoba menunjukkan bahwa, ‘Ismail yang berasal dari hamba perempuan, dilahirkan secara biasa, sedangkan Ishak yang dilahirkan dari perempuan merdeka adalah melalui janji’ (Galatia 4:22, 23). Terlepas dari fakta bahwa Hajar, ibu Ismail, berasal dari keluarga kerajaan Mesir dan bukan seorang hamba sahaya, Ismail telah berulang kali disebut dalam Alkitab sebagai anak Ibrahim, sama seperti Ishak yang disebut sebagai anaknya (Kejadian 16:16; 17:23, 25). Selain itu, janji-janji yang sama juga diberikan kepada Ibrahim sehubungan dengan kebesaran Ismail di masa depan, sama seperti janji-janji yang diberikan kepada Ishak. Alkitab berkata: ‘Dan tentang Ismail, Aku telah mendengarnya: Sesungguhnya, Aku memberkati dia dan membuat dia beranak cucu, dan membuat dia sangat banyak; dua belas orang pemimpin akan diperanakkannya, dan Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.’ (Kejadian 17:20). ‘Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepadanya (Hajar): ‘Aku akan membuat keturunanmu sangat banyak, sehingga tidak terhitung banyaknya.’ (Kejadian 16:10, 11). Jadi, terlepas dari penggantian Ishak untuk Ismail dalam Alkitab yang tampaknya disengaja, dan Moriah untuk Marwah, sebuah bukit kecil yang terletak di pinggiran Mekah yang dekat dengan tempat Ibrahim, untuk memenuhi ru’yanya yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, meninggalkan Ismail bersama ibunya, Hajar, ketika ia masih kecil, tidak ada satu pun di dalam Alkitab yang memberikan sedikit pun dukungan terhadap pandangan bahwa Ibrahim mempersembahkan Ishak sebagai kurban, dan bukannya Ismail.”

Dua paragraf panjang di atas dengan benderang menjelaskan siapa yang dikurbankan dri antara kedua putera kesayangan Nabi Ibrahim as. Memberikan komentar atas apa sudah cukup cenderung akan mengurangi kecemerlangannya.

Sebagai tambahan atas penalaran secara teologis-skriptorial, terdapat sebuah penjelasan menarik dalam tafsir Ibnu Katsir:

  عن الصنابحي قال: كنا عند معاوية بن أبي سفيان فذكروا الذبيح إسماعيل أو إسحاق، فقال على الخيبر سقطتم كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فجاءه رجل فقال: يا رسول الله عد عليَّ مما أفاء الله عليك يا ابن الذبيحين، فضحك عليه الصلاة والسلام فقيل له: وما الذبيحان، فقال: إن عبد المطلب لما أمر بحفر بئر زمزم نذر لئن سهل الله عليه أمرها ليذبحنّ أحد ولده، قال فخرج السهم على عبد الله فمنعه أخواله، وقالوا افد ابنك بمائةٍ من الإبل، ففداه بمائة من الإبل، وإسماعيل الثاني

As-Shunabihi berkata, “Kami bersama Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lalu mereka menyebut-nyebut tentang kurban Ismail dan Ishak, lalu ia berkata, “Ketika Khaibar runtuh, kami bersama Rasulullah saw, lalu seorang laki-laki datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, perhitungkanlah aku dengan apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu, wahai putra dari dua orang yang dikurbankan!” Beliau saw tertawa dan berkata, “Apakah dua orang yang dikurbankan itu? Orang itu berkata, “Ketika Abdul Muthalib diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam, ia bersumpah bahwa jika Allah memudahkannya, ia akan menyembelih salah satu putranya. Anak panah keluar pada Abdullah, dan paman-pamannya mencegahnya, dengan mengatakan, ‘Tebuslah anakmu dengan seratus ekor unta.’ Ia (Abdul Muthalib) menebusnya dengan seratus ekor unta, dan Ismail adalah orang yang kedua (yang dikurbankan). [3]

Riwayat ini menegaskan bahwa yang dikurbankan itu adalah Ismail. Kata-kata Nabi saw أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ (aku anak dari dua orang yang dikurbankan). Maksud sabda Nabi itu ialah Nabi Muhammad Saw adalah keturunan Nabi Ismail dan Abdullah (ayahnya), yang kedua-duanya pernah hendak dikurbankan oleh ayahnya yaitu Nabi Ibrahim dan Abdul Muthalib.

Hadits tersebut, seperti dilansir laman Muhammadiyah, diriwayatkan oleh banyak perawi, antara lain oleh Imam al-Hakim, Imam Ibnu Murdawaih yang bersumber kepada sahabat Muawiyah ra. Riwayat tersebut diperkuat pula dengan riwayat para ahli sejarah dan ahli tafsir.

Tulisan ini akan terlalu panjang bila membincang lebih dari ini. Dan tidak pernah terbersit niat dari penulisnya bila bincangan dari tiga perspektif tentang siapa yang dikurbankan dari antara kedua putra terkasih Nabi Ibrahim as untuk mengganggu kesyahduan Iduladha pembacanya. ‘Id Mubarak bagi kita semuanya!


Oleh : Dodi Kurniawan (Pengajar di SMA Plus Al-Wahid)

Referensi:

  1. https://www.alislam.org/quran/app/37:104
  2. https://www.jns.org/eid-al-adha-and-the-theft-of-the-jewish-narrative/
  3. islamweb.net
  4. muhammadiyah.or.id

Image: freepik