Orang Tua sebagai Suri Tauladan dalam Pendidikan Seks

84

Setiap orang tua berhak menentukan cara mendidik anak-anak mereka. Tak terkecuali memberikan pendidikan tentang seks. Pendidikan seks pada dasarnya adalah untuk mempersiapkan dan mengoptimalkan perkembangan mental akan pemahaman tentang diri sendiri. Apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan hingga terbentuk perilaku dan moral yang baik.

Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Jemaat Ahmadiyah Indonesia menjelaskan bahwa manusia berada dalam tiga macam keadaan, yaitu keadaan thabi’i (alami), akhlaki dan rohani. Pada keadaan thabi’i (alami) manusia pada dasarnya memiliki sifat manusiawi yang dapat membawanya kepada kejahatan yang bertentangan dengan kesempurnaannya. Sedanglan keadaan akhlaki adalah keadaan dimana manusia enggan serta menyesali bertingkah laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan alaminya, juga selalu berusaha melakukan kebaikan-kebaikan. Dan keadaan rohani adalah dimana manusia berada dalam keadaan yang tentram bebas dari kelemahan-kelemahan serta tenggelam terhadap Tuhannya – sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Dalam keaadaan ini, Tuhan senang dengan kita, sesuai dengan Firman Allah dalam QS al-Fajr ayat 27-30 yang berbunyi

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”

Dalam keadaan thabi’i, mausia lebih cenderung berjalan pada jalan yang tidak baik. Bahkan sama seperti sifat-sifat hewan. Mulai dari kebiasaan mereka makan-minum, tidur-bangun, menunjukkan amarah dan naik darah, dan begitu juga kebiasaan-kebiasaan lainnya termasuk nafsu hewani terhadap lawan jenis, manusia ikut kepada dorongan alaminya. Ringkasnya manusia – dalam hal ini seorang anak perlu dibimbing untuk menggunakan akal, pikiran dan hatinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Disinilah peran orang tua dituntut membimbing dan mendidik anak-anak untuk mampu menjadi manusia sempurna yang bermoral meskipun memiliki sifat-sifat dan dorongan-dorongan thabi’i (alami). Orang tua harus bijak memilih cara mendidik dengan menyesuaikan kapastias yang ada pada diri anak. Sehingga anak mampu memahami dengan baik bagaimana seharusnya membawa, menempatkan dan melindungi diri di kehidupan sosialnya. Kemampuan mengendalikan diri, memperhatikan timbang rasa, menahan keinginan terhadap hal-hal yang dilarang agama, disadari atau tidak terbentuk dengan baik dalam diri anak. Dari sinilah terbentuk iman yang kuat dan akhlak yang mulia.

Penanaman pendidikan agama sangatlah penting termasuk dalam perkembangan seksual anak dalam membentengi diri. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan kuat, serta  tidak mudah terjerumus godaan hawa nafsu. Lagi-lagi orang tua dituntut untuk menjadi figur dan suri tauladan bagi anak-anak mereka. Sungguh ironis jika orang tua – khususnya ibu memilih cara yang tidak sepatutnya dalam mendidik anak-anak mereka. Karena mendidik itu adalah mencontohkan, maka orang tua harus menjadi contoh atau figur yang baik yang dapat ditiru anak-anak mereka. Seperti terdapat dalam buku Surga Di Bawah Telapak Kakimu karya Perempuan Ahmadiyah USA, dikatakan bahwa “anak-anak adalah peniru yang hebat, maka berikanlah sesuatu yang hebat untuk mereka tiru”.

Kembali ke soal pendidikan seks untuk anak. Apakah menonton video porno bersama anak termasuk ke dalam pendidikan seks? Sebagai manusia yang beriman dan berintelektual sepatutnya kita tidak tenggelam dalam keaadaan thabi’i. Jika seorang ibu memilih cara menjadi teman dalam mendidik anak mereka, itu sah sah saja. Namun perlu diingat anak adalah cerminan orang tua. Menonton film porno bersama anak yang sudah cukup umur sekalipun dengan alasan apapun tidaklah dapat diterima sama sekali. Karena ketika menonton video porno, otomatis keadaan alamiah kita yakni sebagai manusia akan bangkit dan kita akan jauh dari keaadan rohani. Sehingga kita tidak akan bisa menjadi jiwa yang mana Tuhan senang kapada kita. Bahkan sangatlah mungkin anak akan melakukan hal dan cara yang sama terhadap anak-anak mereka kelak. Maka dapat dibayangkan kehancuran moral yang dahsyat pasti terjadi. Secara keadaan thabi’inya, anak akan mengulanginya lagi. Bisa bisa anak tidak akan merasa malu menyatakan nafsu hewaninya kepada siapapun. Dan kondisi terburuknya adalah anak tidak mengenal batasan-batasan yang benar dan tidak benar.

Orang tua yang seharusnya menjaga anak-anak dari hal-hal buruk, dengan melakukan cara menonton film porno bareng anak – tanpa mereka sadari, mereka sendirilah penjerumus. Mereka dapat juga disebut pelaku pelecehan seksual itu sendiri, yang korbannya adalah anak-anak mereka sendiri. Sangat tidak benar anak atau orang tua sekalipun menonton film porno. Dan memang tidak ada manfaat apapun di dalamnya. Inilah maksud dari keberadaan iman, yaitu untuk menjaga kesucian hati dan pikiran. Coba pikirkan, jika seorang ibu menemani anak-anak mereka menonton film porno dengan dalih memberikan pendidikan seks dan sebagainya, lalu suri tauladan apa yang anak dapatkan dari ibu mereka? Karena sejatinya pendidikan seks itu bertujuan untuk pembentukkan perilaku, akhlak dan moral manusia. Maka dari itu dalam hal ini, suri tauladan yang baik merupakan hal yang sangat penting.


Oleh : Upi Sufiatunisa

Sumber Gambar : fimela.com