Childfree : Sebuah Gaya Hidup Yang Begitu Menuai Perdebatan

794

“Kalo kak Gita punya anak, pasti cantik/ganteng dan cerdas kaya ibunya.” Kalimat ini dituliskan oleh seseorang kepada Gita Savitri, influencer Indonesia ternama yang tinggal di Jerman. Lalu Gita menjawab, “Most likely my imaginary kid would be mediocre, living mediocre life seperti milyaran manusia di dunia ini. So better not. Kasian dia…Dunia udah kaco dan hidup makin lama makin susah. Setting the kid up for failure.”[1] Dengan kata lain, alasan Gita Savitri tidak mau mempunyai anak adalah hidup sudah banyak kesulitan dan keadaan dunia semakin kacau sehingga jika memiliki anak maka anaknya malah akan mengalami kegagalan dan menjalani hidup biasa-biasa saja. Tapi biasanya kualitas hidup yang baik di masyarakat diukur dari memiliki pekerjaan stabil, memiliki rumah, mobil, pasangan hidup dan anak. Fasilitas-fasilitas seperti itu biasanya menjadi tolak ukur kesuksesan untuk masyarakat kelas menengah atau dengan kata lain banyak orang di kelas sosial ini menginginkan pekerjaan tetap, memiliki mobil, rumah pasangan (istri/suami), anak.

            Belakangan ini dunia maya di Indonesia ramai membicarakan topik childfree. Jika dijelaskan secara sederhana, childfree adalah keputusan seseorang untuk tidak memiliki anak. Wanita yang memutuskan untuk memilih tidak memiliki anak baik biologis maupun adopsi biasanya dihujat masyarakat. Namun mereka yang tinggal di negara Timur seperti Indonesia, India atau Saudi Arabia pasti lebih banyak diperbincangkan karena seakan-akan mereka menyalahi kodratnya sebagai manusia dan sebagai wanita.

            Tulisan ini bukan untuk menyalahkan keputusan para wanita yang memilih untuk tidak memiliki anak. Tulisan ini hanyalah pertukaran pikiran atau debat sehat opini tentang childfree dan dampak apa yang ditimbulkan. Pada akhirnya semua manusia bertanggung jawab atas keputusannya.

            Alasan Gita Savitri diatas memang masuk akal juga karena walaupun orang tua sudah memiliki pekerjaan mapan dan tetap, ketika memiliki anak mereka harus memikirkan bagaimana nasib anak mereka kedapannya. Khalifah ke-5 Ahmadiyah Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) pun mengatakan dalam Khutbah Jum’at 14 Juli 2017 bahwa membersarkan, mendidik anak menjadi seorang yang sukses itu perkara sulit karena saat ini, dunia dipenuhi oleh godaan syaitan. Namun seorang mu’min sejati memiliki Allah sebagai pedoman hidup jadi alih-alih menyerah pada keputusasaan, perasaan negatif dan ketakutan, seorang mu’min hakiki harus melindungi dirinya dan keluarganya dari segala godaan syaitan yang dapat menjerumuskan dirinya dan keluarganya ke jurang akhlak keburukan. [2]

            Seseorang atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak karena banyak alasan. Beberapa alasannya adalah ingin hidup bebas, biaya hidup mahal apalagi tambahan biaya untuk keperluan anak seperti baju, makanan, sekolah, pernikahan. Ada juga yang bilang ingin fokus ke pekerjaan, ingin travel lebih bebas tanpa kesulitan membawa perlengkapan anak, malah alasan sesederhana ingin tidur nyeyak pun ada karena faktanya ketika pasangan memiliki bayi yang baru lahir pasti tidur mereka akan terganggu. Lalu ada juga yang mengatakan memiliki anak membuat sulit untuk fokus kepada pekerjaan,  karena harus memikirkan kalau orang tua bekerja siapa yang akan mengurus anak? Jadi alasan-alasan seperti itu membuat beberapa pasangan enggan memiliki anak.

            Satu dampak dari childfree yang pasti akan terjadi dan terlihat di masa depan adalah penurunan populasi manusia sehingga ini menimbulkan ketidakseimbangan di masyarakat dan ekonomi dunia. Menurut jurnalis surat kabar ternama dunia The New York Times (NYT), para ahli demografi sekarang memperkirakan bahwa pada paruh kedua abad ini atau mungkin lebih awal, populasi manusia akan semakin menurun untuk pertama kalinya. Artikel NYT juga menjelaskan bahwa di banyak negara rating kesuburan (fertility rate) atau kemampuan untuk mengandung sudah menurun. [3]

            Perempuan telah memperoleh lebih banyak akses ke pendidikan dan kontrasepsi. Perempuan cemas untuk memiliki anak dan karena itu semakin banyak orang tua yang menunda kehamilan dan semakin sedikit bayi yang dilahirkan. Bahkan di negara-negara yang telah lama dikaitkan dengan pertumbuhan pesat, seperti India dan Meksiko, angka kelahiran turun menuju, atau sudah di bawah angka penggantian.  Penurunan populasi karena penurunan kelahiran begitu memberikan efek yang cukup memprihatinkan seperti yang dituliskan di artikel surat kabar Amerika ternama The New York Times bahwa di satu kota kecil di Italia yang bernama Capracotta, sebuah bangunan yang dulunya merupakan sekolah TK sekarang menjadi panti jompo. Populasi di kota kecil Capracotta, Italia Selatan menurun drastis dari 5,000 menjadi 800.[4]

            Kemudian di bidan kecil yang berada kota di Italia yang bernama Agnone, kelahiran sangat menurun hanya ada enam kelahiran tahun 2021. Sampai-sampai seorang perawat berkata dulu kita bisa mendengar suara bayi menangis di rumah sakit anak ini , suaranya seperti alunan musik tapi sekarang perawat itu merawat para lansia dan dia berkata, “Now there is silence and feeling of emptiness.” [5] Artinya sekarang di bidan itu yang ada malah kesunyian dan perasaan kosong, hampa karena tidak ada anak-anak dan warga usia lansia yang lebih banyak.

            Kemudian, pada tahun 1971, Simon Smith Kuznets pemenang Hadiah Nobel di bidang ekonomi untuk teorinya tentang “pengetahuan yang teruji” menjelaskan: “Lebih banyak populasi berarti lebih banyak pencipta (innovator) dan produsen, baik barang untuk pola produksi yang mapan maupun pengetahuan dan penemuan baru.” [6] Jadi dari segi ekonomi, penurunan populasi akan memberikan dampak buruk karena kalau tidak ada manusia atau manusia usia produktif sangat sedikit, siapa yang akan bekerja? Siapa yang akan menemukan hal-hal baru di bidang teknologi, medis, bisnis dan sektor lainnya? Dari segi kesehatan pun childfree memberikan beberapa dampak seperti yang dikutip dari National Cancer Institute atau Institusi Kanker di Amerika Serikat bahwa wanita tanpa anak mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker ovarium (kanker di indung telur) dan mereka lebih sering terkena kanker endometrium , kanker yang muncul dari selaput rahim. [7]

Childfree Menurut Ahmadiyah

            Dalam satu Khutbah Jum’at, Khalifah Ahmadiyah Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) mengutarakan bahwa seseorang menulis pada beliau, karena situasi dunia sekarang penuh dengan keburukan dan akhlak semakin memburuk, pengirim surat itu memilih untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) lebih lanjut menjelaskan bahwa pemikiran seperti ini adalah pemikiran pesimistis. Ini sama seperti menerima kekalahan dari syaitan, berpikir bahwa Allah Ta’ala tidak memiliki kuasa untuk melindungi kita dan keturunan kita dari godaan syaitan sebagaimana pun kerasnya usaha kita dan doa yang dipanjatkan.

            Pendiri Jemaat Ahmadiyah , Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as) pun menjelaskan bahwa seseorang atau pasangan jangan hanya ingin memiliki anak karena ingin memiliki penerus tetapi tujuan utama dari memiliki anak adalah keturunan yang mukhlis, taat pada perintah Allah dan berkhidmat pada agama. [8] (Khutbah Jum’at Khalifah Ahmadiyah Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) tanggal 14 Juli 2017). 

            Sekolah tinggi, menimba ilmu, menjadi orang sukses yang berguna bagi negara dan masyarakat adalah ibadah juga apapun pekerjaannya seperti penulis, jurnalis, doker, insinyur, arsitek, guru, pengusaha bahkan menjadi ibu rumah tangga pun merupakan pekerjaan mulia karena mereka adalah sebetulnya ibu bangsa yang artinya mereka mendidik anak-anak bersama suaminya untuk menjadi generasi yang pintar, kuat, ramah, peduli terhadap sesama, semangat untuk memajukan negara. Itu semua adalah ibadah juga karena Islam mengajarkan untuk senantiasa melakukan amalan baik. Menjadi dokter, guru, penulis, pengusaha atau profesi lainnya jika dilakukan dengan sungguh-sungguh tentunya akan membantu hidup sesama manusia dan memajukan negara karena generasi mendatang tidak membuang waktu dan uang untuk hal tidak penting. Itulah tujuan hakiki memiliki keturunan.

            Mungkin banyak orang diluar sana tidak ingin memiliki anak dengan berbagai alasannya dan itu sah-sah saja karena setiap orang berhak memilih dan apa pun konsekuensinya, orang tersebut yang akan menanggung walaupun sebetulnya setiap perbuatan manusia dampaknya bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat lebih luas dan dunia seperti keputusan memilih childfree ternyata berdampak pada penurunan populasi dan ekonomi dan ketidakseimbangan antara generasi usia produktif dan usia lansia.

            Namun semua kembali lagi kepada pilihan masing-masing dan yang tidak setuju dengan childfree tidak perlu menghujat pilihan seseorang. Pilihan gaya hidup childfree memberikan ketidakseimbangan antara populasi usia produktif kerja karena lebih banyak populasi lansia di abad mendatang sehingga ekonomi dunia akan menurun juga. Childfree memang bukan faktor utama penurunan populasi tapi ini merupakan alasan yang cukup berpengaruh terhadap penurunan populasi. Jadi jika diperhatikan dengan seksama bukan memiliki anaknya yang salah atau bukan situasi dunia yang semakin memburuk yang salah tetapi bagaimana seseorang atau pasangan membesarkan anaknya ditengah situasi dunia yang buruk, biaya hidup mahal dan segala kecemasan lainnya. Toh kita juga yang hidup sekarang mengalami kesulitan jadi kita pun bisa bertanya apa gunanya hidup sekarang dengan segala keburukan yang terjadi? Tapi kita masih bertahan hidup dan melawan semua tantangan yang ada.

            Keburukan di dunia akan selalu ada terlepas dari kita hidup, kita memiliki anak atau tidak. Menurut ajaran Islam, keputusan untuk tidak memiliki anak karena biaya mahal atau dunia mengalami degradasi moral sama seperti percaya bahwa Tuhan tidak ada, Allah tidak memiliki kuasa untuk menolong kita dan melindungi kita dan anak kita dari segala keburukan yang ada sehingga pemikiran seperti itu termasuk dalam kategori pesimistis atau putus asa.              Seperti yang dikatakan William Arthur Ward, penulis ternama dari Amerika Serikat: The pessimist complains about the wind; the optimist expects it to change; the realist adjusts the sails.[10] Artinya orang pesimistis hanya bisa mengeluh tentang angin; orang optimis berharap anginnya hilang tapi orang realis atau orang yang bisa menyelesaikan masalah membetulkan kapal layarnya. Artinya segala keburukan di dunia yang menyebabkan ketakutan untuk memiliki anak atau biaya mahal untuk membersarkan anak itu ibaratnya seperti angin kencang di satu lautan dan orang mu’min sejati itu nahkoda kapal dan anak keturunan itu kapalnya. Jadi angin kencang atau tantangan hidup dan keburukan akan selalu ada tapi solusi terbaiknya adalah menghadapi tantangan keburukan itu dengan tekad kuat dan berpegang teguh pada Allah.


Penulis: Khalida Jamilah

Sumber:

[1] https://www.youtube.com/watch?v=UTbI4duhMZ0

[2] https://www.alislam.org/friday-sermon/2017-07-14.html

[3] https://www.nytimes.com/2021/05/22/world/global-population-shrinking.html

[4] ibid

[5] ibid

[6] ibid

[7] http://blog.johnsonmemorial.org/does-not-having-children-affect-reproductive-health-for-women

[8] https://www.alislam.org/friday-sermon/2017-07-14.html

[9] https://www.alislam.org/quran/app/14:24 [10] https://www.azquotes.com/quotes/topics/pessimistic.html