‘Anak Tuhan’ vs. ‘Anak Manusia’ dan ‘Anak’

137

Baca bagian sebelumnya : Yesus (as) Menjelaskan Istilah Anak Tuhan | RajaPena.Org

Perlu dicatat (lagi) bahwa Yesus (as) hampir tidak pernah menggunakan istilah ‘anak Tuhan’ untuk dirinya sendiri. Ini adalah dukungan yang tidak terucap kepada istilah ini di banyak tempat dimana orang-orang (bahkan setan) merujuknya sebagai ‘anak Tuhan’, akan tetapi penggunaan istilah ini secara khusus sangat sulit ditemukan. Tidak ada di dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) ia (Yesus) pernah gunakan secara langsung istilah ‘anak Tuhan’ yang berhubungan dengannya.

Di dalam Injil Yohanes, istilah ini telah digunakan olehnya hanya di tiga contoh: Ketika Yesus mendengar kabar itu, ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu anak Allah akan dimuliakan.” (Yohanes 11:4)

“Apakah kamu mengatakan kepada dia yang Tuhan telah mentahbiskan dan mengutusnya ke dunia, ‘Kamu telah menghujat!”, karena aku mengatakan ‘Aku anak Tuhan’? (Yohanes 10:36)

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara anak Allah, dan mereka yang mendengar akan hidup.” (Yohanes 5:25)

Ini sangat tidak biasa bahwa tiga dari empat penulis Injil menghilangkan referensi Yesus (as) yang menggunakan istilah penting untuk dirinya sendiri, dan ini merupakan penggunaan khusus yang ditemukan dalam Injil Yohanes, yang ditulis terakhir. Selain itu, penulis yang sama juga memasukkan penjelasan yang murni monotheistis dari istilah ini melalui sabda-sabda Yesus (as).

Dalam berbagai kasus, sebagai lawan dari istilah ‘Anak Tuhan’, Yesus (as) merujuk dirinya sendiri hampir secara khusus di dalam Injil menggunakan istilah: ‘Anak Manusia’ dan yang mutlak ‘Anak’. Kenapa demikian dan kemana istilah ini merujuk? Sekali lagi, penggunaan huruf kapital untuk istilah-istilah ini adalah subjek penafsiran penerjemah. Istilah-istilah ini hanya dengan mudah ditulis dengan huruf kecil ketika secara tatabahasa memungkinkan.

Beberapa orang Kristen berusaha melukiskan istilah ‘anak manusia’ untuk merujuk kepada figur rasul suci di hari akhir dalam Kitab Daniel. Namun, meskipun di sana figur itu tidak dirujuk sebagai ‘anak manusia’, namun hanya sebagai ‘seperti anak manusia’. Sebuah perbandingan telah disajikan antara figur itu dan wujud manusia lainnya, dengan pernyataan Daniel: Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. (Daniel 7:13)

Ini adalah penglihatan yang Nabi itu lihat, maka itu adalah subjek penafsiran. Yesus (as) bukanlah ‘seperti anak manusia’, namun ia selalu menyatakan diri sebagai ‘anak manusia’. ‘Seperti’ yang sangat penting itu tidak ditemukan dimana pun dalam penggunaan istilah itu untuk dirinya sendiri.

Kembali kepada istilah ‘anak manusia’, kita temukan bahwa istilah ini digunakan secara khusus di dalam Perjanjian Lama, bukan untuk merujuk kepada figur ilahi, tapi merujuk kepada seseorang yang berbeda dengan Tuhan—sebuah antonim. Dalam Bahasa Ibrani, istilah ini adalah ben adam: Anak Manusia.

Sebuah sebutan yang diambil dari ungkapan bahasa Ibrani (ben ˒āḏām) dan Aramaik (bar ˒ĕnāš) merujuk kepada sebuah kelompok (kemanusiaan) atau individu di dalam sebuah kelompok (umat manusia)… Di dalam Perjanjian Lama frase ini sering muncul untuk merujuk kepada ‘kemanusiaan’ atau ‘ umat manusia’ yang kontras (berbeda) dengan hak istimewa ilahi ( Mazmur 8:4 juga Bilangan 23:19). Frase ini juga digunakan 93 kali dalam Ezekiel untuk merujuk kepada nabi, mungkin di sini juga untuk menekankan sifat manusia biasa Nabi tersebut yang berbeda dengan keagungan Tuhan yang berbicara kepadanya (Ezek. 2:1).[1]

Oleh karena itu, hampir pasti bahwa Yesus menggunakan istilah untuk mengumumkan kemanusiaannya dan mungkin kebanyakan sebagai sebuah bantahan terhadap orang yang berpikiran atau menuduhnya mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Kata itu adalah sebuah istilah yang mengklarifikasi seorang (manusia) Nabi. Selain itu, itu adalah sebuah istilah yang menyoroti kerendah-hatiannya.

Di banyak tempat di Perjanjian Lama istilah “Anak Manusia” digunakan oleh Nabi-Nabi untuk menunjukkan kelemahan mereka sebagai manusia dan bergantung terhadap Keagungan Tuhan. Sebagai contoh: Apakah manusia sehingga engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga engkau mengindahkannya? (Mazmur 8:4).

Yesus juga menggunakan dalam pengertian ini: “Serigala mempunyai lubang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya.” (Matius, 8:20) Penggunaan mutlak ‘putra’ (anak) juga dapat dilihat dalam pengertian ini. Dilihat dari penggunaan umum istilah anak manusia olehnya, kemungkinan besar penggunaan istilah ‘putra’ mengacu kembali pada ‘anak manusia’ dan bukan istilah ‘anak Tuhan’. Bahkan jika itu merujuk kembali kepada Tuhan dan bukan manusia, dia secara sadar menghilangkannya dikarenakan istilah ‘anak’ yang lebih ambigu menunjukkan bahwa dia, dalam kasus apa pun, tidak biasa menggunakan frasa itu untuk dirinya sendiri.

Jadi, istilah ‘anak Tuhan’ sangat jarang digunakan oleh Yesus (as), dan hanya diam-diam disetujui olehnya dalam arti monoteistik ketika digunakan oleh orang lain. Dia sendiri hampir selalu memberi preferensi pada gelar ‘anak manusia’ dan ‘sang putra’, yang tidak tunduk pada kesalahpahaman yang sama yang dapat timbul dari penggunaan istilah ‘anak Tuhan’.

Baca bagian selanjutnya : Yesus (as) sebagai Hamba Tuhan dalam Perjanjian Lama | RajaPena.Org


[1] Freedman, D. N., Myers, A. C., & Beck, A. B. (2000). Eerdmans dictionary of the Bible (1242). Grand Rapids, Mich.: W.B. Eerdmans.