Anak Tuhan di dalam Bible

223

Bagian sebelumnya : Fakta-Fakta dari Khayalan Yesus, sang ‘Anak Tuhan’– Latar Belakang Sejarah | RajaPena.Org

Akan sangat bermanfaat untuk memulai pembahasan tentang istilah ‘anak tuhan’ dari Perjanjian Lama. Karena istilah tersebut tidak berasal dari Injil, melainkan dasarnya ditemukan di dalam Perjanjian Lama. Untuk memahami penggunaan kata ini bagi Yesus (as), kita harus memahami bagaimana istilah ini digunakan oleh kaum Yahudi dalam bahasa Ibrani dan Aramaik. Yesus (as) dan pengikutnya menggunakan Bahasa Ibrani dan Aramaik, bukan Bahasa Yunani, ini adalah penting, mengingat naskah-naskah tertua Perjanjian Baru tidak ditulis dalam Bahasa Ibrani dan juga Aramaik, tapi dalam Bahasa Yunani.

Oleh karena itu, istilah-istilah Bahasa Yunani yang terdapat di dalam Injil, sebaik-baiknya, merupakan terjemahan sabda-sabda Yesus (as) dan orang-orang yang di sekitarnya dalam Bahasa Ibrani dan Aramaik. Yesus merupakan seorang Yahudi. Karena itu, bahasa keagamaannya akan mengikuti ungkapan yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Yang pada akhirnya ia dakwahkan kepada kaum Yahudi.

Di dalam perjanjian baru, kita temukan beberapa ayat yang menunjukkan Yesus (as) sebagai ‘anak Tuhan’. Selain itu, terdapat bentuk yang mirip yaitu ‘anak si anu’, yang menunjukkan kepada berbagai macam orang dalam konteks yang luas. Untuk memahami apa maksud sebenarnya kata ini, pertama kita harus memahami bagaimana istilah ‘anak si anu’ dan ‘anak tuhan’ digunakan di dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana kata ini digunakan di kalangan Yahudi pada masanya, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik hingga pada situasi seperti apa Yesus (as) dan orang-orang sezamannya menggunakan istilah ini.

Konteks Yahudi pada kata ‘Anak’ dan ‘Anak si anu’

Kata ‘anak’ (putra) digunakan pada konteks Perjanjian Lama yang luas. Seperti halnya bentuk ‘anak/anak si anu’ muncul di banyak konteks metafora (kiasan), dimana secara metafora (kiasan) ‘anak’ ikut serta dalam beberapa karakteristik atau dihubungkan dengan ‘ayah’ secara figuratif (lambang).

Kata ‘anak laki-laki’ (putra) adalah בֵּן (bēn) dalam Bahasa Ibrani. Istilah lain adalah יֶלֶד (yě∙lěḏ), yang berarti ‘anak’, dan זֶרַע (zera), yang berarti keturunan. Semua kata ini digunakan dalam istilah ‘keanak-an” dalam Perjanjian Lama, digunakan baik secara harfiah maupun secara metafora (kiasan).

Kata ini digunakan : secara harfiah untuk merujuk kepada keturunan jasmani. Sebagai contoh, Cain adalah anak biologis Enoch (Keluaran 4:17).

Sebagai istilah lebih luas untuk perkumpulan. Bentuk jamak ‘putra-putra’ pada masa itu merujuk kepada para pemuda atau manusia muda (amsal 7:7) dan anak-keturunan (Kejadian 3:16).

Sebagai bentuk sapaan dekat untuk para sahabat, murid, atau para pendengar yang lebih muda yang kepadanya seseorang berbicara dalam hubungan dengan seorang ayah (amsal 2:1).

Untuk mengungkapkan bahwa orang yang berbicara menganggap seseorang yang disapa adalah lebih rendah (1 samuel 26:17), atau orang yang bicara menyebut dirinya sendiri rendah (2 Raja-raja 16:7).

Nama untuk sebuah kelas atau kelompok yang terdiri dari beberapa orang tertentu. Sebagai contoh, ‘anak cucu Adam’ merujuk kepada menjadi bagian sebuah ras manusia (Ezekiel 2:1). Juga merujuk kepada nama masyarakat tertentu, kelompok bangsa atau etnis tertentu. Sebagai contoh, ‘anak-anak Israel’ merujuk kepada orang-orang Israel (kejadian 32:32).

Untuk nama sebuah masa atau zaman. Sebagai contoh, ‘anak di satu malam’ merujuk kepada sesuatu yang berumur satu malam (Yunus 4:10)

Sebagai yang disifati oleh kedudukan, situasi, atau kondisi tertentu. Ini adalah penggunaan terakhir yang paling relevan dengan pembahasan kita berkenaan dengan makna dari ‘anak Tuhan’.

Bandingkan istilah ‘anak Tuhan’ dengan contoh-contoh berikut:

 בֵּן חַיִל (bēn ḥǎ∙yil), secara harfiah berarti, ‘anak keperkasaan’. Kata ini merujuk kepada seorang tentara elit yang gagah (2 Samuel 17:10).

בֵּן בְּלִיַּעַל (bēn beliy∙yǎ∙ʿǎl), secara harfiah berarti ‘anak kekejian’ atau ‘anak setan’ dan merujuk kepada seseorang yang keji dan memberontak (Ulangan 13:14).

 עֳנִי בֵּן (ben oni), secara harfiah berarti ‘anak kemiskinan’, dan merujuk kepada seseorang yang tertindas (Amsal 31:5)

 מוּת בֵּן (ben maut), secara harfiah berarti ‘anak kematian’, dan merujuk kepada penduduk yang mati (Mazmur 79:11)

 אָדָם בֵּן (ben adam) berarti ‘anak manusia’ merujuk kepada seseorang dengan kelas status sosial rendah (Mazmur 49:2).

Di dalam semua contoh kasus ini, bentuk ini menyatakan bahwa kata ‘anak’ disifati atau dalam berbagai cara dihubungkan dengan ayah secara metafora (kiasan). Dalam ungkapan Bahasa Ibrani, ketika diterapkan kepada seseorang, ‘anak Tuhan’ akan berarti seseorang yang dalam berbagai cara disifati atau dihubungkan dengan Tuhan atau ketuhanan.

Baca artikel selanjutnya : Julukan “Anak Tuhan” Dalam Konteks Yahudi