Julukan “Anak Tuhan” Dalam Konteks Yahudi

185

Bagian sebelumnya : Anak Tuhan di dalam Bible

Sekarang memiliki pemahaman bentuk gramatika umum dari istilah ‘anak Tuhan’, ini merupakan waktu yang tepat untuk melihat kepada penggunaan-penggunaan secara spesifik dalam ungkapan Yahudi dan konteks yang didalamnya kata ini digunakan. Hanya mengetahuinya secara gramatika menunjuk kepada seseorang yang dihubungkan dengan Tuhan dalam berbagai cara yang tidak dapat didefinisikan tidaklah cukup.

Bentuk ini telah digunakan dalam merujuk kepada raja-raja, imam-imam dan Nabi-Nabi Tuhan. Sebagai contoh, dikisahkan bahwa Tuhan berkata kepada Daud:

‘Anak-Ku engkau!; Engkau telah Kuperanakkan hari ini.’ (Mazmur 2:7).

Dan secara lebih umum berkenaan Imam-imam, para Nabi dan raja-raja:

‘Aku sendiri telah berfirman, ‘Kamu adalah Allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian’(Mazmur 82:6).

Kata ini juga digunakan untuk merujuk kepada orang-orang yang hendak memenuhi kehendak Tuhan di bumi, seperti bangsa Israel atau Efraim, juga orang-orang yang beriman. Bible menyatakan bahwa Tuhan berfirman tentang Israel: ‘Israel adalah anak-Ku, anak-Ku yang sulung’ (keluaran 4:22).

Tuhan berfirman tentang bangsa Efraim: ‘Anak kesayangankah gerangan Efraim bagi-Ku?’ (Yeremia 31:20).

Dalam naskah-naskah selanjutnya, istilah ini digunakan untuk orang-orang beriman. Dalam satu tempat, dikatakan: ‘Karena jika orang yang beriman adalah anak Tuhan, ia akan menolongnya’ (wisdom of Solomon 2:8)

Maka, berdasarkan penggunaan Perjanjian Lama, bentuk ungkapan ‘anak Tuhan’ merujuk kepada hubungan seorang manusia dengan Tuhan dengan maksud dianugerahi kuasa sementara melalui perintah ilahi, atau karena menjadi seorang yang beriman dan membawa Hukum Tuhan, kemudian ia diberi sifat kesalehan (dengan kata lain keilahian).

Arti yang terakhir juga diterima dan dijelaskan oleh penafsir Yahudi kuno: Para Rabbi memberi penekanan yang menarik pada fakta bahwa keanak-Tuhan-an kaum Israel didasari pada Hukum yang dipercayakan kepadanya dan akan terlihat dalam perjalanan mereka berdasarkan perintah-perintah dalam Hukum.

Rabbi Aqiba mengutip dari Ulangan 14:1 pada penekanan: “Orang-orang Israel adalah kesayangan, karena mereka disebut anak-anak Tuhan.”

“Hal ini dinyatakan kepada mereka sebagai kasih sayang yang istimewa sehingga mereka disebut anak-anak Tuhan”, Abbot Pirque, 3, 14.

Berdasarkan Rabi Jehuda ben Shalom, (370. M): “Tuhan berfirman kepada bangsa Israel; ‘Kamu memiliki pengharapan agar kamu dianggap, bahwa kamu adalah anak-Ku? Sibukkanlah dirimu dengan Taurat dan ketaatan kepada perintah-perintah, dan semua akan melihat bahwa kamu adalah anak-Ku.’”

Deuteronomium rabba (Debarim rabba), Homiletic Midrash pada Deuteronomy (Strack, Einl., 206), 7 pada 29:1: gagasan yang sama mendasari pernyataan: “Ketika bangsa Israel mengamalkan kehendak Tuhan mereka disebut sebagai anak; ketika mereka tidak mengamalkan kehendak Tuhan mereka tidak disebut anak.”[1]

Istilah ini juga digunakan untuk menunjuk kepada wujud spiritual, seperti para malaikat dan malaikat-malaikat yang turun. Alkitab menyatakan: “Maka apakah mereka yang ada di langit bisa dibandingkan dengan Tuhan? Yang berada diantara makhluk-makhluk langit (anak-anak Tuhan) ialah seperti Tuhan.” (Amsal 89:6).

Mereka adalah anak Tuhan yang memenuhi perintah-Nya. Bukan dalam artian bahwa mereka memiliki sifat yang sama dengan Tuhan, karena Tuhan Mahaunggul bukan hanya bagi umat manusia tapi juga bagi semua wujud spiritual, meskipun mereka memiliki kualitas spiritual lebih baik dari manusia.

Dalam semua kasus, istilah ini memberikan arti wujud yang lebih rendah di hadapan kehendak-kehendak dan keinginan-keinginan Tuhan. Dan menyatakan secara langsung sebuah hirarki dimana Tuhan, sang ‘bapa’, dalam artian sebuah otoritas atas hamba-Nya atau ‘anak’.

            Dalam kasus manapun, orang-orang Yahudi merupakan dan akan selalu menjadi penganut monotheisme, dan tidak pernah menafsirkan istilah ‘anak Tuhan’ dalam bentuk politheistik apapun yang dapat merusak gagasan tentang Yang Esa, Tuhan yang tidak dapat dibagi. Mereka cukup sadar untuk tidak pernah menggunakan bentuk istilah  ‘anak Tuhan’ dengan nama pribadi Tuhan sendiri (Yahweh), melainkan menggabungkannya dengan istilah ‘Elohim’: Perjanjian Lama sering menggunakan בֵּן (ben) dan בַּר (bar) untuk wujud-wujud yang termasuk kepada dunia atau lingkungan ilahi akan tetapi istilah-istilah ini dikombinasikan dengan kata-kata untuk Tuhan, tidak pernah dengan nama יהוה (Yahweh), tapi dengan אֱלֹהִים (Elohim).[2]

Baca bagian selanjutnya : Anak ‘X’ digunakan oleh Yesus (as)


[1] Theological dictionary of the New Testament. 1964- (G. Kittel, G. W. Bromiley & G. Friedrich, Ed.) (electronic ed.). Grand Rapids, MI: Eerdmans. Vol. 8 pg. 359.

[2] Theological dictionary of the New Testament. 1964- (G. Kittel, G. W. Bromiley & G. Friedrich, Ed.) (electronic ed.). Grand Rapids, MI: Eerdmans.