Pengadilan terhadap Yesus (as) dan permulaan dari yang akhir

88

Baca bagian sebelumnya : Bagaimana Yesus Menjadi Putra Ilahi Allah? Plot (Rancangan) kaum Yahudi Melawan Yesus (as) | RajaPena.Org

Untuk memahami apa yang terjadi, maka kita kembali kepada orang-orang Yahudi dan apa hubungan mereka dengan Yesus. Ketika membaca Injil, kita telah menemukan bahwa orang-orang Yahudi berkali-kali berusaha untuk menanggapi secara salah terhadap ucapan-ucapan dan perilaku Yesus (as), dalam rangka mengeluarkan kalimat-kalimat itu dalam usaha memalingkan orang-orang darinya dan menangkapnya. Di suatu tempat, Injil Lukas menyatakan, “Para ahli Taurat dan imam-imam kepala mengamat-amati Yesus lalu mereka menyuruh kepadanya memata-matai yang berlaku seolah-olah orang jujur supaya mereka menjeratnya dengan suatu pertanyaan dan menyerahkannya kepada wewenang dan kuasa Wali Negeri.” (Lukas 20:20).

Pernyataan Matius: “Mereka pada akhirnya menangkap Yesus dan membawanya dengan dakwaan pada persidangan keagamaan, meskipun mereka membawa banyak saksi palsu namun mereka tidak mampu membuktikan dari tuduhan tersebut (Matius 26:60).

Diceritakan bahwa mereka tidak mendapatkan bukti dari tuduhan tersebut. Jika yesus (as) mendakwakan diri mengenai ketuhanan, orang-orang Yahudi pasti dapat membuktikannya dengan yakin melalui kepercayaan monoteistik. Ketika semua orang gagal mereka menggunakan siasat atau kartu ampuh yang terakhir dengan menuduhnya telah mengakau sebagai seorang anak tuhan. Itu adalah sebuah maksud yang tersembunyi. Jika dia mengingkari gelar ini, Yahudi akan menyatakan bahwa dia telah menolak sebagai gambaran anak tuhan secara metaforis dan oleh karena itu dinilai tidak saleh secara pribadi, bukan pula Nabi atau Mesias.

Tambahan lagi, mereka  (para pendakwa Yesus dari kalangan Yahudi) akan menuduhnya telah berbohong menyatakan bahwa sebelumnya dia tidak menyangkal sebutan itu untuk dirinya yang mana hal itu dapat menjadi sangkalan untuk klaim kenabiannya – seorang Nabi Tuhan tidak akan berbohong, sepenuhnya. Jika dia menerima sebutan itu (anak Tuhan), mereka (para pendakwa dari kalangan Yahudi) akan secara salah menanggapi hal itu dan menuntut bahwa dia memahami sebutan itu secara harfiah yang dengan demikiran berarti beliau telah melakukan penghujatan. Dan demikianlah mereka memfitnah Yesus. Yesus Alaihissalam sangat mengetahui praktik mereka ini. Mereka telah menggunakan pertanyaan licik dimana setiap respon akan diputarbalikkan oleh mereka dan akan mereka tampakkan sebagai sebuah kontroversi atau pernyataan penghujatan. Karena itu, strategi Yesus ialah menjawabnya dengan penuh kehati-hatian supaya tidak akan jatuh ke dalam perangkap mereka. Ia menggunakan taktik yang sama dalam persidangan.

Injil Matius dan Lukas menyatakan bahwa setiap jawaban untuk pertanyaan apakah dia anak tuhan, Yesus menjawab dengan penuh kehati-hatian dengan, “Kamu sendiri yang mengatakan saya adalah demikian.” (Matius ayat 2 pasal 26 ayat 64 dan Lukas pasal 22 ayat 70).

Injil Yohanes sepenuhnya diam tentang tuduhan yang sebenarnya tetapi menyebutkan bagaimana Yesus ditampar oleh seorang penjaga karena tidak menjawab secara langsung pertanyaan-pertanyaan dari imam-imam besar Yohanes pasal 18 ayat 22.

Hanya Injil Markus yang mengklaim Yesus menjawab dengan tegas, ‘Aku’, tetapi ada tuduhan yang berbeda – dia ditanya apakah dia adalah ‘Anak Yang Diberkati’, bukan ‘Anak Tuhan’, meskipun orang bisa berpendapat bahwa gagasan itu sama. Meski begitu, ‘Beberapa manuskrip dengan kualitas terbaca, ‘Kamu mengatakan bahwa aku demikian adanya.’[1]

Bagaimanapun juga, Yesus (as) sebelumnya telah dengan lugas menjelaskan kepada para pemimpin Yahudi bahwa ia hanya menggunakan istilah itu untuk dirinya sendiri secara metaforis, dan dalam kerangka monoteistik (Yohanes 10: 34-36), tetapi itu tidak ada gunanya. Orang-orang Yahudi terus menolak dia dan menuduhnya menghujat. Oleh karena itu, mungkin saja Yesus (as) merasa tidak ada gunanya berdebat dengan mereka selama persidangan – mereka tidak akan percaya atau membebaskannya tidak peduli apa yang dia katakan. Oleh karena itu, apakah dia menjawab dengan tegas atau samar-samar, itu hanya membuat sedikit perbedaan. Seperti yang ditunjukkan oleh peristiwa persidangan, dia tidak diperiksa dengan teliti atau diizinkan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut setelah mereka menyimpulkan dia telah menghujat dengan mengklaim dirinya adalah anak Tuhan.

Baca bagian selanjutnya : Keputusan Tuhan (Terhadap Yesus) Tidak dapat Diubah | RajaPena.Org


[1] (Brooks, J. A. (2001). Vol. 23: Mark (electronic ed.). Logos Library System; The New American Commentary (243). Nashville: Broadman & Holman Publishers.)