Sebuah Titik Refleksi Pendidikan

62

Pendidikan sebuah dasar kehidupan moral
Tiada guna seseorang bila ia tak bermoral
Pendidikan memuat banyak aspek kehidupan
Tak hanya dilihat dari satu bidang karena memiliki banyak kelebihan

Ketika kita memperhatikan para pendidik tentang apa yang disampaikannya
Luas hakikatnya, sesuai dengan banyaknya hal yang kita tangkap
Sehingga kita harus belajar menjadi seseorang yang tanggap
Sayang sekali jika kita melewatkannya

Sistem dalam dunia pendidikan memiliki riwayat perubahan yang kian mengguncang para pelajar maupun lembaga pendidikan. Beberapa pelajar merasa berat dengan banyaknya tuntutan baru, para pendidik; mereka terkadang harus memutar balik pikiran mereka agar tuntutan pemerintah dapat tersusun dengan rapih. Mereka harus memenuhi hari dengan menyusun administrasi sekolah disamping tugas mengajar.

Upaya-upaya untuk menstabilkan perubahan selalu dilakukan dalam setiap rapat dan rancangan mereka.Target-target pendidikan akademik maupun non-akademik  selalu disampaikan pada awal pembelajaran dari mulai pengenalan kompetensi dasar hingga tujuan pembelajaran. Ada yang sangat berarti saat belajar, yakni ketika para pengajar menceritakan bagaimana pengalaman mereka ketika mengajar dan bagaimana mereka dapat berhasil meraih kesuksesan, hal tersebut membuat percikan api harapan dalam hati karena terdengar memotivasi.

Perubahan dikatakan ketika berganti kurikulum, para siswa dituntut untuk memiliki kemampuan HOTS (High Order Thinking Skills) tujuannya agar dapat berpikir kritis dan cepat tanggap terhadap suatu persoalan, soal-soal ulangan menjadi bacaan yang sangat panjang, tujuannya agar dapat meningkatkan kemampuan membaca. Kemudian sampai dengan perubahan sistem ujian dari ujian berbasis kertas dan pensil menjadi berbasis komputer. Perubahan sebenarnya mengikuti alur masa, sehingga sedikit demi sedikit meningkatkan revolusi kehidupan dunia.

Pendidik bukan hanya mereka yang bertugas di lembaga pendidikan, namun mereka yang dapat memberikan ilmu. Seperti yang sudah diketahui, bahwa pendidikan dasar bermula dari rumah yakni kedua orang tua. Mereka mulai mendidik ketika anak masih dalam kandungan, mengenalkan tuhan dengan suara mereka yang terdengar persuasif untuk berbincang-bincang, kemudian suara bacaan al-quran yang dilantunkan dan didekatkan pada perut sang bunda. Ketika lahir dan menangis, adzan digumandangkan seorang ayah. Kemudian, makan, berjalan, berbicara, bermain dan berlari mereka ajarkan. Ketika masa kanak-kanak beranjak remaja, mulai diajarkan untuk da’wam sholat dan hidup berbagi.

Dan ketika beranjak dewasa, mulai mengenal lingkungan lain, sehingga sadar bahwa diri, telah menemukan sumber pendidikan baru. Sekolah, masjid, rumah-rumah, dan masih banyak lagi. Mendengarkan cerita seseorang, dan kemudian ia menyatakan bahwa yang dialaminya telah memberi pengaruh besar pada pola pikir, keadaan jasmani maupun rohani meningkat, karena ia selalu belajar dari pengalaman, dari sana dapat kita ketahui bahwa pengalaman dapat menjadi guru terbaik bagi mereka yang selalu belajar.

Berjalan pada pertemuan majlis maupun diskusi online akan mempertemukan dengan segudang nasihat, yang tentunya berdasarkan pedoman agama. Sehingga, perlu kita syukuri bahwa nasihat selalu merujuk kepada kekuatan diri agar tetap berdiri pada satu tujuan dan keyakinan yang hakiki. Hal tersebut menjadi salah satu reflektor bahwa “Nasihat itu tiang agama”

Hakikatnya, pendidikan berasal dari ilmu, semua ilmu mengarah pada satu titik, dan titik itu akan mempertemukan pada Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan alam semesta, dan membuat manusia menemukan kebenaran terhadap rahasia Sang Maha Kuasa.


Penulis : Manshurotun Nisa