Tuhan atau Delusi? Membedakan Patopsikiatri dan Pengalaman Spritual

544

Pengalaman spiritual selalu hadir menemani perkembangan komunitas di seluruh dunia. Sejak manusia mulai menetap, atau bahkan sebelum itu, konsep spiritualitas selalu menjadi kekuatan yang besar dalam sebuah komunitas manusia. Dalam satuan suku yang sederhana, terdapat unsur pemimpin spiritual yang disebut dukun atau shaman. Melalui mereka biasanya kepala suku akan meminta pendapat atau saran dalam managemen sukunya. Hal ini sangat prevalen di dalam masyarakat animistik. Seorang pemimpin spiritual akan memulai suatu ritual untuk “meghubungi” para leluhur mereka, berkonsultasi dengan arwah nenek moyang, mencari solusi atau merasakan pengalaman spiritual yang intens. Ritual tersebut biasanya tidak terlepas dari penggunaan zat halusinogen yang sengaja dikonsumsi oleh dukun-dukun tersebut, membuatnya hilang dari kenyataan, dan melihat realita baru yang unik dalam bentuk kedatangan arwah nenek moyang mereka. Praktik tersebut dapat ditemukan di seluruh kebudayaan primitif semua benua manusia tinggal.[1]

Pengalaman spiritual memang tidak dapat dipisahkan dari perubahan kesadaran (altered consciousness). Sehingga penjelasan yang ditawarkan oleh ilmuwan-ilmuwan sekuler mengenai pengalaman spiritual khususnya wahyu hanyalah halusinasi belaka. Masih dalam nada yang sama, bapak psikoanalisis, Sigmund Freud[2] menyatakan bahwa segala peristiwa-peristia revelatif (ilhamiah) yang dialami Nabi Musa as, dan kepercayaan beliau pada satu Tuhan hanyalah sebuah delusi. Dan dari suatu hal yang tidak nyata itulah dibangun ajaran dan kebudaan Yahudi sampai sekarang.

Lalu timbul pertanyaan: Jika pengalaman reigius yang dialami mereka hanya hasil dari penggunaan zat-zat halusinogen, sedang penampakkan arwah atau wujud spiritual yang berinteraksi dengan mereka hanyalah wujud delusional, halusinasi, dimanakah letak kebenaran Tuhan? Apakah pengalaman spiritual hanyalah gangguan kejiwaan yang diakibatkan oleh gangguan otak kita? Ataukah Tuhan Yang Maha Hidup itu benar-benar datang kepada umatnya? Peristiwa spiritual dan delusi psikosis, keduanya bentuk “ketidaknyataan” saat seseorang merasakan hal-hal yang tidak ada pada realitanya. Lalu bagaimana kita bisa membedakan kedua jenis “ketidaknyataan” tersebut?

Dalam kelainan spektrum Skizofrenia, seorang penderita bisa merasakan halusinasi (mendengar suara, atau bahkan melihat suatu perwujudan dari suatu yang tak Nampak bagi orang lain), juga delusi yakni melihat suatu makna atau suatu arti dari dunia ini walaupun pada kenyataannya kejadian tersebut tidak bermakna apapun. Seorang bisa mengalami psikosis atau waham, yakni disaat orang tersebut tidak bisa membedakan realita dan imaginasi yang ada di otaknya. Pengalaman religius, khususnya dalam mistikisme memiliki beberapa ciri yang sama dengan psikosis atau disosiasi realitas individu. Keduanya bersifat sangat subjektif dan pengalaman yang dirasakan sangatlah tidak biasa (bahkan terkadang tidak masuk akal). Lebih dari itu, penderita skizofrenia bahkan merasa hilang keberadaan dirinya dan cenderung menjauh dari interaksi sosial, mirip seperti umumnya seorang mistik yang menjauh dan berusaha “menghilangkan dirinya”; ‘fana’ dalam istilah Sufi atau ‘wu-nien’ dalam Cina kuno. Perbedaan yang mendasar dari kedua fenomena tersebut adalah mistik cenderung bersifat transformatif ke arah lebih baik dan memperkaya berbagai segi, misalnya menambah perspektif baru, menambah keterbukaan dan tuntutan etis, sedangkan skizofrenia, yakni waham yang diderita cenderung memberi dampak yang lebih mengganggu, tidak hanya secara psikotik namun juga kualitas sosial dan okupasional. Gejala psikotik dan pengalaman spiritual adalah dua hal yang sangat berbeda.[3]

Perkembangan teknologi membuka pintu-pintu baru dalam pemahaman kolektif umat manusia. Konsep spiritual mulai dikupas secara perlahan. Bagaimana spirituaitas mempengaruhi otak kita dan bagaimana otak kita mempengatuhi pengalaman spiritual kita. Neurosains spiritual atau Psiko-teologi adalah pendekatan ilmu yang membahas tentang ini. Sebuah review dalam Jurnal e-Biomedik[4] menemukan bahwa bagian otak yang aktif pada saat seseorang mengalami kejadian spiritual berbeda dengan seseorang yang menderita gejala psikotik atau waham. terjadi peningkatan aktivitas pada gyrus cingulatus, lobus temporalis dan lobus oksipitalis pada orang yang sedang mengalami pengalaman spiri-tual sedangkan pada orang yang mengalami gejala psikotik terjadi peningkatan aktivitas pada cortex prefrontalis dan amygdala.

Jeff Schimmel menderita tumor jinak di lobus temporal otaknya, jaringan rusak berganti menjadi jaringan parut. Dia pun mengalami beberapa kejadian kejang (seizure) ringan.[5] Dia mengatakan melihat wajah Maria (virgin Mary) muncul dari langit-langit tempatnya dia istirahat di kamar rumah sakit. Padahal Schimmel adalah seorang Yahudi yang tidak menaruh perhatian terhadap Agamanya. Hal ini menambah bukti keterkaitan utama lobus temporalis otak terhadap perasaan spiritual, kenyamanan dan cinta. Kondisi medis tersebut adalah temporal lobe epilepsy, suatu kondisi yang sangat unik, Hipocrates bapak kedokteran dari Yunani bahkan menyebutnya “Penyakit yang Sakral”. Berakar dari fenomena ini, para penelti menarik kesimpulan kasar bahwa setiap kemunculan wahyu hanyalah manifestasi gangguan otak si penerima. St. Paulus misalnya, yang mendengar suara Yesus as dalam perjalanannya ke Damaskus, atau Musa as yang melihat terbakarnya semak belukar di bukit Sinai. Tetapi tentu saja tidaklah mungkin diagnosis spesifik tersebut bisa ditegakkan hanya bersumber dari literatur agama yang berusia ribuan tahun. Kesimpulannya dalam perasaan atau pengalaman spiritual, ada bagian otak tertentu yang lebih aktif. Serangan kejang, yaitu aktif (terangsang)-nya bagian otak secara berlebihan pada area tersebut (lobus temporal) menyebabkan penderita memunculkan perasaan spiritual dari dalam memorinya atau -katakanlah- alam bawah sadarnya.

Kasus-kasus tersebut membuktikan bahwa adanya hubungan langsung antara pengalaman spiritual dengan struktur anatomis otak. Boleh dikatakan seseorang akan merasakan “kehadiran Tuhan” melalui aktivitas struktur anatomis otak tertentu. Tapi tidak dapat disimpulkan bahwa seluruh pengalaman spiritual bersumber dari otak atau kesadaran kita saja. Mirza Tahir Ahmad[6] mengemukakan bahwa wahyu, inspirasi, ilusi, halusinasi bahkan hypnosis merupakan kemampuan-kemampuan psikis yang dimiliki oleh setiap orang. Yang jadi pembeda adalah sumbernya, wahyu berada pada posisi khusus karena sumbernya berasal dari Eksternal (Tuhan) bukan hasil dari interaksi keinginan bawah sadar dan ego kita, bukan pula hanya produk dari interaksi sel-sel neuron semata. Otak kita hanyalah berperan sebagai receiver, sangatlah mungkin bagi Tuhan Yang Maha Hidup untuk berinteraksi dengan orang yang Dia kehendaki melalui mekanisme receiver di otak kita ini.

Hikayat para Rasul atau utusan Tuhan membuktikan bahwa sudahlah menjadi suatu keniscayaan bagi seorang Rasul untuk mengalami penolakan. Dari Nabi Adam as hingga Rasulullah Muhammad saw, semua mengalami penolakan bahkan dianggap “gila” oleh para penentang. Tidaklah aneh kalau anggapan “gila” itu dimunculkan lagi oleh para penentang berabad-abad setelah kematian Rasul-rasul tersebut.

Dalam topik ini perlu kita ingat ciri-ciri penerima wahyu Tuhan yang benar. Para Nabi dan Rasul, atau yang dapat dikatakan sebagai imam pada zamannya harus memiliki kualitas akhlak yang sempurna[7]. Orang-orang terpilih itu harus memiliki kualitas moral yang sempurna, senang berbuat baik kepada sesama, mendapat banyak kecemerlangan pengetahuan dan yang terpenting, tidak mudah patah harapan atau stress. Kualitas-kualitas yang tidak akan pernah kita temui pada individu yang memiliki gangguan jiwa. Berkenaan dengan kebenaran dakwah Rasulullah saw, Mirza Ghulam Ahmad menyatakan:

”Ingatlah oleh kalian ucapanku ini dan tetaplahlah ingat. Jika perkataan (ucapan) seorang manusia itu dilakukannya tidak dengan hati yang benar (jujur), dan di dalamnya tidak terdapat potensi (kekuatan) pengamalan maka ia tidak akan berkhasiat (berpengaruh). Justru dengan itulah dapat diketahui kebenaran agung Nabi Suci kita (saw.), sebab kesuksesan dan pengaruh pada kalbu (hati) yang diraih oleh Rasulullah saw. tidak pernah didapat oleh siapa pun di dalam sejarah umat manusia ini. Dan penyebab kesemuanya itu adalah bahwa pada ucapan dan amal (perbuatan) beliau terdapat keselarasan yang sempurna.” [8]

Hemat saya, sebuah wahyu dapat dibuktikan benar jika mengandung realisasi unsur-unsur nubuwwah di dalamnya. Jika tanda-tanda pembenaran atas pengalaman spiritual tersebut dapat ditunjukkan, itulah bukti kebenaran yang sangat nyata. Pengetahuan ilahiah tidaklah tersaingi, indah, tajam dan bermakna, mengubah tidak hanya orang yang merasakan tapi juga orang-orang yang disekitarnya, lingkungannya. Berkah bagi seluruh alam.

Manusia sudah memiliki keinginan inheren untuk mengenal Tuhan (Craving for God). Bahkan seperti yang sudah dipaparkan di atas, manusia memiliki bagian khusus di otaknya yang menjadi pusat perasaan spiritual atau pengalaman spiritual. Menurut Al-Quran, tujuan manusia diciptakan tak lain adalah untuk beribadah.[9] Manusia memiliki rasa haus untuk memuaskan dahaga spiritualitas tersebut. Itulah mengapa berbagai cara dilakukan untuk merasakan perasaan bahagia itu, perasaan tenggelam dalam kedekatan dengan Sang Pencipta. Mulai dari metode para asketik hingga ramuan-ramuan jamur halusinogen yang digunakan oleh dukun pemimpin spiritual suku-suku bantaran sungai Amazon. Itu semua hanya usaha-usaha manusia yang dilakukan untuk mengisi kekosongan itu.

Otak adalah organ dari tubuh manusia yang paling misterius, masalah kesadaran dan bagaimana Jiwa manusia melihat realita bukanlah masalah yang lebih jelas adanya. Perkembangan teknologi membawa kita tahap demi tahap ke dalam kolam tanda-tanda Tuhan ini. Wahyu, pengalaman spiritual, halusinasi dan delusi memang memiliki banyak kesamaan. Konsep-konsep inilah yang perlu lagi diperdalam, hal-hal semacam inilah yang semestinya kita cari. Wahyu Tuhan yang Maha Benar bukanlah sebuah delusi. Tidaklah sempurna tulisan ini, banyak mungkin yang perlu dibenahi. Tapi semoga melaluinya dapat tersampaikan ide dan perspektif baru yang sangat berarti.


Oleh : Rafif Adianto Abdul Wahab

Sumber :

[1] Hallucinogens and Shamans, 1973. Michael Harner

[2] Freud S (1937-9). Moses and Monotheism, An Outline of Psycho-Analysis and Other Works.

[3] Parnas J., Henriksen M., 2016. Mysticism and schizophrenia: A phenomenological explorationof the structure of consciousness in the schizophrenia spectrum disorders

[4] Lumingkewas P., 2017. Indikator yang Membedakan Gejala Psikotik dengan Pengalaman Spiritual dalam Perspektif Neurosains (Neuro-Anatomi)

[5] Hagerty B. 2009. Are Spiritual Encounters All In Your Head? Online article; https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=104291534 diakses pada 23 Februari 2019

[6] Revelation, Rationality and Truth

[7] Ahmad, Mirza. The Need for The Imam

[8] (Malfuzat, jld. I, hlm. 67-68).

[9] Qur’an, Al-Dzariyat : 57

Sumber Gambar : unsplash.com