Isu Rasialisme Abu Janda : Bagaimana Islam menghapus Rasisme dari muka bumi?

308

Beberapa minggu yang lalu, jagad maya ramai membahas kasus cuitan bernada menghina yang berujung tudingan rasisme yang telah dilakukan oleh Permadi Arya, atau banyak dikenal warganet sebagai “Abu Janda” terhadap Natalius Pigai. Dalam kasus yang pada akhirnya memicu pro dan kontra serta sempat dibawa ke ranah hukum tersebut, Permadi membantah bahwa dirinya telah bersikap seperti yang dituduhkan, dikutip dari berita pada laman tirto.id mengenai keterangan yang disampaikannya di Bareskrim Polri pada Kamis (4/2/2021), Permadi setuju jika dirinya mungkin dapat terindikasi telah menghina Pigai dalam cuitannya, namun tidak lebih dari itu, selain itu cuitanyang dimaksud pun telah dihapus oleh yang bersangkutan yakni Permadi Arya sendiri.

Membahas kasus rasisme sepertinya tidak pernah ada habisnya, bahkan jika merujuk kepada sejarah, istilah racism telah resmi digunakan sejak tahun 1902 pada Oxford English Dictionary yang dideskripsikan sebagai bentuk kebijakan politik yang ditunjukkan Amerika Serikat kepada penduduk pribumi Amerika (Howard, dalam Bowser, 2017). Kemunculan istilah racism yang seolah baru “diresmikan” pada awal abad ke-20 tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa Dunia Barat sebenarnya terlambat mengakui bahwa segregasi rasial merupakan hal yang nyata dan perlu menjadi perhatian khusus yang terindikasi dengan adanya pemberian istilah tersebut, faktanya bisa dilihat dari sejarah perbudakan serta penjajahan yang sempat menjadi hal yang lumrah bahkan pernah didukung oleh negara-negara Barat hingga akhir abad ke-20. Meskipun secara “resmi” telah diakhiri pada tahun 1834 melalui Abolition Act oleh kekaisaran Britania bagi negara-negara jajahannya serta oleh Amerika Serikat pada tahun 1865 melalui diresmikannya Thirteenth Amandement, serta akhir dari penjajahan bangsa-bangsa kolonial pada tahun 1945 hingga 1960.

Republik Indonesia merupakan salah satu bagian dari pengukir sejarah dunia dalam hak-hak kesetaraan, keadilan serta kemerdekaan. Sebagai salah satu negara anggota PBB, sekaligus memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, bangsa Indonesia memiliki sejarah dalam bersatu melawan penjajahan Nusantara tanpa peduli suku, ras, maupun agama masing-masing individu. Mengutip dari laman Wikipedia, jumlah populasi pemeluk agama Islam di Indonesia mencapai 225 juta orang atau mencapai 86,7% dari keseluruhan penduduknya. Meskipun demikian, rupanya Indonesia sendiri masih belum terbebas dari jeratan rasisme, adanya pemberian stereotype, atau “persepsi umum” yang sering dikaitkan dengan identitas kesukuan di Indonesia sendiri menjadi bentuk sikap rasisme yang masih menjangkit di beberapa individu maupun golongan tertentu pada masyarakat Indonesia. Berbagai contoh pemberian stereotype yang sayangnya sering bersifat negatif di lapangan seolah telah dilekatkan secara resmi pada masing-masing suku bangsa, entah itu terhadap suku bangsa Jawa, Sunda, Medan, Padang, Papua, Tionghoa dan lainya, hampir semua mendapatkan pelekatan identitas karakter masing-masing yang bahkan sering dianggap seolah dapat menjadi faktor penentu dalam preferensi interaksi, hingga sukses tidaknya perjodohan dan pernikahan meskipun sudah sama-sama seiman. Padahal dengan jelas telah diajarkan dalam QS: Al-Hujurat : 12

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencemoohkan kaum yang lain, boleh jadi mereka itu lebih baik daripada mereka dan janganlah segolongan wanita mencemoohkan wanita yang lain, boleh jadi mereka itu lebih baik daripada mereka. Dan janganlah kamu mencela satu sama lain dan jangan memanggil satu sama lain dengan nama-nama buruk. Dipanggil dengan nama buruk setelah beriman adalah hal yang seburuk-buruknya; dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang aniaya.”

Islam sebagai agama yang ditujukan sebagai rahmat bagi semesta alam, terbukti telah mengajarkan kepada umat manusia jauh sebelum istilah racism dianggap penting dan diangkat negara-negara barat yang kini seolah menampilkan diri sebagai pionir dalam penegakan hak-hak kemanusiaan. Islam yang telah hadir selama lebih dari 1,5 millenium yang lalu sebenarnya telah menjelaskan bahwa kemuliaan manusia sama sekali tidak bergantung pada faktor ras maupun kesukuannya, seperti diajarkan dalam QS Al-Hujurat :14 yang artinya:

Hai manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Menciptakan masyarakat yang bebas dari sikap rasis memang bukan pekerjaan mudah, apalagi jika rasisme tersebut telah mengakar dan dianggap sebagai dari warisan budaya. Karena itulah Islam tidak hanya mengajarkan kesetaraan berdasarkan teori semata, namun hingga kepada esensi seluk beluk adab dan perilaku sebagai bagian dari ibadah yang harus dipraktekkan, seperti tampak dari kewajiban sholat yang mengharuskan setiap umat berdiri sejajar dalam shaf yang teratur, tanpa peduli warna kulit, bahasa, maupun status ekonomi masing-masing dan dalam beribadah tidak ada yang dibeda-bedakan, apakah seorang Muslim tersebut adalah seorang Presiden, Ulama, Tentara, maupun pegawai biasa, semuanya mendapatkan perintah dan kewajiban untuk melaksanakan ibadah sesuai kemampuannya serta berhak mendapatkan imbalan pahala sebagai ganjarannya.

Saat membahas contoh adab dan perilaku, tak terhitung banyaknya perilaku Hazrat Rasulullah SAW yang telah ditunjukkan kepada umat Islam dalam upaya menghapuskan rasisme dan perpecahan antar umat manusia,  salah satu yang diajarkan Hazrat Rasulullah SAW adalah setiap Muslim wajib menunjukkan kecintaan serta persaudaraan antara satu dengan lainnya, ucapan salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” yang dihimbau agar diucapkan antara seorang Muslim dengan lainnya dengan kewajiban membalas “Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh”, merupakan salah satu contoh nyata bahwa setiap Muslim harus selalu mengharapkan kebaikan kepada Muslim yang lain layaknya saudara yang saling menjaga dalam kebaikan, terdapat pula himbauan agar setiap Muslim menjaga tangannya serta lisannya dari merugikan orang lain, serta kewajiban bagi setiap Muslim untuk menghormati dan siap sedia menolong tetangga tanpa peduli apa ras, suku, serta agama. Dan jika dibahas lebih lanjut tentu artikel singkat ini tidak akan sanggup menjabarkan bagaimana sikap mulia Rasulullah SAW mampu menyatukan banyak suku-suku yang terpecah belah dalam kebencian dan peperangan sebelum hadirnya Islam menjadi sebuah kesatuan umat yang seluruhnya bersatu padu.

Sungguh begitu banyak ajaran mulia di dalam Islam yang ditujukan demi mempersatukan seluruh umat manusia, contoh lain yang ditunjukkan Islam dalam memusnahkan rasisme di muka bumi dapat dilihat dalam prosesi ibadah Haji, dimana seluruh jama’ah Haji yang dengan berbagai latar belakang bangsa, adat budaya dan status sosial beriringan menggunakan pakaian yang serupa serta melakukan tawaf yakni berjalan bersama mengitari Ka’bah dalam satu gerakan yang sama.

Kembali pada pembahasan mengenai kasus yang menimpa Abu Janda, terlepas dari benar maupun tidaknya bahwa kasus tersebut terkait isu rasialisme, sudah sepatutnya kita menghindari adanya segala ujaran yang mengandung penghinaan maupun kebencian karena terbukti bahwa kebencian hanya membawa kepada kerusakan. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan sempurna diliputi segala kelebihan serta potensi yang berbeda antara satu dengan lainnya, namun semuanya adalah setara. Rasisme tidak lain merupakan salah satu bentuk kebencian dan Islam telah sejak awal mengingatkan kita akan akibat serta bahaya yang dapat ditimbulkannya. Mari bersama kita hapuskan segala kebencian di muka bumi, dengan menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman, disertai semangat “Love for All, Hatred for None”. Cinta adalah untuk semua, tiada tempat bagi kebencian untuk siapapun jua.


Oleh : Irfan Sukma Ardiatama

Sumber:

Bowser, B. P. (2017). Racism: Origin and Theory. Journal of Black Studies, 48 (6), 572-590. https://doi.org/10.1177%2F0021934717702135

https://www.alislam.org/book/pathway-to-paradise/islamic-viewpoint-on-contemporary-issues/

https://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Indonesia

https://tirto.id/kronologi-kasus-abu-janda-dan-dugaan-rasisme-ke-natalius-pigai-f91K

Sumber Gambar : Media Indonesia