Jangan Jadi Covidiot! Masalah Mental Pada Wabah Virus Corona

463

Wabah SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan penyakit Covid-19 semakin merajalela di Indonesia. Semenjak pertengahan Maret Pemerintah Pusat telah menganjurkan seluruh warga Indonesia (khususnya di wilayah yang paling terdampak coronavirus) untuk melakukan social distancing, sebuah “gerakan” komunal untuk mengurangi tingkat penularan virus tersebut. Social distancing itu pada dasarnya adalah membatasi segala kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan orang lain atau perkumpulan orang banyak. Presiden pun menganjurkan warganya untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Respons masyarakat sangat beragam, mulai dari rasa senang karena “libur” panjang, ada yang bingung dengan perubahan-perubahan sistem yang terjadi, ada juga yang kesal karena omzet penjualannya menurun. Pengertian secara detail social distancing sudah tersedia banyak di media massa, jadi tidak perlu dijelaskan lagi dalam tulisan ini. Sampai saat ini social distancing masih menjadi solusi jangka pendek yang terbukti efektif mengurangi penyebaran virus.

            Tapi bersamaan dengan social distancing atau “isolasi rumah” ini timbul ancaman (tidak begitu) baru yang tidak kalah menyeramkannya, yaitu perasaan kesepian. Sebagai makhluk sosial, interaksi antar-individu menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia. Isolasi tanpa dukungan sosial dapat menyebabkan orang merasakan kesepian. Rasa kesepian yang berlebih dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi, dan depresi dapat membuat orang ingin bunuh diri. Menurut WHO, setiap tahunnya hampir 800.000 orang yang mati akibat bunuh diri[1]. Artinya setiap bulan kira-kira 60.000 orang di dunia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, 6 kali lipat lebih banyak daripada korban jiwa positif Covid-19 (sampai artikel ini ditulis ada 13.000 korban jiwa)[2].

            Sebelum menyelam lebih dalam mengenai dampak kesehatan mental dari social distancing, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu rasa kesepian. Rasa kesepian seringkali dihubungkan dengan kesendirian, tapi belum tentu seseorang yang sering menyendiri adalah orang-orang yang kesepian. Kesepian hadir ketika adanya ketidakseimbangan ekspektasi dan realita[3], dalam hal ini, mengenai kehidupan sosial. Misalnya seseorang memiliki ekspektasi (atau kebutuhan) teman dengan kuantitas atau kualitas tertentu, namun realitanya mereka tidak memiliki itu. Setiap orang memiliki kebutuhannya masing-masing: bagi beberapa orang, memiliki 1-2 teman dekat sudah cukup. Tapi bagi sebagian orang lain, perlu 10 orang teman dekat untuk membebaskannya dari rasa kesepian. Terlepas dari kuantitas, kualitas sebuah hubungan sosial juga termasuk dalam kebutuhan kita, mungkin seseorang memiliki banyak teman tetapi tetap merasakan kesepian karena sesungguhnya yang ia butuhkan bukan sebatas teman biasa namun seorang “teman hidup”. Atau seseorang yang bisa memberinya hubungan yang lebih intim, misalnya keluarga inti kita.

            Supaya lebih mudah dipahami, intinya rasa kesepian itu sama seperti rasa lapar atau kantuk. Kita merasakan lapar ketika kita membutuhkan asupan nutrisi, kita merasa kantuk ketika kita membutuhkan istirahat alias tidur. Begitu pula kita akan merasakan kesepian ketika kita merasa membutuhkan interaksi sosial yang lebih (secara kuantitas atau kualitas). Ketika kita merasakan kesepian, saraf simpatik (saraf otonom yang berkaitan dengan refleks fight or flight) meningkat. Kesepian akan membuat tubuh melepaskan hormon kortisol (hormon stress) dalam jumlah yang lebih tinggi. Kondisi stress ini adalah suatu hal yang positif karena dapat mengantarkan kita untuk melakukan perubahan. Sama halnya ketika kita jadi kuat begadang belajar semalaman akibat stress akan ujian di keesokan harinya.

Stress memang seharusnya dirasakan dalam durasi yang singkat-singkat saja. Kondisi stress dapat meningkatkan tekanan darah, meningkatkan denyut jantung, kewaspadaan berlebih, dan sebagainya. Dalam jangka waktu yang lama, perasaan stress akibat kesepian dan isolasi dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit jantung. Lebih jauh lagi stress dapat membuat sistem imun kita menurun, padahal sistem imun sangat penting untuk proteksi kita dalam keadaan wabah penyakit ini. Stress yang disebabkan oleh rasa cemas atau was-was juga bisa menimbulkan gejala yang mirip dengan covid-19: rasa lemas, keringat dingin, palpitasi (denyut nadi meningkat), pusing, hingga sesak napas.

Salah satu ciri orang yang cemas adalah ketika ia selalu menduga-duga kondisi yang tak pasti. Banyak orang yang cemas bahkan parno (paranoid) dan membayangkan “bagaimana jika saya tertular?” Atau “bagaimana jika saya menularkan ke orang terdekat saya?” Suatu hal yang wajar dan baik sebenarnya. Tapi rasa cemas yang berlebihan selain membuat diri kita menjadi stress tapi juga membuat orang lain kena batunya. Sejak bulan Februari kemarin stok masker di toko-toko sudah habis diborong oleh orang-orang, lalu belakangan stok hand sanitizer juga habis, bahkan beberapa bahan-bahan pokok juga menipis diborong orang. Fenomena panic buying itu sangat merugikan orang-orang lain yang memang lebih membutuhkan. Di Australia terjadi peristiwa yang miris, seorang pria batuk-batuk, sesak napas, dan terjatuh mendadak di sebuah pecinan di Sydney. Orang-orang yang melihat peristiwa itu ketakutan dan menjauhi pria itu, tidak ada yang berani memberi kompresi dada (CPR) dan napas buatan kepada orang tersebut karena takut “jangan-jangan pria itu suspek corona”, akhirnya nyawa pria yang diduga mengalami serangan jantung itu tidak dapat diselamatkan[4]. Orang-orang yang merugikan orang lain atau “memanfaatkan” wabah untuk mencari keuntungan adalah Covidiot[5], orang-orang idiot yang bukannya mengedepankan rasa kemanusiaan tetapi malah rasa egoisme pribadi. Menurut Urban Dictionary, Covidiot adalah mereka yang tidak memperdulikan arahan dari pemerintah atau pihak berwenang dan orang yang memborong benda-benda dan menyimpannya untuk keperluan pribadi. Ada kemungkinan para Covidiot ini adalah orang-orang yang kesepian.

Menurut penelitian[6], semakin seseorang merasakan kesepian, semakin kecil kemungkinan mereka melakukan usaha-usaha untuk melindungi sesama manusia. Seseorang yang merasa terhubung dengan tetangga atau orang-orang yang berada di sekitarnya akan memiliki perasaan untuk membantu, dalam hal wabah: membantu dengan melakukan vaksin atau mencuci tangan lebih sering. Sedangkan orang-orang yang kesepian (tidak memiliki hubungan baik dengan orang sekitar) menjadi egois dan memikirkan kepentingannya masing-masing. Pada fitratnya, manusia jika terancam jiwanya akan secara otomatis mengeluarkan insting binatangnya, bagaimanapun haus bisa survive dengan menghalalkan segala cara.

Kita sudah membahas alasan orang kesepian adalah karena tidak kesesuaian antara ekspektasi dan realita, juga kesendirian belum tentu menyebabkan kesepian. Kesendirian atau isolasi fisik bukanlah penyebab utama munculnya rasa kesepian, tapi isolasi emosi dan isolasi sosial lah penyebabnya. Seseorang bisa saja berada dalam isolasi fisik seperti dalam social distancing ini, tapi tidak terputus (disconnected) dengan lingkaran sosialnya. Sebaliknya, seseorang bisa tinggal dan berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya dalam keseharian, tetapi tidak berhubungan secara sosial dan emosi.

Islam sebagai Agama yang hidup dan sesuai dengan kondisi alami manusia punya solusi yang ada di dalam tubuh Islam itu sendiri, salah satunya adalah keutamaan berjamaah dalam melakukan ibadah. Keberkahan Islam baru bisa dirasakan sepenuhnya ketika seorang muslim memiliki jemaat (organisasi). Nabi Muhammad bersabda dalam hadis yang populer bahwa salat berjamaah memiliki derajat 27 kali lebih tinggi daripada salat sendirian, dan Allah bersama orang yang berjamaah. Islam menekankan setiap muslim dan muslimah untuk berbuat baik kepada orang lain atas nama kemanusiaan dan cinta kepada sesama makhluk Allah. Islam juga menghendaki setiap muslim untuk paling tidak melakukan kegiatan ibadah bersama setiap hari raya (Hari Eid, termasuk hari Jumat).

Namun berbeda dengan Jumat tanggal 20 Maret 2020, wabah virus corona yang semakin meluas di Indonesia menuntut langkah cepat dari Pemerintah. Keputusannya, di daerah-daerah yang sudah terkonfirmasi terdampak virus corona beberapa masjid tidak melangsungkan Ibadah salat Jumat. Hal itu didukung oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia. Inilah bukti masih hidupnya Agama Islam. Walaupun begitu, Beberapa Covidiot protes di Masjid Raya Bandung. Mereka marah karena merasa haknya dibatasi [7]. Hal tersebut menyusul peristiwa ngeyel yang membuat kasus postif corona di Negara Tetangga, Malaysia meningkat drastis: Tabligh Akbar di Masjid Sri Petaling, Kuala Lumpur. Di dalamnya termasuk 600-an WNI yang ikut [8]. Apa yang mereka anggap bagian dari keberkahan, justru membawa kerugian bagi orang lain.

Setiap orang merasa dampak yang berbeda dari social distancing, kita boleh saja mengejek para Covidiot yang pergi liburan ke luar kota atau yang menimbun masker di rumah, tapi jangan mengutuk. Mereka punya alasan atas perbuatannya tersebut, dan semua tidak lebih hanyalah respons alami dari kondisi psikologis mereka. Mengetahui dampak stress, kesepian, dan kecemasan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, bagaimana kita bisa menghidari atau paling tidak meminimalisir dampak destruktifnya? Berikut beberapa hal yang direkomendasikan psikolog klinis dan psikiater:

  • Jangan menghakimi diri sendiri

Perasaan cemas dan kesepian adalah sesuatu hal yang normal, rasa stress yang dihasilkan bisa menjadi dorongan bagi kita untuk melakukan perubahan. Tetapi hal tersebut bisa menjadi suatu yang merusak ketika kita mulai menghakimi diri sendiri dan tidak segera move on. Kenali diri sendiri, coba identifikasi apa yang menyebabkan munculnya rasa cemas dan kesepian itu, lalu segera cob acari solusinya.

  • Hindari ketidakpastian

Ketidakpastian yang ada dalam kondisi wabah ini adalah sumber kecemasan. Cara mengurangi ketidakpastian yang dirasakan adalah dengan menyeleksi informasi yang kita dapatkan. Pertama, dapatkan informasi dari sumber-sumber berita yang reliabel, misalnya dari akun resmi pemerintah atau organisasi yang kompeten seperti WHO. Kedua, jangan terlalu sering melihat media sosial terutama yang berkaitan dengan virus corona, lihatlah update paling tidak dua kali sehari untuk menghindari cemas yang berlebihan. Ketiga, jika memang keluar rumah dan membeli barang-barang tertentu dapat mengurangi rasa cemas kita, lakukanlah, dengan catatan beli barang dalam kadar yang rasional dan tidak merugikan orang lain.

  • Lakukan kegiatan rutin

Dalam kondisi isolasi rumah tetaplah lakukan kegiatan yang rutin mulai dari jadwal tidur, olahraga (exercise), mengerjakan tugas sekolah online dan kegiatan self-care yang lain seperti membaca buku serta tentunya mengonsumsi makanan yang bernutrisi seimbang untuk mempertahankan kondisi imunitas tubuh kita tetap prima.

  • Lakukanlah kegiatan yang men-distraksi

Memikirkan tentang virus terus bisa membuat kita semakin tidak tenang. Lakukanlah hal-hal yang membuat kita engaged dan mendistraksi kita. Bacalah buku dengan topik lain, dengarkanlah podcast yang membahas isu-isu selain corona, tontonlah video dan film-film yang mengalihkan perhatian kita, main gim, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Serta jangan merasa bersalah saat melakukannya, inilah saatnya kita melakukan itu semua dengan perasaan senang, walaupun kurang produktif.

  • Carilah cara untuk selalu berhubungan dengan orang lain

Kesepian diakibatkan oleh diskoneksi dengan kehidupan sosial. Manusia selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Dalam kondisi isolasi, tetaplah berusaha untuk membuat koneksi dengan orang-orang terdekat kita: keluarga, sahabat, atau partner. Di zaman digital ini dengan mudah seseorang dapat menelepon atau bahkan video-call orang lain tanpa harus memperdulikan jarak yang memisahkan. Lagi-lagi: isolasi fisik bukan berarti isolasi sosial dan emosi. Beberapa orang lebih rentan dengan kesepian, misalnya para lansia. Jika kita memiliki anggota keluarga yang lansia, berilah perhatian dan pengertian lebih. Berinteraksilah dengan cara-cara yang aman. Jangan biarkan corona menjauhkan kita.

  • Ingatlah Tuhan

Hal yang terpenting dalam wabah ini adalah kita harus bisa mengambil hikmah dan menjadikan masa isolasi ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Para Rasul Tuhan mengisolasi diri di tempat yang jauh dari manusia: Nabi Musa di atas Gunung Sinai; Nabi Muhammad di Gua Hira, semua itu untuk memfokuskan perhatian kita pada eksistensi Tuhan. Setiap agama memiliki caranya masing-masing yang sama baiknya dalam hal ini. Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Ar-Ra’d ayat 29:

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

‘Ketahuilah! Hanya dengan mengingat Allah, hati akan memperoleh ketentraman.’

Marilah dalam kondisi ini kita melatih rasa kemanusiaan kita. Walaupun Keadaan menghendaki kita untuk berbuat mengedepankan kebutuhan-kebutuhan pribadi, jangan sampai lupa bahwa diluar sana masih banyak orang yang lebih membutuhkan. Segala wabah pasti akan berlalu, dan untuk kasus kali ini dibutuhkan kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat antar sesama manusia. Dukunglah pemerintah dan tenaga kesehatan yang berjuang demi kalian. Jangan jadi Covidiot! Jadillah Pahlawan!


Oleh: Rafif Adianto Abdul Wahab

Sumber:

[2] Worldometer. COVID-19 Coronavirus Pandemic, Last Update 22 March 2020. Online. https://www.worldometers.info/coronavirus/

[3] Cox, Daniel A.; Streeter, Ryan; Wilde, David. 2019. A Loneliness Epidemic? How Marriage, Religion, and Mobility Explain The Generation Gap In Loneliness. AEI

[4] Too Scared to Help: Bystanders ‘refused to carry out CPR’ on man who had a heart attack and died in Sydney’s Chinatown over fears he had the coronavirus. Diakses pada 20 Maret 2020. Online. https://www.dailymail.co.uk/news/article-7944835/Bystanders-refused-CPR-man-heart-attack-died-fears-coronavirus.html

[5] Urban Dictionary. Covidiot Definition. https://www.urbandictionary.com/define.php?term=Covidiot

[6] Abdullah Shihipar. Coronavirus and the Isolation Paradox. Opinion, The New York Times. Online. Diakses pada 20 Maret 2020. https://www.nytimes.com/2020/03/13/opinion/coronavirus-social-distancing.html

[7] Suarajabar.id. Sekelompok Orang Ngamuk di Masjid Raya Bandung karena tidak boleh Salat Jumat. 20 Maret 2020. https://jabar.suara.com/read/2020/03/20/164723/sekelompok-orang-ngamuk-di-masjid-raya-bandung-karena-tak-boleh-salat-jumat

[8] CNBC Indonesia. Efek Tabligh Akbar, kasus Covid-19 Malaysia betambah 190. 15 Maret 2020. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200315175314-4-145000/efek-tabligh-akbar-kasus-covid-19-di-malaysia-bertambah-190