Opini

Kajian Yesus Menikah dalam Lukisan Leonardo Da Vinci

yesus
Penulis Ammar Ahmad

Pernikahan as telah menjadi isu yang hangat beberapa tahun kebelakang. Terutama saat terbitnya novel pada tahun 2003 yang bertolak belakang dengan dasar-dasar iman . Novel ini menjadi best seller internasional dan telah diterbitkan puluhan kali serta telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia termasuk bahasa Indonesia.

Bahkan novel ini telah difilmkan dengan judul yang sama yakni “The Da Vinci Code”. Dan Brown selaku penulis novel tersebut  menyatakan bahwa mengetahui perihal pernikahan Yesus as. Ia pun tahu kalau pernikahn Yesus adalah fakta yang berusaha di tutupi oleh Gereja karena bertentangan dengan keyakinan Gereja (terutama Gereja Roma) serta bertentangan dengan hasil Konsili Nicaea (325M).

Alhasil Leonardo Da Vinci menyatakan hubungan suami istri Yesus dan Magdalena lewat lukisannya yang sangat terkenal “The Last Supper” atau “Perjamuan Terakhir” karena tidak bisa langsung melalui kata-kata atau hal lainnya yang beresiko membangkitkan murka Gereja. ini ada pada dinding gereja Santa Maria delle Grazie, Milan, Italia.

Perjamuan makan malam terakhir yang kelak diakui sebagai Sakramen Ekaristi oleh Gereja adalah sebuah makan malam antara Yesus dengan 12 murid utamanya sebelum keesokan harinya beliau di salibkan. Kejadian ini tercantum dalam Injil Matius 26 : 26-29 dimana Yesus memecah-mecahkan roti yang melambangkan tubuh beliau lalu membagikannya kepada murid-muridnya serta membagikan air anggur dalam sebuah cawan yang melambangkan darah perjanjian Yesus. Cawan yang digunakan Yesus kelak dikenal dengan istilah Holy Grail/Cawan Suci.

Pada tulisan ini penulis hanya akan menyampaikan kajian Dan Brown tentang pernikahan Yesus yang  disampaikan Sir Leigh Teabing (pemeran tokoh sejarawan cawan suci) dalam film The Da Vinci Code serta tidak membahas secara menyeluruh isi dari film tersebut. Penulis juga tidak menyatakan kajian Brown ini sebagai sebuah kebenaran yang layak diakui dan dijadikan dalil. Penulis menyampaikan kajian Dan Brown ini hanya karena penulis memiliki kesamaan pendapat dengan Brown yakni Yesus itu menikah.

Silahkan para pembaca melihat lukisan The Last Supper diatas! Pada lukisan tersebut Yesus berada ditengah-tengah para muridnya. Seseorang yang tepat berada disebelah kanan Yesus diakui oleh Gereja sebagai sosok Yohanes. Namun Sir Leigh Teabing berpendapat lain.

Ia berpendapat bahwa orang itu bukanlah Yohanes tapi Maria Magdalena. Ia menyatakan kalau sosok disebelah kanan Yesus itu perempuan karena berkulit putih mulus tanpa keriput tidak seperti gambar para murid lainnya yang malah tampak sangat tua dan berkeriput. Posisi tubuh pun tampak sangat feminim dan lembut sekali dengan tangannya yang saling menggenggam. Sebagian orang bahkan berpendapat kalau gambar dada pada sosok itu berbayang sehingga menimbulkan kesan dada seorang perempuan.

Hal yang lebih jelas adalah rambut merahnya terurai panjang layaknya wanita pada umumnya sedang rambut murid yang lainnya malah pendek bahkan ada yang botak. Siapapun yang melihatnya memang pasti sependapat kalau sosok ini adalah perempuan dan bukan laki-laki sekurang-kurangnya laki-laki yang tampak sangat feminim.

Dalil Sir Leigh Teabing lainnya adalah baju yang dikenakan oleh orang itu (baca Maria Magdalena) berbayang dengan Yesus.  Bila Yesus mengenakan baju merah dengan jubah biru, maka Maria mengenakan baju biru dengan jubah merah. Warna merah dan biru saat itu melambangkan keturunan bangsawan. Sir Leigh Teabing menyatakan Yesus adalah keturunan nabi dan raja Daud as sedangkan Maria adalah ketururan bangsawan Benjamin.

Posisi muka Yesus dan Maria saling berjauhan sedangkan pinggulnya berdekatan sehingga memunculkan celah ruang diantara keduanya yang membentuk huruf V. Sedangkan huruf V adalah lambang atau simbol kuno dari kewanitaan, rahim wanita, bentuk atas dari cawan dan kesuburan wanita. Sedang simbol kuno dari kejantanan adalah huruf V terbalik seperti ujung pedang yang menurut Teabing tetap dipakai sebagai simbol pangkat dalam dunia militer. Kita bisa melihatnya di pakaian militer bagian pundak mereka.

Sir Leigh Teabing lalu menarik perhatian kita agar menukar posisi Maria menjadi disebelah kiri Yesus. Maka gambar seperti apa yang akan terbentuk ? Kepala Maria bersandar ke pundak Yesus layaknya sepasang kekasih. Sir Leigh Teabing mengutip teks-teks Injil Apokrif untuk memperkuat dalilnya bahwa Yesus memang menikah. Ayat yang ia kutip adalah:

Injil Filipus 49 : “Kekasih sang penyelamat (Yesus) adalah Maria Magdalena. Sang penyelamat mengasihinya lebih dari ia mengasihi semua murid lainnya, dan ia seringkali menciumnya pada mulutnya.

Injil Maria Magdalena 10:7-9(10) : “(7) Lewi menjawab, katanya kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu saja marah. (8) Sekarang aku lihat engkau berbantahan dengan perempuan ini (Maria M.), sepertinya dia itu seorang musuh. (9) Jika sang Penyelamat memandangnya layak, siapa engkau sampai harus menolaknya? ((10) Sesungguhnya sang Penyelamat mengenalnya dengan baik. Itulah sebabnya dia telah mengasihinya lebih dari dia mengasihi kita).

Memang benar kalau Injil-injil dalam Alkitab tidak menceritakan kisah yang begitu jelas berkenaan dengan kedekatan Yesus dan Maria M. namun Injil-injil diluar Alkitab justru mendukung adanya kedekatan antara Yesus dan Maria M, layaknya sepasang kekasih. Teori Dan Brown berikutnya adalah hal yang paling tidak di sangka-sangka oleh penulis yakni keberadaan Cawan Suci pada lukisan tersebut.

Dalam Injil Matius 26:27 Yesus menggunakan sebuah cawan untuk menampung air anggur yang menjadi lambang dari darah beliau. Tradisi bahkan menyatakan bahwa cawan itu pula yang digunakan untuk menampung darah Yesus as saat penyaliban. Uniknya adalah pada gambar The Last Supper diatas, tidak kita temukan adanya cawan suci tersebut. Dan Brown meyakini bahwa cawan suci yang dimaksud Yesus bukanlah sebuah benda untuk minum. Ia berasumsi bahwa cawan suci adalah seorang perempuan karena bentuk huruf V yang tergambar diantara Yesus as dan Maria M. melambangkan perempuan, bentuk rahim dan cawan. Maka cawan yang tidak digambarkan sebenarnya tetap ada dan cawan itu adalah Maria Magdalena atau rahim Maria Magdalena.

Holy Grail (Cawan Suci) diambil dari terminologi bahasa Perancis abad pertengahan, Sangraal (menjadi Holy Grail), terbentuk dari kata sang (darah) dan raal (raja/royal) maka Cawan Suci dalam terminologi Perancis berarti “darah keturunan raja”. Dan Brown menyatakan bahwa Yesus adalah keturunan raja Daud maka darah yang dimasukkan ke cawan suci saat penyaliban sebenarnya bukan darah asli. Tapi darah keturunan Yesus yang telah dimasukan kedalam cawan rahim Maria. Maka ditariklah kesimpulan bahwa Maria Magdalena tengah hamil pada saat terjadinya penyaliban.

Inilah beberapa kajian menarik yang terdapat dalam Film dan Novel “The Da Vinci Code”. Kajian ini banyak sekali di perdebatkan dan dibantah oleh banyak teolog juga. Banyak buku-buku yang membantah nya bahkan diadakan seminar oleh Gereja untuk membahas kajian novel Dan Brown serta membantahnya.

Kajian Dan Brown pada lukisan Leonardo Da Vinci memang tidak didukung oleh Injil-injil serta bersifat dugaan. Hanya karena Leonardo yang melukisnya bukan berarti kajian ini benar dan belum berarti Leonardo bermaksud menyatakan pernikahan Yesus dalam karyanya. Lukisan ini adalah pesanan Gereja Katolik pada Leonardo.

Memang sangat aneh bila Leonardo nekat bermaksud menyatakan pernikahan Yesus dalam lukisan yang di pesan Gereja langsung apalagi Gereja pada masa abad pertengahan terkenal sangat keras dan radikal dalam menjaga doktrin-doktrinnya.

Catatan:

  1. Leonardo Da Vinci adalah seorang pelukis, arsitek yang sangat mahir. Ia lahir di Vinci, provinsi FirenzeItalia15 April 1452 – meninggal di Clos LucéPerancis2 Mei 1519 pada umur 67 tahun. Ia adalah arsitekmusisipenulispematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe “manusia renaisans” dan sebagai genius universal. Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Perjamuan Terakhir dan Mona Lisa.[1]
  2. Konsili Nicaea adalah Konsili Ekumenis pertama pada tahun 325 Masehi dimana para Uskup dari semua sekte Kristen saat itu merumuskan doktrin yang diakui oleh Gereja. Konsili ini diadakan atas prakarsa Kaisar Konstantinus I. Beberapa hasil Konsili ini adalah Yesus di tetapkan sebagai Tuhan itu sendiri yang sehakikat dengan Allah, hanya 4 Injil yang diakui sedang injil-injil yang lain ditolak dan dianggap palsu serta menolak ajaran dan keyakinan Arius dari Alexandria yang menyatakan Yesus hanya seorang manusia biasa yang diutus Allah. Konsili ini berlangsung dua kali dan pada konsili nya yang kedua dilakukanlah voting apakah Yesus itu tuhan atau manusia biasa dan voting dimenangkan oleh mereka yang mengakui kalau Yesus itu tuhan. Doktrin Trinitas belum dikenal kala itu dan baru dirumuskan pada konsili-konsli berikutnya yakni Konsili Konstantinopel (381 M) dan Konsili Chalcedon (451 M), dimana Roh Kudus ditetapkan sebagai Tuhan juga.[2]

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Leonardo_da_Vinci diakses tanggal 25 08 2018

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nicea_I diakses pada tanggal 06 09 18

Tentang Penulis

Ammar Ahmad