Masih Relevankah Menghafal Surah Al-Kahfi di Era Teknologi?

120
"Masih Relevankah Menghafal Surah Al-Kahfi di Era Teknologi?"
"Masih Relevankah Menghafal Surah Al-Kahfi di Era Teknologi?"

Rasulullah saw menganjurkan umat Islam membaca Surah Al-Kahfi setiap hari Jumat. Dalam sebuah hadis beliau bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang menjumpai Dajjal, maka hendaklah ia membaca ayat-ayat permulaan Surah Al-Kahfi atasnya.” (HR. Muslim).

Di zaman modern, anjuran ini terdengar seperti dongeng. Sebab ketika mendengar kata Dajjal, sebagian orang masih membayangkan sosok serupa monster yang akan muncul di akhir zaman. Sementara kita tahu, semakin hari teknologi berkembang semakin canggih. Rasanya jauh sekali dengan zaman di mana kita akan kembali bertemu dengan makhluk serupa monster di cerita-cerita fiksi.

Apalagi, Rasulullah saw justru mengarahkan perhatian umatnya kepada sebuah surah di dalam Al-Quran. Apakah sesosok raksasa yang mengancam di akhir zaman akan takut pada manusia kecil yang membacakannya sebuah surat?

Tawaran Kemudahan dan Kebingungan Manusia

Jika kita melihat dunia saat ini, semakin banyak hal yang menawarkan kemudahan. Namun, tidak sedikit yang berakhir menjadi kesulitan. Yang awalnya terlihat sebagai jalan keluar, perlahan berubah menjadi jalan buntu.

Judi online adalah salah satu contoh. Tidak sedikit orang yang masuk ke dalam judi online karena berharap masalah ekonominya teratasi. Tentu, tidak ada orang yang memasang taruhan dengan niat menghancurkan keluarganya sendiri. Semua pasti berdalih, untuk perbaikan ekonomi keluarganya.

Sebagian hanya ingin mencoba. Sebagian lagi merasa keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Namun sedikit demi sedikit, semua berubah menjadi ketergantungan. Apa yang semula tampak seperti peluang justru semakin menjerat.

Demikian pula dengan pinjaman online. Banyak orang meminjam karena keadaan mendesak. Tawaran dana cepat, proses yang mudah, dan syarat yang sederhana terdengar seperti pertolongan. Akan tetapi, ketika bunga, denda, atau cara penagihan yang tidak manusiawi mulai menghimpit, jalan keluar itu berubah menjadi beban yang semakin sulit dipikul.

Perkembangan teknologi pun menghadirkan tantangannya sendiri. Artificial Intelligence mampu membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam hitungan detik. Banyak pelajar memanfaatkannya untuk mengerjakan PR.

Sayangnya, tak sedikit yang menggunakannya untuk menghasilkan riset bodong. Penelitian yang tidak pernah benar-benar dilakukan, melainkan di-generate menggunakan AI. Pertanyaan pun muncul, apakah manusia menggunakan teknologi sebagai alat, atau perlahan mulai menyerahkan kemampuan akalnya kepada mesin?

Ketiga contoh tersebut tentu tidak sama. Judi online jelas merupakan perbuatan yang dilarang. Pinjaman online tidak seluruhnya bermasalah, tetapi praktik yang mengandung riba dan eksploitasi telah menjerat banyak orang. Sementara Artificial Intelligence hanyalah sebuah teknologi yang dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan.

Namun di balik semua perbedaan itu terdapat satu pola yang sama. Semuanya datang membawa janji. Semuanya menawarkan kemudahan. Dan semuanya dapat berubah menjadi fitnah ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya.

Alquran Menjelaskan Tipu Daya Setan

Al-Qur’an menggambarkan setan tidak selalu mengajak manusia kepada keburukan secara terang-terangan. Allah Taala berfirman, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (QS. An-Nisa: 121).

Setan membangkitkan angan-angan. Ia membuat sesuatu tampak lebih indah daripada kenyataannya. Ia membuat manusia percaya bahwa kebahagiaan dapat diraih tanpa usaha, keamanan dapat dibeli dengan harta, ketenangan dapat ditemukan dalam dunia, atau segala persoalan dapat diselesaikan tanpa perlu kembali kepada Allah Taala.

Karena itulah Khalifah kita tercinta, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (atba) menjelaskan hakikat Dajjal dengan cara yang sangat menarik. Beliau bersabda, “Segala sesuatu yang menipu atau memperdaya engkau, lalu berusaha meyakinkanmu melalui tipu daya, dapat dikategorikan sebagai Dajjal.” [1]

Huzur (aba) kemudian menjelaskan bahwa tipu daya tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk: melalui individu, bangsa, maupun berbagai kekuatan yang menyesatkan manusia dengan kebohongan.

Penjelasan ini mengubah cara kita memandang fitnah Dajjal. Persoalannya bukan semata-mata menunggu kemunculan seorang tokoh di akhir zaman. Yang jauh lebih penting adalah mengenali pola tipu daya yang terus berulang dalam setiap zaman.

Sesuatu yang membuat manusia semakin jauh dari Allah tidak selalu datang dalam rupa keburukan. Sering kali tipu daya justru hadir sebagai sesuatu yang tampak sebagai pertolongan.

Empat Kisah dalam Surat Al-Kahfi

Di sinilah Surah Al-Kahfi menjadi sangat menarik. Ketika Rasulullah saw menganjurkan umatnya membaca surah ini untuk menghadapi fitnah Dajjal, ternyata Surah Al-Kahfi tidak berbicara tentang Dajjal secara langsung. Sebaliknya, Allah Taala menghadirkan empat kisah yang sepintas tampak tidak saling berkaitan.

Ada kisah para pemuda penghuni gua, kisah seorang pemilik dua kebun, kisah Nabi Musa as bersama seorang hamba Allah yang saleh, dan kisah Zulqarnain. Empat kisah yang berbeda, tetapi semuanya berbicara tentang satu hal yang sama: bagaimana manusia kehilangan fokus.

Para pemuda Ashabul Kahfi hidup di tengah masyarakat yang menuntut mereka meninggalkan tauhid. Tekanan yang mereka hadapi bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga tekanan sosial. Mereka berada dalam posisi yang sangat sulit. Mengikuti masyarakat berarti kehilangan iman. Mempertahankan iman berarti kehilangan kenyamanan hidup. Mereka memilih yang kedua.

Allah Taala kemudian mengabadikan doa mereka, 

رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 12)

Doa ini menarik untuk direnungkan. Di tengah himpitan kesulitan, mereka tidak serta-merta meminta kemenangan. Mereka tidak meminta musuhnya dihancurkan. Namun yang pertama kali mereka minta adalah rahmat Allah.

Mengapa? Karena ketika seseorang benar-benar berada di persimpangan hidup dan tidak lagi tahu harus melangkah ke mana, yang paling ia butuhkan sesungguhnya hanya kasih sayang Allah Taala. Tanpa rahmat-Nya, manusia dapat saja menemukan jalan, tetapi belum tentu jalan yang benar.

Kata rasyada bukan sekadar berarti petunjuk. Ia mengandung makna petunjuk yang membuat seseorang tidak salah mengambil keputusan. Petunjuk yang menjaga langkahnya tetap berada di atas kebenaran.

Di tengah banjir informasi dan berbagai tawaran yang menggiurkan, bukankah yang paling kita butuhkan memang petunjuk dari Allah Taala agar tidak salah melangkah?

Kisah berikutnya adalah tentang seorang pemilik dua kebun yang Allah Taala limpahi harta melimpah. Kebun-kebunnya subur, sungai-sungai mengalir di antara pepohonan, dan hasil panennya tidak pernah berkurang. Semua kenikmatan itu seharusnya semakin mendekatkannya kepada Sang Pemberi Nikmat.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia berkata dengan penuh kesombongan bahwa hartanya tidak akan pernah binasa, bahkan ia meragukan datangnya hari kebangkitan.

Betapa halus fitnah yang menimpanya. Ia tidak menyembah berhala. Ia tidak meninggalkan ibadah secara terang-terangan. Namun sedikit demi sedikit, rasa aman di dalam hatinya bergeser. Bukan lagi kepada Allah Taala, melainkan kepada apa yang dimilikinya.

Mari kita lihat di zaman sekarang. Banyak orang rela mengambil jalan apa pun demi memperoleh kekayaan. Judi online menawarkan jalan pintas untuk menjadi kaya. Bahkan pinjaman online sering kali dipilih karena dianggap sebagai penyelamat ketika keadaan ekonomi sedang sulit. Juga tindakan lain seperti korupsi dan menggunakan kewenangan untuk menyalahggunakan anggaran.

Ketika hati mulai meyakini bahwa harta adalah penyelamat, saat itulah fokus manusia mulai bergeser dari Allah Taala.

Kisah ketiga adalah perjalanan Nabi Musa as bersama seorang hamba Allah yang saleh. Sebelum peristiwa itu, Nabi Musa as pernah mengira bahwa beliau adalah orang yang paling berilmu. Allah Taala kemudian memperlihatkan bahwa selalu ada ilmu yang berada di luar jangkauan manusia.

Di sepanjang perjalanan, Nabi Musa as berkali-kali mempertanyakan tindakan yang tampak tidak masuk akal. Sebuah perahu dilubangi, seorang anak dibunuh, dan sebuah tembok ditegakkan tanpa meminta upah. Baru di akhir perjalanan beliau memahami bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah yang tidak selalu dapat dijangkau oleh akal manusia.

Pelajaran ini terasa semakin penting pada zaman ketika manusia memiliki akses kepada hampir seluruh informasi di dunia. Dengan menggunakan Artificial Intelligence, berbagai pertanyaan terjawab dalam hitungan detik. Seketika seseorang merasa bisa mengetahui dan melakukan banyak hal.

Akan tetapi, banyaknya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Kita hanya merasa bisa menjawab banyak hal, tapi belum tentu menemukan hikmah di balik persoalan tersebut. Ilmu yang sejati bukan sekadar mengetahui jawaban, melainkan juga menemukan makna di balik sebuah peristiwa. Dan hal tersebut, hanya akan terjawab melalui sebuah ketenangan dan kerendahan hati.

Kisah terakhir adalah tentang Zulqarnain, seorang pemimpin yang Allah Taala karuniai kekuasaan, kemampuan, dan berbagai sarana untuk membangun peradaban. Menariknya, setiap kali berhasil menyelesaikan suatu urusan, Zulqarnain tidak pernah menisbahkan keberhasilannya kepada dirinya sendiri. Ketika tembok besar yang melindungi suatu kaum dari Ya’juj dan Ma’juj selesai dibangun, beliau justru berkata,

 هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّي

“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.” (QS. Al-Kahfi: 100)

Kalimat singkat yang sering terlupakan. Di saat banyak orang merasa berhasil karena kemampuan, jabatan, atau teknologi yang dimilikinya, Zulqarnain justru melihat semua itu sebagai rahmat Allah Taala. Kekuasaan tidak membuatnya lupa kepada Sang Pemilik Kekuasaan.

Jika keempat kisah tersebut direnungkan bersama, tampak sebuah pola yang sangat indah. Ashabul Kahfi diuji dengan keimanan. Pemilik dua kebun diuji dengan harta. Nabi Musa as diuji dengan ilmu. Zulqarnain diuji dengan kekuasaan. Empat kenikmatan yang bisa seketika menjerumuskan manusia pada kesombongan.

Ujian yang berbeda, tetapi semua kisahnya bermuara pada pertanyaan yang sama: kepada siapa hati ini harus bergantung?

Di sinilah letak hikmah mengapa Rasulullah saw menganjurkan umatnya membaca Surah Al-Kahfi ketika menghadapi fitnah Dajjal. Fitnah besar berupa “pertolongan” yang perlahan menggeser pusat ketergantungan manusia dari Allah Taala kepada selain-Nya.

Hal ini juga ditegaskan oleh Huzur tercinta (atba), bahwa ayat-ayat tersebut meneguhkan keyakinan tentang keesaan Allah Taala, menolak segala bentuk syirik, serta mengingatkan manusia agar tidak tenggelam dalam kesibukan dunia. Dengan merenungkan ayat-ayat tersebut, seorang mukmin akan semakin mengenal Allah Yang Maha Esa, semakin mencintai Rasulullah saw, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam setiap keputusan hidupnya. [2]

Mungkin inilah jawaban dari kegelisahan kita di awal tulisan ini. Persoalannya bukan terletak pada kemajuan teknologi, judi online atau pinjaman online. Semua itu hanyalah wajah-wajah baru dari ujian yang sejak dahulu telah dihadapi manusia. Yang berubah hanyalah bentuknya, sedangkan akar persoalannya tetap sama: kepada siapa manusia harus menggantungkan harapannya?

Ketika segala bentuk fitnah telah datang di hadapan mata, apakah masih ada tauhid dalam hati kita?


Oleh : Rahma Roshadi

Referensi:

[1] This Week with Huzoor – 10th January 2020 – “What Does Dajjal (Antichrist) Refer to?”

[2] Beacon of Guidance Eps. 57 – “Why is there an emphasis on reading Surah Al-Kahf on Fridays?”