Tiga Pesan Moral dari Peperangan Zaman Khalifah

665

Sejak 1 Desember 2017 Khalifah Muslim Ahmadiyah menyampaikan rangkaian khutbah berkenaan dengan para sahabat Rasulullah saw.. Tidak kurang dari 148 khutbah beliau sampaikan dalam rentang waktu hampir 4 tahun, 37 khutbah per tahunnya atau sekitar 3 khutbah untuk setiap bulannya. Masya Allah!

Jum’at  (17/09), Khalifah Muslim Ahmadiyah melanjutkan pembahasan tentang Kekhalifahan Hadhrat Umar bin Khattab ra, khususnya tentang perang Yarmuk. Oleh beberapa sumber disebutkan kalau peperangan ini terjadi pada masa Kekhalifahan Hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq ra.. Nampaknya ekspedisi ke Yarmuk ini dimulai pada masa Hadhrat Abu Bakar ra. Tetapi beliau meninggal dunia lalu digantikan oleh Hadhrat Umar ra sebelum puncak peperangan legendaris ini membuncah. Salah satu tonggak penandanya adalah pencopotan Khalid bin Walid sebagai panglima dan digantikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah oleh Hadhrat Umar.

Setidaknya ada tiga pesan moral yang bisa kita ambil dari khutbah luar biasa tadi malam. Pertama, begitu mengetahui rencana Heraklius akan menggempur Syam, maka Abu Ubaidah menarik pasukannya ke Jabiyah mengingat jumlah pasukannya tidak akan mampu menahan serangan masif Heraklius. Sebelum meninggalkan kota Damaskus, Syam, Abu Ubaidah mengembalikan pajak (jizyah) kepada warga kota tersebut karena ia berserta pasukannya tidak lagi bisa memenuhi kewajibannya memberikan perlindungan dan pengayoman kepada mereka. Konon, orang-orang Kristiani di sana pergi ke gereja untuk mendoakan agar pasukan muslim unggul dan bisa kembali ke Syam atas perlakuan luar biasa ini.

Kedua, saat perang mulai berkecamuk dan saat puncak peperangan melawan koalisi Romawi di Yarmuk ini mendekat, tibalah kurir kepada Khalid bin Walid yang mengabarkan bahwa Khalifah Abu Bakar telah mangkat dan sebagai penggatinya Khalifah Umar mencopot jabatannya sebagai panglima kemudian menunjuk Abu Ubaidah sebagai penggantinya. Dalam momen kritikal seperti itu, Khalid bin Walid menyampaikan pesan kepada sang kurir yang dipahami dan disetujuinya, yakni Khalid menerima sepenuhnya perintah tersebut dan ia berperang sebagai bawahan Abu Ubaidah. Lalu pada saat yang sama, Abu Ubaidah tetap merahasiakan pelengseran ini dan membiarkan Walid memenangkan peperangan hari itu. 

Ketiga, Ikrimah bin Amr bin Hisyam (beliau adalah putra dari Abu Jahal, yang pada waktu Futuh Makkah berbaiat masuk Islam) terluka begitu parahnya. Saat akan diberikan minum, Ikrimah mengisyaratkan dengan matanya untuk memberikan air minum itu kepada orang yang berada di sampingnya.  Lalu saat air dibawakan kepada orang tersebut, ia melakukan hal yang sama dan begitu seterusnya hingga orang yang terakhir diberikan minum. Saat tiba giliran untuk minum, Ikrimah sudah meninggal dunia.

Rasanya sudah berulang kali kita mendengar dan membaca kisah luar biasa ini. Namun kita selalu gagal untuk menahan kagum. Dan bukan hanya itu saja. Kita selalu gagal untuk menjaga penglihatan kita tetap jernih, karena genangan air mata yang seakan berlomba memenuhi kelompaknya. Dan kita kembali gagal.

Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad wabaarik wasallim innaka Hamiidun Majiid, aamiin!

Oleh : Dodi Kurniawan

Sumber gambar : wallpaperaccess.com