Say Goodbye to FoMO, Say Hello to JoMO

96

Kalau artikel sebelumnya sudah kita bahas tentang arti FoMO, gejala sampai tips supaya tidak terjebak oleh FoMO. Nah, sekarang giliran lawannya FoMO, yaitu JoMO. Seperti di era media sosial sekarang, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi yang paling up-to-date agar bisa mengukuhkan keeksistensiannya di dunia digital. Setiap hari, mereka akan berkutat di akun media sosialnya dan selalu mengikuti hal-hal baru yang sedang digandrungi banyak orang. Mereka seakan dikejar-kejar oleh tren dan tak mau dicap kurang gaul. Perasaan takut tertinggal inilah yang kerap disebut FOMO.

Tak hanya itu, orang-orang yang mengalami FoMO seringnya ingin selalu bergabung pada kegiatan-kegiatan sosial, mereka kerap kesulitan saat menolak undangan untuk berpesta. Mereka merasa memiliki kebutuhan untuk selalu terhubung dengan orang lain. Terkadang, mereka juga kerap membandingkan diri dengan orang lain. Karena melihat unggahan dari teman-temannya di media sosial, mereka jadi merasa bahwa hidupnya tak menyenangkan. Jika terus dibiarkan, hal ini tentu dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Oleh sebab itu, muncullah istilah bernama JoMO yang mulai digaungkan sebagai hal yang sangat berlawanan dari FoMO. JoMO atau Joy of Missing Out adalah istilah yang merujuk pada tindakan untuk tidak terlibat dalam kegiatan tertentu, terutama yang berkaitan dengan media sosial atau sumber hiburan lainnya. FoMO mempunyai kata sinonim seperti sibuk, terburu-buru, letih, terkapar, dan penuh. JoMO juga punya kata sinonim seperti niat santai, sengaja, bahkan berpusat pada prioritas.

JoMO didefinisikan sebagai perasaan kepuasan diri di mana seseorang sudah merasa cukup dengan hidupnya sehingga mereka merasa bebas dan lebih fokus pada hal-hal yang mereka senangi. Mereka yang menerapkan JoMO cenderung lebih tenang menjalani hidup tanpa takut melewatkan kesenangan bersama teman-teman. Adanya istilah JoMO diharapkan dapat melatih seseorang untuk mengendalikan obsesi yang berlebih, salah satunya dengan membatasi penggunaan media sosial.

Efek media sosial sudah banyak diketahui dapat memberikan pengaruh yang besar pada kesehatan mental, terutama di kalangan remaja. Tak jarang mereka dilanda perasaan kesepian dan stres setelah melihat akun media sosial orang lain. Baik perempuan maupun laki-laki akan mengalami efek FoMO bila terlalu sering membuka semua platform media sosial.

Bagaimana menerapkan JOMO dalam kehidupan sehari-hari?
Salah satu hal yang ingin ditekankan dalam praktik JoMO adalah menyisakan lebih banyak waktu, tenaga, dan emosi untuk benar-benar dipilah mana yang harusnya jadi prioritas utama. Berikut hal yang bisa Anda lakukan untuk memulainya:
Susun rencana untuk melakukan sesuatu yang bisa menghubungkan Anda dengan orang-orang terdekat. Bisa dengan janji bertemu di kedai kopi, jalan-jalan sore di taman dengan keluarga, atau melanjutkan lukisan yang belum terselesaikan. Kegiatan ini akan membantu mengalihkan perhatian Anda dari pikiran tentang kehidupan orang lain.

Matikan notifikasi agar tak muncul di beranda ponsel Anda, kecuali jika notifikasi tersebut merupakan surel yang berhubungan dengan pekerjaan atau hal-hal penting lainnya.

Keluarlah dari akun media sosial, berhenti mengikuti akun orang-orang yang dapat memicu perasaan negatif. Tetapkan batas harian seberapa lama Anda menghabiskan waktu di media sosial, bila perlu Anda juga bisa menghapus aplikasinya untuk sementara waktu.

Anda tak selalu harus mengiyakan ajakan untuk pergi melakukan kegiatan atau datang ke acara sosial jika memang tak masuk prioritas. Sisakan waktu untuk berdiam diri di rumah dan lakukan kegiatan yang Anda senangi bisa dengan ngobrol bareng bersama keluarga.

Sebagai generasi penerus Jemaat Ahmadiyah tetap jalani ibadah salat lima waktu, perbanyak doa, perbanyak baca Alquran, rajin membaca buku baik buku Jemaat maupun non-jemaat.

Perbanyak kegiatan diluar seperti bermain sepeda setiap seminggu sekali, sepak bola, basket hingga voli.

Huzur V aba, Hazrat Mirza Masroor Ahmad sudah berulang kali memberitahu betapa bahayanya sering bermain media sosial yang dapat mengakibatkan lupa waktu untuk mengerjakan tugas. Mengobrol dengan keluarga jadi malas, pergaulan jadi renggang dan malah berkutat dengan hal yang sia-sia. Sama halnya game online yang membuat lupa waktu dan lingkungan sekitar. Di era media sosial sekarang ini memang sudah dipenuhi bot dan akun palsu yang bisa memengaruhi opini, bahkan berita hoax yang merajalela. Maka peran kita lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial supaya kita lebih bijak dan bisa membatasi waktu bermain, jika tidak maka Anda yang akan mejadi korbannya.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas ra).

Sobat pena, dari hadits tersebut kita belajar bahwa banyak diantara kita tertipu dengan nikmat yang sudah Allah anugerahkan. Kita diberi waktu senggang (untuk beribadah) namun malah kita gunakan untuk mencari hiburan dunia, diberi nikmat sehat yang justru malah kita habiskan untuk memuaskan hawa nafsu belaka. Kita malah mengejar hal-hal yang fana dan tidak ada hubungannya dengan usaha pendekatan diri kepada Allah, sang Pencipta. Naudzubillahimindzalik.

Nah, itu dia penjelasan JoMO, lawan dari FoMO. Memang tidak gampang menjadi JoMO karena langkah-langkah yang perlu diambil pun agak berat. Tapi percaya, jika kita konsisten mengendalikan waktu dalam bermain media sosial maka suatu saat juga akan merasa bosan terhadapnya. Kegiatan lain seperti bersepeda, membaca buku, hingga ibadah kelak akan menjadi prioritas utama. Buat sobat pena, lebih memilih FoMO atau JoMO? Mendahulukan prioritas atau sibuk bermedia sosial? Bisa comment dibawah.


Penulis: Hafiz Abdul Jabbar

Referensi:
Dalton, Tanya. The Joy of Missing Out. Bentang Pustaka, 2019

https://hellosehat.com/mental/apa-itu-jomo/