Kapan Edukasi Seks untuk Anak dapat dimulai?

500

“Menjadi sahabat untuk anak” merupakan kata-kata mutiara yang sering kita temukan dalam bahasan-bahasan seputar pola asuh anak. Orang tua diharapkan punya kelekatan khusus dengan anak-anaknya. Seolah, ia adalah sahabat bagi anaknya.

Ruang yang bernama persahabatan itulah, kelak akan menjadi pintu dari keterbukaan. Sebab keterbukaan adalah masalah yang selalu dijumpai para orang tua dari masa ke masa. Dan hanya kepada seorang sahabat, anak merasa nyaman untuk terbuka tentang banyak hal.

Satu potret tentang kedekatan antara orang tua yang belum lama ramai diperbincangkan orang datang dari seorang selebritis tanah air, yakni Yuni Shara. Dalam sebuah acara podcast, Ia menceritakan tentang anaknya yang kedapatan sedang menonton video dewasa. Ia tak lantas memarahi sang anak. Ia mengaku sangat terbuka dengan mereka. Termasuk pada masalah yang kebanyakan orang tua sulit terbuka dan mengambil sikap keras tentangnya.

Bagi Yuni, edukasi tentang seks perlu sejak dini dikenalkan kepada anak-anak. Sebab, orang tua tak bisa “handle” anak-anaknya 24 jam. Ia percaya, anak-anaknya tak mungkin tidak menontonnya di zaman seperti sekarang ini. Alih-alih marah mendapati anaknya menonton video dewasa, ia meresponnya dengan santai, menemani mereka, dan bertukar pandangan soal seks.

Pertanyaan yang mungkin menggelitik kita sebagai orang tua, sudah tepatkah edukasi seks dengan cara demikian? Dan apakah orang tua tetap harus santai ketika mendapati anaknya menonton video tak senonoh, lalu alih-alih marah malah menemaninya dan mendiskusikannya, meski pada akhirnya semua harus dijelaskan dengan bijak?

Saya punya pandangan yang sama dengan Yuni Shara tentang menjadi sahabat bagi anak. Saya pun berusaha agar anak-anak saya selalu terbuka tentang apa yang mereka rasakan dan temukan, meski mereka masih balita.

Pada titik ini, setiap orang tua pasti sepakat. Sebab, ketertutupan adalah masalah serius yang dialami banyak anak juga remaja saat ini. Mereka menjadi enggan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Mereka takut untuk menjelaskan orientasi tertentu kepada orang tuanya, khawatir orang tua mereka tak bisa menerimanya.

Pada titik ini, membuat anak terbuka dengan orang tua adalah penting. Hal tersebut menjadi perjuangan setiap orang tua untuk membangun hubungan layaknya persahabatan dengan anak-anaknya.

Akan tetapi orang tua adalah orang tua. Ia merupakan teladan sekaligus panutan bagi anak-anaknya. Bagaimana pun juga, orang tua perlu mengambil satu sikap tegas dan bijaksana bagi anaknya yang kedapatan menonton video dewasa.

Tentu, marah-marah kepada anak bukanlah satu sikap yang bijak. Anak-anak yang telah masuk masa pubertas, mereka mulai mempunyai sudut pandang tersendiri tentang kehidupan. Marak-marah takkan mengubah apapun. Malah membuat anak semakin menutup diri dari orang tua.

Mereka perlu penjelasan. Bukan pembiaran. Bukan juga penghakiman. Mereka butuh alasan mengapa suatu hal dilarang, oleh orang tua mereka juga agama. Dan agama, dalam hal ini Islam, memberikan penjelasan yang lengkap soal ini.

Kita bisa menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kesucian diri. Bukan hanya terhadap hal-hal kotor secara jasmani, tetapi juga hal-hal kotor dalam bentuk fikiran yang ditimbulkan dari melihat tontonan yang tidak senonoh.

Pada titik ini, orang tua bisa mulai mengedukasi anak-anak mereka tentang seks. Bahwa seks itu alamiah. Bahkan dalam lingkup pernikahan, seks itu suci, indah dan bernilai ibadah dalam pandangan Allah Ta’ala. Karena sangat alamiah, ia sebenarnya tak perlu diajarkan seputar kaidah juga aturannya.

Seperti bernafas, kita tak perlu diajarkan bagaimana cara bernafas. Jadi, seks itu akan menjadi suci dan dapat membawa kita pada surga keridhan-Nya, saat ia telah berada dalam mahligai rumah tangga.

Bahasan seputar ini akan sangat menyita kesabaran dan pengetahuan kita. Tapi, demikianlah karakteristik remaja, penuh dengan rasa ingin tahu. Pada titik ini, orang tua harus menjadi referensi utama anak-anaknya. Jangan sampai, ketidakpuasaannya mengantarkannya pada sumber lain yang belum tentu baik bagi dirinya.

Orang tua perlu sedikit tegas soal pornografi dalam bentuk apapun itu. hal itu benar-benar merusak. karena dapat menciptakan fantasi yang kotor dalam fikiran anak. Fantasi kotor inilah yang dapat membawa mereka pada jurang perzinahan.

Solusinya, anak harus disibukkan dengan banyak aktivitas fisik, akademis, dan juga kegiatan-kegiatan agama. Orang tua perlu mendorong mereka untuk fokus pada masa depannya yang masih panjang. Memotivasi mereka untuk berprestasi dalam berbagai bidang. Juga mengisi kehidupan mereka dengan muatan-muatan agama yang mendekatkannya kepada Allah Ta’ala.

Takwa adalah formula terbaik untuk menyusikan diri. Sebab kesucian dan kekotoran takkan bisa berbagi tempat. Untuk itu, orang tua perlu mengawal jalan-jalan keruhanian anak-anaknya. Memapah mereka untuk meraih kedekatan dengan-Nya. Juga menuntun mereka untuk mencicipi manisnya menjadi seorang hamba yang suci dan senantiasa menjaga kesuciannya.

Pertanyaanya kini, kapan edukasi seks bisa kita mulai? Jawabannya, bersabarlah hingga waktu itu tiba. Saat hubungan antara orang tua dan anak terbuka, akan datang masa ketika anak-anak bertanya soal ini. Saat masa itu datang, jadilah orang tua yang dapat menjawab rasa ingin tahunya dengan penuh hikmah dan bijaksana.


Penulis : Riyanti

Sumber Gambar : Unplash