Khotbah di Bukit

207

Sejarah Kristen Yesus (as)

Khotbah di Bukit

Sebuah Diskusi dengan Tuan Youngson, seorang Misionaris Kristen pada Juni 1911

Terjemahan kedalam bahasa Inggris oleh Fazl-e-Omar Foundation, Rabwah

Atas nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Kami memuji Allah dan memohon berkah-Nya atas Rasul-Nya yang mulia

            Manusia mengalami banyak hal dalam hidup mereka. Jika peristiwa penting kehidupan mereka dijaga dan berkomitmen untuk menulis, itu dapat menjadi sumber bantuan dan berkah bagi dirinya sendiri dan juga bagi banyak orang lainnya. Kadang-kadang, bahkan kejadian yang tidak berarti dapat membawa hasil yang luar biasa, penting, dan bermanfaat, sehingga hasilnya bagi mereka yang membaca dan mendengar kisah ini, itu menjadi sumber petunjuk.

            Di antara orang-orang Kristen, Khotbah di bukit dirayakan sebagai ajaran yang paling suci dan berwawasan dibandingkan dengan semua kitab suci dan potongan-potongan tulisan di dunia yang terbatas dalam perbandingan. Itu telah dipertimbangkan selama 1900 tahun terakhir dan banyak yang tertarik pada keanggunan dan keindahannya. Saya tidak merasakan ekpresi perasaan yang dalam yang mana Al-Masih mengucapkan kata-kata ini, tetapi bagi orang Kristen ini membantu sebagai petunjuk dan perisai terhadap malapetaka-malapetaka perangkap, jatuh ke lubang (musibah) dan perhitungan yang berat di masa depan dan jika seseorang bertindak berdasarkan (ajaran ini) dia dapat dilindungi dari semua jenis rasa sakit (kesusahan) dan penderitaan.

            Beberapa waktu yang lalu, saya kebetulan mengunjungi Dalhousie di mana saya mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan seorang pendeta terkenal Punjab.[1] Dalam pandangan saya teks ini sama pentingnya bagi para pencari kebenaran seperti Khotbah asli [dan oleh karena itu saya telah mencatat diskusi ini]. Karena diskusi ini diadakan dengan seorang Kristen di sebuah stasiun bukit, saya menganggapnya pantas untuk diberi judul “Sermon on The Mount” (Khotbah di Bukit). Diharapkan para pendeta Kristen memperhatikan ceramah tersebut dan tidak tersinggung oleh pemikiran-pemikiran yang sampaikan di dalamnya.

            [Pada sore hari] setelah shalat Ashar, sebagaimana kebiasaan kami, seorang teman dan saya berjalan-jalan dari Dalhousie ke Balun. Dalam perjalanan pulang ke rumah di malam hari, kami melihat seorang pendeta tinggi dengan janggut panjang di jalan. Saya merasa heran dari mana asalnya dan apa yang memotivasi dia untuk datang ke stasiun bukit yang jauh dan terpencil ini. Jadi saya memutuskan untuk menetapkan untuk memperkenalkan diri dengannya untuk mengapresiasi dia atas usahanya. Saya meminta Syed ‘Abdul Muhyi’ Sahib Arab, yang sedang menemani saya, untuk mendekatinya dan menyampaikan keinginan saya untuk bertemu dengannya dan apakah ada sesuatu yang tidak menyenangkan (hati) dalam hal itu.

 [Beberapa saat dari pendekatan kami] pendeta itu merasa senang, dan melihat kami bagaikan mangsa empuk untuk dakwah ajaran kristen, dia dengan senang hati mengundang kami ke rumahnya. Dia memberi tahu kami bahwa bungalonya terletak di sisi kiri di bawah kantor pos dan bahwa kami dapat menemuinya kapan pun kami mau.

            Hari kedua atau ketiga setelah pertemuan ini, sekali lagi kami bertemu dengannya di pasar Dalhousie. Dia membawa seikat buku dan hampir semua dari buku itu bertentangan dengan Islam yang ditulis dengan maksud untuk disebarluaskan di antara orang-orang Muslim yang kurang berilmu dan berpikiran sederhana dan menyebabkan mereka meninggalkan Islam dan bergabung ke dalam Kristen. Dia memberi kami dua brosur, yang sangat merendahkan Islam dan Pendirinya yang suci dari berbagai perspektif. Setelah membacanya; saya menjadi sangat bersemangat dan memutuskan untuk menyimpulkan masalah ini.

            Beberapa hari setelah pertemuan kami yang tidak disangka-sangka, saya, kira-kira bersama dua orang teman, meluangkan waktu untuk mengunjungi kediamannya. Setelah mencari selama setengah jam, akhirnya kami menemukan tempat kediaman pendeta. Itu adalah rumah besar mewah yang terletak di kawasan yang paling elok dan indah yang mengingatkan salah satu perkataan Yesus lebih mudah bagi unta untuk melewati lubang jarum ketinbang bagi orang kaya untuk memasuki Kerajaan Allah Ta’ala. Ada banyak rumah besar yang diberi tanda di sekitar Dalhousie, terletak di kawasan termegah, tetapi rumah indah dan menawan yang dimiliki oleh Misi Kristen (Rumah Tugas) adalah yang paling indah. Sejak itu Sahib Arab memulai diskusi kami dengan pendeta, oleh karena itu dia berjalan kedepan untuk meminta izin masuk.

 Pendeta itu berdiri di beranda rumahnya dan sembari melihat kami, memberikan sambutan hangat dan mempersilahkan kami bertiga duduk di ruang tamu. Dia meninggalkan ruangan sebentar dan sekembalinya, kami berbicara tentang berbagai perkara, termasuk kejadian terkini di Inggris. Pada saat perbincangan sedang berlanjut kami mengetahui bahwa dia telah menjadi seorang pendeta selama lebih dari 35 tahun dan telah berhidmat di beberapa tempat seperti Gujrat, Wazirabad dan Sialkot. Saat itu dia ditempatkan di Pune. Selama pertemuan kami, kami mengetahui Rev. Youngson, adalah namanya, ramah, lembut dan santun seperti yang dikatakan banyak orang yang mengenalnya mengatakan kepada kami bahwa dia demikan adanya.[2] Dia berusaha mengarahkan pembicaraan mengenai keberkatan-keberkatan Kristen dan ingin membahas secara rinci dan panjang lebar tentang Kekristenan, terutama pengaruhnya di Eropa, tetapi kami memberi tahu kepadanya bahwa karena keterbatasan waktu, mungkin itu akan lebih baik momentum untuk berbincang-bincang dalam persoalan pribadi- dalam hal Trinitas. Pendeta itu menyetujuinya dengan senang hati.

 Meskipun pembicaraan kami berlangsung selama hampir dua jam, sejauh yang saya ingat, topik pertukaran pikiran tersebut disajikan kembali di bawah ini. Diskusi kami dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Saya menjelaskan bahwa saya ingin menanyakan kepadanya pertanyaan tertentu bukan sebagai pengikut agama apapun, tetapi sebagai pencari kebenaran. Oleh karena itu, dalam dialog berikutnya saya akan menggunakan istilah untuk diri saya sendiri , sebagai ‘Pencari Kebenaran’.

 Pencari Kebenaran: Pendeta, apa gagasan Trinitas (Tritunggal) Anda?

Pendeta: Dalam pandangan saya, Trinitas terdiri dari perpaduan tiga oknum yaitu Allah Sang Bapa, Yesus Kristus Sang Anak dan Roh Kudus. Saya mengakui ketuhanan dari ketiganya.

Pencari Kebenaran: Pendeta! Apa yang Anda maksud dengan oknum?

Pendeta: (Sembari tersenyum) itu adalah kata yang diambil dari bahasa Anda sendiri [Urdu: Aqnum].

Pencari Kebenaran: Benar, tapi kami tidak menggunakan istilah ini untuk Tuhan. Oleh karena itu, kami kurang memahami arti dari kata ini ketika dipakai dengan mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pendeta: Saya tidak bisa menyarankan kata lain.

Pecari Kebenaran: Jika Anda tidak dapat menyarankan sebuah kata dalam bahasa Urdu atau Arab, bagaimana dalam bahasa Inggris?

Pendeta: Dalam bahasa Inggris kita menyebut ‘Personality(kepribadian).

Pencari Kebenaran: Saya pernah bertanya kepada seorang pendeta Amerika yang mengatakan kepada saya bahwa itu maksudnya ‘kapasitas’.

Pendeta: Tidak! Tidak! ‘Kepribadian’ akan menjadi terjemahan yang lebih akurat.

Pencari Kebenaran: Saya tidak mengerti ‘oknum’ maupun ‘Kepribadian’. Saya ingin Anda menjelaskan dengan jelas kepada saya peran apa yang dilakukan oleh ketiga wujud ini. Misalnya, siapa yang menciptakan dunia ini?

Pendeta: Anda tahu bahwa Tuhan itu pengasih dan esensi serta sifat-Nya adalah kasih sayang, tetapi segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara. Oleh karena itu, perlu adanya makhluk seperti anak yang dapat Tuhan kasihi. Anda akan setuju bahwa tanpa wujud seperti itu, cinta-Nya akan sia-sia.

Pencari Kebenaran: Pendeta, apa yang Anda katakan masuk akal, akan tetapi saat ini saya ingin memahami Trinitas, bukan kebutuhan-Nya. Pertanyaan saya adalah bagaimana dunia ini mulai berlaku dan siapa yang menciptakannya?

Pendeta: Tuhan menciptakannya dari Firman.

Pencari Kebenaran: Apakah Firman menjadi dunia dan apakah dunia ini bagian darinya (Firman) atau apakah Tuhan berkata ‘Jadilah’ dan itu terjadi?

Pendeta: (Dengan senyuman) Tidak. Kami tidak mengatakan dunia diciptakan ex nihilo. Ini adalah pandangan Arya. Suatu ketika seorang pengikut Arya Samaj bertanya kepada saya bagaimana dunia diciptakan dan bagaimana sesuatu bisa datang dari ketiadaan. Saya menjawab, bahwa ini bukan sudut pandang kami bahwa Tuhan dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan; bahwa Tuhan berkata, ‘Jadilah’ dan itu menjadi.

Pencari Kebenaran: Sungguh sebuah respon yang bagus, tetapi, pertanyaan saya adalah apakah dunia ini diakibatkan dari Firman, atau perintah Tuhan.

Pendeta: Firman itu adalah Al-Masih. Injil mengatakan bahwa pada mulanya ada Firman dan Firman itu bersama dengan Tuhan dan Tuhan itu sendiri. Itu meliputi segalanya, bahkan kehidupan. Jadi, Al-Masih bersama Tuhan sejak awal dan dunia diciptakan dari Al-Masih. Dalam Islam juga Al-Masih disebut “kalimah”. Apakah Anda ingin saya menguraikan atau memberi tahu Anda tentang hal ini?

Pencari Kebenaran: Pendeta, di awal diskusi kita, saya menyebutkan bahwa saya datang kepada Anda sebagai orang yang menganggap semua agama sama. Dan meskipun saya seorang Muslim, sekarang saya ingin berdiskusi dengan Anda sebagai orang yang masih meneliti agama-agama dunia. Oleh karena itu, mohon bicaralah kepada saya dengan berlandaskan pada Injil. Jika saya perlu mengetahui sesuatu dari Al-Qur’an, apa perlu menanyakan dengan Pendeta. Saya akan pergi ke maulawi [ulama Muslim] untuk mengetahui tentang Al-Qur’an dan saya akan mencari seorang Pandit untuk menanyakan tentang Weda. Tidak masuk akal pergi ke maulawi untuk belajar tentang Alkitab, atau pergi ke pendeta untuk belajar tentang Al-Qur’an. Silahkan bicaralah dengan saya menurut Alkitab.

Pendeta: (Dengan senyuman) Dari Alkitab kita belajar bahwa dunia diciptakan dari Firman.

Pencari Kebenaran: Pendeta, lalu mengapa Anda percaya pada Trinitas? Firman adalah salah satu dari banyak sifat Tuhan seperti “Yang Maha Mendengar”, “Yang Maha Kuasa”, “Yang Mahatahu” dan “Pencipta”. Mengapa sifat “Firman” dipilih? Sesungguhnya, semua sifat-Nya harus dianggap sebagai Tuhan. Jadi, menurut akidah agama Anda sendiri, Ketuhanan harus terdiri lebih dari sekedar trinitas.

Pendeta: Oh, tapi Anda salah paham. Apakah Anda menganggap perkataan Tuhan seperti ucapan manusia? Anda juga yakin bahwa Tuhan tidak seperti manusia dan bahwa Firman-Nya bukanlah suatu sifat tetapi suatu kekuatan.

Pencari Kebenaran: Pendeta, kata-kata adalah sarana komunikasi yang melaluinya kita mewujudkan kepada orang lain apa yang ada di hati kita, dan seperti yang telah Anda katakan, Tuhan sangat berbeda dari manusia. Dia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaan. Namun, Anda menegaskan bahwa seperti Tuhan, manusia juga diberkati dengan banyak sifat seperti penglihatan, pendengaran dan pengetahuan; demikian pula, Anda juga menganggap pancaindra-pancaindra itu berbeda dari sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa Anda membedakan antara Firman-Nya dan sifat-sifat-Nya yang lain?

Anda menganggap pengetahuan dan pendengaran-Nya adalah suatu sifat, tetapi menganggap Firman-Nya sebagai wujud yang sama sekali berbeda dengan alasan bahwa Tuhan tidak seperti manusia.

Ketika kita memanggil seseorang untuk datang kepada kita, mereka menanggapi instruksi ini. Ini adalah sarana komunikasi, tetapi kita tidak menganggap perkataan kita sebagai orang yang terpisah seperti diri kita sendiri juga kita tidak mengatakan bahwa kita adalah dua; artinya “kita” dan “Firman”. Mengacu pada Firman Tuhan sebagai suatu wujud, dan tidak melakukan hal yang sama dalam kasus sifat-sifat-Nya yang lain seperti pendengaran dan penglihatan, hal itu berarti lebih suka satu hal daripada yang lain tanpa alasan.

Mengapa Anda hanya menganggap Firman yang mana dunia diciptakan sebagai sebuah wujud Ketuhanan? Dan mengapa Anda tidak menganggap Taurat, Injil dan kitab suci kenabian lainnya sebagai Tuhan-Tuhan terutama semenjak Yohanes berkata ‘pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama dengan Tuhan, dan Firman adalah Tuhan.’

Pendeta: [Dengan senyuman] Tidak! Tidak! Kami tidak menganggap Alkitab sebagai Tuhan. Ini bertentangan dengan ajaran-ajaran agama kami. Kami menganggap Firman sebagai wujud, bukan sifat.

Pencari Kebenaran: Menurut anda, apa sebenarnya Firman itu?

Pendeta: Kekuatan.

Pencari Kebenaran: Anda menganggap Firman sebagai kekuatan, tetapi kekuatan tidak ada yang berdiri sendiri. Sebagai contoh, saya memiliki kekuatan untuk memegang sesuatu di tangan saya tetapi ini di luar kemauan saya. Ia tidak memiliki pengetahuan independennya sendiri (yang berdiri sendiri). Ketika saya mengarahkan tangan saya untuk menggenggam sesuatu, ia melakukannya. Dengan kedua tangan ini, saya dapat memegang benda yang paling bermanfaat dan merugikan. Sebagai contoh, saya baru saja menginstruksikan tangan saya untuk mengambil benda ini – dan sesuai dengan kemauan dan pengetahuan saya, ia mematuhinya – tetapi tangan saya tidak paham sendiri atas tindakannya. Jika Anda merujuk pada Firman sebagai Al-Masih dan kemudian pada saat yang sama menyebutnya sebagai kekuatan, meskipun demikian, Al-Masih dan kekuatan yang dimilikinya tidak dapat dianggap sebagai dua makhluk yang terpisah. Setiap makhluk disertakan dengan semacam kekuatan dan kapasitas (kemampuan), oleh karena itu, menurut filosofi Anda; kita harus berasumsi bahwa setiap makhluk memiliki dua wujud.

Kedua, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, dalam kasus seperti itu menunjukkan bahwa Al-Masih [sebagai wujud Kekuatan] kehilangan pengetahuan dan tujuan, karena Kekuatan sepenuhnya berada di bawah pengetahuan dan kehendak Tuhan. Apa pun yang menjadi instrument (alat) di tangan Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa dan tidak berkata-kata, dirinya tidak dapat menjadi Tuhan. Hanya Tuhan yang tanpa cela dan layak atas semua keunggulan.

Pendeta: Kami tidak menganggap Al-Masih tidak memiliki pengetahuan – Dia Maha Tahu.

Pencari Kebenaran: Memang benar bahwa Anda percaya Al-Masih memiliki pengetahuan, namun, dalam Injil, Al-Masih menyatakan tidak memiliki pengetahuan apa pun. Tapi ini bukan urusan saya saat ini. [Mari kita misalkan sejenak] Saya percaya pada apa yang Anda katakan dan Al-Masih adalah tuhan. Tapi ini hanya soal kepercayaan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya datang kepada Anda sebagai pencari kebenaran yang ingin membandingkan berbagai keyakinan dunia untuk sampai pada kesimpulan mana yang benar. Dan karena orang yang mencari kebenaran tidak mengikuti kitab suci apa pun – mereka perlu diyakinkan oleh logika dan alasan. Seperti yang telah saya sebutkan, jika Al-Masih adalah Firman, maka dia tidak memiliki pengetahuan. Baik dia bukan Firman, atau jika dia memang Firman, maka dia kehilangan pengetahuan apapun.

Pendeta: Tidak diragukan lagi ini adalah apa yang sejalan oleh logika dan nalar, tetapi Injil berbeda.

Pencari Kebenaran: Bisakah seseorang memahami Trinitas melalui logika?

Pendeta: Manusia tidak dapat memahami realitas dan alam ketuhanan.

Pencari Kebenaran: Tuhan telah menjadikan daya akal sebagai sarana untuk memperoleh pemahaman jadi bagaimana seseorang bisa percaya terhadap apapun tanpa daya akal. Ya, ada hal-hal yang di luar akal kita, tetapi tidak ada agama Ilahi yang mengharapkan orang untuk percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal.

Saya setuju dengan Anda bahwa pengetahuan manusia tidak dapat mencakup realitas Tuhan karena hal itu terbatas, tetapi keyakinan yang menjadi dasar keselamatan kita harus ada dalam pemahaman kita, jika tidak, pintu keselamatan selamanya akan tertutup bagi kita. Sebagai contoh, keyakinan akan keberadaan Yang Mahakuasa sangat penting untuk keselamatan kita; dan bukti untuk keberadaan Tuhan harus sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan rasionalitas kita.

Kita melihat bahwa dalam kenyataannya, melalui berbagai macam cara, kecerdasan manusia dipaksa untuk percaya terhadap keberadaan Tuhan. Tanpa ini, pikiran tidak dapat memahami keberadaan Tuhan. Karena itu, agama-agama Ilahi tidak pernah mencari hal-hal seperti itu. Adapun sifat-sifat Ilahi, tentu saja telah disebutkan, karena itu adalah sesuatu yang bisa digenggam (dipahami). Demikian pula, menurut keyakinan anda, Trinitas adalah prasyarat paling integral (sempurna) untuk mencapai keselamatan dalam Kekristenan; oleh karena itu, ini adalah hal yang penting bahwa hal itu dijelaskan dengan sedemikian rupa sehingga akal manusia dapat memahaminya.

Pendeta: Ya! Ini masuk akal, tetapi pertama-tama orang harus percaya pada Injil kemudian Trinitas.

Pencari Kebenaran: Seseorang dapat menerima Injil hanya jika mereka puas dengan prinsip-prinsip Kekristenan. Bagaimana seseorang bisa menerima Injil sebelum masalah ini terselesaikan?

Pendeta: Seperti yang sudah saya katakan, sulit untuk memahami prinsip-prinsip tanpa terlebih dahulu menerima Injil.

Pencari Kebenaran: Baiklah, gagasan tentang Trinitas tidak dapat dipecahkan melalui logika dan nalar. Kalau begitu tolong ini jawab untuk saya – siapa yang mengatur urusan alam semesta, Tuhan Bapa atau Tuhan Anak?

Pendeta: Menurut Injil, itu adalah tanggung jawab Al-Masih, sang Putra.

Pencari Kebenaran: Apakah ini berarti bahwa Tuhan Bapa sekarang menganggur (tidak ada pekerjaan)?

Pendeta: Tidak. Penangguhan (penghentian) sifat-sifat Ilahi itu tidak mungkin. Tuhan Bapa mengatur langit dan bumi.

Pencari Kebenaran: Pendeta! Baru saja Anda mengatakan bahwa Anak-lah yang mengatur alam semesta. Tiga kesimpulan dapat diambil dari ini: Pertama, salah satu [dari Bapa dan Anak] tidak berlaku (aktif) dan dalam keadaan ditangguhkan, sementara yang lain berlaku (aktif) dan menjalankan tanggung jawabnya. Tetapi ini tidak dapat diterima karena itu berarti mengharuskan penangguhan sifat-sifat wujud lain yang merangkai Trinitas.

Kedua, baik Bapa maupun Anak membagi kekuasan di antara mereka sendiri karena diri mereka sendiri tidak dapat memenuhi tanggung jawab-tanggung jawab ini. Naudzubillah, sekali lagi ini menempatkan pembatasan pada kekuatan Tuhan dan demikian itu tidak dapat diterima.

Kasus ketiga adalah keduanya melakukan hal yang sama pada waktu yang sama. Ini juga tidak dapat diterima karena Tuhan tidak mengikutsertakan dalam aktivitas-aktivitas yang sia-sia.

Pendeta: Saya tegaskan bahwa perkara-perkara ini tidak dapat dipahami melalui logika. Pertama-tama orang harus percaya pada Injil – Firman Tuhan.

Pencari Kebenaran: Bagaimana seseorang dapat mempelajari Injil ketika prinsip-prinsip dasar Kekristenan berada di luar pemahaman? Anda sendiri telah mengakui bahwa Trinitas tidak dapat dipahami melalui akal. Kami izin pergi sekarang, karena diskusi lebih jauh adalah sia-sia. Ada beberapa perkara tertentu yang ingin kami diskusikan – mungkin kita dapat membicarakannya di lain waktu.

Pendeta: Akal manusia tidak dapat mencakup keberadaan Ilahi, oleh karena itu kami lebih menekankan pada prinsip penebusan dosa. Saya berharap kita melanjutkan diskusi kita di kemudian hari.

Kami berjanji untuk bertemu lagi dan singgahlah kembali ke penginapan kami di mana jawaban-jawabannya terus mengejutkan kami untuk waktu yang lama.


Penulis: Mirza Bashir-ud-Din Mahmood Ahmad, Khalifah Muslim Ahmadiyah ke-2

Penerjemah: Mansyur Ahmad Yahya, Sulthan Nasir dan Zafrullah, JAMAI Darjah Tsalitsah Studi Muwazanah Madzahib (Perbandingan Agama) tahun ajaran 2020-2021. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Dalhousie adalah sebuah bukit tempat peristirahatan di kaki bukit Himalaya. [Penerjemah]

[2] Rev. J.W. Youngson: Kepala Sekolah Sekolah Menengah, Misi Scotch, Pendiri Kepala Sekolah Murray College, Sialkot (1889-1891) [Penerjemah]

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/ZySVEbGBNxA