Cinta yang Sempurna

89

Aku cinta kamu

Kalimat tersebut merupakan bentuk pengakuan yang dilakukan oleh salah seseorang atas perasaan yang dimilikinya kepada orang lain. Terdapat berbagai macam alasan yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaan cinta, baik itu karena alasan fisik, finansial, profesi, agama, atapun semacamnya. Pada umumnya, terdapat respon setelah pengakuan tersebut, entah itu penerimaan atau penolakan dari orang yang bersangkutan.

Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa cinta adalah sesuatu yang abstrak, atau mungkin tidak ada logika. Pembahasan tentang cinta merupakan pembahasan yang sangat menarik dari kalangan remaja hingga kalangan tua. Kita sadar, di jenjang pendidikan manapun, tidak pernah ada yang membahas secara spesifik tentang definisi cinta. Padahal, perasaan cinta penting dimiliki bagi setiap insan manusia sebelum masuk ke jenjang serius, yaitu pernikahan.

Kita sadar, bahwa banyak sekali hasil karya yang menceritakan tentang narasi cinta, entah itu di dalam novel, film, drama korea, dan masih banyak lagi yang dikemas secara menarik. Seolah-olah, jika tidak menghadirkan cinta di dalam suatu karya, rasanya seperti ada yang hambar. Secara tidak sadar, banyak sekali tindakan kriminalitas yang didasari atas nama cinta, baik pembunuhan, pertikaian, pencurian, dan banyak hal. Semua dilakukan atas dasar nama cinta.

Namun, apakah cinta selamanya berkonotasi buruk? Seakan-akan, cinta membuat kita buta terhadap hal yang ada di sekitar kita. Apakah ada cinta yang sempurna? Sebuah cinta yang membuat hati kita tentram dan damai dengan pasangan yang kita miliki. Sebuah cinta yang membuat kita bersyukur bahwa Allah telah menciptakan dia dan tidak ingin kehilangan orang tersebut. Bagaimana cara mendapatkan cinta yang sempurna?

Cara pertama untuk mendapatkan cinta yang sempurna adalah dengan cinta kepada Allah, Sang Maha Pencipta dan kepada Rasul-Nya. Allah memberikan cinta tanpa batas dan tanpa syarat kepada semua ciptaan-Nya, baik kepada tua dan muda, kaya dan miskin, dan masih banyak lagi. Pada Q.S. Ar-Ra’d ayat 28 Allah berfirman1:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kemudian, langkah selanjutnya adalah dengan mencintai diri sendiri. Cinta terhadap diri sendiri adalah ketika kita bisa mencintai segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Pada dasarnya, Allah telah menciptakan kita tepat seimbang dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki untuk mencapai kemulian-Nya. Ketika kita tidak bisa mencintai diri sendiri, maka kita tidak bisa mencintai orang lain dengan tepat. Namun bukan berarti kita lantas egois dan mengutamakan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan orang lain.

Selain mencintai diri sendiri, kita juga harus menghargai sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan serta menghargai lingkungan dengan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Ketika kita bisa menghargai sesama manusia dan lingkungan, maka akan memberikan dampak positif untuk menciptakan perdamaian. Lebih dari itu kita hendaknya juga memperlakukan orang lain dengan cara sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.

Ketika ada seseorang yang mulai hadir ke dalam hidup kita dan akan melengkapi kekurangan yang kita miliki, yang perlu diperhatikan pertama kali adalah agama dan akhlak. Sejatinya, tujuan utama hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk memilih calon pasangan hidup yang memiliki agama dan akhlak yang baik. Manifestasi dari agama yang baik adalah ketika seseorang mencintai Allah dan menjalankan kewajiban-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

نْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya: “Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.” (H.R. Bukhari)

Selain itu, pilih seseorang yang memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik adalah ketika dia mampu mencintai diri sendiri, menghargai sesama manusia, dan lingkungan. Patokan utama dalam memilih bukanlah dari perihal fisik, finansial, dan segala hal yang berbau duniawi. Secara tidak sadar, ketika kita memilih dari faktor duniawi, maka semuanya akan pudar, baik cepat ataupun lambat. Tetapi, ketika kita memilih dengan mempertimbangkan agama dan akhlak yang dimiliki, InsyaAllah cinta akan bertahan lama hingga akhir hayat. Pada QS. An Nur ayat 26 Allah berfirman3:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). Memang, tidak ada satupun manusia yang sempurna di dunia ini. Namun, ketika kita bisa mencintai seseorang dengan tujuan utama untuk beribadah kepada Allah, maka InsyaAllah cinta yang dimiliki akan sempurna.


Oleh : IP

Sumber :

[1] TafsirQ.com. Surat Ar-Ra’d Ayat 28. Available from: https://tafsirq.com/13-ar-rad/ayat-28 [Accessed 10th October 2020].

[2] Bincang Syariah. Inilah Kriteria Perempuan yang Dianjurkan untuk Dinikahi Available from: https://bincangsyariah.com/kalam/inilah-kriteria-perempuan-yang-dianjurkan-untuk-dinikahi [Accessed 10th October 2020].

[3] TafsirQ.com. Surat An-Nur Ayat 26. Available from: https://tafsirq.com/24-an-nur/ayat-26 [Accessed 10th October 2020].

Sumber Gambar : unsplash.com